
Kirana : Baiklah...
Arya, aku ingin menemani Kinessya, boleh ya ? (menghadap Arya)
Arya : Oke... jangan malam-malam pulangnya, kalau ada apa-apa panggil aku... (sambil membelai wajah Kirana)
Kirana : (wajah bahagia) Oke... makasih, baik deh kamu... (mencium pipi Arya)
Arya : Ya udah kita pulang ya... (berbalik sambil merangkul Izha)
Kinessya dan Kirana masuk ke dalam sekolah dan naik ke lantai atas menemui seseorang.
Kinessya masuk terlebih dulu. Terlihat seorang anak lelaki sedang duduk dengan kaki di atas meja.
Kiness : Apa mau-mu ?
"Aku mau kau..." Jawabnya.
Kiness : Itu tidak mungkin, aku sudah bertunangan dan kau adalah kakak bagiku, tidak lebih dari itu...
"Kenapa tidak ? Aku menyukaimu itu sudah cukup bagi hubungan kita... dan aku tidak ingin menjadi sebatas kakak tapi aku mau lebih dari itu..." Jelasnya.
Kiness : Sorry... aku tidak bisa memberi apa yang kau mau, hubungan antara kita adalah kakak beradik dan tidak akan pernah lebih dari itu...
Lelaki itu berdiri dan menghampiri Kinessya. Ia mencengkeram kedua tangannya dan berkata, "Kau pernah berjanji padaku, kalau kau akan menuruti keinginanku... sekarang yang aku inginkan adalah kau..."
Kiness : (merintih kesakitan) Devan... sakit... kau gila ya... kita itu kakak beradik... kau tega menyakiti adikmu...
Devan : Iya... aku gila, aku gila karenamu...
Kiness : (Melepaskan diri dari cengkeraman devan dan menjauh darinya) Aku tidak sudi punya kakak sepertimu, dasar gila... (beranjak pergi) mulai sekarang jangan dekati aku lagi... aku benci padamu devan...
Devan : Aku pasti akan mendapatkanmu Kin... Kau akan menjadi milikku, ingat itu...
Kiness : (Berhenti dan berbalik) Dalam mimpimu yang konyol itu... (melanjutkan perjalanannya)
Kinessya keluar kelas dan menghampiri Kirana.
Kirana : Bagaimana, kin ? apa dia menyakitimu ? apa ada yang luka ? (memerhatikan tubuh Kinessya)
Kiness : (menghentikan kelakuan kirana) Ayo pulang... aku malas berurusan dengan orang gila itu...
Kirana : Oke...
Mereka pulang ke rumah. Kinessya mengantarkan Kirana pulang ke rumah lalu ia pergi ke supermarket untuk membeli beberapa barang, setelah itu langsung pulang ke rumahnya.
Di rumah Kinessya masuk ke kamarnya dan membersihkan badannya. Setelah mandi kinessya turun ke dapur, sewaktu melewati kamar orang tuanya dia melihat ayahnya sedang tidur di jahili ibunya, kinessya terkekeh sendiri ternyata ibunya adalah orang yang jail.
Di dapur kinessya mengeluarkan barang yang ia beli dan langsung memasaknya. Saat sedang mengaduk-aduk makanan HP nya berbunyi dan Kinessya mengangkat telepon.
Kiness : Hn...
Izha : Lagi ngapain ?
Kiness : Lagi masak buat kamu...
Izha : Oke... Aku akan langsung ke sana...
Kiness : Hati-hati... jangan ngebut-ngebut...
Izha : Oke.... (lalu mematikan telepon)
Kinessya melanjutkan masaknya.
15 menit kemudian... Aroma harum sudah menyebar di setiap ruangan, membuat orang di rumah turun untuk makan. Izha pun sudah duduk manis bersama orang tua Kinessya.
Mom Kiness : Ulululuuu.... menantu mama udah duduk manis aja...
Izha : Iya dong... kan kinessya yang masak.
Dad Kiness : Halah... alasannya si di panggil padahal mah sendirinya aja yang mau ketemu, iya kan ?
Izha : Hehe...Papa emang yang terbaik, selalu tau apa yang ada di pikiran anaknya...
Dad Kiness : Tau lah... kan dulu sama kayak kamu...
Izha : Haha... pasti mama sampe capek harus ngeladenin papa yang bolak balik mulu...
Mom Kiness : Banget... pake tidur aja harus ada mama, papa ini takut sendirian. Katanya takut mama di ambil orang...
Izha : Hahaha... papa sungguh manja... hahaha...
Dad Kiness : Mamaaa....
Mom Kiness : Uppss... sorry... hehehe (sambil menutup mulut dengan tangan kanan)
Kiness : Ayo makan... kalo cerita terus, makanannya keburu dingin...
Mereka makan malam bersama. Mama melayani papa karena sudah tugasnya, sedangkan kinessya melayani Izha layaknya seorang istri melayani suaminya.
Di sisi lain...
Devan duduk di pinggir kasur sambil memegang anak panah kecil. Dia tampak marah.
Devan : Kenapa kau tidak mau bersamaku ? Apa ada yang kurang dariku ? sebutkan dimana letak kekurangan itu ? aku akan memperbaikinya... Aku sungguh menyukaimu, kau pasti akan jatuh kepelukanku... (sambil melempar anak panah ke tembok depannya)