
Freya keluar dari Kastil tua milik Lord Athan Arrow, namun terkejut ia saat baru saja ia membuka kedua daun pintu itu.
"Astaga!" teriak Freya yang melihat Alvin, Alan dan juga Lovie berdiri didepan pintu kastil.
"Kalian sedang apa disini?" tanta Freya dengan sesekali ekor matanya melirik kedalam kastil.
"Menunggu kalian selesai! Apalagi memangnya?" kali ini Alvin bernada dingin, Alan dan Lovie terdiam menatap kulit putih Freya yang terlihat ada bercak-bercak merah di sekitar lehernya.
"Ekhem... Terserah kalian saja! Aku mau pulang, Tuan sedang istirahat di dalam!" cetus Freya dengan melangkah keluar melewati ambang pintu.
"Tunggu Fe! Kau sudah melakukannya dengan yang Mulia, lalu kenapa sekarang kau meninggalkannya?" tanya Alvin.
"Bukan kah seorang gadis akan mengejar juga menuntut tanggung jawab dari laki-laki yang menyentuhnya?" imbuhnya lagi.
"Jika dia mau tanggung jawab, biarkan dia mencari ku! Toh sudah ada gadis lain yang disentuhnya, aku tidak sudi berbagi!" ketus Freya tanpa menoleh sedikitpun.
"Kau mau kemana?" Dengan kemeja yang kehilangan tiga kancing atasnya juga celana yang tidak bergesper Almero berdiri ditengah ambang pintu kastil.
Freya yang tentu sudah sangat hafal dengan suara khas itu menoleh, "Apa peduli mu?!" ketuanya.
Sontak Almero mengangkat kedua alisnya, terkejut ia mendengar nada ketus yang Freya lontarkan.
"Kau marah?" dengan mata yang menyipit Almero bertanya, bukan jawaban berupa kata-kata yang ia dapatkan melainkan helaan napas kasar yang Freya tunjukkan.
Seolah gadis itu kesal dengan perbuatan sang Tuan, tak mau ia menjawab dengan kata "IYA" yang hanya terdiri dari tiga huruf itu.
Almero berjalan mendekat melewati ketiga makhluk yang menunduk terdiam di tempat.
"Kau akan meninggalkan Tuan mu?" tanya Almero, pertanyaan itu membuat Freya menatap tajam sang Tuan, sungguh heran gadis itu, dari sekian pertanyaan kenapa yang terlontar bukan kata apa yang membuat mu marah? Coba jelaskan, biar aku dengarkan!
"Kalau kau masih bungkam, aku akan pergi dari sini!" cetus Almero.
"Pergi saja pergi sana! Temui gadis yang kau ajak terbang itu! Aku juga akan pulang!" geram Freya, ia pun segera menghilang dari hadapan Almero.
Slap!!
"Malah hilang, dasar wanita!" lirih Almero, Alan dan Alvin saling pandang kemudian Alvin memberanikan diri untuk mendekati Almero.
"Yang Mulia, maafkan adik hamba, dia begitu karena cemburu, dia tadi melihat yang mulia bersama gadis penyihir itu," jelas Alvin.
"Oh jadi dia benar marah?" tanya Almero.
"Iya yang Mulia," sahut Alan, Alvin serta Lovie bersamaan.
"Ya sudahlah, biarkan dulu saja, biasanya kalau marah diganggu, kan nggak kelar-kelar marahnya," santai Almero berucap dengan melangkahkan kakinya memasuki kastil.
Melongo ketiga makhluk lainnya, tak habis pikir mereka dengan dua sejoli yang saling menjauh tanpa mereka sadari.
Yang satunya keras kepala, sedikitpun tak mau berpikir panjang dan juga tak mau mendengar penjelasan.
Yang satunya cuek, tidak mau bersusah payah menjelaskan apa lagi harus mengejar jauh, dan memohon agar si do'i tidak marah.
Sungguh susah untuk berada di tengah-tengah mereka berdua, "Kalian di sini, layani kebutuhan yang Mulia, aku akan mencoba mengejar Freya, mungkin dia belum jauh," Alvin si kakak paling tua mengatur agar bagaimana baiknya.
"Baiklah," cetus Lovie dan Alan bersamaan. Tak mau menunggu lama Alvin segera pergi, sedangkan Alan dan Lovie masuk kedalam kastil.
^^^Di kastil Victor...^^^
Di lantai atas, tepatnya didalam kamar yang masih berantakan sedari tadi, Freya nggedumel tak karuan, gadis itu masih melampiaskan amarahnya.
"Gila! Gila! Gilaaaaaa!!! Apa sih kurangnya aku? Kenapa bersaing dengan manusia lemah saja aku kalah!" teriaknya dengan menghadap jendela.
"Daddy?" lirihnya seraya menoleh kearah sumber suara.
"Kau menangis lagi sayang?" tanya Victor trenyuh melihat air mata putri bungsunya.
Freya menggeleng dengan mengusap pipi basahnya.
"Kenapa harus marahan jika kau masih perduli? Harusnya kau biarkan saja tadi dia mati ditangan penyihir itu," cetus Victor dengan santainya.
"Daddy nggak tau bagaimana perasaan Fe! Freya sudah bertanggung jawab atas keselamatan raganya juga kemampuannya, lalu jika Fe tau dia dalam bahaya apakah Fe bodoh dengan berpura-pura tidak perduli? Freya tidak bisa diam saja Daddy," jelas gadis itu panjang lebar.
"Itu bukan sekedar tanggung jawab Sayang, itu namanya keperdulian," cetus Victor dengan menatap kedalam manik kemerahan Freya.
Terdiam gadis itu, sakit hati yang kian menggerogoti relung kalbu menjadikan otak gadis itu buntu, tak mau berpikir panjang lagi tentang apa dan bagaimana asli dari perasaannya itu.
"Jika kau masih menyayanginya jangan tinggalkan dia," cetus Victor.
"Jika dia mempunyai rasa sayang yang sama dan lebih besar, biarkan saja dia yang mencari ku!" ketus gadis itu berucap dengan kedua tangan yang bersidekap didepan dada.
"Fe... Tidak semua laki-laki bisa dengan mudah mengungkapkan perasaannya," itulah kata terakhir sebelum Victor membiarkan putri cantiknya seorang diri di dalam kamar, merenung terdiam Freya, terkadang ia memikirkan jika memang benar apa kata sang ayah, tapi lagi-lagi ego dan juga sakit hatinya berbisik, kenapa harus aku? Toh dia yang mulai duluan, harusnya dia yang mencari ku, bukan aku!
Begitulah Freya, otak dan perasaannya sesekali tidak singkron karena ego yang tinggi bertemu dengan nasihat sang ayah.
Sedang di dalam kastil tengah hutan Forks Washington, Benjamin Almero tengah duduk santai di atas sofa lembutnya, tentu saja bersama Alan, Alvin dan juga Lovie.
Lovie yang tau menahu tenteng sejarah menghilangnya Lord Athan Arrow menjadi sasaran interogasi empuk oleh ketiga pria tampan berkulit pucat itu.
"Jadi kau tau siapa yang mencari tanaman beracun itu?" tanya Almero dengan kaki yang ia luruskan ke atas meja, sedang tangan kanannya menopang pipi dan siku yang menjadi tumpuan pada tangan sofa.
"Tau yang Mulia," sahut Lovie dengan menunduk, tak berani gadis itu mendongak menatap wajah tampan yang sempat mencuri hatinya.
Rasa kecewa memang ada Lovie rasakan, namun gadis itu cukup tau diri karena rasa sakit hati itu ia sendiri yang menciptakan.
Segera ia memupus rasa kagum itu sebelum bertumbuh menjadi cinta terlarang, lalu jika harapannya saja sudah pupus, untuk apa ia masih berada di tengah-tengah kaum penghisap darah ini?
Entahlah, itu masih membuat Lovie cukup pusing juga, rasanya ia mulai nyaman bersama mereka.
"Boleh kau beri tau aku? Aku bayi yang ditinggalkan itu, bisa kau ceritakan?" pinta Almero masih dengan nada santainya.
"Tapi saya hanya mendengar penggalan cerita ini dari tetua-tetua bangsa serigala, jika cerita lengkapnya saya kurang yakin," lirih Lovie.
Mengangguk-angguk pelan Almero berusaha mengerti.
"Tapi sudah jelas manusia yang mengumpulkan tanaman racun itu suruhan dari Zaros, kan?" tanya Alvin.
Lovie menatap Alvin dengan menganggukkan kepala, "Iya, sepertinya memang Zaros,"
"Freya belum mendengar yang versi ini yang Mulia, dan saat ini dia sedang marah, apa tidak sebaiknya kita jelaskan dulu saja masalah kalian berdua?" tanya Alvin, tentu saja dengan nada yang sopan dan sangat berhati-hati, memang sang Tuan terlihat santai, tapi Alvin susah untuk menerawang bagaimana sifat aslinya.
"Biarkan saja, biar dia istirahat, mungkin dia lelah," ucap Almero dengan santainya.
"Tapi yang Mulia, Freya dalam kondisi cemburu, takutnya dia akan bertemu dengan pangeran Bastian, dan membalas rasa sakit hatinya, pada mu," cetus Alvin yang sudah hafal betul bagaimana perangai adiknya jika sudah marah dan merasa tersakiti.
"Pangeran Bastian?" mengernyit dahi Almero mendengar nama itu.
"Ya, dia putra dari Zaros," sahut Alvin.
"Kita lihat saja dulu, toh kalau dia berani bersama laki-laki lain, bukan aku yang akan tersakiti, melainkan laki-laki itu," senyum miring itu terlihat mengerikan ketika wajah tampan Almero yang menunjukkannya.