
“Pinjam hp ya?” kata Alvan ke Davira.
Davira menyerahkan hpnya dan keluar ruangan. Davira mengajak nenek untuk keluar dari kamar. Membiarkan Alvan leluasa menggunakan hpnya. Nenek juga meranjak pergi. Menoleh melihat Alvan dan tersenyum penuh arti.
Alvan membalas senyum nenek. Setelah mereka pergi, Alvan menelepon sekretaris nya, Jonathan.
Jonathan yang mendapatkan nomor asing di teleponnya secepatnya mungkin menjawabnya.
“Jo” panggil Alvan saat telepon tersambung.
Jonathan langsung menarik nafas lega, tuan muda nya akhirnya memberikan kabar.
“ Tuan muda Anda kemana saja, semalaman kami mencari tuan” panik Jonathan saat mendengar suara tuan mudanya. Bersamaan merasakan lega karena mendapatkan kabar dari tuan mudanya. Entah sepanik apa Jonathan tidak mendapat berita dari tuannya dari semalam sampai pagi ini. Menanti tuannya yang tidak sampai tujuan semalam. Sepanjangan malam Jonathan mengerahkan anak buah untuk mencari tuan mudanya.
Semua orang dalam radius dekat Jonathan tidak ada yang bisa bernafas dengan tenang. Karena Jonathan selalu memarahi mereka. Panik dan teriakkan terdengar bergema sepanjang malam sampai pagi. Jonathan tidak bisa tidur sepanjang malam. Setelah lewat jam 4 Subuh, ketakutan semakin meremas hatinya. Mengambil keputusan memberitahukan tuan besar.
Menghubungi tuan besar dan mendapatkan kemarahan tuan besar. Jonathan merasa tidak berguna dan mengecewakan tuan besar. Sangat merasa bersalah dan tidak berguna.
Jonathan adalah sekretaris yang mengatur semua kegiatan tuan mudanya. Seorang yang telah besama Alvan sejak SD, sejak Alvan mulai belajar menjalani perusahaan, menjadi alih waris.
Jonathan 6 tahun diatas Alvan. Jonathan sudah menganggap Alvan sebagai adik yang harus dia jaga. Jonathan bisa memberikan apapun yang bisa dia berikan kepada Alvan. Bahkan nyawanya sekalipun.
Jonathan merasa sangat berterima kasih kepada tuan besarnya, ayah Alvan. Saat dia masih SMP, sebagai anak yatim-piatu, dia menjadi anak yang pendiam. Tetapi dengan penampilannya yang sangat rupawan. Membuat teman sekelasnya tidak senang dan mulai membulinya.
Biasanya Jonathan membiarkan mereka membulinya. Tapi pada suatu saat Jonathan habis-habisan dipukul oleh teman-teman sekelasnya. Gara-gara ada seorang cewek yang disukai ketua geng di sekolah Jonathan, menolak dirinya dan mengatakan menyukai Jonathan.
Memukul Jonathan sampai babak beru yang tanpa berdaya membalas puluhan orang yang mengeroyok dirinya. Tuan besar yang pas lewat di tempat itu. Turun dan menghentikan anak-anak memukuli Jonathan.
“APA YANG KALIAN LAKUAKAN?” teriak tuan besar marah. Tuan besar yang turun bersama beberapa bodyguard nya. Yang memakai jas hitam, tampak menyeramkan. Membuat mereka ketakutan dan pergi.
“ kamu tidak apa-apa?” tanya Tuan besar.
Jonathan hanya diam dan mencoba berdiri tapi tak lama kemudian kehilangan tenaga dan pinsan.
Tuan besar melihat Jonathan dan meminta sektretarisnya, Pak Tono membawa Jonathan pulang untuk dirawat.
Setelah sadar Jonathan merasa bingung berada disebuah kamar yang besar.
“Dimana orang tua mu? Saya akan mengantarmukamu pulang.” Tanya Pak Tono.
Jonathan hanya menggeleng kepala.
“ Saya gak punya orang tua, saya tinggal di panti asuhan” jawab Jonathan sambil menundukkan kepalanya.
Melihat perawakan Jonathan yang kurus, seperti anak kurang gizi. Tuan besar merasa kasihan dan mengajak Jonathan tinggal bersamanya.
Membawa Jonathan pulang kemali ke panti asuhan. Mengambil barang Jonathan dan pamit untuk tinggal bersama tuan besar di rumah utama.
“Mulai hari ini kamu tinggal di sini” kata pak Tono, yang mendapatkan perintah dari tuan besar.
“ Ia pak Tono” jawab Jonathan.
“Panggil saja paman Jo” kata pak Tono lagi.
“Siapa dia paman?” tanya Alvan kecil yang berumur 8 tahun. Yang lari mendekat melihat Jonathan dengan penasaran.
“Dia Jonathan, teman Anda mulai sekarang tuan muda, dia akan menjadi teman anda di rumah ini” jelas pak Tono.
“Benarkah? Asik banget “ Alvan begitu senang punya teman di rumah. Menjadi anak tunggal keluarga Liam membuat Alvan hampir tidak mempunyai teman bermain.
Sejak saat itu Jonathan tinggal bersama tuan besar. Sekolah dan mendapatkan beasiswa karena Jonathan yang sangat pintar. Tuan besar memberikan semua fasilitas Jonathan untuk memajukan kemampuan diri. Dari seorang anak yatim-piatu yang miskin. Menjadi seorang Jonathan yang sangat mumpuni di bidangnya. Sejak awal Ayah Alvan dapat melihat kemampuan Jonathan yang sangat berprestasi. Menyiapkan Jonathan sebagai sekretaris pribadi anaknya Alvan. Menyiapkan Alvan sebagai ahli warisnya dengan orang yang royal dan bisa dipercaya disamping Alvan.
Dan benar saja, Jonathan tumbuh menjadi orang berbakat dan sangat setia dengan tuan besarnya apalagi dengan tuan mudanya.
Alvan mulai menceritakan kepada Jonathan apa yang terjadi semalam. Soal mobilnya yang remnya mendadak blong, terguling dan meledak. Jo sampai kaget banget.
“ Bagaimana bisa rem blong?” tanya Jonathan curiga, apa ada yang berniat jahat kepada tuan mudanya.
“Mungkin ada kesalahan, tidak ada yang tahu saya akan memakai mobil itu, karena saya mendadak perginya” Alvan berkata.
“Apakah Anda terluka tuan?”
“Hanya sedikit lecet dan kakiku sakit” jelas Alvan
“Saya akan menjemput anda secepatnya tuan”
“Saya masih ada urusan disini.”
“Urusan apa tuan? Biar saya yang menggantikan anda. Kesehatan Anda yang terpenting”.
“Ini bukan hal yang bisa kamu urus Jo” kata Alvan penuh misteri.
“Baiklah tuan, Tapi kenapa kami mencari tuan di jalan yang mungkin tuan lewati, kami tidak mendapatkan berita apapun?”
“Saya mendadak ingat ada urusan lain di tempat lain. Jadi saya lewat jalan lain” jelas Alvan.
“Pantas kami tidak mendapatkan berita apapun tuan muda”
Alvan juga mulai menceritakan Devira yang dengan berani menolongnya pada saat yang genting.
“Ya Tuhan, syukur Anda masih selamat” Jonathan sampai gemetaran membayangkan kejadian itu. Tidak berani membayangkan apa yang terjadi bila tuan muda tidak bisa keluar dari mobilnya.
“Devira yang menyelamatkan saya. Dengan berani dia menolonku” kata Alvan sambil tersenyum membayangkan wajah Devira yang cantik, secantik hatinya.
“Saya akan memberikan apa saja untuk membalas budi nona Devira tuan” sumpah Jonathan yang merasa sangat berhutang budi kenapa orang yang menyelamatkan tuan mudanya.
“Katakan apa yang harus saya berikan kepada nona Devira tuan? Saya akan membawa apa saja yang nona Davira minta” kata Jonathan lagi.
“Biar saya yang urus masalah ini Jo. Saya akan berterima dengan hatiku” kata Alvan dengan senyum.
“Jadi ini urusan cewek?” tanya Jonathan menggoda Alvan.
“hehehe” Alvan hanya terkekeh.
Jonathan merasa aneh dan senang dengan reaksi tuannya.
“Semoga lancar urusannya tuan”
“Bawakan saya handphone baru, beberapa baju dan segala kebutuhan saya. Dan bilang kepada mereka proyek tetap berjalan sesuai keputusan dalam rapat kita kemarin” Alvan memberikan perintah dan menyelesaikan semua urusan perusahaan yang tertunda.