My Husband, Who Are You?

My Husband, Who Are You?
“Kau Itu Nyata Sama Seperti Aku”



*Aku belum pernah membayangkan hidup dengan seseorang, apalagi dengan seseorang yang menyukaiku seperti ini.


“Mengapa kamu mau hidup bersamaku?”


Dia tersenyum “aku suka padamu” sederhana sekali, dan jawaban itu membuatku menggenggam kendali hidupku erat-erat.


“kau tak mengenalku”


“aku akan mengenalmu”


-Arai*-


Aku memandang ponsel dan tas diatas meja. Beberapa hari lalu Ayumi mengantarnya kerumah. Dia bilang, Tatsuya semenjak itu tak mengobrol lagi seperti biasanya dengan mereka. Ayumi menangis dan takut dipecat. “aku takut sekali, pe,pekerjaan ini sangat aku sukai, aku sangat kagum pada direktur, dia...dia hebat dan ramah pada semua orang. Ba,bagaimana kalau aku di,di pecaaat” tangisnya.


Aku juga tak mau kehilangan pekerjaanku, aku suka dengan pekerjaan ini. Aku juga suka... pada sifat Tatsuya senpai yang ramah dan selalu tersenyum senang ketika bersamaku. Arai mengerang ditempat tidur, setelah kejadian itu, Arai tidak bangun dari tempat tidurnya, tubuhnya sealu basah oleh keringat dan dingin berapa kalipun aku mengelap keringat itu. aku sudah memanggil dokter, dokter menyarankan dia dibawa kerumah sakit untuk pemeriksaan penyakit jantung. Aku sudah memaksa Arai untuk pergi, tapi dia bilang “tidak bisa, aku tidak bisa pergi ke sana” aku tahu dia berbeda, tapi dia masih tetap manusia. Dia sakit dan harus diobati.


Aku menyentuh keningnya, dingin. Dia menyentuh tanganku dan membawanya ke dada. Aku merasakan detak jantung tersebut, tidak kencang, tapi lambat sekali. Seakan bisa berhenti sewaktu-waktu. Dia membuka mata tersenyum sedih, membuatku makin sesak dan akan menangis sebentar lagi. Dia memandang jendela yang terbuka, desiran angin itu membuatku merinding sekaligus seperti menyemangati Arai untuk terus membuka mata. “aku harus pergi.” Katanya. Aku tak melarangnya, hati kecilku berkata bahwa itu adalah ikatan kehidupannya, aku tak boleh melarangnya.


“aku akan kembali, tidurlah. Jangan temani aku malam ini”


“tapi—“


“ai-chan harus tidur, sudah bermalam-malam kau kurang tidur”


Dia turun dari tempat tidur, berjalan ke jendela. Aku mengikutinya. Arai menghirup udara malam, merentangkan tangan lebar-lebar. angin meniup menyambutnya, dia berbalik untuk melihatku, menyentuh pipiku lalu mengecupnya “selamat malam, Ai-chan” katanya, aku balas mengecupnya. Dia berdiri diatas pagar melihat langit lalu terjun ke bawah, tapi aku tahu dia melebur dan sedang melangkah diangin sekarang. Aku menatap langit tak berbintang, kosong. Arai ada disana pastinya, melihatku berwajah sedih. Aku melambai pada langit kosong. Angin berdesir kearahku, aku memejamkan mata, menirukan arai yang menghirup malam. “selamat malam juga, ai-kun. Cepat pulang, kau harus kembali padaku” bisikku.


“dia sakit, sakitnya kian parah”


“kami tahu, sebentar lagi dia datang. Kita harus membicarakan ini, sudah lama kita membiarkannya.”


“dia harus sembuh”


“dia memang harus sembuh.”


Segerombolan pemuda itu mengobrol dalam kegelapan,


“bisakah kita mengobrol saat pagi saja? aku tak betah dengan suasana muram ini. Seharusnya kita mengobrol saat waktuku.”


“ini karena dia sedang sakit, maka malam pun tak berbintang.”


“kudengar, sang kenyataanlah yang membuatnya begitu.”


“benarkah?”


“mengapa?”


“karena yang nyata harus kembali ke kenyataan, pagi.”


“aku belum mengerti, kenyataan bisa saja mencari kenyataan lain. Kenapa harus dia?”


“karena, kenyataan tak boleh digabungkan dengan mimpi, dan karena juga aku mencintainya” kenyataan duduk dan menyapu kegelapan, wajahnya terlihat jelas sekarang. “dan kali ini, dia berdebar karena aku” Tatsuya senpai melihat ke arahku dan tersenyum seperti dulu.


Aku terbangun, jantungku berdebar keras, sakit sekali. Jendela masih terbuka, pagi sudah datang, namun arai belum kembali. Saat aku fikir Arai tak kembali lagi, angin kencang masuk kedalam kamar, dan mengirim Arai masuk dengan lembut, tapi dia tidak berdiri anggun seperti biasanya, dia seperti tertidur. “Arai?” aku bangkit, menahan rasa sakit dijantungku “arai” panggilku, aku menggoyangkan tubuhnya. “arai, bangun. Arai!!”aku panik aku menggoyangkannya keras-keras menepuk pipi arai kuat-kuat. “arai, bangun! Jangan mat—“


“itu sakit”


Aku menahan napas. Dia membuka matanya, warna matanya sudah berubah menjadi putih kelabu. Dia memegang tanganku dipipinya “pukulanmu itu sakit, tahu” aku memukul pundaknya kuat-kuat “aww” “jangan bercanda seperti itu!” kataku. “jangan pernah bercanda seperti itu. aku kira kau... aku kira...”


“hei, hei, aku tidak kemana-mana, lihat, aku kembali padamu” dia bangun dan duduk, menyapukan tangannya pada rambut berantakannya “ah, aku lelah sekali hari ini. Hari ini aku harus... Ai-chan, ada apa? Kok nangis?” dia menyapukan air mataku yang terbit.


“kalau kau tak ada...kalau kau tak ada... aku harus bagaimana...” aku menyentuh wajahnya, memandang matanya. Tuhan, kalau pria ini pergi dariku, aku harus bagaimana. Aku tidak bisa bertahan tanpa mimpiku ini. Tuhan, aku mohon, jangan ambil dia dariku. Aku sungguh ingin bersamanya. Aku mohon.


“lulu-chan” matanya melebar. Dia menarikku mendekat, memelukku, membiarkanku mendengar detak jantungnya. “kau mendengarnya, kan? Suara detak jantungku” aku mendengarnya, suaranya bertalu-talu seperti jantungku tadi namun menyakitkan.


“apa ini sakit?”


“tidak. Jadi, jangan menangis, aku tak kemana-kemana. aku akan bersamamu.”


Aku tak tahu harus percaya atau tidak, merasa sedih atau bahagia dengan keadaannya yang sudah mulai memutih seperti salju seutuhnya.


“telurnya habis.” Kataku, menutup pintu kulkas, mengambil keranjang belanjaan dan dompet “aku akan beli. Jangan kemana-mana, aku tak lama. Benar-benar tidak lama. Jangan kemana-mana” ulangku pada Arai yang duduk disofa menonton televisi. “hai, hai” katanya sambil tersenyum.


Jalanan pagi di tokyo ramai, aku sengaja memutar setelah belanja super cepat menuju tempat dimana Arai biasanya berdiri dan bermain sulapnya. Disana tidak ramai, hanya ada beberapa orang anak-anak sedang mengejar merpati. Anak-anak yang sering duduk dan menonton pertunjukan sulap Arai. “awas!” kataku pada seorang anak yang terdorong sampai jatuh oleh salah satu temannya. Aku membantunya berdiri, menyapu noda tanah padanya “tidak apa-apa.” Kataku menghiburnya saat kulihat dia mau menangis “tidak apa-apa. Tidak akan sakit. Percaya padaku” anak itu menyapu air mata lalu tersenyum “terimakasih, kakak”


“kalian sedang menunggu tuan pesulap, ya? Sayangnya hari ini tuan pesulap tidak bisa datang”


Anak itu mengerutkan kening, heran. “tuan pesulap?”


“eh? Kalian bukan menunggu tuan pesulap? Dia disini setiap hari”


Mereka menggelng-geleng, “aku pernah bermimpi bermain sulap lho, kereeen sekali” kata salah satu dari mereka kepada teman-temannya “benarkah?”


“ap, apa kalian tidak pernah melihat tuan pesulap?”


Mereka menggeleng lalu kembali mengejar merpati. Aku memnadnag berkeliling, mencari wajah-wajah tak asing yang sering kulihat saat menonton arai. Aku bertanya pada mereka, meyakinkan mereka bahwa tuan pesulap itu selalu ada disini setiap hari.


“aah, kamu mendengar itu dari orang-orang, ya?” tanya pejalan kaki


“apa?”


“itu, kalau kau lewat gang ini, kau akan bermimpi bermain sulap. Dan itu indah sekali, aku beberapa kali bermimpi begitu. Makanya gang ini dinamakan gang “mimpi sang pesulap””


“tidak, bukan begitu, maksudku bukan mimpi, maksudku...” maksudku tuan pesulap asli, Arai. Dia benar-benar disini setiap hari. Dia orang yang kusukai dalam sekali pandang. Dia cinta pertamaku dan terakhir, dia yang kuajak hidup bersama, dia... yang dilupakan orang-orang. Dia itu bukan sekadar mimpi, dia itu nyata. Benarkan? Aku berlari dengan kaki yang sudah melemas. Mengapa orang-orang melupakannya? Mengapa orang-orang tak ingat dengannya, dia yang selalu tersenyum pada orang-orang dan suka pada anak kecil. Dia yang terus melambai padaku menngil namaku keras-keras.


Aku membuka pintu berlari kedalam apartmen, membanting belanjaan mencari arai “arai” aku mencarinya di ruang tivi “arai” aku mencari di dapur “arai! Kau dimana?” aku mencarinya dikamar “hari ini aneh sekali” isakku “orang-orang bersikap aneh sekali” aku mencarinya lagi didapur “aku bertemu anak-anak yang sering bersamamu hari ini, aku bilang tuan pesulap tidak bisa datang hari ini” ada suara air dikamar mandi, aku berlari menuju kesana “tapi, kau tahu apa yang dikatakan anak-anak itu?” aku memegang daun pintu. “mereka bilang, mereka belum pernah bertemu denganmu. Dan apa maksudnya dengan gang mimpi sang pesulap” aku menggedor-gedor pintu “ne*, arai. Itu aneh sekali kan? Aku tahu, itu bukan mimpi, buktinya kau bersamaku sekarang. Iya, kan? Arai, jawab aku”


“jadi, maksud orang-orang itu apa? Mengapa mereka bilang mereka itu mimpi...”


“karena aku memang sebuah mimpi, Lulu. Aku membuat mereka bermimpi agar mereka tahu aku ada, maka dari itu aku melakukan permainan sulap pada anak-anak dan orang dewasa setiap hari, bila mereka tidur, mereka akan bermimpi indah layaknya khayalan. Bermimpi tentang keindahan dan impian mereka di sulap itu. tapi banyak dari mereka yang lupa.”


“jadi, kau melakukannya setiap hari agar kau—“


“tak dilupakan. Tapi hari ini mereka lupa, kan? Bahkan tak pernah tahu bahwa aku ada.”


“tapi aku tahu kau itu ada. Kau itu nyata sama seperti aku.” isakku. “ini bukan mimpi”


“karena kau melihatku sebagai mimpi dan mimpi mu itu adalah impian. Impian untuk hidup bersamaku, selamanya. Kau menginginkan hal itu.”


“bukan hanya aku, ayumi, hasegawa dan senpai juga tahu kau ada”


“pernahkah, pernahkah ayumi bertemu denganku? Atau bertanya tentang ciri-ciriku?”


“mereka tahu aku sudah menikah denganmu”


“mereka tahu kau sudah menikah. Itu benar. Tapi mereka tak pernah melihatku”


Tidak. Itu pasti bohong “tatsuya senpai melihatmu. Dia tahu kau itu ada.ingat, kan? Saat kita bertemu dai di stasiun?” tak ada jawaban


“arai?”


“dia itu... pengecualian.”


“apa maksudnya? Jangan mengada-ada dong. Hei” isakku “arai. Kau ini benar-benar ada”


“apa impianmu?” tanyanya


“tentu saja itu kau”


“kenapa?”


“sudah kukatakan, sampai beribu kalipun kau tanya. Karena aku menyukaimu, aku berdebar padamu”


“saat ini, kau berdebar?”


“ya!”


“sungguh?”


“kau mau mendengarnya?” dia terdiam. “arai?”


“aku bisa merasakan debarannya. Tapi ada debaran lain yang menggangguku” debaran lain? Aku menyentuh dadaku, mendengar dan merasakannya “tidak, aku tidak punya debaran lain”


“bagaimana perasaanmu pada direktur itu?” tatsuya senpai? perasaanku pada tatsuya senpai... bagaimana? Aku baru-baru ini bermimpi aneh, dan mimpi itu ada dia yang mengatakan hal aneh juga.


Arai mengerang dan kesakitan dibalik pintu. “jangan pikirkan hal itu” katanya ngos-ngosan.


“arai, buka pintunya!”


“kau tidak boleh menyukainya”


“aku tidak menyukainya!” dadaku sesak dan kesakitan, aku mencengkeramnya sambil menggedor-gedor pintu. Menangis. “dengar, aku tidak punya perasaan seperti itu, lihat... buktinya... buktinya jantungku sakit. Sama sepertimu” rasanya aku bakal mati. Apa benar jantungku mempunyai debaran lain. Aku jatuh meringkuk, mencengkeram dadaku. Apa ini yang dirasakan arai? “apa sesakit ini?”


“apa?”


“apa sesakit jantungku ini saat kau kesakitan?”


Pintu kamar mandi terbuka, aku merasakan dia berlutut dan menarikku didekatnya, tanganya dingin. Aku mencoba menatap matanya. Air mata. Keadaannya seakan menipis. “jantungmu sakit?” aku mengangguk. “sejak kapan?” “sejak aku bermimpi aneh”


Dia menempelkan telinganya didadaku, mendada aku damai, tenang dan tak kesakitan, debar jantungku tidak sakit, namun ngilu karena Arai membuatku malu. “aku...aku sudah tak apa-apa” dia mengangkat wajahnya.


“kau tidak kesakitan lagi?”


Aku menggeleng. Aku mendadak jadi panas dan malu sekali saat melihat wajahnya. Sperti saat pertama kali aku bertemu dengannya, seperti saat pertama kali dia menggenggam tanganku dan menciumku. Ingatan itu membuatku semakin berdebar-debar membahagiakan.


“tapi, kenapa wajahmu merah?”


“aku...”


Dia memelukku. Aku bisa merasakan dia tersenyum “kau jatuh cinta lagi padaku” dia mentapku tersenyum. Tampan sekali. “terimakasih. Kau menolongku”


Aku menelan ludah lalu memegang pipinya. “dengar, dengarkan aku baik-baik. Siapapun kalian yang ada dimimpiku” aku melihat mata arai. Mungkin ini memang gila, namun aku ingin menyampaikannya. Aku ingin meluruskannya.


“aku tak peduli dia ini mimpi atau impian atau apapun.” Arai memandangku, matanya kembali terang “aku tak peduli dengan tugas-tuga ghaib yang kalian lakukan, begitupun dengannya.” Arai tersenyum, jantungku berdebar-debar kian keras, tidak sakit. “aku tidak keberatan kalau dia pergi saat malam menenun mimpi setelah aku tidur, atau bermain sulap bersama anak-anak saat pagi. Aku menyukai segala hal tentangnya. Jadi, pria-pria yang kuhormati dalam mimpiku, aku mohon, kalau bisa cari tahu bagaimana dia sembuh. Tapi jangan menyakitinya. Jangan menyakiti kami. Dia ingin bersamaku, aku pun begitu.”


Aku menggengam tangan arai, menautkan pada jemariku “kalau dia tak ada... kalau dia tidak ada, aku tak sudi hidup dimanapun lagi. Aku benar-benar ingin bersamanya. Kalian menghormati sebuah doa, bukan? Inilah doaku. Tuhan tahu itu.”


Arai mengerjapkan mata. Aku memandang mata itu lagi, matanya sudah berubah menjadi sewarna malam berbintang. “bagaimana kau melakukannya?” katanya. “Aku hanya berdoa” jawabku. Aku memandnag matanya lagi. “aku ini orang yang mencintaimu. Jadi, kau tak boleh pergi kemanapun. Tak kuizinkan”


Dia mendekatkan hidungnya pada hidungku tersenyum. Aku malu sekali dia melakukan itu. seperti kembali disaat dia sehat dan bergurau denganku. “kau menakjubkan sekali”


“kau sudah mengatakannya”


“kau cantik sekali”


“apa ini membuatmu berdebar?”


“ya. Sangat berdebar” lalu dia menciumku, lama sekali. Sampai aku tertidur. Kembali bermimpi tentangnya lagi. Bermimpi indah lagi.


***