
Sudah hampir seminggu ini Freya berdiam diri didalam kamarnya, bahkan selama itu pula gadis cantik itu tak menyentuh minuman merah yang selalu dicaci nya.
Victor juga Helena sang istri merasa khawatir, sungguh ini bukan sifat putrinya, dia bukan tipe gadis yang akan mogok makan saat ia mempunyai masalah dengan orang lain.
Bahkan seingat Victor Freya akan balas menyakiti siapapun yang berani menyakiti dirinya.
"Fe, sayang," halus suara Helena merasuk kedalam indera pendengaran Freya, menoleh pelan gadis itu merespon panggilan sang ibunda tercinta.
"Apa yang membuatmu sehancur ini sayang?" tanya Helena dengan raut khawatir.
Menggeleng pelan seolah Freya enggan mengeluarkan suara emasnya, "Sayang, ini bukan dirimu, Freya yang Mommy kenal tidak serapuh ini, Freya Victoria selalu kuat dan licik juga kejam, lalu siapa yang berdiri didepan Mommy sekarang ini? Gadis lemah yang bersimpah air mata? Iyuh... Mommy tidak habis pikir, setelah berkelana ke negara luar sana kau kembali membawa air mata dan juga sifat mudah kalah mu ini," cetus Helena dengan suara cemprengnya.
"Stop Mom! Mommy nggak ngerti apa-apa! Daddy, dia malah paham bagaimana memperlakukan Fe!" ketus gadis itu berucap.
"Tapi sayang, setidaknya jika kau dicubit itu rasanya sakit, maka dari itu, balaslah dia agar dia juga merasakan hal yang sama!" terangkat kepala yang sedari tadi menunduk, Freya menatap wajah cantik sang ibunda.
Senyum miring terlihat di ujung bibirnya, "Mommy benar juga, Fe nggak boleh lemah! Semakin tersakiti harus semakin mempercantik diri!" cetus gadis itu setelah memperlihatkan senyum miringnya.
Helena sedikit merasa puas karena berhasil dengan kata-kata kompornya, bahkan Victor heran dengan istri cantiknya itu, tapi walau begitu Victor tetap berterimakasih kepada sang istri karena berhasil dalam rencananya.
^^^Di kampus...^^^
Tak dapat di pungkiri, Almero saat ini tengah dilanda rasa gundah juga gelisah, karena gadis yang biasa menghiasi harinya sudah hampir seminggu lebih ini tidak terlihat.
"Awet juga marahnya ya?" gumam Almero dengan mengetuk-ngetukkan pulpen yang ada di jemarinya.
"Yang Mulia?" suara itu sontak membuat Almero menyapukan pandangan keseisi ruangan tempatnya belajar.
"Hamba di sini yang Mulia," bisik suara itu lagi, kali ini atensi Almero terarah kearah Pulpen yang di genggamnya.
"Alvin?" lirihnya kala melihat rupa Alvin didalam benda kecil itu.
"Ada apa?" Imbuhnya setelah kedua matanya melirik ke sisi kanan dan kiri.
"Anda merindukan adik saya?" tanya Alvin.
Tak mau lagi Almero membohongi diri sendiri, ia pun mengangguk kecil tanpa menatap Alvin, "Kau tau dimana dia?" tanyanya kemudian.
"Ada di kastil kerajaan," sahut Alvin.
”Baik, bawa aku ke sana!" titahnya yang segera bergegas dari tempat duduknya.
Kebetulan jam kuliah sudah selesai, Almero segera pergi dari kelasnya.
Setibanya di sekitar hutan, Alvin mencegatnya, "Lewat sini yang Mulia," titahnya lembut.
Almero hanya mengikuti setiap arahan yang Alvin tunjukkan, juga selama ini tak rugi ia menampung Lovi, Alan dan tentunya Alvin di dalam kastil milik ayahnya.
Pasalnya selain ia selalu tau dimana keberadaan Freya, ia juga mendapatkan pelajaran tarung dan juga pengembangan kekuatannya dari ketiga makhluk itu.
"Kalian mau kemana?" tanya Lovie yang saat itu tengah berada didepan kastil.
"Kita akan kembali ke London!" cetus Alvin, terlihat gurat kecewa saat Lovie mendengar jawaban itu.
"Kalian akan meninggalkan ku?" tanyanya.
"Tidak, kau ada tugas, carilah siapa yang memetik tanaman racun waktu itu!" titah Almero membuat Lovie patuh.
^^^Didepan gerbang kerajaan...^^^
Tiba kedua putra Victor itu didepan gerbang kerajaan bersama dengan Benjamin Almero, ketiganya terus terbang menuju salah satu kastil yang letaknya berada di pinggiran.. Mewah juga megah tapi bangunan itu di dominasi warna hitam merah yang membuat suasana menjadi terlihat lebih mencekam.
Baru saja Almero merasakan perasaan tak asing yang membuatnya nyaman namun rasa itu segera hilang kala ia melihat gadis cantik yang selama ini dicarinya.
"Freya?" lirih Almero dengan berjalan mendekati gadisnya.
Freya yang mendengar suara yang sungguh tak asing itu segera menoleh, dan...
Greb!!!
Didapatkannya peluk erat dari belakang, Freya sedikit terkejut dengan ini, tapi aroma maskulin yang sebenarnya sangat ia rindu ini membuatnya terdiam.
"Aku merindukan mu," bisik Almero mengecup ceruk leher gadis kesayangannya itu.
Sedikitpun Almero tak mendapatkan balasan pelukan dari kekasihnya, berdiam diri Freya sedikitpun tak ada niatan untuk berkata ataupun bergerak.
"Sayang?" lirih Almero dengan melepas pelukannya, ditatapnya
wajah datar yang masih saja terlihat cantik itu.
"Kau masih marah?" tanya Almero dengan suara pelan.
"Fe? Siapa dia?" suara laki-laki membuat Almero menoleh, bersamaan dengan itu Freya melepaskan tangan Almero yang memeganginya.
Berjalan kaki Freya mendekati laki-laki yang baru saja tiba di sana, "Tuan, perkenalkan ini pangeran Bastian, calon tunangan hamba,"
Almero terdiam, tak menyangka dia jika sampai hati Freya mengatakan itu didepannya.
"Pangeran, perkenalkan ini Tuan Benjamin Almero, pemilik kastil megah di Washington, dia yang menampung hamba dan kedua kakak hamba saat perburuan beberapa bulan yang lalu," jelasnya, walau banyak bicara Freya masih memasang wajah datar, tak sedikitpun ia berani menatap kedua netra merah yang selalu mengincarnya.
"Kau yakin dengan ucapan mu Freya?" terlihat rahang Benjamin Almero mengeras sekeras batu, bahkan mata yang biasanya terlihat tenang kini terlihat memancarkan amarah dan kekecewaan.
Freya menunduk serta memandang kesamping, tak tau ia harus menjawab apa, "Anda di sini yang Mulia?" suara Alvin memecahkan keheningan, baru saja ia kembali menemui Almero setelah berkeliling kastil besarnya demi mencari keberadaan Victor dan juga Helena.
Alvin tau ia salah memanggil, identitas asli Almero sudah disepakati untuk disembunyikan lebih dulu, "Ah em... ayolah kawan, ini di London, dan nikmatilah liburan mu di negara ini!" ucapnya seraya merangkul pundak Almero dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Kebetulan sekali saat ini Zaros bersama Zeli sang istri dan putra mereka ya itu Bastian, tengah berkunjung demi melancarkan lamarannya.
"Daddy! Alvin pulang membawa..." teriakan itu terhenti kala Alvin melihat wajah-wajah tidak asing itu.
"Halo," sapa Almero dengan sopan, sontak semua mata memandang kearah laki-laki tampan yang tak asing itu.
"Kau kembali?" gumam Zaros, sontak semua mata melirik ke arahnya tak terkecuali Zelin, "Are you ok honey?" tanyanya dengan menepuk pelan pundak Zaros.
Victor yang serba salah hanya menatap putra sulungnya, saat itu juga Alvin mengirim telepati kepada sang ayah.
"Dia putra Lord Athan Arrow," terlihat Victor mengangguk kan kepalanya, "Oh jadi dia teman mu yang kau ceritakan beberapa waktu yang lalu Vin? Baiklah bawa dia untuk istirahat di tempat mu, Daddy ada sedikit urusan,"
"Iya Daddy, permisi," Almero bersama dengan Alvin berjalan menuju kamar pribadi milik Alvin.
Setibanya di dalam kamar, "Ada apa yang Mulia? Anda baik-baik saja?" tanya Alvin yang mendapati raut wajah Almero berubah.
"Aku kalah, Freya ternyata benar-benar sakit hati, dia benar-benar marah...