My Love Dear

My Love Dear
bab.9 BAYI SIAPA?



Tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi.


“Nesya nangis” kata Davira menuju kamar nenek dimana ada bayi berumur 9 bulan sedang menangis karena terbangun dari tidurnya.


“Cup.. cup.. sayang sudah bangun?” belai Davira sayang.


“Anak mami, jangan nangis ya” bujuk Vira.


Seorang bayi perempuan yang sangat lucu dengan mata besar yang cantik menatap Davira dan tersenyum senang.


Nesya mengeluarkan suara imut yang sangat mengemaskan. Davira memeluk erat dan mencium pipi tembem Nesya gemas. Davira sangat mencintai Nesya.


Dari kamar Alvan mendengar tangisan bayi. Dan bingung kenapa ada suara bayi?


‘Bayi? Bayi siapa?’ pikir Alvan. Banyak pikiran muncul di kepala Alvan. ‘Apa Davira sudah menikah? Dan mempunyai anak?’ Alvan menjadi tidak tenang dengan pikiran yang aneh-aneh.


Setelah Davira memandikan Nesya. Baby Nesya sudah segar dan wangi, sangat menggemaskan.


Davira menggendong Nesya dan masuk ke kamar tidur Davira yang menjadi tempat istirahat Alvan sekarang.


Alvan kaget melihat melihat Davira menggendong bayi.


“Anak siapa Vira?” Tanya Alvan pengen tahu. Hati Alvan terasa berdenyut sakit. Memikirkan Davira telah berkeluarga.


‘Tidak mungkinkan Davira sudah menikah bahkan punya anak? Bagaimana hatiku ini.’ Hu hu hu tangis Alvan di hati. Merasa sangat kecewa. ‘Cinta layu sebelum dimulai?’ Galau Alvan melihat bayi dipelukkan Davira.


“Anakku” kata Davira mengenalkan Nesya.


‘Nyut’ semakin sakit hati Alvan.


Dengan lemah Alvan melihat Davira dan bayinya.


“Nesya nama ku om” Davira terlihat seperti ibu yang berbangga hati.


“Kamu sudah menikah? Dimana ayah anak ini? Kenapa saya tidak melihat ada pria di rumah ini?” berondong Alvan mengeluarkan pernyataan. Alvan tiba-tiba merasa stres berat.


Hati Alvan terasa berat membayangkan Davira telah menikah dan mempunyai anak. Alvan menundukkan kepalanya tidak ingia Davira melihat kesedihannya.


Sedangkan Davira hanya tersenyum manis tidak sadar akan kegalauan Alvan.


“Saya belum menikah, dan saya juga tidak tahu ayah Nesya kemana” jawab Davira santai.


“Jadi anak siapa dia?” tunjuk Alvan ke Nesya.


“Anakku, kan sudah bilang tadi?”


Alvan mengedipkan matanya bingung. Anaknya tapi gak tau siapa ayahnya? Apakah Davira hamil diluar nikah? Pacar yang tidak bertanggung jawab? Korban perkosaan?. Begitu banyak pertanyaan yang muncul di kepala Alvan.


Alvan terdiam dan melihat Nesya, agak mirip Davira. ‘Cantik sekali bayi ini’ batin Alvan.


Bayi Nesya saat melihat Alvan, mengeluarkan tangan dan mencondongkan badannya. Seperti meminta Alvan untuk menggendongnya.


Alvan yang sedang duduk di tempat tidur melihat bayi Nesya dan merasa mau menggendong Nesya, menerima Nesya dari Davira. Nesya tertawa senang saat berada di dekapan Alvan.


Alvan yang tidak pernah dekat dengan bayi, merasa hatinya meleleh melihat keimutan Nesya. Senyum bayi yang sangat cantik dan mengemaskan. Alvan menciumnya Nesya gemes.


“lucu” Alvan memeluk erat Nesya dan memandang Nesya yang asik mengoceh seperti menjawab Alvan.


Alvan tertawa senang. Hati Davira terasa berdesir melihat tawa Alvan yang renyah dan melihat keakraban Nesya dengan Alvan. Alvan seorang pria yang sangat menawan. Sangat tampan dan mempesona. Davira merasa heran bagaimana Nesya bisa dekat dengan Alvan.


Nesya adalah bayi yang tidak mudah dekat dengan orang lain, apalagi orang asing yang baru pertama kali bertemu. Nesya kelihatannya senang bersama Alvan.


Hal yang aneh. 'Mungkin Nesya suka pria ganteng' batin Davira terkekeh.


Alvan bingung melihat Davira yang tertawa senang. Mengangkat sebelah alisnya.


Melihat mimik Alvan, Davira terdiam malu.


“Kemana ayahnya?” tanya Alvan lagi.


“Gak tau” jawab Davira cuek.


“Jangan bahas soal ayahnya. Dia anakku. Gak ada yang perduli siapa ayahnya.” Ketus Davira.


Alvan menatap Davira. Kenapa? Sebenarnya siapa ayahnya? Kemana? Kenapa Davira seolah-olah tidak suka membicarakan ayah Nesya?


“Kamu hamil di luar nikah? Cowok mu tidak bertanggungjawab? Tinggalin kamu waktu hamil?” tanya Alvan, menatap dalam-dalam Davira.


Wajah Davira memerah, dia sangat marah. Melotot memandangi wajah di depannya.


“Jangan sembarang kalo ngomong ya. Emang saya ada tampang wanita nakal?” kesel Davira.


Alvan terdiam. Dan dengan hati-hati bertanya lagi.


“ kamu korban pemerkosaan?” tanya Alvan pelan.


“Plak..”


“Aduh..” Alvan memegang tangannya.


Davira memukul gemes tangan Alvan.


“kalau ngomong dipikir dulu napa? Asal nyeplak aja”


“Habisnya? Kenapa gak tahu ayah nya siapa?” tanya Alvan heran sambil menggosok tangannya yang lumayan sakit.


“gak tau” Davira memicingkan mata menatap tajam Alvan. Keberatan membahas soal ayah Nesya.


Alvan tetap merasa aneh, tapi Alvan berfikir bagus juga Nesya tidak ada ayahnya. Dia masih ada kesempatan. Alvan langsung tersenyum.


“Emm.. Nesya gak punya ayah? Boleh saya saja yang menjadi ayahnya?” mendadak Alvan bertanya.


“APA?” Davira kaget dan melotot kan mata dan dagunya sampai terbuka. Mimik yang sangat lucu dimata Alvan. Alvan tertawa lagi.


Melihat Alvan yang tertawa, Davira merasa lega. Menepuk dadanya leha. ‘Cuma bercanda. Bikin kaget aja nih orang. Dasar’ Davira memutarkan matanya sebel.


“Gak lucu loh candaan nya Van” kesel Vira. “Saya gak bercanda, saya mau menjadi ayah Nesya” balas Alvan serius menatap Davira.


‘deg.. deg.. deg..’ Hati Davira tiba-tiba berdetak kencang. Apa maksudnya ini?


“Jangan suka bercanda “ kata Davira tetapi memalingkan wajah saat melihat Alvan menatap dia serius.


‘Ini cowok aneh banget sih? Apa kecelakaan kemarin kepalanya terbentur’ Davira mendekati Alvan dan memegang dahi Alvan. Mengukur suhu di dahi Alvan dan suhu di dahinya sendiri.


“Gak panas pun” bisik Davira sambil bolak balik bergantian memegang dahi Alvan dan dahinya.


Dengan pelan Alvan memegang tangan Davira yang sedang menyetuh dahinya. Menggenggam erat dan meremasnya kuat tangan Davira.


“Saya suka kamu, saya juga suka Nesya, dan saya mau Nesya menjadi anakku” kata Alvan menatap dalam Davira. Kemudian mencium kepala Nesya lembut.


“Stop, jangan lanjutkan lagi” tolak Davira sambil melepaskan tangan dari genggaman tangan Alvan.


“Walaupun kamu tidak mau menikah dengan saya, saya tetap mau ingin menjadi ayah Nesya” kata Alvan bertekad.


“Gak boleh, Nesya anakku” kata Davira sambil mengambil kembali Nesya ke pelukannya. Tetapi Nesya yang dipisahkan dari Alvan mulai menangis. Davira mulai menenangkan Nesya. Tapi Nesya tetap menangis dan ingin digendong Alvan lagi. Mengulurkan tangannya meminta Alvan menggendongnya sambil menangis. Mengemaskan sekaligus kelihatan menyedihkan dengan air mata yang menetes di mata Nesya yang besar.


Melihat Nesya menangis dan meminta gendong. Alvan kembali menggendong Nesya dan Nesya begitu saja langsung terdiam dalam dekapan Alvan.


Davira sampai tidak bisa berkata-kata melihat kelakuan Nesya.


“ kamu lihat, Nesya saja setuju saya jadi ayahnya” kata Alvan berbangga hati.


“Ba.. ba..” Nesya seperti menjawab ia perkataan Alvan.


Alvan tertawa senang lagi. Davira merasa tersisihkan melihat Nesya. Rasanya sia-sia merawat Nesya dari bayi. Terkalahkan dari Alvan yang baru ditemuinya hari ini.


‘Dasar bayi ganjen, gak bisa lihat cowok ganteng’ bantin Davira kesel mengembungkan pipinya sambil melihat Nesya yang memeluk erat Alvan.


“Bagaimana Vira?” tanya Alvan kembali.


Davira menghela nafas sambil meredakan detak jantung yang berdebar lagi. Davira menatap dalam mata Alvan. Melihat keseriusan dimata Alvan. Davira menjadi salah tingkah.


“Bagaimana kamu bisa jadi ayah Nesya?” tanya Davira bingung.


“Ya kamu ibunya kan?” tanya Alvan.


“Ia, trus?” semakin bingung Davira.


“Gampang , kita nikah saja, selesai masalah.” Kata Alvan santai.


Davira melotot memandangi wajah Alvan. ‘Ya ampun ini orang kok bisa santai ngomong nikah, kayak mau main rumah-rumahan aja' Tidak habis pikir Davira.


“Hei Alvan, kalau gila jangan ajak-ajak ya?” Davira mulai marah dan menepis rasa deg deg an dihatinya.


“Why?” tanya Alvan. “Apa yang salah? Kamu ibu Nesya. Tadi kamu bilang kamu gak tahu di mana ayah Nesya. Dan saya mau menjadi ayah Nesya, adalah hal yang benar kita menikah dan menjadi ayah dan ibu Nesya. Apa yang salah?” tanya Alvan kembali.


“ Ba.. ba.. ba..” ngoceh Nesya lagi.


“Kamu setujukan sayang?” tanya Alvan sambil mencium pipi tembem Nesya.


“Bu.. ba.. ba..” ngoceh Nesya tertawa senang lagi. Tertawa yang sangat mengemaskan. Seperti mengerti apa kata Alvan dan mengiyakan kata Alvan .


“Anak pintar” Alvan merasa jatuh cinta kepada bayi kecil ini. Sangat mengemaskan. Dan mencium kembali wangi bayi Nesya. Merasakan perasaan yang belum pernah ada terhadap makhluk kecil di pelukannya. Terasa nyaman hangat dan lembut.


Mengapa rasanya sangat mudah menyukai Davira dan bayi kecil ini. Alvan juga merasa bingung. Seperti sudah takdirnya.


Davira menarik nafas panjang, melihat keduanya makhluk didepannya.


“Kenapa kamu ingin menjadi ayah Nesya. Menjadi seorang ayah mempunyai tanggung jawab yang besar. Kita juga baru bertemu dua hari ini, bagaimana bisa kita menikah? Kamu saja tidak mengenal bagaimana saya? Bagaimana pribadi saya? Saya banyak loh sifat jeleknya. Jangan hanya melihat yang dangkal-dangkal, yang bagus-bagusnya saja. Nanti menyesal lagi dan saya juga tidak mengenal kamu dengan baik. Jangan aneh-aneh deh” mencak mencak Davira marah.


“kalau begitu mulai hari ini kita bisa saling mengenal. Setelah saling mengenal kita bisa menikah” jawab enteng Alvan lagi.


Ya ampun. Davira merasakan dorongan untuk menjambak rambut Alvan. Ini pria gila. Mana ada orang ngelamar gitu.


“Tetapi Vira jangan terlalu lama pendekatan kita” tambah Alvan.


“Saya mau bersama Nesya terus, bersama kamu terus” kata Alvan lagi menatap Davira.


Davira memejamkan matanya dan menarik nafas dalam-dalam lagi, berulang kali.


‘Sabar.. sabar..’ Davira mengelus dadanya.


“kenapa tiba-tiba mau nikah?” tanya Davira serius.


“Mungkin saya jatuh cinta pada pandangan pertama kepada mu Vira” jawab Alvan memandang Davira.