My Husband, Who Are You?

My Husband, Who Are You?
Lelaki yang Membuatku Cinta



Aku sudah terbiasa dengan kesendirian, sendirian pada masa lalu atau saat ini


-Arai-


Setiap malam, setelah dia menatapku lama dan aku tidur dengan memimpikannya, dia akan pergi secara diam-diam. Setelah beberapa saat, aku bangun, dan menatap jendela kaca besar apartmen yang berfungsi sebagai pintu beranda atas terbuka lebar; kain gordennya tertiup angin malam. Aku menatap ke langit malam, berfikir apa suamiku itu kaito kid* atau superhero? Pagar serasa dingin menusuk kepalan tangan, sekarang aku merasa ketakutan dan khawatir dengan rahasia yang disimpan suamiku.


Paginya, aku bangun dan menatap cermin; mata bengkak karena menangis semalaman, aku cepat-cepat membasuhnya dan menyikat gigi lalu menuju dapur. Disana, suamiku sudah siap masak dan sedang menaruh sumpit serta sendok di samping piring nasi.


“bagaimana tidurmu? Nyenyak?” tanyanya menghampiriku dan membawaku duduk di kursi. “lulu-chan?” panggilnya saat aku menyicipi sup ayam buatannya.


“ya?”


“sedang tak enak badan?” dia duduk didepanku.


Aku menggeleng dan tersenyum, “nggak kok, aku baik-baik saja” aku menyendok sup lagi “ini lezat sekali.”


Rokugatsu Arai, orang yang setuju hidup denganku sampai kapanpun. Aku mencintainya, dan dia bilang dia juga mencintaiku. Dia pria baik, selama setahun ini dia juga menjadi suami baik.


Aku jatuh cinta padanya saat aku berjalan-jalan disuatu jalan disudut kota Tokyo, hari itu, hari pertama kali aku menjejakkan kaki di Jepang. Aku memutuskan untuk pergi dari Indonesia, mengurus kewarganegaraanku dan menetap disini.


Siapa sangka, aku malah jatuh cinta padanya saat pertama kali melihatnya memainkan permainan sulap jalanan; dengan pakaian dan topi pesulap asli; aku jatuh cinta dengan caranya yang anggun menghibur penonton, aku jatuh cinta pada caranya tersenyum dan wajah tampannya, aku jatuh cinta saat tangannya meraih tanganku untuk naik ke atas panggung khalayanku, dia tahu, bagaimana membuat penonton terbawa ke arah mimpi-mimpi indah ala sulap itu, akhirnya setiap hari aku menontonnya disana.


“ai-chan*, kamu melamun lagi?”


aku sadar, aku sedang menatapnya, tanganku terhenti mengikat tali sepatu, Arai sedang menyusun sepatu-sepatu ditempatnya yang sudah rapi menjadi lebih rapi lagi.


“nggak”


dia tertawa, “kamu sudah disitu selama sepuluh menitan lebih. Kalau tak cepat-cepat nanti terlambat ke stasiun.” Dia menghampiri dan membantuku mengikat tali sepatu.


“kaki ini kecil sekali ya” sambungnya


Mungkin dia tahu aku malu karena dia tersenyum jahil, “nggak kok, kakiku normal.” Jawabku pelan. Dia tetap saja, sampai saat ini masih tak membiarkanku turun dari panggung itu; aku masih saja melayang dan mabuk kepayang. Dia mencium bibir lalu keningku.


“hati-hati” dia membantuku berdiri.


Aku mengangguk dan tersenyum “oke, shujin-sama*” godaku “aku pergi dulu”. Aku memang tak membiarkan diriku turun dari panggung. Lebih karena, aku sudah jatuh cinta lagi padanya, sebagai suamiku.


“itterashai!”*


Hanya sebagai suamiku. Aku tidak pernah menanyakan latar belakang kehidupannya, sebelum atau sesudah menikah, dia juga tidak pernah menyinggung alasan aku pergi dari Indonesia atau mengapa aku sama sekali tidak penasaran dengannya. Jujur, aku penasaran, setengah mati penasaran tentang Arai. Tapi, bila ia sendiri tidak mau menceritakan tentang dirinya, untuk apa aku keras kepala karena rasa penasaranku?



Saat aku memutuskan untuk menikah diusia muda—23 tahun—mama berteriak dari telepon “Kamu hamil?!” “ya nggak lah, ma! Ada\-ada aja!” butuh waktu setengah jam lebih untuk meyakinkan mama dan papa bahwa aku baik\-baik saja dan tidak kurang satu pun dari anggota tubuhku termasuk kegadisanku.


Aku sudah menegaskan dalam ceritaku pada mama yang sama sekali bukan cerita bohong atau mencari aman; “Lulu sama Arai sama-sama suka. Dan dia juga punya pekerjaan, daripada nanti kami melakukan hal yang mama tau apa itu, mending menikah. Iya kan, ma?” dan mama jadi diam seribu bahasa. Menjelang hari pernikahan, mereka tidak bisa datang karrena kekurangan biaya untuk datang.


Pernikahanku dan Arai sungguh sederhana sekali, bahkan tamu yang diundang juga bukan orang yang kami kenal; pejalan kaki yang kebetulan lewat gedung apartmen dan Lansia juga anak-anak panti asuhan karena Arai suka sekali dengan anak-anak. Aku belum punya kenalan atau teman maka aku tidak mengundang siapapun kecuali Tatsuya—orang yang banyak membantuku, aku mengundangnya, tetapi dia tidak datang.


Tatsuya adalah tipe lelaki pekerja keras, baik dan tampan, seperti Arai. Aku pernah sekali waktu tidak bisa membedakan antara Arai dan Tatsuya, itu sebelum aku menikah dengan arai. Aku sempat kebingungan hari itu, karena Arai dan Tatsuya mirip. Atau kufikir mereka itu mirip. Tapi mereka bukan kembar. Setelah menikah, aku berfikir begini, mungkin karena pemuda di Jepang itu tinggi dan tampan aku sampai mengira setiap lelaki tinggi dan tampan itu adalah sosok Arai.


Atau mungkin, aku terlalu terbawa perasaan sukaku pada Arai kemanapun aku pergi. jadi aku terus-terusan melihat Arai yang sebenarnya bukan arai. aku tidak masalah dengan kemampuanku melihat arai dimanapun, tidak mengganggu. Tapi, seandainya sebaliknya, itu baru mengganggu. Bahkan aku tidak akan tahan dengan diriku sendiri kalau sehari saja tidak melihat arai. ah, ini kah yang namanya seperti kembali ke masa remaja?


Aku bersyukur sekali untuk setahun yang telah kami lalui, bahwa aku masih terus merasakan debaran untuk Arai. tidak peduli, Arai itu siapa dan apa yang dilakukan setiap malam asalkan itu bukan untuk perempuan lain. Tidak masalah. Aku terus mencintainya.


Lalu pertanyaan lain hinggap ketika aku melamun memikirkan tentang kami: bagaimana kalau seandainya diriku sendiri membuat ragu pada Arai? apa aku tetap berdebar dan terus mencintai arai seperti saat ini?


Aku menggeleng kuat-kuat. ah, jangan lagi, lah. Cukup sudah memikirkan hal yang tidak-tidak.


“oh my Lord. I loved him”


“kau baik-baik saja?”


Aku mengangkat wajah dari meja kerja, Ayumi gadis yang penuh semangat setiap hari dan bertubuh mungil bersandar di dinding pembatas meja kerja. “mm” aku menggeliat “aku baik”


“kau yakin? Tadi kayaknya kau ngomong aneh, deh” Ayumi meletakkan berkas yang tidak begitu tebal tapi jelas itu melelahkan. “dan ini masih pagi, kenapa matamu bisa sebengkak dan berkantung hitam begitu, sih? Kau perlu hiburan”


“kurang tidur” aku mengayunkan tangan pelan menyuruhnya pergi dan meletakkan kepalaku di meja “aku perlu tidur”


“oke, mau kubangunkan?”


“boleh, kalau bos datang ke mejaku”


“oh, selamat pagi, Direktur”


Aku mengangkat kepala cepat-cepat, mencari Tatsuya. Tidak ada Tatsuya, hanya Ayumi yang sedang nyengir. “sedikit hiburan” katanya lalu dia pergi.


“terima kasih hiburannya.” Aku kembali meletakkan kepala dimeja menunggu kantuk yang tidak lama datang.


***


*kaito kid \= tokoh manga di detectif conan karya Gosho Aoyama


*ai \=cinta


*chan/kun\= panggilan akrab/sayang


*shujin \= suami


*sama \= sebutan untuk kehormatan