My Love Dear

My Love Dear
bab.13 CINTA BAYI KECIL



Saat Alvan ingin mencium pipi Nesya, Davira juga menurunkan kepalanya ingin mencium Nesya. Gerakan Alvan dan Davira yang tiba-tiba, membuat kepala mereka saling berbenturan. Terdengar suara benturan lumayan keras.


“Aduh” teriak Davira yang kesakitan.


Alvan hanya meringis kesakitan. Nesya yang melihat mereka malah tertawa senang. Ini bocah seperti mengerti saja dan menertawakan Alvan dan Davira yang kesakitan.


“kamu tidak apa-apa?” tanya Alvan sambil memegang dahi Davira. Terlihat dahi Davira memerah.


“i’m ok” kata Davira sambil meringis.


Alvan terlihat khawatir tetapi dorongan rasa ingin menggoda Davira muncul mendadak.


Alvan memiringkan kepalanya dan menyodorkan pipinya kepada Davira. Davira menatap bingung.


“Ini” tawar Alvan


“Apaan?” Davira semakin bingung.


“Mau cium bilang saja. Jangan main sosor saja, jadi terbentur kepalanya kan. Ini” kata Alvan sambil menepuk-nepuk pipinya lagi.


Davira otomatis memerah wajahnya, merasa sangat malu, menggigit bibirnya dan marah.


“kamu...” tunjuk Davira pada Alvan salah tingkah. Davira merasa disudutkan. “Siapa juga yang mau cium kamu” kesal Davira.


Melihat Davira menggigit bibir bawahnya. Alvan merasakan dorongan untuk mencium dan menggigit bibir merah itu.


“Jangan mulai ya Van” ketus Davira.


“Saya ingin menciumu Davira” kata Alvan jujur mengutarakan keinginannya.


Bush.. wajah Davira memerah sampai ke telinganya. Dan bergerak salah tingkah. Melihat reaksi Davira yang malu-malu saat Alvan mengatakan ingin menciumnya. Alvan merasa heran. Davira terlihat seperti wanita yang tidak berpengalaman. Bukan seorang wanita yang telah melahirkan seorang anak. Dan itu mengganggu Alvan. Alvan menaikkan alisnya curiga. Tetapi kemudian tersenyum kembali ingin menggoda Davira kembali.


“Atau mau cium bibir saja?” Alvan memonyongkan bibirnya. “chu”


Davira kesel sampai menghentakkan kakinya, dan keluar dari kamar.


“Ish.. nyebelin banget sih tuh orang.” Ngomel Davira sambil mengkipas-kipaskan bajunya. Menstabilkan jantung nya yang berdebar kencang, Davira merasa panas di wajahnya.


Belum jauh Davira keluar kamar, terdengar suara tangis Nesya lagi. Mau tidak mau Davira kembali ke kamar Alvan, kamar Davira yang dikuasai Alvan.


Panik Davira kembali menuju kamar, dia merasa takut Alvan menyakiti Nesya. Mungkin pemikirannya yang salah. Tetapi tidak ada yang tahu, toh Davira baru mengenal Alvan. Tidak tahu kepribadian sesungguhnya Alvan.


Davira mengintip dari celah pintu. Terlihat Alvan yang berusaha menenangkan Nesya. Sambil mengayunkan badan Nesya. Alvan membujuk Nesya agar tidak menangis.


“Cup.. cup.. sayang jangan nangis ya. Kenapa sayang? Ada yang sakit, kasih tahu papa mana yang sakit” terlihat Alvan kebingungan menenangkan Nesya. Davira tersenyum dan merasa terharu melihat cara Alvan membujuk bayi Nesya.


“Sayang jangan nangis ya. Papa sayang” Alvan mencium lembut pipi Nesya dan membujuk Nesya. Davira masuk kembali ke kamar. Nesya langsung berhenti menangis saat melihat Davira. Nesya berceloteh, seperti ingin mengatakan sesuatu.


“Kenapa Nesya?” tanya Davira ingin mengendong Nesya. Tetapi Nesya menolak Davira menggendongnya. Nesya menyembunyikan kepalanya di dada Alvan. Dan mengintip Davira dengan mata besarnya. Davira menjadi bingung. Apa mau Nesya?


Melihat kelakuan Nesya yang lucu. Alvan merasakan rasa sayang kepada Nesya semakin bertambah setiap saat.


“Sayang kecil papa, kamu ingin bersama papa dan mama ya? Gak mau papa mama pisah hem?” dengan lembut Alvan berkata dengan Nesya.


“Bu.. ba.. ba..” celotehan Nesya sangat mengemaskan. Nesya memiringkan kepalanya dan tersenyum sangat cantik.


“Aduh..duh?” Kata Alvan sambil memegang dadanya. Davira menjadi bingung melihat Alvan.


“Bayi yang begitu lucu kamu Nesya. Papa jadi jatuh cinta sama kamu. Hati papa meleleh loh” cium Alvan gemas sambil menggelitiki Nesya yang langsung tertawa renyah.


“Aduh suaramu sayang kecil, imut banget” Alvan gemas sekali mendengar suara tawa Nesya.


Davira memutarkan bola matanya. ‘ini orang suka banget kagetin orang ya’


“Dasar kamu ya, kagetin orang saja” lega Davira melihat Alvan cuma bercanda.


“Bisa tidak kamu berhenti meminta Nesya panggil kamu papa. Nanti Nesya bisa bingung” pinta Davira serius.


“Kenapa bisa bingung? saya sudah bilang saya ingin menjadi ayahnya Nesya. Jadi Nesya harus membiasakan diri memanggil saya papa donk” tatap Alvan ke mata Davira langsung.


‘ya ampun ini orang' Davira menghela nafas berat. “Nesya anakku, tidak mungkin dia menjadi anakmu” geram Davira merasa cape berdebat dengan Alvan.


“Saya meminta kamu untuk menikah dengan saya, kalau kita menikah kita bisa menjadi ayah dan ibu bagi Nesya”


“Saya juga sudah bilang saya tidak bisa menikah denganmu” balas Davira.


“Kenapa? Apa alasanmu? Kamu belum melupakan mantanmu? kamu masih mencintai ayah Nesya?” tanya Alvan menyelidik.


Davira bingung untuk menjawab pertanyaan Alvan.


“Tidak ada hal seperti itu” bentak Nesya.


“Trus? Kenapa?”


“Sudah saya bilang, kita baru bertemu, tidak mungkin kita bisa menikah”


“Saya juga sudah menjawabnya. Kita bisa mencoba untuk pacaran dulu. Kalau kita sudah saling mengenal dan merasa cocok baru kita bicarakan pernikahan lagi” jawab Alvan serius.


“Huh..” Davira menarik nafas dalam-dalam. Merasa pusing menghadapi pria keras kepala didepannya.


“kamu tidak berani?” tanya Alvan kembali. Menantang Davira.


“Kenapa kamu tidak mau mencobanya? Mencoba menjadi pacar saya? Bukankah hal yang bagus kalau kita berdua cocok. Kita bisa menikah, masa depan Nesya lebih baik karena dia punya orang tua yang lengkap.”


Davira terdiam, apa yang dikatakan Alvan masuk akal juga. Tetapi Davira takut Alvan nanti akan berubah dan menyakiti Davira terutama Nesya. Davira tidak ingin Nesya terluka.


“Saya wanita yang mempunyai anak, tetapi tidak menikah. Apa kamu bisa menerima itu?” tanya Davira.


“Bisa” kata Alvan yakin.


“Ok” pasrah Davira. “Anggap saja kamu bisa, tetapi bagaimana dengan kedua orang tuamu? Keluargamu? Apa mereka bisa menerima saya? Menerima Nesya?” berondong Davira.


“Saya adalah orang yang sangat mandiri, saya yang mengambil keputusan soal hidupku. Ayah dan ibu saya tidak pernah meragukan kemampuan saya. Mereka selalu memberikan kepercayaan dan kebebasan kepada saya” kata Alvan percaya diri.


Setiap keputusan yang diambil oleh Alvan, tuan besar tidak pernah ikut campur atau ingin tahu. Itu yang membuat Alvan bisa menjadikan dirinya seorang bisnisman yang sangat luar biasa. Dengan otak dan pemikiran Alvan yang melebihi rata-rata orang.


Semua keputusannya dalam menjalankan sebuah bisnis pasti berhasil dan menghasilkan keuntungan yang luar biasa. Tuan besar sudah menyerahkan semua urusan kepada Alvan. Pensiun dari usahanya. Tuan besar sekarang hanya menikmati hari tuanya dengan istrinya. Berkeliling dunia berdua dengan istrinya.


Davira memijat keningnya pusing melihat Alvan begitu keras kepala.


“Orang tua saya adalah orang yang sangat baik. Saya akan menjelaskan kepada mereka. Mereka pasti akan mengerti dan menerima keputusan saya. Untuk menikahi kamu dan memiliki Nesya.” Kata Alvan tanpa ada keraguan.


“Ayah dan ibu pasti akan mencintai Nesya. Bayi yang begitu lucu begitu cantik. Tidak susah mencintai Nesya.” Kata Alvan mencium pipi tembem Nesya. Rasanya Alvan tidak bosan-bosannya mencium bayi kecil ini.