My Majesty

My Majesty
Mencari Obat Rindu



Jika sudah kepalang rindu, sehari tak bertemu seperti rasa sudah sewindu, bagaimana jika rindu terus membelenggu kalbu?


Akankah ada obat penangkal rindu salain bertemu?


Bahkan, bertemu pun kadang tak dapat menuntaskan rasa rindu, dan terkadang malah menambah rasa rindu yang ingin selalu bercumbu.


Begitulah rasa yang kedua insan kini rasakan, ditempat yang berbeda hanya berbekalkan kepercayaan, tapi percayalah itu sangat berat dijalankan.


Tak mau lagi terbelenggu rasa rindu yang sangat menyiksa kalbu, sebuah pergerakan harus segera dilakukan, bermodalkan tekat yang nekat, gadis itu meninggalkan kedua kakaknya, tanpa pamit.


Freya terbang menyusuri aroma yang masih terngiang didalam ingatan, ya aroma sang Tuan begitu kuat, terus saja ia mengikuti, sampai larut malam ia tiba di sebuah bangunan yang tak begitu besar tapi cukup dikatakan elite.


"Aromanya sangat kuat di sini," gumamnya dengan menggendus udara.


Berdiri di atas atap bangunan, Freya dengan langkah ringannya menyusuri kemana aroma Almero menuntunnya.


Tiba di depan kaca jendela yang kecil, ia mendapati seorang pemuda tengah tidur dengan lelapnya.


"Tuan," gumamnya dengan menitikkan air mata, ternyata lelahnya seharian ini membuahkan hasil, tak sia-sia ia kabur dari kedua kakak kandungnya.


Mungkin saat ini Alan dan Alvin masih bingung mencari kemana perginya si adik cantik yang nakal ini.


Di dalam lelapnya, Almero merasa ada yang menggumamkan namanya, terbuka sipit netra hitamnya, dilihatnya jendela kamarnya belum ia tutup kain yang biasa ia gunakan untuk menutupi.


Terpaksa Almero bangun dari tidurnya, terseok-seok langkah kakinya, ia mendekat ke arah jendela dan...


Terbelalak netra hitamnya kala ia melihat wajah cantik yang sedari tadi mengusik pikirannya.


"Freya?" gumamnya berbisik.


Gadis diluar sana mengangguk dengan senyuman, bahkan tubuh melayang nya terlihat indah dan tidak menakutkan.


Niat hati ingin menutup jendela, Almero malah membuka daun jendela itu lebar-lebar.


"Kau! Sedang apa kau di sana?!" tanyanya, sedang yang ditanya malah tersenyum dan mendekat, Freya menggenggam kedua tangan Almero.


"Hamba mencari obat rindu, Tuan," ucapnya dengan terus mendekat, dan tak dapat Almero menolak kecupan lembut yang Freya labuhkan kepadanya.


Terlepas sejenak pagutan manis itu, "Masuklah! Diluar dingin!" undangan itu membuat Freya dengan mudah masuk kedalam kamar kecil yang Almero tempati.


"Kau sendiri?" tanya Almero dengan memegang kedua pundak Freya, niatnya ingin melupakan makhluk cantik yang berdiri dihadapannya ini, tapi urung karena memang sesulit itu.


Freya hanya mengangguk, "Kau akan tinggal dimana?" tanya Almero lagi.


Freya kali ini menggeleng, "Hamba bisa hidup dimana saja,"


"Tidak, tidak! Itu tidak aman untuk mu!" begitu khawatir Almero dengan keselamatan Freya, karena ia pikir manusia-manusia licik itu pasti akan memanfaat gadis ini.


"Ayolah Tuan, hamba tidak selemah itu," bisiknya dengan meraba belahan dada bidang Almero yang tertutupi T-shirt hitam yang begitu ketat.


"Hey, jangan menggoda ku!" ucapnya dengan menggenggam jemari lentik yang menggelitik.


Freya menghambur kedalam peluk hangat Almero, "Hamba merindukanmu, Tuanku!" bisiknya didalam dekap hangat itu.


Kehalusan juga kekenyalan kulit Freya mampu membangkitkan sesuatu yang tertidur di sana.


Mulai dari Freya yang mendongak dan Almero yang melabuhkan bibir merahnya pada benda kenyal milik Freya, saling memagut keduanya hingga, jiwa Almero terbangun, semakin ganas Almero dengan jati dirinya yang sesungguhnya.


Tak ada penolakan diantara keduanya, dinginnya malam ini tak mampu membendung keringat yang terbakar api gairah yang membara.


Pergulatan manis keduanya lakukan, bahkan ayam berkokok tak menghentikan pergulatan keduanya.


Waktu terus berputar, tepat pukul delapan pagi tadi Almero terbangun dari tidur nyenyaknya.


"Mungkin gue mulai gila! Bisa-bisanya semalam gue mimpi begituan sama Freya," gumamnya, yang kemudian ia segera bersiap untuk berangkat ke kampus.


Almero seperti biasa berjalan memasuki area tempat menimba ilmu pendidikan itu, dengan tas punggung yang melekat pada salah datu pundaknya, juga tangannya yang selalu sibuk dengan catatan penelitiannya.


Di saat ia sibuk dengan kegiatan rutinitasnya dalam perjalanan menuju kelas, tiba-tiba keriuhan mengganggu kefokusan pemuda tampan itu...


Terlihat seorang gadis berjalan dengan langkah ringan nan elehannya tengah memasuki gedung universitas, semua mata sudah tertuju padanya, bahkan tak sedikit laki-laki bersiul demi menggoda dan mendapatkan atensi darinya.


Berbeda dengan Almero, jika laki-laki lain tergiur akan kecantikannya, Almero malah dengan sengaja menutupi wajahnya menggunakan buku catatannya, demi menghindari gadis yang semalam menemui dirinya dialam mimpi.


Ya... Siapa lagi memangnya jika buka Freya Victoria?


Gadis berdarah murni itu berjalan membaur bersama para mahasiswa, lihat pakaiannya yang begitu santai dan keren, bahkan terkesan elegan.


Saat langkah kakinya terus berjalan lurus, tiba-tiba saja Freya terhenti karena ia mencium aroma yang sangat ia kenali.


Aroma siapa lagi memangnya jika bukan aroma sang belahan jiwa, yang menyentuhnya luar dalam, dan hanya satu ya itu Benjamin Almero.


Melintas di samping Freya, seorang pemuda yang berjalan dengan sengaja menutupi wajahnya menggunakan buku.


"Ah rupanya mau menghindar setelah semalaman suntuk aku kau buat encok?!" batin Freya seraya memperhatikan gelagat pria yang baru saja melewati dirinya.


Terlihat Almero menoleh kebelakang, namun hanya sedikit, demi mengikuti permainan sang Tuan Freya juga berpura-pura untuk tidak melihatnya.


Gadis tersenyum kepada seorang mahasiswa lain yang saat itu kebetulan menyapanya.


"Shial! Kenapa dia harus tersenyum kepada Alex! Awas saja sampai kalian kencan!" umpat Almero didalam hati.


"Tunggu! Memangnya apa masalah gue? Toh itu cewek udah biasa barengan sama cowok-cowok lain!" tatapan tajam Almero arahkan kepada Freya yang saat itu tengah ngobrol santai dengan pemuda yang kini berjalan di samping nya, ya... pemuda itu adalah Alex, salah satu teman Almero.


Setelahnya dengan langkah kaki yang sedikit ia hentakkan, Almero berjalan meninggalkan Freya yang masih asik mengobrol bersama Alex.


Drama pura-pura pagi itu cukup sampai di situ, begitulah pikir Almero, namun ternyata tidak!


Siang ini saat istirahat, Almero yang tengah makan sendirian di kantin tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan Freya, kali ini gadis itu pundaknya dirangkul oleh tangan Alex.


Membelalak netra hitam Almero, sungguh pemandangan yang mampu membakar hati, dan saat Almero menatap tajam Freya dari tempat duduknya, tiba-tiba gadis cantik itu menatapnya dan mengedipkan sebelah matanya.


Terlihat dari kejauhan, Freya berjalan menuju toilet sendiri, tak mau membuang-buang waktu segera Almero menyusul gadisnya itu.


Brak!


Ceklek!


Kasar Almero menutup serta mengunci pintu toilet kantin itu, perlahan Freya menoleh dan menatap raut wajah sang Tuan yang tidak biasa.


"Ada apa ya? Sedang cari siapa?" santai Freya bertanya.


"Mencari obat rindu!" sahut Almero yang dengan cepat meraih dagu Freya dan kemudian memagut bibir merah kenyal itu.


Freya mendorong dada Almero hingga terlepas pagutan keduanya.


"Apa sudah selesai pura-pura tidak kenalnya?" tanya Freya dengan melingkarkan kedua lengannya di leher Almero.


"Walau begitu kau tidak boleh dekat dengan laki-laki lain!" cetus Almero to the point, ia mengungkapkan ketidak nyamanan juga ketidak ikhlasan hatinya, saat melihat Freya mesra dengan laki-laki lain.


"Kau cemburu Tuan?" tanya Freya dengan memiringkan kepalanya.


"Memangnya siapa suruh semalam menghajar hamba habis-habisan, lalu siang hari seperti tak terjadi apa-apa!" celetuk Freya, Almero membelalak mendengarnya.


"Jadi semalam?" bingung Almero, ia pikir semalam itu hanya mimpi.


"Ya semalam kita melakukannya, bahkan tubuh ku rasanya mau patah semua," ucap Freya.


"Maaf...