
“Seandainya kita mencoba tetapi kita tidak cocok dan tidak berhasil? Apa yang akan terjadi? Apalagi Nesya mulai dekat denganmu” tanya Davira khawatir dengan Nesya. Bagi Davira Nesya yang terutama. Tidak apa-apa dia sendiri tidak bahagia. Asal Nesya bahagia. Davira rela berkorban untuk kebahagiaan Nesya.
“Saya akan tetap menjadi ayah Nesya. Mungkin saya akan mengadopsi Nesya. Kita bisa sama-sama membesar Nesya” jawab Alvan.
“Kenapa tidak sekarang saja kamu adopsi Nesya. Tidak perlu kita menikah?” tanya Davira.
“Apa kamu benar-benar tidak mengerti Vira? Hem?” tanya Alvan.
Davira menggelengkan kepalanya. Tidak mengerti.
“Saya ingin menjadi ayah Nesya, ingin Nesya punya ibu dan ayah didekatnya. Saya ingin Nesya punya keluarga lengkap, yang terutama saya merasa tertarik denganmu, saya suka kamu” kata Alvan sungguh-sungguh dan menatap mata Davira. Davira merasa canggung dan mengalihkan pandangannya.
“Terus terang saya tertarik dengan pesona mu” rayu Alvan tersenyum manis dengan Davira.
Davira menjadi salah tingkah lagi. Entah kenapa Alvan begitu mudah membuat Davira memerah pipinya.
“Biarkan saya waktu untuk memikirkannya” kata Davira akhirnya.
Setelah mengambil keputusan itu, Davira membawa Nesya keluar. Ingin memandikan Nesya dan menyuapi Nesya makan.
Kaki Alvan mulai baikkan. Membuat dia bisa ke kamar mandi sendiri walaupun dengan kaki terpincang-pincang. Alvan membersihkan tubuhnya dan bersiap keluar dari kamar mandi.
Pas saat Alvan keluar dari kamar mandi, Davira masuk ke kamar karena ingin membantu Alvan ke kamar mandi. Davira melotot memandangi tubuh Alvan terpampang di depan matanya. Tubuh yang sangat seksi. Sangat sempurna dengan otot-otot diperutnya. Terlihat sangat kokoh. Apalagi Alvan hanya memakai handuk menutupi bagian tubuh bawahnya.
Tetes air dirambutnya jatuh mengalir menuruni tubuh Alvan sampai menghilang di bagian handuk di pinggang kuat alvan. Tanpa sadar Davira mengikuti aliran air yang menetes. Alvan tampak menggoda dan seksi
“Air ludahnya sudah mau netes. Hapus tuh” goda Alvan.
Davira otomatis menggunakan tangannya menyeka bibirnya.
Alvan yang melihat keluguan wanita didepanya tertawa terbahak-bahak. Davira akhirnya sadar dia diisengi Alvan. Menghentakkan kakinya kesel.
“Ish..” Davira merasa sangat malu. Wajahnya terasa memanas sampai telinganya. Ketahuan melihat tubuh Alvan. Secepatnya Davira keluar dari kamar Alvan. Membiarkan Alvan memakai bajunya. Davira merasa akan kena jantungan bila berdekatan dengan Alvan. Sangat tidak sehat buat jantungnya.
Alvan keluar dari kamar dan duduk di kursi ruang tamu. Asyik bermain dengan Nesya yang juga sudah wangi. Alvan suka sekali mencium wangi bayi Nesya. Mengajak Nesya bermain dan berbicara dengan Nesya. Sementara Davira sedang menyiapkan makan siang buat mereka.
“Tok.. tok..tok” terdengar suara pintu depan diketuk dari luar. Nenek yang dekat dengan pintu membukakan pintu. Tampak pak RT dan beberapa warga datang ke rumah Davira.
“Pak Rt, pak Dodi dan bapak-bapak. Tumben. Ada keperluan apa?” tanya nenek bingung.
Nenek mempersilahkan mereka masuk ke dalam dan duduk di ruang tamu yang ada Alvan dan Nesya.
Pak RT yang melihat Alvan mendekati Alvan ingin berbicara dengan Alvan.
“Bagaimana kabar Anda?” tanya pak RT.
Alvan yang bingung melihat kepada nenek. Nenek memperkenalkan mereka.
Alvan mengulurkan tangannya menjabat tangan pak Ahmad dan bapak-bapak yang lainnya.
“Ada perlu apa bapak-bapak semuanya datang ke sini?” tanya nenek.
“Maaf ini Bu, kami ingin tahu kondisi Alvan yang kecelakaan kemarin.
Alvan merasa heran kenapa hanya datang menanyakan kabar tentang dia. Hampir lebih sepuluh orang ke rumah Davira.
Alvan merasa ada hal yang lain. Tetapi Alvan bersikap tenang menghadapi orang-orang didepanya.
“Saya sudah baikkan pak, terima kasih atas perhatiannya.”
“Maaf ya bu Laila, pak Alvan. Kami warga disini merasa keberatan seandainya bapak Alvan masih tetap menginap di sini” kata pak Ahmad tegas.
Davira yang sedang memasak, mendengar suara ribut banyak orang mendekati ruang tamu, merasa heran begitu banyak orang berkumpul di rumahnya.
“Alasan apa saya tidak bisa disini?” tanya Alvan bingung.
“Di rumah ini ada wanita yang tidak menikah, tidak ada lelaki muhrimnya. Tetapi pak Alvan tinggal di sini. Kami ke sini untuk mencegah hal-hal yang buruk terjadi dan kesalahpahaman antara nona Davira dan pak Alvan.
Wajah Davira langsung berubah menjadi putih. Davira menjadi ingat hal yang dulu pernah terjadi di kampung halamannya. Dijauhi warga sekitar dan digunjingkan warga sekitar. Sampai mereka pindah dari kampung halamannya.
Melihat wajah pucat Davira. Alvan menjadi marah. Alvan menyerahkan Nesya ke pelukan Davira. Davira memeluk erat-erat Nesya. Seperti meminta kekuatan dari Nesya. Davira gemetaran, tetapi menguatkan dirinya.
“Hal jelek apa yang bisa terjadi antara saya dan Alvan?” Tanya
Davira dingin kepada pak Ahmad dan melihat satu-satu warga yang datang kesini..
“Apa non Davira ingin mempunyai anak yang tidak punya ayah lagi?” Seorang warga yang bernama Junai dengan tidak sopan melihat Davira dari atas sampai bawah dan Nesya di gendongan Davira.
“Anda jangan kurang ajar” Teriak Alvan menggelegar marah kepada warga tersebut.
Terjadi keributan antara Alvan dan warga. Pak Ahmad yang melihat situasi memanaskan menenangkan warga dan Alvan.
“cihh.. apa yang saya katanya tidak salah. Itu bayi tidak tahu siapa ayahnya.” Kata Junai sambil menunjuk Nesya. “Ditanya juga Davira tidak pernah menjawab” hina Junai lagi. Sebenarnya Junai merasa tertarik dengan kecantikan Davira. Dan selalu berusaha mendekati Davira. Tetapi Davira menolaknya dengan kasar dan tidak peduli dengannya. Padahal Junai sendiri sudah mempunyai istri dan 3 orang anak. Junai selalu merasa Davira itu wanita murahan yang lagi sok jual mahal, buktinya Davira mempunyai anak tetapi tidak menikah. Bahkan tidak tahu siapa ayahnya.
Alvan menatap dingin Junai, dengan wibawanya membuat Junai mengerut, menjadi takut dengan pandangan mata Alvan yang tajam menusuk.
Wajah Davira semakin memucat begitu juga dengan nenek. Yang takut kasus lama akan terjadi lagi. Apa mereka harus pindah rumah lagi. Menghindari warga yang menolak kehadiran mereka.
Alvan dengan tenang dan terpincang-pincang jalan mendekati Junai. Junai yang didekati Alvan bersembunyi di belakang warga yang lain. Merasa terintimidasi oleh Alvan. Dengan tenang Alvan melihat pak Ahmad dan warga-warga didepanya.
“Saya adalah suami Davira. Dan Nesya adalah anak saya” kata Alvan tenang menjelaskan kepada mereka.
“Jadi Anda sekalian tidak boleh menghina Davira” kata Alvan tegas mengintimidasi semua warga yang hadir. Wibawa Alvan memang tidak diragukan. Semua pebisnis besar yang bekerja sama dengan Alvan merasa segan dengan wibawa Alvan. Apalagi warga kampung yang sederhana. Merasa tertekan dengan aura Alvan.