
Saat tinggal berdua dengan Alvan, nenek memandang Alvan serius. Alvan menaikkan alisnya merasa heran kenapa nenek menatapnya lama.
“Ada apa nek?”
“Kamu benar-benar serius sama Davira? Ingin menjadi pacarnya? Kalian baru bertemu dua hari ini?” tanya nenek menyelidiki.
“Tentu nek, saya bukan orang yang suka bercanda apalagi soal pernikahan”
“Menikah? Apa Davira setuju?” nenek kaget mendengar kata Alvan.
Alvan tertawa sedih. “proposal jadi pacar saja belum diterima nek. Bagaimana menikah? Saya masih berjuang mengambil hatinya” jelas Alvan.
“Kenapa? Kalau kamu hanya bermain-main dengan Davira, lebih baik kamu jangan memulai” nenek menarik nafas panjang. “Pernikahan bukan sebuah lelucon. Bukan mainan, apalagi sedikit-sedikit minta cerai. Pernikahan adalah buat seumur hidup kalian. Jangan mempermainkan Vira” tegas nenek.
Alvan menenangkan hati nenek. “Kita baru bertemu beberapa hari ini nek. Saya mengerti kalau nenek merasa aneh dan tidak percaya pada saya. Tapi perasaanku tulus kepada Davira dan Nesya” Alvan menggenggam tangan nenek.
“Kamu mencintai Davira? Bagaimana mungkin?” Nenek menghela nafas tidak percaya. “Saya belum tahu apa ini cinta, tetapi percayalah nek, saya tidak mempermainkan Davira. Saya bersungguh-sungguh ingin menjadi ayah Nesya dan suami Davira.”
“Walaupun dia telah mempunyai anak?” pancing nenek lagi.
“Tidak masalah nek, Nesya begitu menggemaskan, lucu tidak sulit untuk mencintai Nesya. Saya juga menyayangi Nesya.
“Bagaimana orang tua mu? Apa mereka bisa menerima Davira membawa Nesya?” tanya nenek khawatir.
“Ibu saya selalu meminta saya untuk menikah dan memberikannya cucu. Saat saya menikahi Davira bukannya ibu saya langsung mempunyai cucu yang begitu cantik. Nesya anak yang begitu cantik dan mengemaskan. Sangat mudah mencintai Nesya. Orang tua saya juga pasti bisa mencintai Nesya. Mendapatkan seorang menantu dan seorang cucu, saya rasa ibu saya akan sangat senang.” Alvan malah sudah bisa membayangkan bagaimana reaksi ibunya. Ayah dan ibunya ada orang yang sangat baik. Tidak pernah memandang rendah orang. Dengan posisi sebagai tuan besar dan nyonya besar Liam. Mereka sangat bersahaja, tidak ada yang akan percaya mereka adalah pasangan super kaya.
Nenek berusaha menerima penjelasan Alvan. Tetapi masih banyak kekhawatiran nenek, dan pasti akan lebih baik jika Alvan tahu yang sebenarnya. Tetapi Davira pernah meminta nenek untuk berjanji tidak membicarakan soal Nesya. Dan nenek tidak ingin Davira marah kepadanya.
Keesokan harinya, Nesya terbangun dari tidur dan mulai rewel dan menangis. Bagaimanapun Davira membujuk Nesya, menimang dan memberikan mainan. Nesya tetap menangis. Nenek juga ikut menenangkan Nesya. Tetapi Nesya tetap merengek rewel.
Alvan yang di kamar juga sudah terbangun. Mendengar tangisan Nesya. Dengan satu kaki Alvan loncat-loncat mendekati pintu, membuka pintu. Dan bertanya kepada Davira kenapa Nesya menangis.
Nesya yang mendengar suara Alvan menangis lebih kencang. Dan mencondongkan tubuhnya mendekati Alvan seperti ingin ke tempat Alvan berada. Davira membawa Nesya mendekati Alvan. Nesya seperti meminta Alvan untuk mengendongnya.
“Kenapa Menangis sayang?” tanya Alvan membelai pipi Nesya.
“Saya juga tidak tahu, bangun tidur Nesya langsung menangis” Davira juga bingung kenapa Nesya menangis. Tidak seperti biasanya. Nesya bayi yang tidak rewel dan jarang menangis. Bangun tidur jarang sekali menangis.
“Bu.. ba.. bu..” Nesya mengeluarkan bunyi celotehan dengan isak tangis seperti berbicara dengan Alvan.
Alvan duduk kembali ke tempat tidur, dan meminta Nesya ke dalam pelukannya. Setelah berada di dekapan Alvan. Perlahan Nesya mulai tenang. Air matanya berhenti mengalir. Nesya menatap Alvan dengan mata besar yang sangat cantik, mengkedip- kedipkan mata besarnya. Mengulurkan tangannya memegang pipi Alvan. Membuat hati Alvan meleleh seperti mentega terkena panas. Seperti ada panah cupid yang memanah Alvan, dan Alvan merasakan kasih sayang kepada bayi kecil ini. Bayi yang sangat menggemaskan ini.
Alvan membelai lembut rambut Nesya yang lebat, mencium pipi tembem Nesya. Tercium wangi bayi yang harum. Alvan menggelitik perut buncit Nesya sampai Nesya tertawa terkekeh-kekeh. Membuat siapa saja bisa jatuh cinta kepada bayi seperti malaikat kecil ini.
Davira yang melihat interaksi Nesya dengan Alvan, merasakan hatinya menjadi menghangat. Berpikir apakah Alvan cocok menjadi ayah Nesya. Merasa heran Nesya bisa dekat dengan Alvan.
“Kenapa nangis Nesya, Kamu kangen papa ya sayang? Pengen papa gendong? Hem?” Alvan berbicara dengan lembut kepada Nesya. ‘Papa? Dasar’ Davira memutarkan bola matanya. Ini orang tidak ada bosan-bosannya ya.
Tetapi Davira terasa tersentuh melihat kedekatan Alvan dan Nesya. Mereka terlihat seperti ayah dan anak sungguhan. Davira menatap mereka dan tersenyum hangat. Alvan mengangkat kepalanya dan melihat ke Davira. Alvan yang tiba-tiba menoleh ke atas membuat Davira salah tingkah karena ketahuan sedang menatap Alvan. Davira pura-pura melihat ke atas. Malu dong ketahuan Alvan.
“kenapa?” tanya Alvan.
“Apanya?” Davira bingung.
“Kamu melihat saya dari tadi, kamu sudah jatuh cinta sama saya?” goda Alvan.
Wajah Davira langsung memerah. Dan menarik nafas dalam-dalam membuang rasa kesel dihatinya.
“siapa yang lihat kamu, orang melihat Nesya kok.” Bantah Davira.
Melihat pipi merah Davira, Alvan merasa gemas sekali. Ingin rasanya mencubit pipi itu dan menciumnya.
Alvan tersenyum manis sekali. Melihat senyum Alvan jatung Davira berdetak kencang. Ya ampun tampan sekali pria ini. Tidak pernah Davira melihat pria setampan ini.
Deg.. Deg.. Deg.. ‘hai jantung, berhenti berdebar-debar lah’ pinta Davira dalam hati. Yang merasa sesak di dadanya. Karena detakan jantungnya
Untuk menenangkan jantung, Davira memfokuskan dirinya kepada Nesya. Membelai pipi Nesya.
“Sayang kenapa nangis?. Kamu membuat mama khawatir saja, mama kira kamu kesakitan. Ehm..?” kata Davira lembut penuh kasih sayang.
Alvan melihat Davira yang penuh keibuan, membuat Alvan memiringkan kepalanya menatap dalam Davira. Merasakan rasa sukanya kepada Davira semakin meningkat lagi. Membuat Alvan semakin yakin ingin menikahi Davira.
Alvan merasakan jatuh cinta kepada Davira. Sejak bertemu dengan Davira, tidak pernah sekalipun Alvan memikirkan Bella. Sejak pengkhianatan Bella. Alvan selalu memikirkan Bella yang tega menyakitinya. Sehingga setiap wanita yang mendekatinya, Bella selalu menghantui pikiran Alvan. Melihat ada Bella di belakang wanita yang mendekatinya.
Sehingga Alvan menutupi hatinya. Tetapi Davira begitu mudah masuk ke hatinya. Menggeser Bella dari hati Alvan begitu saja. Sama sekali tidak ada ruang di hati Alvan lagi. Apalagi juga kehadiran Nesya. Alvan benar-benar merasakan perasaan sayang kepada bayi kecil ini.