My Husband, Who Are You?

My Husband, Who Are You?
Melebur Bersama Angin



*Ajaibnya, dia berhasil membuatku jatuh cinta padanya.


Namun banyak sekali hal yang tak bisa kuberitahukan padanya. Bila nanti dia bertanya, bagaimana?


-Arai*-


Aku sedang meletakkan tas dimeja kerja saat Ayumi menghampiri dengan mata sembab “ada apa? Apa yang terjadi?”


Hasegawa Fujiki menghampiri kami, dia menghela nafas panjang. “dia hanya mau kita bekerja lebih baik, jangan dimasukkan ke hati begitu.”


“kau tak lihat tadi dia mengabaikan semua proposalku? Dia sudah akan memecatku. Aku menyesal sekali mencuri-dengar waktu itu.” isak Ayumi


“ada apa sih?”


“selama kau tak masuk kerja, ada beberapa pegawai yang dipecat—“


“apa?!”


“—dia mengajukan karyawan baru.”


aku melihat meja yang sudah dikosongkan didekatku. “tapi, alasannya kenapa? Ayumi berhenti nangis!”


“katanya ada karyawan yang—“


Saat itu Tatsuya senpai baru datang dan langsung masuk ke ruang kerjanya.


“hei kau mau kemana?” aku tak menggubris Hasegawa, aku cepat-cepat masuk keruang kerja Tatsuya dan menutup pintunya. Dia baru saja menggantung sweaternya. “Lulu, ada apa? Aku belum membaca berkas dan memanggilmu” tanyanya heran.


“boleh aku tahu, mengapa direktur memecat karyawan direksi?”


Dia mengerjapkan mata “sepertinya itu bukan urusanmu, Lulu”


“urusanku kalau itu berkaitan dengan teman-temanku. Apa sebentar lagi kau akan memecat fujiki, ayumi lalu aku??” tatsuya senpai takk menggubrisku, dia berjalan mendekat lalu menarik kursi, melihatku dan berkata “silahkan duduk” semntara dia duduk dikursinya sendiri.


“senpai!” aku tak percaya dengan apa yang kulihat, dia sama sekali tak menjawabku dan bersikap santai. “memangnya kemarahanmu padaku itu berhak mereka rasakan juga? Kalau kau marah pecat saja aku, kenapa harus mereka yang nggak ada hubungan apa-apa dengan masalah kit—“


“aku nggak asal memecat, Lulu-san”


“hah?”


“aku nggak asal memecat. Mereka kupecat karena suatu alasan dari perusahaan. Aku tidak mungkin menampung pekerja yang membocorkan identitas penulis kalau penulis itu tidak mau memberitahukannya sendiri.”


“ah, jadi...bukan karena itu” ya Ampun, aku malu sekali. Belum pernah aku hilang kendali dan jadi manusia sok tahu begini. “maaf direktur, saya...” Tatsuya senpai melihatku, sepertinya sebentar lagi aku benar-benar akan dipecat. “saya minta maaf. Saya permisi” aku melangkah cepat-cepat kearah pintu.


“kau benar-benar tak mau duduk dulu?”


“eh. Oke” kataku refleks. Dan cepat-cepat duduk dikursi. Tatsuya senpai tersenyum sambil membuka berkas. Sudah lama aku tidak melihatnya tersenyum, tapi aku pura-pura tidak lihat saja. aku melihat ruangannya, masih sama seperti saat terakhir aku bertengkar dengannya. Aku melihat sweater dan syall yang digantung, muncullah pertanyaan itu. “senpai sakit?”


“eh?” dia mengangkat kepalanya, terkejut.


Aku menunjuk tempat gantungan “apa senpai sakit? Senpai pakai baju hangat hari ini”


“tidak, Lulu-san” kalau nggak, untuk apa dia pakai pakaian hangat dimusim panas begini.


“kau tidak marah lagi padaku? Kau sudah mau mengobrol bersamaku”


“aku tak pernah marah padamu.”


Benarkah begitu? Sepertinya dia membuat alasan.


“aku tak membuat alasan. Lagipula, untuk apa aku marah? Aku bukan marah. Aku menjaga sikapku.” Benar, kelihatan kok. Tapi lebih baik, dari pada harus berkata sinis padaku.


“Arai sudah sembuh?”


“dia sudah mendingan seka...rang”


Aku terlonjak berdiri, menjauh dari senpai yang ikut berdiri. “bagaimana kau tahu tentang Arai dan...dan... kata Arai tak seorang pun tahu...”dia itu...pengecualian. kau tidak boleh menyukainya. Kepalaku mendadak pusing, mau pecah. Apa lagi ini, kenapa ini serasa masuk akal sekarang “siapa sebenarnya kau, senpai?” aku mengatur nafas dan menatapnya tajam, membaca situasi dimatanya. Aku jadi teringat mimpi aneh itu, disana Tatsuya senpai mengatakan hal tak masuk akal. “apa kau sama dengan Arai? Tidak, bukan itu—“ aku mengingat bagian dari mimpi mencari kata lain dari keaslian atau kebenaran “kenyataan.” Aku menatapnya “tuan kenyataan” dadaku sakit sekali “ya Tuhan, jadi kamu itu...”


Tatsuya senpai menghampiriku, “lulu”


“tidak, jangan. Biarkan aku mencerna ini baik-baik. Aku tak mau salah paham lagi.” Aku harus berfikir, aku harus ingat apa yang dikatakan Arai; dia adalah penenun mimpi, dia berteman dengan angin. Dia adalah mimpi. Dia sakit karena aku... bukan, bukan itu, ada hal lain lagi. Ayolah, ayolah Lulu kau harus berfikir... dia bilang sakitnya tidak akan sembuh. Dia bilang Ada debaran lain didadaku, dia bilang aku menyukai Tatsuya... Apa yang tatsuya katakan waktu itu... “karena, kenyataan tak boleh digabungkan dengan mimpi, dan karena juga aku mencintainya” aku melihat tatsuya senpai lagi, kepala dan dadaku nyut-nyutan. Segala arah aliran darahku rasanya berjungkir balik “kau yang mengatakan itu. apa yang kau lakukan sebenarnya? Apa yang kau lakukan terhadap Arai?”


“aku tidak melakukan apa-apa.”


“kau jelas-jelas melakukannya. Kau tahu Arai sakit. Kau membuatku berdebar—“ aku terdiam. “debaran...” aku menyentuh jantungku.


“bukan aku yang menyakitinya. Tapi debaranmu.”


“bagaimana bisa...” aku bersandar dipintu. “bagaimana bisa”


“karena kau juga menyukaiku.”


“tidak.”


“ya. Kau juga mencintaiku. Sebagai orang yang nyata. Sebagai penolongmu, sebagai orang yang membuatmu gusar dikenyataan.”


“tidak. aku tidak begitu—“


“kau begitu, kau menyakiti mimpimu sendiri. Dan seharusnya dari dulu kau sudah sadar bahwa saat pertama kali kau bertemu dengannya itu hanya sebuah impian. Aku lah kenyataan itu. tidakkah kau lihat kemiripan itu ada padaku dan Arai?” tanyanya sedih. dia duduk lagi dikursi, menunduk lalu menyapu rambutnya “kau terlalu buta akan kenyataan, kau tak bisa menempatkan mimpimu dengan benar, Lulu. Padahal aku sungguh mencintaimu”


Aku melihat kemiripan itu, dia begitu mirip dengan Arai, mengapa aku tak pernah melihat ini? Mimpi dan kenyataan. Aku melihatnya sebagai mimpi dan menciptakan impian. Sedangkan kenyataan, aku melawannya. Menghindar dari itu semua. Mimpi-mimpi buruk itu. aku menyakiti impian dan kenyataanku sendiri. “saat aku berdebar...”


Tatsuya mengangkat kepalanya “saat kau berdebar karenaku? Kau mau tahu apa yang terjadi dengannya? Jantungnya akan berhenti. seharusnya dia tak boleh hidup bersama seseorang hanya dengan sebuah mimpi. Dia itu aku. tapi aku nyata.”


“dia nyata.” Kataku. Aku menekan dadaku. “dia itu nyata.”


“kau mencoba membuatnya menjadi bulir mimpi selamanya.”


“apa...?”


“aku dan yang lain sudah membujuknya, melepasmu. Dia tidak boleh bersamamu”


“tidak...boleh...?”


“karena hidupnya adalah mimpimu, impian. Kau menciptakan mimpimu padanya. Saat seharusnya orang-orang hanya menganggapnya sebuah mimpi, kau menganggapnya impian. Dia tak bisa pergi lagi, dia sudah sangat mencintaimu”


“tapi, hasilnya... yang seharusnya sebelum kau berdebar makin keras padaku, dia tak melebur, dia cukup kau lupakan seharusnya Dia akan hidup. tapi dia bertahan, kau menahannya. Padahal kau juga tak sanggup mengelakku.”


“kalau aku tak mau melupakannya. Cukup menghilangkan debaranku padamu—“


“kau fikir debaranmu padanya itu sungguh asli?”


“asli! Aku sungguh mencintainya”


“Kau melawan kenyataan. Kau membuatnya melebur menjadi angin untuk selamanya”


DEG. Melebur. Selamanya.


“kau masih berdebar karena aku” bisiknya. Dia menempatkan telinganya dijantungku. Aku sudah pasti berdebar karena dia. aku balas memeluknya, mencium rambutnya, berlama-lama disana. Menghirup aroma malam segar. “kau dingin sekali, ai-kun”


“mm, makanya, peluk aku terus” katanya. Aku tersenyum. Aku memang akan terus memeluknya tanpa disuruh sekalipun. “sudah mendingan?” tanyaku.


“bagaimana denganmu?”


“aku? aku sudah lumayan, demamnya rasanya sudah mendingan”


“bukan demamnya”


Aku melihat keluar jendela kaca yang terbuka, melihat malam tak berbintang, mendung.


“mimpinya” katanya lagi, “bagaimana, Kau sudah baikan?”


“aku...tidak apa-apa”


“maaf, aku tidak menghilangkan mimpi buruknya, aku malah menyaksikannya”


“aku ingin kau berdebar seperti ini terus terhadapku”


“mm”


“jangan kepada orang lain”


Aku mengangguk dikepalanya.


“aku benar-benar ingin bersamamu”


“aku juga begitu”


“aku benar-benar...ingin bersamamu”


“Arai tidak mungkin akan melebur. Dia yang mengatakannya, dia bilang dia ingin bersamaku”


“ai-chaaan”


Aku melihatnya melambai ke arahku, tersenyum lebar, menunduk pada anak-anak dan menunjuk padaku, serentak anak anak itu berteriak dan melambai ceria padaku “Mikka-chaaan, lulu-chaaan”Arai membungkuk kepada penontonnya, diiringi tepuk tangan, penonton bubar. Arai memeluk anak-anak lalu datang kepadaku dengan senyum lebar. “bagaimana?”


“kau keren dan tampan”


Dia tertawa “benarkah?”


“dia akan sembuh, sebentar lagi,” isakku


“izinkan aku mengecek sesuatu” dia mendekatkan telinganya didadaku, tempat jantungku berdebar keras dan ngilu. Dia mengangkat kepalanya lalu tersenyum kecil “kau masih berdebar karena aku”


“kau sakit karena aku, kan?”


‘bukan”


“jangan bohong, aku mohon, katakan padaku. Apa aku membuatmu sakit karena tahu rahasiamu?” Arai terdiam, makin memelukku dengan erat. “kumohon” kataku “kumohon, katakan padaku”


Aku mendengar detak jantungnya bertalu-talu. “memang benar karena aku.”


“tidak, bukan begitu.”


“katakan padaku, aku ingin kau sembuh”


“aku ini mimpi, Ai-chan, aku tidak bisa sembuh kalaupun kukatakan keadaanku.”


“jangan berkata yang tidak-tidak” aku menangis segala hal tentang Arai yang akan melebur sebentar lagi. “Dia bilang dia selalu kembali padaku”


“hei, hei, aku tidak kemana-mana, lihat, aku kembali padamu”


“dia itu hidup, bukan hanya mimpi”


“ kau mendengarnya, kan? Suara detak jantungku”


aku selalu mendengarnya mana mungkin dia akan pergi...


“Jadi, jangan menangis, aku tak kemana-kemana. aku akan bersamamu.”


Tapi ingatan lain membuatku sesak napas, meninjuku jauh, jatuh dari panggung khalayalanku, kebenarannya sangat pekat.


“makanya aku takjub sekali padamu. Kamu bukan sekadar melihatku sebagai mimpi, tapi sebagai impianmu. Berbeda dengan orang-orang. karena kau melihatku sebagai mimpi dan mimpimu itu adalah impian. Impian untuk hidup bersamaku, selamanya. Kau menginginkan hal itu.”


Tidak. bukan begitu... Arai. Bukan berarti kau harus pergi. Bukan begitu yang aku mau. Bukan begini jalan yang aku pilih bersama impianku.


“senpai, sembuhkan dia. kumohon. Hmm? Kumohon” isakku “kumohon, buat dia kembali padaku, selamanya”


“aku...tak bisa. Itu sudah ditakdirkan”


Tapi bukan begini takdir yang aku mau. Tuhan... aku mohon, jangan hilangkan dia. tolong aku... dadaku sesak. Sakit sekali rasanya, sakit sekali ditempat jantungku berada, Tuhan. Aku mohon padamu...izinkan Arai bersamaku, izinkan aku mencintainya lebih lama...


...*Haruskah aku menolak perasaannya demi melindungi diriku sendiri?


Bila nanti dia tahu aku akan menghilang seperti mimpi, melebur bersama angin, apa yang akan terjadi padanya? apakah debarnya juga akan hilang seiring waktu?


-Arai-


**