
Davira tertawa untuk menutupi kegugupannya. Mengapa Alvan orang yang sangat berterus terang. Mengungkapkan isi hatinya begitu ngampang.
“Kamu kira saya percaya itu?”
“Kenapa gak? Kamu gak percaya cinta pada pandangan pertama?” tanya Alvan kembali.
“Gak tuh.. bohong banget cinta pada pandangan pertama. Cih” sarkas Davira.
“ Kenapa bisa begitu? Jatuh cinta pada pandangan pertama?. Kayak anak baru puber saja. Kamu sudah dewasa jangan kayak anak-anak deh” Davira menatap tajam Alvan.
“Apa susahnya mencintai wanita yang mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan ku?”
“Jadi gara-gara itu?” Davira akhirnya mengerti. “Itu bukan cinta Van, hanya rasa berterima kasih. Jangan mencampur adukkan kedua hal ini” kata Davira.
“Kamu merasa berterima kasih dan ingin menikah denganku? Seandainya yang menolong kamu seorang pria, apa kamu akan menikahinya juga?” tanya Davira lagi.
Alvan menurunkan Nesya ke ranjang. Kemudian menarik tangan Davira, mendekatkan tangan Davira ke dada nya. Davira merasakan debaran jantung Alvan, seketika juga Davira merasakan hal yang sama. Hatinya ikut berdetak kencang. Saling bertalu-talu. Davira menjadi salah tingkah.
“Kalau bukan cinta kenapa hatiku berdebar dengan cepat?” tanya Alvan menatap mesra Davira.
Dengan gugup Davira menarik kembali tangannya.
“Saya ini wanita yang punya anak. Yang punya tanggung jawab”
“Terus kenapa? Bukankah saya akan menikahi mu. Saya bisa menerimamu begitu juga Nesya. Kita bisa membesarkan Nesya bersama. Nesya bisa mendapatkan utuh yang sempurna. Apa yang salah? Kalau kamu merasa ini terlalu cepat, kita bisa saling mengenal dulu. Soal pernikahan nanti kita bicarakan lagi. Sekarang kita bisa saling mengenal dulu. Seperti apa yang kamu mau” kata Alvan.
“Orang tuamu gak bakalan setuju kamu nikah sama wanita yang punya anak” jelas Davira lagi.
“Itu menjadi urusan ku, kamu tidak perlu khawatir. Saya mengenal orang tuaku dengan baik. Mereka pasti bisa menerima selama itu keputusan ku”
Davira cuma bisa terdiam, tidak bisa berkata-kata lagi. ‘Ini pria gila yang datang dari mana sih? Seenaknya memutuskan apa yang dia mau. Bikin kepala pusing saja’
Davira menarik nafas panjang lagi. ‘Lama-lama saya bisa stres gara-gara ini orang.
Mungkin ini hanya perasaan sementara karena saya menolongnya. Akan hilang dalam beberapa hari begitu Davira berpikir. Ia sih, ada seorang pria yang begitu memersona melamarnya, sangat sulit untuk menolak pesona Alvan. Setiap wanita yang melihatnya pasti akan tertarik dan tergoda. Begitu juga Davira lama-lama bisa tergoda juga. Sambil mencuri pandang, Davira melihat wajah Alvan dengan hidungnya yang mancung, bibir yang seksi, dengan tatapan mata tajam yang memesona, benar-benar ciptaan Tuhan yang tiada celah. Kelihatan sangat menggoda, sehingga Davira merasa dorongan untuk menyentuhnya. Kayaknya asyik kalau disentuh. Gemesin.
‘hihihi’ tertawa terkikik Davira dengan pikirannya.
‘Jangan ikut gila ya Vira’ pikir Davira sambil memukul kepalanya pelan.
Alvan yang melihat Davira tertawa sendiri sambil memukul kepalanya merasa aneh. Menaikkan alisnya bertanya Davira. Davira yang sadar dari pikiran nya hanya terdiam dan merasa malu.
“Ehm.. Ehm..” Devira membersihkan tenggorokan nya malu.
“Sini Nesya nya” kata Vira mengendong Nesya.
“Kita makan ya sayang” kata Davira penuh cinta.
Nesya masih rewel, mau nangis lagi.
“Sayang makan dulu ya. Nanti sama om lagi” bujuk Davira.
“Bawa saja makanannya kesini, biar saya yang suapin” kata Alvan memeluk Nesya kembali.
Menatap heran Alvan dan Nesya yang memeluk erat Alvan. Davira mengalah dan keluar untuk mengambil makanan buat Nesya.
Saat kembali ke kamar, Davira melihat interaksi Alvan dan Nesya yang begitu manis. Suara tawa Nesya begitu merdu dan mengemaskan. Hati Davira berdesir melihat mereka.
“Sini makanannya, biar saya suapin” Alvan mengambil piring dari tangan Davira dan gantian Davira yang memeluk Nesya. Dengan sabar Alvan menyuapi Nesya makan. Dan Nesya makan dengan lahapnya. Davira melihat interaksi Alvan dan Nesya. Melihat Nesya yang tertawa lucu sangat menggemaskan. Davira hanya tersenyum melihat mereka yang sangat akrab.
Pemandangan yang begitu indah. Seperti benar-benar interaksi ayah dan anaknya. Davira sampai terharu. Dan matanya mulai berkaca-kaca. Apa benar Alvan bisa menjadi ayah yang baik buat Nesya? Bolehkah berharap? Davira merasa sedih memikirkan nasib Nesya.
Alvan menyuapi Nesya dengan sesekali menggoda Nesya.
“ Kamu pintar banget menjaga bayi” kata Davira.
“Benarkah? Ini pertama kali saya menyuapi bayi makan. Mungkinkah saya berbakat menjadi ayah yang baik?” tanya Alvan menggoda Davira lagi.
“Dasar” Davira memutarkan matanya tidak habis pikir.
Bertiga mereka tampak sangat harmonis, terlihat seperti pasangan suami-istri dan anaknya.
Setelah makan dan bermain sebentar Nesya tertidur. Davira membawa Nesya kembali ke kamar nenek agar bisa tidur dengan tenang.
Davira membawa Nesya ke kamar nenek, kemudian Davira masuk kembali ke kamar Alvan.
“ Nanti sore kamu mau makan apa Alvan? Nanti kami siapkan.” Tawar Davira.
“Apa saja boleh, saya tidak pilih-pilih makanan. Apalagi masakan nenek sangat enak.”
Davira tersenyum senang mendengarnya.
“Ok, nanti sudah selesai saya bawa masuk makanannya”
“Kalo sudah selesai saya mau makan di luar saja boleh? Makan bersamamu dan nenek. Saya sangat bosan di kamar” pinta Alvan.
“Ok baiklah” jawab Davira.
Saat Davira ingin keluar lagi, Davira melihat gerakan Alvan yang ingin turun dari tempat tidur.
“Mau ke mana?”
“Mau ke kamar mandi” jawab Alvan.
Davira jalan mendekati Alvan dan membantunya lagi. Memapahnya ke kamar mandi. Alvan merasa senang bisa berdekatan lagi dengan Davira. Dan jantungnya berdegup kencang lagi.
“Terima kasih sayang” jawab Alvan.
“ish.. apaan sayang-sayang?” ketus Davira.
“Kan kamu pacar saya, panggilan sayang wajar kan? Apa mau panggil honey? Cintaku? Terserah kamu saja” bisik Alvan ditelinga Davira.
Davira memegang telinganya yang geli dan melotot kan matanya.
“Kapan saya jadi pacarmu?” kesel Davira.
“Kamu bukan hanya pacarku, tapi juga calon istriku” jawab Alvan lagi. Memerah wajah Davira, jantungnya mulai berdetak kencang lagi. Tetapi Davira malu dan merasa kesel dengan Alvan yang bisa memporak porandakan hatinya, pergi keluar dari kamar tidur dengan wajah memerah, sangat mengemaskan. Seandainya kaki Alvan tidak terluka, rasanya Alvan akan memeluknya dan mencium pipi merah itu.
Alvan tertawa terbahak-bahak senang melihat Davira yang keluar kamar sambil membanting pintu keras.
Menjelang sore Jonathan mengutus anak buahnya untuk mengantarkan kebutuhan sehari-hari Alvan dan berbagai bahan masakan dan segala kebutuhan yang diperlukan. Davira sampai kewalahan menerima semua barang yang dibawa. Rasanya bisa untuk membuat pesta sekampung.
Awalnya Jonathan ingin sendiri yang mengantarkan kebutuhan Alvan. Tapi setelah dipikirkan lagi adalah hal yang aneh seorang bos mengantar sendiri. Akhirnya Jonathan mengutus pengawal yang lain.