
Davira masuk ke kamar tidur ingin memeriksa kondisi Alvan dan membawakan makanan buat Alvan. Alvan terlihat sedang berbaring di tempat tidur. Davira mendekati tempat tidur.
“Ini, makanlah. Kamu pasti sudah lapar” kata Davira menyerahkan makanan kepada Alvan.
Melihat makanan dan mencium aroma makanan di depannya, perut Alvan langsung keroncongan. Dan menyadari ternyata dia memang sangatlah lapar.
“Hanya masakan sederhana ya, semoga kamu menyukainya” kata Davira.
Alvan menatap Davira dalam-dalam, menatap wajah cantik di depannya. Dengan penampilan sederhana tanpa make up yang berlebihan kecantikan alami Davira sungguh sangat mempesona. Mata yang besar dengan buku mata yang panjang, hidung mancung yang kecil dan bibir merah muda yang terlihat menggoda. Kecantikan yang sangat spesial. Dengan rambut hitam legam yang panjang menambah kecantikan Davira. Alvan tersenyum menyambut makanan dan berterima kasih kepada Davira.
“Terimakasih, ternyata saya sangat lapar. Saya sampai tidak sadar saya lapar ternyata.” Alvan tertawa.
Davira yang melihat Alvan sedang tertawa merasa Alvan sangatlah tampan, sangat mempesona. Davira tersipu malu menyadari pikirannya.
“kamu yang masak Vira?” tanya Alvan ingin tahu.
“Bukan, nenek yang masak. Makanlah” kata Davira sambil mengambil kembali ponsel yang dipinjam Alvan tadi.
“Sudah pakainya?”
“Sudah, Terimakasih” kata Alvan. Alvan makan dengan lahapnya karena sangat lapar dan ternyata makanan sangatlah enak.
“Enak sekali masakan nenek” kata Alvan sambil menikmati makanannya. Masakan sederhana yang rasanya bisa mengalahkan rasa masakan koki bintang 5 yang ada di rumah Alvan. Alvan makan dengan cepat dan meminta tambahan lagi.
“Ada lagi?” Alvan belum puas memakan nya.
Davira tersenyum melihatnya dan berbangga hati. Karena Davira sendiri yang memasak makanannya. Davira sengaja berkata bahwa nenek yang memasak agar Davira bisa tahu kejujuran Alvan soal rasa masakan ini, tidak merasa tidak enak mengatakan tidak enak, berterus terang mengatakan suka atau tidak.
Davira keluar dengan senang hati dan tersenyum, mengambilkan kembali makanan buat Alvan. Saat masuk kembali Alvan menerima piringnya dan Alvan memakannya dengan lahap lagi. Davira senang melihat Alvan memakannya dengan lahap.
Setelah Alvan menghabiskan nasi dipiringnya, Davira mengambil piring kosong dari tangan Alvan. Alvan tersenyum puas dengan perut yang kenyang.
“Hup.. kenyangnya” Alvan tersenyum puas sambil membelai dan menepuk perutnya.
Davira tersenyun melihat kelakuan Alvan. Setelah kenyang Alvan merasakan panggilan alam, dan ingin ke kamar mandi, tetapi kakinya masih terasa sakit. Susah untuk berjalan.
Davira melihat Alvan yang tidak nyaman “Mau ke kamar mandi?” tanya Davira.
“Kaki ku masih sakit” kata Alvan manja kepada Davira. Davira mengedipkan mata bingung mendengar nada manja Alvan.
“Ehm..ehm..” Davira membersihkan tenggorokannya.”mari saya bantu” Davira mendekati Alvan dan membantu Alvan berdiri. Memapahnya, merangkulkan lengan Alvan diatas bahunya dan memapahnya ke kamar mandi.
Berdekatan dengan Davira, Alvan langsung dapat mencium harum wangi dari Davira. Wangi yang sangat manis dan segar. Alvan menarik nafas dalam-dalam mencium wangi Davira. Hati Alvan mulai berdebar-debar.
Dengan pelan dan sabar Davira membantu Alvan ke kamar mandi. Dan bagi Davira itu membutuhkan usaha dan tenaga yang sangat besar. Sosok Alvan yang setinggi 186 cm. Dengan badan yang tegap, kokoh terasa sangat berat.
Melihat kesusahan Davira memapahnya, Alvan tersenyum. Apalagi melihat wajah Davira yang memerah karena mengeluarkan tenaga membantunya.
“Hah.. hah..” Davira membuang nafasnya yang berat setelah sampai ke kamar mandi. Dan menoleh melihat Alvan. Melihat Alvan yang menatapnya dalam. Davira menjadi salah tingkah, tertipu malu. Pipi Davira yang memerah karena keluar tenaga membantu Alvan, mendapati Alvan yang menatapnya rona merah di pipinya semakin memerah, terlihat sangat menggemaskan dan sangat cantik.
“ Berat ya?” goda Alvan.
“Ia hehe” salah tingkah Davira terhadap Alvan. Setelah mendudukkan Alvan ke kloset. Davira keluar dari kamar mandi dan membawakan perlengkapan mandi buat Alvan. Dan sebuah kursi agar Alvan bisa duduk dan mandi di kursi.
“Ini ada handuk baru dan sikat gigi baru. Tapi gak ada baju baru buat pria. Ini ada kaos ku dan celana santai yg agak kebesaran, mungkin bisa muat di badan mu” jelas Davira.
“Kalo sudah selesai panggil saya ya” kata Davira mulai meranjak keluar kamar mandi. Menutup pintu kamar mandi. Vira menunggu Alvan di kamar tidur.
Alvan melihat baju kaos yang dibawa Davira, yang Davira gantungkan di gantungan kamar mandi. Tercetak gambar hello Kitty warna pink, Alvan mengedip-ngedipkan matanya bingung.
‘Hello kity? Ya ampun’ batin Alvan. Tapi apa boleh buat, bajunya sangat kotor dan penuh dengan darah. Mau tidak mau dia harus pakai baju ini.
Alvan mandi dengan susah payah karena kakinya yang sakit. Hampir setengah jam Alvan baru selesai mandi. Alvan mengeringkan badan dan memakai bajunya. Muat tetapi terasa agak sempit. Setelah selesai mandi, Alvan memanggil Davira. Davira mendengar suara Alvan dan jalan mendekati Alvan, agar bisa membantu Alvan kembali ke tempat tidur.
Davira menggigit bibirnya menahan senyuman, melihat penampilan Alvan. Mau tertawa tetapi gak enak hati. Bajunya sangat pas di badan Alvan jadi Alvan terlihat seperti lontong yang dibungkus daun pisang. Seorang lelaki yang sangat gagah tetapi memakai baju hello Kitty berwarna pink.
Alvan merasa malu melihat Davira yang menahan tawa. Tetapi hati Alvan sangat terasa hangat melihat senyum Davira. Wajah Davira memerah lagi, Alvan suka melihatnya ,wajah yang bisa menunjukkan suasana hati pemiliknya dengan jujur.
“Kalau pengen tertawa, tertawalah” kata Alvan tersenyum melihat Davira.
“hahaha, aduh.. maaf ya” kata Davira tidak dapat menahan tawanya.
Alvan melihat betapa cantiknya Davira saat dia sedang tertawa.
‘cantik sekali’ batin Alvan melihat Davira.
“Maaf” malu Davira gak enak telah menertawakan Alvan.
“its ok, saya suka lihat kamu tertawa” kata Alvan menatap Davira kembali.
Davira menghentikan tawanya dengan mendadak, mengigit bibirnya dan wajahnya kembali memerah.
Alvan sangat gemas melihat pipi merah Davira. Ingin rasanya Alvan menyentuh pipi merah yang terlihat lembut didepannya itu.
Setelah tenang dan Davira berhenti tertawa. Davira mendekati Alvan kembali. Masih dengan tawa kecil yang ditahan. Davira kembali memapah Alvan kembali ke tempat tidurnya. Alvan menatap Davira lagi. Membuat Davira tersipu kembali.
“Sudah ya, kalau ada keperluan ke kamar mandi lagi, panggil saja ya” kata Davira. Davira berusaha keluar dari kamar tidur secepatnya. Davira merasakan perasaan tidak nyaman berdekatan dengan Alvan, berduaan saja di kamar. Jantungnya terasa berdenyut-denyut menekan nafasnya. Davira menarik nafas lega setelah keluar dari kamar.