
Terkaan demi terkaan mulai muncul di dalam otak Freya, gadis itu lekas berpikir, mungkin saja yang ia temui didalam alam bawah sadar sang Tuan, jiwa Lord yang terperangkap juga, atau ada sebuah petunjuk lain di sana?
Terdiam cukup lama Freya setelah mendapatkan informasi baru yang ia dengar, "Lalu Tuan Benjamin ada dimana?" tanya Alan.
"Dia belajar di kampus," sahut Freya.
"Dan kau! Kenapa kau tidak pamit saat akan mengikutinya?" cecar Alvin kali ini.
"Aku takut, kalian tidak akan mengijinkan ku," sahutnya jujur.
Baru saja ketiga saudara itu membicarakan Benjamin Almero, mata tajam Lovie menangkap sepasang remaja yang tengah melaju mengendarai motor besar, melintas kedua remaja itu di jalan yang ada di hadapan keempat makhluk yang tengah berunding itu.
Sementara mata tajam Lovie mengikuti kemana gerak laju motor, "Aku ada perlu sebentar! Permisi!"
Melesat berlari cepat gadis serigala itu mengejar motor besar yang di kendarai sepasang remaja yang baru saja melintas.
"Hey! Tunggu! Kau bisa hilang di kota besar ini!" teriak Alan yang mengkhawatirkan Lovie.
Sedangkan Freya terlihat mengendus udara, dari pada menghiraukan Lovie gadis itu lebih menelisik aroma yang terbawa angin lalu.
"Tuan!"
"Yang Mulia?"
Gumam Freya dan Alvin secara bersamaan, Alvin yang melihat kemana arah Lovie berlari, mata tajamnya menangkap sosok yang sangat ia kenali, dan Freya dengan mengendus aroma yang terbawa angin lalu ia hafal pasti itu aroma tubuh sang Tuan.
Tanpa menunggu nanti ketiga saudara itu melesat mengejar Lovie yang terus mengikuti kedua remaja itu.
Di atas kuda besi yang melaju cepat, sepasang tangan putih dengan jemari lentik itu mencengkeram jaket levis milik si pengendara dengan erat.
Duduk di belakang punggung pemuda yang sudah lama di incarnya membuat Rosalie tak segan untuk memeluk erat laki-laki dihadapannya.
"Pelan-pelan Mer!" teriak Rosalie di tengah-tengah bisingnya riuh angin dan juga suara kenalpot yang sangat keras.
"Diam lah!" sahut pemuda didepan Rosalie yang tak lain adalah Almero.
Semakin kencang keduanya melaju karena Almero melihat ada sosok serigala yang mengejar, sedangkan Rosalie yang mulai curiga sedikit menoleh kebelakang.
Seringai licik terlihat di ujung bibir gadis itu, satu tangan ia lepaskan dari pegangannya dan meniupkan mantra pada telapak tangannya, kemudian...
Sriiiiing...
Serbuk asap berwarna perak berterbangan mengerumuni mesin motor yang mereka tunggangi hingga perlahan motor yang mereka kendarai perlahan mulai mengudara.
Disaat yang bersamaan Rosalie mengusap kedua mata Almero, agar pemuda itu tidak panik saat motor besar yang dikendarai melayang.
^^^Kondisi dibelakang motor...^^^
Lovie yang terus mengejar dengan kecepatan serigala nya mulai kewalahan, apalagi ketika ia melihat kuda besi itu melayang dan dengan cepat menghilang begitu saja.
"Celaka! Sitampan itu masuk perangkap penyihir!" cetus Lovie dengan berhenti ditempatnya.
"Siapa yang kau kejar?! Jika kau hilang bagaimana aku harus mengatakan kepada ayahmu?!" sedikit emosi Alan nyerocos di samping Lovie.
"Bukan urusanmu! Bukankah kau sudah menemukan adik mu?!" ketus Lovie dengan melangkahkan kaki hendak meninggalakn Alan. Tapi dengan cepat Alan menahan lengan gadis serigala itu, "Tunggu! Apa maksud mu? Selama bersama kami, kamu adalah tanggung jawab kami!" cetus Alan.
"Lepas!" dengan tatapan tajamnya Lovie berontak, "Tunggu Lovie! Kemana dua remaja tadi pergi?" tanya Alvin yang baru saja tiba bersama Freya.
"Kalian mengenali mereka?" tanya Lovie.
"Ya, tepatnya salah satu dari mereka!" sahut Freya.
"Mereka terbang!" cetus Lovie.
"Mereka pasti mengenal penyihir itu, apa lebih baik aku tunjukkan saja arahnya, biar aku juga bisa menemukan si tampan itu, lagi pula aku sendiri melawan penyihir, mana berani?" batin Lovie.
"Fe, setulus itukah rasamu kepada yang Mulia? Sampai ekspresi mu berubah sendu hanya karena mendengar kabar jika yang Mulia membawa gadis lain untuk terbang," batin Alvin dengan melihat ekspresi wajah sang adik.
"Siapa yang kalian bicarakan?" tanya Alan.
"Kau ini sejak kapan jadi bodoh?" bisik Alvin di samping telinga Alan.
"Maksudmu?"
"Yang Mulia baru saja melintas bersama gadis lain," lagi Alvin berbisik dengan suara yang sangat lirih.
"Apa?!" terkejut Alan, lalu ia menatap wajah Freya yang berubah sendu.
"Jika sampai kau membuat adik ku kecewa, awas saja! Tidak lagi aku memandang kau sebagai putra Lord terdahulu!" batin Alan dengan napas yang naik turun, mulai si vampir dingin itu menggunakan seluruh kemampuannya untuk menelusuri keberadaan Benjamin Almero.
"Sudahlah Al, dengan terus mengikuti aromanya saja aku sudah yakin bisa menemukan dia! Kau tidak perlu lelah-lelah menghabiskan tenagamu!" cetus Freya, kemudian gadis itu terus berjalan menjauh, lalu melesat mengikuti aroma sang Tuan, begitu juga dengan yang lainnya, mereka mengikuti kemana Freya pergi.
Di atas kuda besi yang tengah melayang, Benjamin Almero yang duduk didepan Rosalie tengah menyunggingkan senyum yang sungguh sulit untuk diartikan.
"Mer? Lo nggak takut sama gue?" tanya Rosalie.
"Nggak, kenapa gue harus takut?" tanya Almero masih dengan ekspresi yang aneh.
"Lo, nggak lagi mikir aneh-aneh, kan?"
"Nggak, gue lagi mikir jalan ke rumah lo aja kok," menghela napas lega Rosalie karena ia merasa sihirnya berguna, ia berhasil mengelabuhi Almero.
Perlahan kuda besi itu mendarat tepat didepan sebuah gerbang besar, "Mampir dulu Mer!" ajak Rosalie.
Almero mengangguk, "Ok," sahutnya dengan senyum. Keduanya kini berjalan memasuki hunian mewah berlantai tiga.
Pintu gerbang kembali tertutup secara otomatis ketika Rosalie melambaikan tangan, dan pada saat itulah Freya dan kedua kakaknya dan juga Lovie tiba di sana.
"Shial! Kita terlambat!" cetus Lovie dengan menghenyakkan kakinya.
Menekuk kedua alisnya, Freya menatap tajam kearah depan, entah mengapa melihat sang Tuan berjalan bersama gadis lain rasanya sangat sesak di dada.
"Aku tidak akan membiarkan dia menyakiti mu lagi Fe!" geram Alan, ia berusaha membuka gerbang besi itu namun tak bisa.
"Sudahlah Al, kita tidak bisa masuk sembarangan, kecuali mereka yang mempunyai rumah mengundang kita," cetus Freya yang terlihat sangat frustasi.
^^^Didalam rumah Rosalie... ^^^
Gadis itu meninggalkan Almero duduk sendirian diruang tengah, "Sudah ku duga, dia membawa sesuatu dari kastil, dan ternyata benar dia gadis yang licik," batin Almero dengan melihat batu merah yang terletak di atas vas kecil yang di simpan di dalam lemari kaca.
Rosali berjalan menuju lantai tiga, tepat di depan sebuah kamar, ia mengetuk pintu itu sebelum lancang memasukinya.
Tok... tok... tok...
"Mom? Rosa bawa hadiah buat Mommy," ucapnya.
Krrriiiieeeetttt...
Pintu terbuka perlahan, dan di sana terlihat seorang wanita tua dengan rambut panjang yang sudah memutih semuanya.
Mata cekung dan pipi yang begitu tirus, jangan lupa kulit-kulitnya pun mengeriput, "Apa yang kau bawa? Batu mustika mu itu tak akan sempurna tanpa darah perjaka!" cetusnya dengan suara parau.
"Ya... Rosa membawa perjaka itu, khusus untuk ritual malam ini, kita akan abadi," seringai licik Rosalie menghiasi wajah cantik yang arogan itu...