My Majesty

My Majesty
Bertemu



Seperti halnya bekas luka yang terkena air garam, sakit, perih bahkan mampu meluruhkan air mata bagi yang tak kuasa menahannya.


Freya merasa kan sakit, perih juga sesak didalam dadanya, entah mengapa, bukankah ini ajang balas dendamnya?


Tapi mengapa gadis itu tak sedikitpun berani menatap wajah tampan yang telah berhasil menggores luka didalam hatinya? Benarkah rasa cinta tulus itu benar adanya? Rasa tulus yang bertahan bahkan setelah hati tersayat dan terluka.


Berlalunya Benjamin Almero dari hadapannya, berlalu pula rasa ingin balas dendamnya, tidak tega gadis itu menatap wajah tampan yang seolah menyiratkan rasa kecewa.


Bimbang juga ragu, yang kini Freya rasakan, inginnya ia sudahi sandiwara yang dia buat sendiri ini, tapi bagaimana?


Haruskah dia yang mendekat dan meminta maaf? Tapi kan Almero yang memulainya, bukankah harusnya dia yang meminta maaf.


Tapi bukankah Almero sudah berusaha mendekati dirinya saat baru pertama tiba tadi?


Freya di bingung kan sendiri oleh pikirannya. Hingga malam tiba, Freya yang masih dilanda kebimbangan tersentak karena aroma maskulin yang teramat ia hafal merasuk kedalam indera penciumannya.


"Tuan?" lirihnya tanpa sedikitpun ia menolehkan kepalanya.


"Kau tau aku di sini?" tanya Almero, raut wajah yang biasanya bengis nan tampan itu terlihat sedikit sendu, bahkan semangat yang biasa berapi-api entah lenyap hilang kemana.


Terdiam Freya, kini ia berbalik menatap sang Tuan yang menunjukkan ekspresi tak biasa, "Kenapa dengan wajahnya? Sejak kapan dia punya ekspresi seperti itu?" batin Freya dengan sesekali menatap wajah yang masih menatap lurus kearahnya.


Set!!


Dengan sekejap mata, Almero sudah berpindah tempat di hadapan Freya, "Tu... Tuan," tergagap Freya dengan suara lirihnya.


Almero menyibak rambut ikal yang menjuntai itu, di selipkannya rambut panjang itu di balik telinga Freya, "Biar kulihat baik-baik," deep voic nya bertutur.


Meremang bulu kuduk Freya, baru saja Almero menyentuh helaian rambut dan juga ujung telinganya, gadis itu sudah dibuat bergetar hebat didalam dada.


"Ada apa dengan ku?" batinnya bergejolak kala ia merasakan detak jantung yang kian lama semakin cepat berdetak.


Bahkan susah payah gadis cantik bermata merah itu mengatur napas, "Are you ok?" tanya Almero dengan menatap wajah yang selalu berpaling darinya.


"Fe?" Almero mencubit sedikit dagu Freya agar gadis itu menatap kearahnya, bertemu pandang kedua mata berwarna senada merah darah itu.


Seperti biasa Almero selalu terpesona dengan kecantikan wajah, juga merah rona bibir Freya.


"Jangan bersama laki-laki lain," lirih bisikan Almero membuat Freya menarik salah satu ujung bibirnya.


"Lalu, kau bebas mendekati gadis mana pun?" tanya gadis itu dengan menepis tangan Almero dari dagu lancipnya.


"Kau marah karena Rosalie?" mengerut kedua alis Almero.


"Masih juga kau mengingat dan menyebut namanya, ini kastil milik Daddy, tidakkah kau tau malu yang Mulia?!" cetus Freya dengan sorot kekecewaan.


"Fe dengarkan aku dulu..."


"Apa lagi? Penjelasan macam apa yang akan kau perdengarkan kepada hamba?" sela Freya yang membuat Almero terdiam.


Sesakit itukah kekasih hatinya? Sampai intonasi tinggi yang ia gunakan untuk berbicara bersama.


Almero menunduk, napas panjang ia hirup kemudian ia hembuskan, "Diam?" Almero mendongak kala bibir cantik nan seksi itu men celetuk satu kata.


"Heh, kau... maaf, anda memang tidak pernah perduli dengan..."


"Dia penyihir Fe!" sela Almero dengan nada tinggi, bahkan gema mengikuti suaranya.


Terhenyak Freya kala mendengar kata penyihir, "Dia mencuri batu mulia milik ayah," imbuhnya.


Di sana terlihat Freya menampakkan raut sulit untuk percaya, namun kemudian Alvin datang diantara keduanya, "Yang Mulia Benjamin tidak berbohong Fe," cetuanya.


Kini pandangan Freya beralih menatap Alvin, "Percayalah, beliau hanya ingin mengambil kembali barang milik Lord Athan Arrow," jelas Alvin.


"Kenapa ada bangsa serigala di sini?!" terdengar kegaduhan dari arah luar kastil. Sontak semua atensi beralih kearah luar.


"Aku kesini tidak ada urusannya dengan kalian! Aku ada perlu dengan Tuan Alvin!" terdengar suara gadis di sela-sela keramaian.


Segera Alvin bersama dengan Almero dan juga Freya melesat menuju halaman kastil.


Terlihat kerumunan bangsawan terlihat tengah berdiri, seperti mengitari mangsanya.


"Lovie?" Alvin melihat sosok cantik dengan telinga berbulu itu berdiri dikerumuni para bangsawan yang siap menerkam kapan saja.


"Dia bersama ku!" teriak Alvin, semua atensi beralih kepada wajah tampan putra sulung Victor, "Apa maksudmu sayang?" Helena tak percaya dengan untaian kata yang tercetus dari bibir putranya.


"Iya Mom, dia bersama ku," jelas saja Helena menampakkan raut kekecewaannya.


"Alvin?" lirih Lovie dengan menunjukkan bahwa dia membawa seseorang.


Mengerut kedua alis Alvin, terbelalak kedua mata Freya, kakak beradik itu terkejut dengan pikiran yang berbeda.


"Kenapa Lovie membawa manusia ke sini?" Alvin masih dengan mengerutkan kedua alisnya bergumam dalam hati.


"Itu kan pamannya Tuan Benjamin, untuk apa dia kemari?" terbelalak bulat kedua mata Freya.


"Ini urusan keluarga kami, mohon maaf untuk tuan-tuan dan nyonya sekalian, silahkan kembali ke kediaman masing-masing," bijak Alvin berucap, walau banyak decak kesal terdengar ditelinganya.


Berkumpul keluarga Victor bersama dengan, Almero dan juga Lovie, "Untuk apa kau membawa manusia ke sini?" setelah duduk bersama Alvin membuka pembicaraan.


"Tentu saja membantu kalian, aku cukup tau diri untuk membalas kebaikan kalian," cetus Lovie.


"Jadi kau menghilang barusan..."


"Ya, aku kembali ke Washington untuk menjemput biang masalah ini!" cetus Lovie.


"Maksudnya?" masih tak mengerti Alvin bertanya lagi.


"Ya dia biang masalah dari menghilangnya salah satu kaum kalian," jelas Lovie.


"Apa yang dia maksud, Lord Athan Arrow?" tanya Victor, sungguh tubuhnya bergetar kala menggabung-gabungkan kepingan pazel kehidupan ini, mulai dari bertemu dengan Almero, kemiripan wajah Almero dengan Lord terdahulu, hingga manusia yang di bawa Lovie saat ini.


"Iya Daddy, jadi bangsa serigala mengetahui titik permasalahan bangsa kita," jelas Alan yabg sedari tadi diam di samping Lovie.


"Jelaskan! Dimana beliau?" tanya Victor dengan antusias, "Beliau ada di dalam diri saya, Tuan Victor," Almero menimpali.


Semakin dibuat bingung Victor dengan keadaan ini.


"Mari bertemu ayah saya!" ajak Almero dengan memegang punggung tangan Victor.


Belum sempat Victor menjawab, keduanya sudah sampai di alam bawah sadar Benjamin Almero.


Hanya dalam sekejap mata saja, ruangan hening nan gelap itu sudah dijejaki keduanya, "Ini alam bawah sadar mu?" tanya Victor.


"Iya," sahut Almero dengan memejamkan kedua matanya, terlihat ia berdiam diri entah apa yang dirapalnya hingga bibir merah itu terlihat Bergerak-gerak seperti membaca mantra.


Sedikit kecurigaan Victor, ia memaksa untuk membaca pikiran Almero, terdengar samar suara memohon Almero.


"Ayah, Al membawa tangan kanan mu yang hingga saat ini masih setia kepada mu, juga batu mulia ini ada pada Al, muncullah Ayah," terdengar samar suara itu di pendengaran Victor.


Sedikit kecurigaan Victor mulai menghilang dan...


Sriiiinggg...


Cahaya menyilaukan membuat Victor menutup kedua matanya, kedua telapak tangan ia tutupkan di wajahnya, "Victor? Apa kabar?...