
Sejak saat itu Alvan menjadi pribadi yang lebih kaku dan dingin. Semua wanita yang berusaha mendekatinya, Alvan selalu curiga dengan motif mereka. Setiap wanita yang datang mendekat, Alvan merasa jijik dan berfikir mereka adalah hama yang mendekatinya. Sejak putus dengan mantannya Bella. Alvan seperti pria yang tidak menyukai perempuan.
Ibu Alvan sampai stres memikirkan anaknya, yang hampir berusia 30 tahun belum juga menikah. Tidak membawa pulang seorang wanita kehadapannya. Nyonya besar khawatir dengan penerus keluar besar Liam. Anak laki-laki satu-satunya Alvan. Khawatir keluarga besar Liam apakah akan berhenti di tangan Alvan? Selalu kekhawatiran ini yang nyonya besar memberatkan hatinya.
Nyonya mencoba mengenalkan Alvan dengan anak kenalannya atau anak kolega Ayahnya. Foto-foto wanita cantik yang dipaparkan didepan Alvan, tidak ada satupun yang membuat Alvan tergerak hatinya. Bahkan hanya pergi ke kencan buta, Alvan tidak mau pergi satu kalipun. Alvan selalu bilang dia yang akan mencari wanitanya. Tetapi mau menunggu sampai kapan?.
Bahkan ibu Alvan meminta ayahnya untuk berbicara dengan Alvan. Takut Alvan menjadi bujang tua.
Tetapi Tuan besar selalu meminta nyonya sabar dan memberikan kebebasan kepada Alvan.
“Akan ada waktunya Alvan menikah” kata tuan besar. “biarkan saja dia mencari jodohnya”
“Apakah anak kita mempunyai kelainan pa?” semakin difikirkan semakian khawatir nyonya, berfikir dan ketakut anaknya mempunyai kelainan seksual, tidak menyukai wanita tetapi menyukai pria.
“Jonathan juga belum punya pacar, apa mereka pacaran pa?” tanya nyonya cemas melihat dua bujangannya.
“Ha-ha-ha” Tuan besar tertawa terbahak-bahak. “Kenapa mama mempunyai pikiran seperti itu?”
“Coba papa lihat, Alvan tidak suka wanita, Jonathan juga sama saja tidak punya pacar Papa pernah lihat Jonathan bawa cewek? Jonathan tidak pernah membawa pulang seorang wanita kehadapanku. Tiap hari mereka bersama, aduh aduh. Amit-amit” semakin berkata semakin khawatir nyonya.
Tuan besar menggeleng kepala mendengar kata istrinya. “Ma, kamu jangan terlalu khawatir sayang, Alvan akan mendapatkan wanita terbaik untuknya. Begitu juga Jonathan pasti akan ketemu yang terbaik” kata tuan besar sambil menggenggam tangan istri tercintanya. Menenangkan istrinya.
“Alvan dan Jonathan sudah seperti saudara kandung, tentu saja mereka dekat. Akan ada waktunya mereka ketemu belahan jiwanya, seperti saya yang bertemu dengan , belahan jiwa ku” tuan besar mengecup pipi istrinya lembut.
Nyonya besar hanya bisa menghela nafasnya. Tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Bahkan suaminya tidak mau ikut campur urusan asmara anaknya atau Jonathan. Nyonya cuma bisa berdoa Alvan bertemu dengan wanita yang dicintainya begitupun dengan Jonathan yang sudah mereka anggap seperti anaknya sendiri.
“Bahkan saat ini Alvan atau Jonathan membawa wanita manapun, yang mereka suka, yang ingin nikahi , asal wanita itu wanita baik-baik. Saya akan langsung menikahkan mereka” pasrah Ibu Alvan. Tuan besar tertawa mendengar kata istrinya.
“Bahkan wanita itu sangat jelek?” tanya tuan besar menggoda istrinya.
Nyonya besar hanya bisa melotot memandangi wajah suaminya. Merasa semakin kesal dengan suaminya.
“Alvan dan Jonathan mempunyai ibu yang begitu cantik seperti diriku, tidak mungkin akan membawa wanita yang jelek” kata ibu memuji diri sendiri.
“Dengan ibu secantik saya, tentu saja selera mereka high class” narsis nyonya besar.
“Terlalu high jadi gak dapat-dapat ceweknya? Susah loh mau bertemu wanita mempesona seperti mama” Goda tuan besar lagi
Nyonya besar menjadi senang mendapatkan pujian dari suaminya, tetapi menutupi nya dengan rasa kesal
“Ish.., gak ayah gak anak sama-sama nyebelin saja, pandai berkata-kata manis” kata Ibu Alvan sambil meranjak pergi meninggalkan suaminya.
Ayah Alvan tertawa semakin kencang melihat istrinya yang pergi dengan kesal. Walaupun telah berumah tangga selama 32 tahun lebih, kemesraan pasangan ini tidak memudar. Masih saling mencintai dan mesra setiap waktu. Tuan besar mengikuti istrinya masuk kedalam rumah.
“penuh perjuangan loh papa mendekati mama dulu” tuan besar semakin senang menggoda istrinya.
“Siapa suruh mau” merajuk nyonya besar
Setelah selesai membicarakan pekerjaan yang tertunda semalam. Alvan meminta Jonathan untuk ke rumah Davira.
“Jo, kamu datang dan katakan kepada orang-orang disini. Kamu adalah bos saya” diujung telepon Alvan meminta Jonathan berpura-pura menjadi bosnya dan Alvan hanya karyawan Jonathan.
“Maksudnya tuan?” tanya Jonathan bingung.
“Saya merasa tertarik dengan Davira, wanita yang menyelamatkan saya semalam. Dan akan mencoba mengenal lebih dekat dengannya.” Kata Alvan.
“Saya ingin dia mengenalku sebagai orang biasa. Saya mau dia mencintai saya apa adanya, bukan ada apanya. Bukan mencintai saya sebagai tuan muda Liam. Hanya seorang Alvan tanpa embel-embel dibelakang.”
Luka yang ditinggalkan Bella menjadi suatu trauma bagi Alvan yang menganggap semua wanita hanya mencintai uangnya.
“Apakah harus seperti ini tuan?” tanya Jonathan “Bagaimana tuan menjelaskan ke nona Davira yang sebenarnya nanti? Saat nona Davira harus tahu yang sebenarnya. Tidak mungkin tuan membohongi nona selamanya. Mungkin saja nona Davira menjadi marah karena merasa dibohongi?” tanya Jonathan mengingatkan Alvan.
“Saya ingin perasaan yang tulus Jo. Yang tulus mencintai saya.” kata Alvan yang jera mendapatkan penghianatan dari orang yang dia cintai.
“Anda yakin tuan?” tanya Jonathan lagi
“Kita lihat saja nanti bagaimana Jo, saya belum mempunyai perasaan mendalam, saya hanya merasa tertarik dan ingin lebih mengenalnya. Urusan nanti saya akan menjelaskan kepada Davira” kata Alvan dengan senyum, membayangkan wajah cantik dan lembut Davira. Mata besarnya yang menatap Alvan. Mata yang begitu indah.
Alvan merasa tertarik dengan kebaikan hati Davira, seseorang yang tidak memikirkan diri sendiri, berani untuk menolong orang asing dengan mempertaruhkan nyawanya.
“Bawakan baju ganti, tapi baju yang sederhana saja yang biasa dipakai orang kebanyakan, jangan baju yang biasa saya pakai” pesan Alvan lagi. Tentu saja baju yang biasa Alvan pakai adalah baju dari desainer terkenal dan mahal harganya.
“Katakan kepada mereka tidak ada yang bisa merawat saya dirumah, jadi meminta mereka yang merawat saya. Saya ingin beberapa hari tinggal disini.”
“Baik tuan. Bagaimana kondisi Anda tuan? Sudah lebih baik?” tanya Jonathan lagi.
“Ehm, saya ok Jo. Saya sangat beruntung Jo, hampir saja saya tidak bisa melihat dunia ini lagi.” Alvan memejamkan matanya. Mengingat kejadian semalam.
“Ia tuan muda. Nona Davira sangat berjasa. Seorang wanita yang sangat berani” kata Jonathan yang membuat Alvan tersenyum kembali.
“Tok tok tok” Davira mengetuk pintu kamar dan menunggu jawaban dari Alvan.
“Sudah Jo, kamu siapin semuanya dan bawa kesini. Davira mau masuk” kata Alvan lagi.
“masuk’ kata Alvan, dan Davira masuk ke dalam. Alvan menutup ponselnya setelah menanyakan lokasi rumah ini kepada Davira dan memberikan lokasi dirinya kepada Jonathan.
Davira mengira Alvan meminta keluarganya menjemput dirinya.