My Love Dear

My Love Dear
bab 2. Bidadari



Saat menjelang pagi. Alvan terbangun dan merasakan sakit di seluruh badannya sakit.


Mengejapkan mata pelan,Alvan merasa pusing. Menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan rasa pusingnya


Alvan terdiam saat melihat Devira yang sedang duduk tertidur. Seorang wanita yang begitu cantik. Seperti bidadari dari khayangan.


‘Apakah saya telah meninggal dan berada di surga’ pikir Alvan. Alvan mulai mengerakkan badannya.


Davira yang merasakan gerakan di ranjang. Mulai membuka matanya. Saat Devira melihat Alvan, Alvan juga melihat Devira. Dua pasang mata saling memandang. Saling memuji didalam hati atas ciptaan Tuhan yang indah.


Devira merasa kikuk, dan mulai bangun dari kursi. Mendekati ranjang Alvan


“Bagaimana keadaan Tuan?” tanya Devira.


“Apa yang terjadi?” Alvan bingung kenapa dia bisa berada disini.


Dia mulai mengingat semalam saat dia akan menuju lokasi yang akan menjadi lokasi proyek pembangunan perusahaannya. Alvan mengemudikan mobil sendiri karenan Jonathan belum pulang dari Amerika. Dalam  perjalanan yang begitu panjang, tiba-tiba dia merasa ada yang aneh dengan rem mobilnya. Remnya tidak berfungsi dengan baik. Rem mobilnya blong.


Mulai merasa keanehkan Alvan memaksakan mobilnya berhenti dengan rem tangan. Tapi kecepatan mobil yang cepat membuatnya kehilangan kendali mobil. Dan Alvan membanting mobil ke samping pohon yang rimbun. Tapi ternyata mobilnya terbanting dan terguling-guling beberapa kali.


Dia ingat melihat seorang mendekati mobilnya dan menggedor mobilnya. Selanjutnya Alvan tidak ingat lagi apa yang telah terjadi.


“Apakah kamu bidadari?”  tanya Alvan masih dalam keadaan bingung.


“Cih..” Devira tertawa mendengar kata Alvan


“Anda belum mati tuan dan saya bukan bidadari” kata Devira mendekati Alvan. Vira memeriksa keadaan Alvan.


Alvan Cuma diam melihat Davira. Seorang wanita yang sangat cantik terutama saat sedang tertawa. Begitu indah dan menawan.


Nenek datang ke kamar Davira dan melihat Alvan sudah bangun.


“ Kamu sudah sadar?” tanya nenek dan duduk diranjang.


“Sudah nek”  Davira yang menjawab karena Alvan masih bingung.


“Siapa namamu nak? Kamu darimana?” tanya nenek kepo.


“Alvan nek, nama saya Alvan” jawab Alvan sopan.


“Saya dari Jakarta nek”


“Anak baik. Syukurlah kamu baik-baik aja”kata nenek sambil membelai kepala Alvan dengan lembut. Alvan merasa nyaman dan tersenyum.


Nenek dan Alvan berbincang sebentar. Nenek Amira langsung merasa suka ke Alvan. Nenek Amira suka dengan kepribadian Alvan yang sopan. Dan merasa Alvan cocok dengan Devira cucunya.


“Sekarang jam berapa ya?” tanya Alvan yang tiba- tiba ingat ada meeting penting jam 10 pagi ini.


“jam 9.12” kata Davira melihat handphone nya.


“Mana handphone ku?”


“Hancur”


“maksudnya? Tanya Alvan bingung.


“Tuh lihat” tunjuk Davira keluar jendela


Alvan melihat keluar dan kaget melihat bangkai mobilnya yang tinggal puing-puing.


“Apa yang terjadi?”


“Apa?” kaget Alvan


“ Aduh nak, semalam hampir saja kamu sama Vira..” nenek sampai menggigil membayangkan kejadian semalam dan tidak melanjutkan kata-katanya.


“ Puji Tuhan masih dilindungi” lanjut nenek


“ Semalam saat tidur lelap kami tiba-tiba mendengar suara kenceng dari luar rumah. Seram banget lihat mobilmu berguling-guling dan mulai muncul percikan api” Nenek mulai menceritakan kejadian semalam kepada Alvan.


“Untung Davira langsung lari kesana untuk menyelamatkan dirimu” kata nenek menarik nafas lega.


Alvan mulai mengingat apa yang terjadi. Dia ingat melihat Davira lari mendekati nya. Membuka pintu mobil. Dan merasa melihat bidadari dan jatuh pinsan.


“Terima kasih Vira” kata Alvan yang tau nama Davira dari panggilan nenek.


“Saya pasti sudah mati kalau kamu tidak menyelamatkan saya” Alvan berkata sambil berusaha naik dari ranjang.


Alvan merasa kakinya sakit sekali, dan tidak bisa berdiri.


“Sepertinya kaki anda patah tuan” kata Davira sambil memeriksa kaki Alvan. Memegang kaki Alvan yang terlihat kokoh dan putih besih.


“Alvan”


Davira menaikan alis bingung.


“Jangan panggil saya tuan, nama saya Alvan” jelas Alvan yang risih dipanggil tuan oleh Davira.


Davira tersenyum manis mendengar kata Alvan


“Davira nama saya” kata Vira mengulurkan tangannya menjabat tangan Alvan.


Alvan menjabat tangan Devira dan merasakan tangan Davira yang begitu lembut. Dan menggenggam erat tangan Davira lama.


“Em.. em..” nenek batuk-batuk menggoda sepasang manusia di depannya.


Davira tersenyum malu melihat pandangan nenek yang menatapnya dengan pandangan menggodanya.


“Terima kasih Davira, telah menyelamatkan hidup saya. Hutang budi ini tidak akan saya lupakan, saya akan berusaha membalas budi ini seumur hidupku” Alvan menatap Davira sambil berkata. Davira hanya tersenyum.


“Ini kewajiban manusia untuk saling membantu, Alvan juga akan seperti itu bila melihat kejadian seperti ini. Pasti akan membantu” kata Davira dengan senyum manis.


“Saya rasa belum tentu saya berani menolong. Kamu pasti bidadari, baik hati dan begitu cantik” puji Alvan lagi.


Davira hanya tertawa malu mendengar kata-kata Alvan. Meresa jengah dengan pujian Alvan.


“Kamu bisa menikahi Davira kalo mau balas budi seumur hidupmu Van” Nenek mencetuskan ide mendadak buat Alvan.


“Nenek” teriak Davira mengingatkan nenek yang berkata aneh-aneh.


Alvan tertawa mendengar kata nenek. Dan berkata


“Itu ide yang sangat bagus nek” kata Alvan sambil melihat Devira.


Devira menjadi salah tingkah.


“Nenek ih.. Jangan aneh-aneh deh” Bisik Devira pelan dan membuang wajahnya ke samping.


Nenek tertawa terbahak-bahak begitu juga Alvan tersenyum melihat Davira.