
"Victor, apa kabar?" suara yang begitu familiar membuat Victor membuka kedua tangan yang menutupi indera penglihatannya.
Terbelalak kedua mata Victor, rasa haru, bahagia, terkejut, semua bercampur aduk menjadi satu.
Bahkan lidahnya kelu, tak tau bahasa juga suara apa yang akan ia serukan demi membuka obrolan bersama dengan yang Mulanya itu.
Terlihat senyum hangat Athan Arrow kala Victor menatapnya dengan tatapan sendu yang penuh akan segudang rindu.
"Yang Mulia..." lirihnya dengan berlutut dihadapan Athan Arrow.
"Berdirilah, bukan kah aku tidak menyukai lutut mu yang kau tekuk?" terselip sedikit canda di dalam larangan halus itu.
"Anda masih sama," cetus Victor dengan menundukkan kepalanya tapi walau begitu Victor tetap mengulas senyum diwajahnya.
Terdengar helaan napas panjang dari Athan Arrow, sebelum ia lanjut berucap, "Ada apa? Kenapa kau sampai memaksa untuk masuk kemari?"
Tertegun Victor, masih sama sang Lord yang dulu begitu hebat, bahkan setelah lama menghilang Athan Arrow masih dapat mengetahui apa yang Victor lakukan tanpa ia bercerita.
"Jangan memasang ekspresi bodoh itu! Kau tentu mengenalku, aku ini masih sangat hebat," ucapnya dengan arogan yang sama seperti dahulu saat masa jaya.
"Jika baru begini saja kau sudah terkejut, kau mau kaget bagaimana lagi jika aku meminta putri mu untuk menjadi menantuku?" sambungnya dengan duduk di sebuah kursi yang terlihat mewah berlapis emas juga batu berlian di sisi kanan dan kirinya.
"Maksud anda kita..."
"Ya... mau tak mau kita harus besanan, putri mu pasti sudah mengandung benih dari putra mesum ku," santainya Athan Arrow berceletuk.
Terbelalak Victor, sungguh rasa marah, kecewa, namun juga bahagia bercampur menjadi satu, bingung rasanya ayah tiga anak itu bagaimana mengungkapkannya.
Almero terdiam, seperti tak merasa bersalah, putra Athan Arrow itu terlihat bersandar pada dinding yang tak terlihat, dengan kepala yang ia tengadahkan ke atas. Terkesan tak perduli dengan apa yang tengah di bahas oleh orang tua di sampingnya.
"Kenapa? Kau tak suka kita berbesanan?" pertanyaan konyol itu membuat Victor mengedip beberapa kali.
"Bukan begitu yang Mulia, tapi..."
"Kau merencanakan pernikahan putri mu bersama dengan putra Zaros? Bahkan setelah kau tau jika Zaros dalang dari kematian Ratu ku?" pelan kelopak mata Athan Arrow bergerak, namun tajam tatapan mata yang tadinya penuh canda.
Sudah hafal Victor dengan tatapan itu, sang Lord sudah kembali serius, bahkan amarah hampir menguasai-nya.
"Maaf, akan segera di batalkan," cetus Victor yang tak mau jika sampai sang Lord meluapkan amarahnya.
🌹🌹🌹🌹🌹
Setelah keluar dari alam bawah sadar Benjamin Almero, Victor dengan segera membatalkan semua rencana perjodohan putrinya.
Mengira Almero mencuci otak ayahnya, Freya terlihat marah, ia menghampiri Almero yang tengah bersantai malam di balkon kamarnya.
"Kau mempengaruhi Daddy agar aku membatalkan perjodohan ku dengan pangeran Bastian?" cecarnya dengan amarah yang meletup-letup.
Santai Almero melirik gadis yang selalu singgah dihatinya itu, "Sudah marahnya, sudahi juga acting nya!"
Set... Bugh!!!
Mendarat pantat kenyal Freya di atas pangkuan Almero, "Jangan macam-macam yang Mulia!"
Tubuh yang berontak itu membuat Almero harus menahan dengan pelukannya, "Lepas!"
"Diamlah, dan lihat aku!" tegas Almero hingga membuat Freya terdiam, "Benarkah kau sangat membenciku?" tanya Almero.
Tatapan teduh Almero membuat Freya tak dapat berbohong sedikitpun, tak sadar gadis itu menggelengkan kepalanya, walau lemah gerakan kepala itu, Almero dengan mudah mengartikan semuanya.
"Kau masih cemburu? Bahkan wanita itu sudah mati Fe!" cetus Almero dengan tatapan yang sedikitpun tak beralih dari wajah cantik sang kekasih hati.
Freya masih terdiam, tak satu katapun terucap dari bibir merahnya, entah apa yang membuat gadis itu seolah kehilangan nyali.
Almero memiringkan wajahnya, tak pelan kali ini dengan gerakan cepat Benjamin Almero memagut bibir merah yang telah ia rindukan itu, dan...
Ceklek!!!
Pintu terbuka dan di sana ada Victor yang muncul dengan tangan yang masih memegang handel pintu.
Tercengang ayah tiga anak itu berdiri tak bergerak dari tempatnya, dilihatnya sang putri tengah berpagutan dengan Benjamin Almero, yang membuat Victor malu adalah posisi Freya yang tepat berada di atas Almero, dan di mata Victor terlihat jika Freya dengan rakus memagut laki-laki yang berada dibawah kungkungannya.
"FREYA VICTORIA!!!" teriak Victor dengan mata yang memerah juga membulat.
tersentak kedua muda-mudi itu hingga reflek tangan Freya mendorong dada Almero agar segera menjauh, tapi naas, gadis itu malah akan terjatuh kebelakang hingga tak sengaja jemari lentiknya mencengkeram erat kerah baju Almero.
"Tidak tau malu!" Victor berjalan mendekati putri bungsunya. Pikiran tawaran tentang besanan bersama sang Lord terdahulu semakin terpikirkan oleh Victor.
Ditariknya pengan Freya hingga gadis itu terlepas dari pelukan Almero, "Tuan Victor, jangan kasar dengannya," ucap Almero dengan pelan, gayanya sama dengan ayahnya.
"Haish, memang benar kalian harus segera dinikahkan," cetus Victor.
"Tapi Dad, bagaimana dengan pangeran Bastian?" tanya Freya.
"Kau masih berani memikirkan laki-laki lain di saat kau mengandung benih dari laki-laki yang ada di hadapan mu itu?!" tanya Victor dengan menunjuk Almero yang berdiri dengan santainya.
"Daddy?" panggil Alvin yang baru tiba di depan pintu ruangan itu.
Victor menoleh, ia menatap putra sulungnya, "Bantu siapkan untuk menikahkan adik mu!" titahnya.
"Dengan pangeran Bastian?" tanya Alvin.
"Dengan yang mulia Benjamin Almero!" cetusnya dengan lantang, tak tau Victor jika sang putra sulung datang ingin memberi kabar, namun belum sampai kabar itu terucap sudah lebih dulu tamu yang berkunjung menghampiri kegaduhan.
"Tuan Victor? Anda mengkhianati saya?" tanya Zaros yang saat itu tiba di belakang Alvin.
"Lord..." menunduk Victor bingung, semua menundukkan kepala selain Almero, pemuda tampan berdarah campuran itu dengan santainya memandang raut kekecewaan Zaros.
Tak pernah berselisih keduanya, namun Almero merasa ada kebahagiaan tersendiri melihat raut wajah Zaros kali ini.
"Hancurkan keluarga Victor!" teriak Zaros dengan mata yang menyala merah darah, seolah emosi yang memuncak menguasai dirinya.
Seketika penerangan lilin di dalam Kastil milik Victor padam, sekelebat bayangan hitam muncul mengelilingi keluarga Victor.
"Dari pada menghancurkannya, bawa saja putri Freya!" titah Bastian yang kala itu juga hadir bersama sang ayah.
Segerombolan bayangan hitam yang bergerak bak angin yang menerbangkan mulai mendekati Freya, juga entah mengapa gadis cantik bertaring tajam yang biasanya lincah itu sedikitpun tak bisa bergerak.
Bayang-bayang hitam mulai mengerumuni tubuh cantik nan seksi itu, hingga sinar merah menyilaukan memancar mengelilingi tubuh Freya, "Jauhkan tangan kotor kalian dari kekasih ku! Atau nyawa kalian jadi mkanan ku!...