My Husband, Who Are You?

My Husband, Who Are You?
Aku Ini Mimpi



Mimpi Dan Sebuah Kenyataan; Serupa Namun Tak Sama


*Menari-nari dan mendamba, aku melihat mimpinya; diriku.


-Arai*-


Tatsuya sedang memijit keningnya saat aku mengetuk dan masuk ke ruangan kerjanya yang terbuka. Dia mengangkat wajah dan mempersilahkan aku duduk didepannya. Aku meletakkan berkas novel pengarang baru didepannya, dan langsung dibacanya. Aku memerhatikan Tatsuya senpai secara diam-diam; hari ini dia sama sekali tidak rapi seperti biasanya, dia tidak bercukur, dasinya di pasang sekenanya dan pakaiannya kusut, matanya berkantung hitam sekarang. Sepertinya dia kurang tidur, walau begitu entah kenapa kalau dia yang begitu jadi tidak kelihatan jelek. Seperti Arai, walau dia memakai pakaian asal-asal sekalipun tetap saja terlihat normal dan tidak salah, malah tampan. Rasanya aneh sekali kalau aku memikirkan kemiripan itu.


“ada yang salah padaku?” tanyanya tiba-tiba, matanya masih tak berpindah dari berkas.


“nggak, maaf direktur”


“kalau begitu, jangan pandangi aku, aku bisa terbakar.”


Ha.ha.ha memangnya mataku ini laser? Aku melirik kepintu dan hampir saja jatuh dari kursi, Ayumi dan teman-teman kantor mengintip dan mendengar diam-diam dari luar ruangan. “apa yang kalian lakukan?” kataku tak bersuara. Aku membuat gerakan tangan isyarat pergi pada mereka tapi tak diacuhkan. Ya Tuhan, mereka itu benar-benar...


“bagaimana menurutmu?”


“eh?” aku mendengar suara orang terpeleset, sepertinya salah satu dari mereka. Tak salah lagi, mereka langsung sembunyi saat direktur mengangkat kepalanya dari berkas. “ehmm, menurut saya, ceritanya...bagus” jujur saja, aku belum sepenuhnya mengerti mengenai naskahnya. Aku tak fokus pada kerjaanku.


“begitu? Ini jelek.” kalau sudah tahu ngapain tanya??! Dia membuat note dan menyerahkannya kembali padaku.


“Lulu-san, tolong beritahu teman-temanmu, bahwa tak ada yang perlu mereka dengar dari percakapan ini” Suara langkah terburu-buru terdengar dari luar lalu sunyi. Ha.ha peringatan secara langsung.


“ya, direktur. Kalau begitu permisi”


“bagaimana keadaan suamimu?” tanyanya saat aku bangkit dari kursi, aku jadi bingung harus duduk lagi atau berdiri. Aku memutuskan berdiri saja.


“baik” tidak baik, dia masih sakit. Tidak mungkin aku mengatakan itu. “tapi, bagaimana direktur tahu kalau suami saya sakit?” aku belum pernah mengatakan hal ini pada siapapun, termasuk Ayumi. Ayumi mengatakan direktur mengira aku tidak masuk kantor karena dia. nggak salah juga, sih, selebihnya, aku dirumah merawat Arai.


“jadi...dia masih sakit”


Aku terdiam. Melihat direktur membuka berkas lain diatas meja. Mencoret-coret bagian dari berkas dan memanggil “Fujiki!” dengan suara agak keras. Hasegawa masuk terburu-buru.


“y,ya direktur”


“perbaiki ini, ini juga, ini” katanya menumpuk berkas itu jadi satu “katakan pada yang lain perbaiki semua berkas mereka. Kalian tidak boleh main-main dengan karya orang lain! Tolong kerjakan sekarang!” Dengan kebingungan hasegawa melirikku, aku tak membalas pandangan bertanyanya, mengapa direktur jadi pemarah. Tanpa ba-bi-bu dia keluar ruangan dan menutup pintu. Memblokir suara kami ke luar.


“kau masih disini?” katanya dengan nada sinis, matanya berpindah keberkas lain. Aku masih penasaran bagaimana dia tahu arai masih sakit, apa dia pernah bertemu arai baru-baru ini?


“tidak, aku akan pergi.” Dia tak mengangkat kepalanya. Tatsuya Senpai, seseorang yang ku kenal baik dan penolongku berubah jadi orang yang sama sekali tak kukenal. Ingatanku tentangnya mendadak tercemar. Ini bukan orang yang kukenal. Apa karena aku tahu bahwa dia menyukaiku, tapi aku malah bersikap biasa saja? tapi ini semua, kan idenya Ayumi.


“tapi, jangan bersikap sinis padaku. Senpai jadi seperti bukan senpai yang aku kenal” kataku. Tatsuya berhenti menulis, tapi dia tidak menatapku “kalau begitu, permisi”


aku melangkah pergi, dan hendak membuka pintu saat Tatsuya senpai berkata


“aku memang bukan orang yang kau kenal, Lulu. Bukan orang yang seperti itu lagi. Kau hanya mengenalku sebagai orang ramah dan penolongmu. Bukan orang yang bisa marah, sedih atau kecewa. begini lebih baik” .


aku gemetar, benar, aku menganggapnya seperti itu. tapi bukan berarti dia harus berubah dan berkata sinis padaku. Aku melihatnya, dia juga melihatku dengan dingin. Aku tercekat, bodohnya aku, merasa terluka dengan kata-katanya.


“kalau itu lebih baik” kataku, menahan airmata “kalau itu memang lebih baik, silahkan lakukan, senpai. tapi aku akan tetap menjadi aku, tak berubah sama sekali. Aku akan tetap menyapamu atau...” tertawa denganmu. Aku melihatnya, dia sedih, aku juga. Kami hanya saling menatap . aku tak tahan lagi, tak tahan dengan situasi begini, dengan sekali hentak aku berlari keluar, tak memedulikan orang-orang kantor yang terperanjat dipintu yang sedang mencuri-dengar, tak memedulikan panggilan Ayumi atau kejaran Hasegawa. Aku berlari terus sampai keluar kantor, sampai jauh dari kantor.


Aku berhenti. Melihat langit sore, berjongkok dan memeluk kakiku sendiri tanpa inginku. Aku berhasil menangis, aku berhasil membuat tatsuya senpai tak mau lagi menyapaku seperti biasanya. Aku berhasil membuat yang berharga pergi dariku secara pelan-pelan. Aku berhasil membuat diriku jauh lebih buruk dari perempuan manapun, menyakiti dua pria baik. Menyakiti diriku sendiri. Betapa aku ini jahat, betapa aku ini...begitu menyedihkan.


... Tapi bila nanti mimpinya berubah, bukan lagi aku, bagaimana?


-Arai-


*Lalu setelah sekian lama bertemu aku mendengar suaranya untuk pertama kali;


“Kau masih sendiri?” apa dia sedang melamarku?


“Mau hidup bersamaku?” aku takjub sekali sampai malu dan tersenyum-senyum sendiri dengan keberaniannya


-Arai*-


PRANG! Aku terburu-buru keluar kamar menuju dapur, mendapati Arai membungkuk kesakitan memegang dadanya, aku berlari menghampirinya “Arai! Ya Tuhan” aku membawanya duduk di sofa, dia masih mengerang kesakitan, dingin dan berkeringat banyak. Aku berlari kekamar, terburu-buru mencari dan membongkar lemari baju mencari handuk kecil, dan obat-obatan pereda nyeri. Tangisku meledak saat arai mengerang dan menjerit kesakitan. “arai, arai” sebutku. Aku menuang obat dan membantunya minum air lalu mengelap keringatnya. Tangisku tak bisa berhenti, aku takut sekali dengan apa yang terjadi pada Arai, sakitnya kian parah. Aku terus menyebut namanya. Aku terus berdoa untuk kepulihannya, aku terus berharap dia tak kenapa-kenapa, dia tak kemana-mana.


Arai membuka mata, memandangku lama. Dia menarikku mendekat “izinkan aku mengecek sesuatu” dia mendekatkan telinganya didadaku, tempat jantungku berdebar keras dan ngilu. Dia mengangkat kepalanya lalu tersenyum kecil “kau masih berdebar karena aku” aku tak mau mengerti apa maksudnya. Aku tak mau mencari tahu atau bertanya apa maksud kata-katanya. Aku hanya takut dia sakit begini, serasa bahwa aku tak bisa melihatnya lagi. Aku memeluknya. Mengecup puncak kepalanya, menghirup aroma malam pada dirinya.


“apa begitu sakit?” tanyaku


“sekarang sudah tak apa.” Katanya, aku tak percaya. “sepertinya kakimu lebih kesakitan”


Aku melihat kakiku, berdarah. Aku tak sadar aku menginjak pecahan beling. Aku memandang lantai darahku ada dimana-mana. “tidak terasa sakitnya” isakku “tadi kamu mau ngapain?”


“menyiapkan makan malam.”


Aku makin menangis. “jangan lagi, biar aku saja yang menyiapkan, maafkan aku. tadi aku...” sibuk mengerjakan tugas kantor dan bersedih dikamar. Arai turun dari sofa, memegang kakiku, lalu membersihkan darahnya dengan handuk tadi.


“tunggu disni, aku akan ambil obat”


“tidak, aku saja”


“tunggu disini.” Katanya lagi.


Dia membalut lukaku. Aku melihat rambut kelabu peraknya berdesir oleh angin ringan. Aku menyentuhnya. Dia mencium balutan kakiku lalu duduk disampingku, aku bersandar padanya. Aku begitu takut, begitu khawatir, sampai menangis lagi.


Aku mendengarkan detak jantungnya, tempat dimana dia kesakitan tadi, aku berbisik dalam hati pada jantungnya; tolong, jangan sakit. Arai kesakitan. Tolong, berdetaklah tapi jangan menyakitinya. Aku tak ingin dia pergi. Berdetaklah, tapi jangan sakiti dia. Arai meremas pundakku lalu memelukku “aku sudah tak apa-apa” aku tak percaya. Dia masih belum sembuh, aku tahu itu. “jangan menangis” aku tak bisa berhenti, aku begitu takut.


“kau sakit karena aku, kan?”


‘bukan”


“jangan bohong, aku mohon, katakan padaku. Apa aku membuatmu sakit karena tahu rahasiamu?” Arai terdiam, makin memelukku dengan erat. “kumohon” kataku “kumohon, katakan padaku”


Aku mendengar detak jantungnya bertalu-talu. “memang benar karena aku.”


“tidak, bukan begitu.”


“katakan padaku, aku ingin kau sembuh”


“aku ini mimpi, Ai-chan, aku tidak bisa sembuh kalaupun kukatakan keadaanku.”


Aku terperanjat, dia tak bisa sembuh.... “kalau begitu, katakan sebabnya. Apa karena aku?”


Dia mengelus rambutku. “bukan begitu. Jangan berfikir begitu” aku memeluknya makin erat, menangis lagi. “jangan menangis” bagaimana aku bisa berhenti, kalau arai bilang dia tak bisa sembuh. Aku tak tahu aku harus bagaimana menyembuhkannya. Mengembalikan dia seperti semula.


“aku sungguh, sungguh, sungguh sangat mencintaimu” aku harus bagaimana, Arai. Jangan biarkan aku turun dari panggung khalayalanku bersamamu, Arai. Jangan biarkan aku turun dan kehilanganmu. Aku harus bagaimana supaya kau sembuh “aku sungguh, sungguh, sungguh, sangat mencintaimu” aku harus bagaimana.


\*\*\*