My Majesty

My Majesty
Cemburu



Brak!!


Terbuka dengan cara kasar daun pintu rumah mewah itu terlepas sampai membentur dinding yang jauh ada didepannya.


Seekor serigala besar berwarna putih dengan corak abu-abu melangkah masuk kedalam hunian mewah itu.


Terlihat memancarkan amarah kedua mata berwarna biru pekat milik serigala putih abu-abu itu.


^^^Kastil London...^^^


Bersimpah air mata wajah cantik nan ayu Freya meredup ekspresi sejak beranjak dari negara dimana sang kekasih tinggal.


Hati yang sebelumnya cerah ceria seolah kini mendung berkabut gelap, bahkan seperti adanya tanda-tanda badai besar akan melanda suasana hati gadis vampir itu.


"Aaaaarrrrrggghhhhh!!!"


Srak!! Brak!!


Berteriak kencang seolah meluapkan amarah, Freya yang kini berada didalam kamarnya menghancurkan semua barang yang tertata rapi di atas meja.


"Fe? Apa yang terjadi sayang?" tanya Victor, sejak melihat putri satu-satunya kembali dengan aura gelapnya Victor terus diam-diam mengikuti kemana langkah kaki Freya.


"Hancur Daddy! Freya bodoh! Freya terlalu naif!" ceracaunya dengan duduk berlutut menghadap kearah jendela.


"Apa? Apanya yang hancur? Kau patah hati?" tanya Victor.


"Huuaaaa!!! Daddy kalau bicara suka benar! Huuuuaaaaa!!!" menangis histeris gadis itu dengan menutup wajahnya.


Memang benar kata banyak orang, cinta pertama seorang anak gadis ada pada ayahnya, terbukti Freya lebih terbuka dan nyaman curhat dan menangis tersedu didepan sang ayah.


Victor tanpa ragu memberikan peluk hangat kepada putri cantiknya itu, "Sudah Daddy bilang bukan? Baby jangan sampai jatuh hati dengan tampang polos manusia diluar sana! Mereka memang terlihat baik, tapi hatinya..." terdiam sejenak Victor karena Freya melerai pelukannya.


"Dia bukan manusia Daddy!" cetus gadis itu dengan menyeka air mata yang membasahi pipinya.


"Jangan bilang dia manusia serigala!" mata tajam itu Victor layangkan untuk anak gadis kesayangannya.


Menggeleng pelan Freya, gadis itu menyahuti dengan suara lirih, "No! Bukan, dia bukan manusia setengah anjing itu!"


"Lalu?" mengerut kedua alis Victor, mulai berpikir keras ayah tiga anak itu, bagaimana tidak?


Memangnya makhluk apa yang sudah berhasil merenggut hati putrinya, yang bahkan pangeran bangsa vampir saja ditolaknya mentah-mentah.


"Dia putra Lord Athan Arrow," terbelalak keda mata merah darah milik Victor.


"Fe! Kau jangan bercanda dengan Lord terdahulu nak!" serius bahkan penuh penekanan Victor kala ia berucap kepada sang putri.


"Freya serius Daddy! Tapi sudahlah, dia sudah bangkit, sudah hebat juga, sudah pandai menguasai kemampuannya, paling juga sebentar lagi dia akan kembali bersama calon ratunya," cecar gadis itu.


Terhenyak Victor dengan penuturan sang putri, bingung, cemas, dan takut bercampur aduk menjadi satu.


Jika soal kesetiaan tentu saja Victor masih setia kepada Lord terdahulu, tetapi dimana dia? Mengapa jika masih hidup tidak muncul untuk merebut kembali tahta yang telah disalah gunakan oleh sang adik.


Takut, sungguh Victor takut, jika sampai terjadi peperangan antar kaumnya yang mana pasti akan merenggut banyak nyawa termasuk keluarga tercintanya, tidak seperti dulu yang brutal berani bertaruh nyawa demi sang raja, kini ada tanggung jawab hati yang membuat tangan kanan Lord Athan Arrow itu banyak mempertimbangkan segala sesuatu.


Mungkin sekali lagi benar kata orang-orang, selagi muda semangat selalu membara, emosi mudah pula terbakar bergelora, tetapi saat dewasa menjejaki, maka pikiran dan pertimbangan selalu mengisi otak dan perasaan, apalagi sudah ada orang-orang tersayang yang mengisi hari-hari sendirinya.


Ditengah kegundahan Victor, Freya mulai terdiam, terpejam kedua netra yang masih saja mengucurkan air mata, "Fe, yang Mulia dalam bahaya, dia terkena serangan penyihir!" telepati dari Alvin mampu menembus beberapa mil jauhnya.


Terbuka kedua mata merah darah itu, "Daddy! Dia sedang dalam masalah! Freya harus pergi sekarang!"


Slap!!


Tanpa menunggu jawaban dari sang ayah, Freya sudah menghilang, "Haish, tadi katanya sakit hati, sekarang mendengar dia terluka sudah pergi begitu saja, dasar anak muda!" gumam Victor.


^^^Kediaman Penyihir...^^^


Almero terdiam menatap binatang besar yang mulai mendekat itu, lengah laki-laki tampan itu hingga...


Blast!! Brak!!


Dada bagian kanan Almero berhasil diserang oleh penyihir tua atau ibu dari Rosalie yang bernama Valen.


"Beraninya kau!" teriak serigala putih yang tak lain adalah Lovie, gadis serigala itu melompat dan menggigit pinggang wanita tua itu.


Terjadi pertarungan sengit antara Lovie dan Valen, dan saat itu juga Freya datang bagai angin yang menyambar tubuh sang Tuan yang bersimpah darah.


Diterobosnya pagar gaib milik Valen yang membuat tubuh Freya terasa memanas, "Fe! Kau baik-baik saja?" tanya Alan.


Sungguh Alan dan Alvin mengkhawatirkan kondisi sang adik yang nekat masuk kedalam hunian mewah tanpa undangan si pemilik rumah.


Napas memburu, Freya tak segera menyahuti pertanyaan dari sang kakak, ia malah terlihat mengkhawatirkan Benjamin Almero yang masih didalam dekapannya.


"Tuan? Anda baik-baik saja? Kenapa nurut sekali mengikuti gadis itu? Kan jadi seperti ini?!" mengomel Freya kala melihat netra merah Almero terbuka sipit.


"Apakah kemampuanmu hilang saat kau melihat gadis cantik?" lagi-lagi Almero hanya menatap saat gadis kesayangannya itu terus saja mengoceh.


"Dasar mata keranjang! Apa selama ini aku kurang memuaskan di..." terhenti ucapan Freya kala tangan kekar Almero menarik tengkuk gadis cerewet itu dan menyatukan kedua bibir mereka.


Sontak Alan dan Alvin mengalihkan pandangan dari sepasang kekasih itu, "Ini gila! Untung dia calon Raja!" batin Alvin dengan menutup kedua matanya.


"Astaga, pemandangan apa ini? Bahkan aku saja belum merasakannya, kenapa adik ku lebih dulu?! Untung dia putra Lord terdahulu!" Alan bergumam dalam hati dengan menundukkan pandangan, bahkan dia membalikkan tubuhnya membelakangi Freya dan Almero.


Perlahan Almero melerai kecupan singkat itu, "Bisa diam dulu? Kau sedang tidak baik-baik saja Sayang, kau terkena mantra penyihir tua itu!" lirih Almero yang melihat wajah Freya mulai memerah.


"Iya aku tau! Kau pikir aku sebodoh dirimu?!" cetusnya dengan mengalihkan pandangan.. Terlihat Almero menarik salah satu ujung bibirnya, sudah pasti raut wajah itu dipahami oleh Freya apa maksudnya.


"Jangan harap ya! Aku masih kecewa dengan sikap mu!" cetus Freya dengan berdiri dan membiarkan Almero tergeletak di tanah.


"Kau pikir kau bisa lepas dari ku?!" ucap Almero dengan meraih lengan Freya, kemudian...


Slap!!!


Dibawanya gadis kesayangannya itu ke kastil tua milik sang ayah, setibanya di sana, Freya masih dengan tangan yang dicengkeram oleh Almero terus berusaha untuk melepaskannya.


"Lepas Tuan!" teriaknya.


Almero menarik pinggang Freya hingga kini tubuh keduanya saling berhimpitan, "Jangan harap!" bisiknya tepat di samping telinga Freya.


"Ahhh..." menggeliat tubuh Freya panas yang semula berada di permukaan kulit kini mulai merasuk dan membuat gadis itu hampir hilang kendali.


"Kenapa? Kau menikmati ini bukan?" bisik Almero, "Tapi Tuan, dada anda?" dengan napas yang tersengal Freya mengkhawatirkan luka Almero.


"Kau lupa atau bagaimana? Kemampuan ku sudah jauh lebih baik sekarang, luka kecil itu tak akan mempengaruhi kegiatan kita Sayang," mendengar itu Freya dengan kekuatannya berhasil terlepas dari cengkeraman tangan Almero dan...


Brrrred!!!


Terkoyak baju yang Almero kenakan dan benar saja Freya tak mendapati luka sedikitpun di sana.


Tak ada luka, melainkan hanya otot-otot kekar yang menghiasi dada juga perut sixpack itu, tanpa disadarinya, jemari lentik itu mengelus juga menikmati pemandangan indah itu.


"Sudahlah jangan malu-malu," bisik Almero, kemudian ia mengangkat dagu Freya, lalu bibir merah segar itu mulai menyatu, memagut dengan lembut dan semakin agresif.


Mulai memanas keduanya, hilang kendali kali ini Freya yang lebih mendominasi karena efek mantra yang menguasai dirinya, hingga lemas keduanya kini ambruk di atas sofa putih.


Setelah lebih dari setengah jam Freya muali sadar, ia bangun dan membenahi pakaiannya hanya dengan sekali usap dan juga bacaan mantranya.


Sring!!


Kembali cantik nan elegan, gadis itu bangkit dan meninggalakan Almero yang masih lelap di atas sofa putih lembut itu...