
Setelah lebih santai Alvan menelepon orang tuanya. Memberikan kabar keadaannya. Walaupun Alvan yakin kedua orang tuanya sudah mendapatkan kabar dari Jonathan. Alvan masih tetap menghubungi langsung ayah dan ibunya.
“Alvan, kamu baik-baik saja nak?” Tanya ibunya khawatir.
“Saya baik mom” jawab Alvan
Terdengar suara Ibunya yang sedang menangis, Alvan menghibur ibunya.
“Jangan nangis mom, saya baik-baik saja”
“Mommy takut sekali mendengar penuturan Jonathan tadi, puji Tuhan Van” Isak ibu.
“Ia mom, semua berkat Davira yang menolongku dengan mempertaruhkan nyawanya“ kata Alvan kepada Ibunya.
“Kita sangat berutang budi kepadanya Van. Mommy kepingin ketemu dengannya Van. Mommy ingin bertemu, memeluknya dan berterima kasih padanya”
“Ia mom. Saya pasti akan membawa dia menemui mom secepatnya “ janji Alvan. Alvan belum mau cerita kepada ibunya soal dia suka Davira. Alvan ingin semua sudah pasti baru memberitahukan ibu dan ayahnya. Alvan ingin mengenal Davira lebih dalam lagi. Alvan berbicara sebentar juga dengan Ayahnya. Menenangkan hati ibu dan ayahnya.
“Sudah ya Mom, jangan khawatir saya baik-baik aja. Saya masih ada urusan pekerjaan yang mau saya selesaikan” pamit Alvan.
“Kenapa bekerja lagi? Biarkan Jo yang selesaikan semuanya. Kamu Istirahat saja, sudah luka masih kerja. Apa masih kurang uang kita?” marah Ibu ke Alvan yang gila kerja. Juga marah kepada suami yang berada di sebelahnya, yang membiarkan anaknya yang terluka bekerja. Tuan besar menjadi serba salah. Bukan dia yang meminta Alvan bekerja.
Setelah membujuk ibunya dan berjanji akan beristirahat Alvan pamit kepada ibu dan ayahnya, Alvan menutup telepon ibunya. Dan Alvan mulai mengerjakan pekerjaannya yang tertunda. Mengadakan rapat via online, memberikan perintah dan menjalankan perusahaannya dari rumah.
Menjelang malam Davira membantu Alvan ke kamar mandi lagi, Alvan ingin mandi. Untuk membersihkannya badannya dan mengganti bajunya.
Setelah mandi Alvan terlihat segar, tampan dan wangi. Davira melihatnya dengan mata terpesona.
‘ya ampun tampan sekali pria ini. Hatiku jadi meleleh’ batin Davira. Cepat-cepat Davira membuang pikirannya.
“Makanan sudah siap Van”
“Ok. Terima kasih ya”
Davira membantu Alvan untuk ke ruang makan. Memapahnya lagi, dalam keadaan sedekat ini Alvan bisa mencium aroma wangi ditubuh Davira. Wangi yang sangat Alvan suka. Jantungnya mulai berdetak kencang lagi.
“Hati-hati”
“Ia sayang” kata Alvan otomatis membuat Davira memerah lagi.
“Jangan mulai lagi deh. Saya lepasin nih” ancam Davira.
“hahaha” Alvan tertawa senang.
Nenek yang melihat mereka berdua tersenyum dan merasa sangat senang. Berharap cucunya yang baik hati mendapatkan pasangan yang terbaik. Entah kenapa nenek merasa suka kepada Alvan. Padahal nenek baru mengenal Alvan. Alvan terlihat seperti anak yang sopan dan baik.
“Sayang kecilku”
Alvan membelai lembut pipi Nesya yang duduk di kursi bayi. Alvan duduk di kursi dan Nesya meminta Alvan menggendongnya lagi.
Alvan memeluk Nesya gemas dan mendudukkan Nesya di pangkuannya.
“Sayang kecilku, kok kamu selalu wangi? Ehm..” Alvan mencium gemas dan menghirup aroma wangi Nesya. ”Seperti mamamu ya?papa juga suka wangi mamamu” kata Alvan absurd sambil mencium pipi tembem Nesya.
Nenek tertawa senang sambil melirik Davira. Davira memerah lagi pipinya. Merasa kesal dengan sikap Alvan. Mengelingkan mata kesel. Nenek sangat gembira melihat Alvan menyukai Davira dan Nesya.
“Jangan mulai lagi ya Van” Davira melotot memandangi Alvan. Alvan yang mendengar Davira , mengedipkan matanya genit kepada Davira.
Davira pura-pura tidak melihat Alvan dan mulai menyiapkan makanan di meja. Mengambilkan nasi buat nenek, Alvan, dan mengambil makanan bayi buat Nesya. Davira mengambil Nesya dari pangkuan Alvan mendudukkan Nesya kembali ke kursi bayi. Dan mulai menyuapi Nesya makan.
“Makan Van, makan yang banyak biar cepat sembuh” nenek menawarkan makanan pada Alvan.
“Ia nek, terima kasih”
“Kamu tidak makan Vira?” tanya Alvan.
“Ia.. biarin saja, nanti habis suapin Nesya dia makan. Kamu makan dulu Van.” Kata nenek.
“Sini saya yang suapin, kamu yang makan duluan” tawar Alvan.
“Gak usah, saya yang suapin. Kamu makan saja dulu” tolak Davira sambil menyuapi
“Kalau begitu saya tunggu kamu selesai suapin Nesya, baru kita makan bersama” kata Alvan membuat Davira sedikit tersentuh. Menatap Alvan dan tersenyum.
Jadinya Davira dan Alvan sama-sama menyuapi Nesya makan, sambil bercanda, terdengar suara tertawa bayi yang menggemaskan, sekali-kali terdengar tawa Alvan dan Davira juga.
Setelah Nesya selesai makan, nenek yang juga selesai makan menggantikan Davira untuk menjaga Nesya. Alvan dan Nesya makan bersama.
Alvan mencicipi makanan di meja, rasanya sangat sesuai dengan selera Alvan. Alvan makan dengan lahap dan memuji nenek.
“Nek.. masakan nenek enak sekali. Masakan tadi juga enak sekali, bisa-bisa saya makin gendut nih lama-lama makan di sini” puji Alvan.
Nenek merasa heran. “Loh, bukan nenek yang masak nak, Vira yang masak. Enak ya? Memang pintar masak Vira. Nenek juga suka sekali masakan Davira” jelas nenek.
“Ohh..” Alvan langsung menoleh melihat Davira yang duduk di sampingnya “Kok tadi pagi bilang nenek yang masak?” tanya Alvan heran.
Davira menjadi salah tingkah. “ehm.. ehm..” Davira membersihkan tenggorokan merasa malu ketahuan bohong. “Bukan masalah siapa yang masak.. makan saja” Davira mengalihkan pembicaraan. Tidak berani melihat Alvan dan makan dengan menunduk.
Mendapatkan informasi bahwa masakan enak di meja Davira yang memasak, membuat Alvan lebih senang lagi. Membuat kelebihan Davira di mata Alvan bertambah lagi.
“Kamu hebat banget sayang” puji Alvan lagi.
“Jangan panggil sayang” teriak jengah Davira di depan nenek.
“Honey?”
“Cinta?”
“Baby?”
“Diam” Davira mengembungkan pipinya kesel.
“Hahaha” nenek tertawa. “kalian ini”
“Alvan nek, suka godain orang” Davira mulai mengadu pada nenek.
“kenapa Vira?” tanya nenek bingung melihat mereka. Melihat nenek yang bingung Alvan menjelaskan pada nenek.
“Nek, Alvan tadi meminta Davira menjadi pacarku” kata Alvan sambil menghadap nenek. “nenek setuju kan?” Alvan menatap serius dan meminta ijin nenek. Davira merasa seperti habis dilamar Alvan. Menjadi semakin malu terhadap nenek.
Nenek tersenyum dan menjawab. “Kalau Vira bersedia, tentu saja nenek setuju” kata nenek sambil melihat Davira yang memerah pipinya.
“Nek.. jangan dengarkan dia deh. Lagi gila, kepalanya terbentur kali semalam” kata Davira memutarkan bola matanya. Membuang rasa malu di hatinya.
“Kenapa kamu menolak saya?” tanya Alvan.
“Kenapa juga harus menerima kamu?” ketus Davira.
“Karena saya suka kamu” kata Alvan menatap Davira kembali.
“Saya gak suka kamu”
“Saya yakin kamu suka saya, kamu tidak mau mengakuinya saja”
“Jangan narsis ya. Siapa juga yang suka kamu” Davira dengan keras membantah. ‘Ampun ini orang kenapa kepedean banget ya. Bikin orang emosi saja'. Alvan hanya tertawa mendengar kata Davira.
Setelah selesai makan malam, Alvan dengan asyik berbicara dengan nenek. Davira yang ingin menghindari Alvan membawa Nesya masuk kembali ke kamar tidur nenek. Ingin menidurkan Nesya dan menyelesaikan pekerjaannya.