My Husband, Who Are You?

My Husband, Who Are You?
"TADAIMA~"



“Tadaima!”


Aku mempertaruhkan segala hal pada pilihanku itu.


Dan sesungguhnya bila nanti aku menghilang dan tak bisa melihatnya lagi...


Aku tak pernah menyesal pernah hidup bersamanya.


-Arai-


Tiga tahun setelahnya.


Kata ayumi, aku ini mulai sakit. Aku tidak sakit. Aku hanya sedang mengobrol sendiri. Menganggap segala hal yang berkaitan dengan Arai itu masih ada.


Saat dirumah aku akan berkata “Ai-kun, makan malam sudah siap” atau saat membersihkan rak sepatu “Ai-kun, sepatuku yang kekecilan dimana? Aku ingin memberikannya pada orang lain” aku mencarinya sendiri dengan membayangkan Arai lah yang melakukannya. Atau saat malam “ai-kun, kau mau pergi?”


dan mengucapkan “selamat malam, ai-kun. Aku juga mencintaimu.” Aku sudah terbiasa melakukannya selama tiga tahun ini.


Aku melakukannya agar aku tidak lupa, ada seseorang yang sedang mencari jalan pulang. Aku melakukannya agar aku tak lupa bahwa orang itu sangat aku cintai. aku mengucapkan selamat tidur dan salam sayang lalu aku bermimpi tentangnya, aku memilih waktu pagi untuk menangis; memeluk vas kaca bulat berisi mimpiku. Aku berbisik rindu didalamnya, aku mencari caraku sendiri agar Arai tidak lupa padaku, agar dia pulang.


Aku menantinya saat malam, memandang ke langit, menghirup udara malam seperti yang ada pada Arai. aku tak keberatan menunggu lama atau menangis setiap hari, asal dia pulang. aku mencarinya dimana-mana, aku mencarinya diseluruh jepang. Aku akan mencarinya seperti dia mencariku.


“London? Kau mau kesana?” pekik ayumi dan Hasegawa saat makan malam bersama sekantor di warung udon. Aku mengangguk. “ada yang perlu kukerjakan”


“jauh sekali, sih perjalananmu. Tapi kau sempat ke acara pernikahan kami, kan?”


“musim dingin nanti aku pulang kok. Aku hanya menghabiskan waktu musim panasku”


“ngomong-ngomong, bagaimana kau dengan direktur? Berjalan baik?”


Aku melihat Tatsuya senpai sedang mengobrol bersama atasan lain. Aku tersenyum “memang kalian mengharap hal bagaimana, sih?”


Ayumi tersenyum dan menarik-narik lenganku “ayo dong kasih tahu”


“ya ampun kalian, aku sudah menikah, lho. Menikah”


Setelah makan malam, Tatsuya senpai mengajakku keluar untuk jalan-jalan. Aku melihat langit, Tatsuya senpai berjalan sejajar denganku. Dia banyak sekali berubah, dia sudah tersenyum seperti dulu, ramah dan suka bercanda bersamaku.


“temanmu fikir, kita menjalin hubungan” katanya. Aku tertawa “biarkan saja”


“bagaimana denganmu?”


“hmm?”


“kau benar-benar tidak mau bersamaku”


“Senpai, aku sudah menikah, lho. Ayumi dan senpai ngotot banget, sih”


Dia tertawa. “aku tahu. aku ingat.”


“kau tahu, debaran yang kurasakan padamu bukan seperti yang kau bayangkan.”


“kau sudah mengatakannya”


“aku mencintaimu seperti seorang kakak. Maka dari itu aku membutuhkanmu”


Tatsuya senpai memandang langit “dia sudah sehat”


“aku tahu” aku ikut memandang langit “aku bisa merasakannya” aku senang. Sungguh aku senang sekali.


“Lulu-san? Kau menangis?”


“aku bahagia, itu saja” aku menghapus air mata “aku berharap dia terus sehat” aku tersenyum ke arah Tatsuya senpai “Senpai sendiri, bagaimana?”


“aku? kenapa?”


“senpai belum mau menikah?”


“ah, itu...” dia menggaruk dagunya, berfikir “aku belum punya rencana seperti itu.”


“kau harus menikah, agar ada yang menggosok bajumu saat kau stres. Bajumu selalu kusut kalau kau sedang banyak pikiran”


“wah, nampak sekali, ya kalau aku masih sendirian”


“mau kucarikan?”


“tidak, terimakasih. Aku bisa sendiri. Aku akan mencari yang seperti dirimu. Kau tahu bukan, aku belum bisa menghilangkan dirimu dariku”


Aku terdiam. Memandang langit lagi. Begitu? Kalau aku, aku tidak mau mencari lagi yang baru. Aku akan mencari satu orang saja. Arai.


“aku belum memesan tiket pesawatnya kok,” aku mengecek email sambil mengobrol dengan Ayumi lewat telepon.


“Bagaimana caranya aku pulang dalam waktu semalam? Yaampun, kau ini. aku cuman pergi sebentar. Kau 'kan sudah punya Fujiki.... ahahaha.. makanya kalau mau ditemani setiap hari cepatlah menikah, ngapain menunggu musim dingin... hmm, aku harus pergi, aku mau mencari seseorang, tapi kalau dia kutemukan disini, aku tidak jadi berangkat... baik-baik, aku tidak akan lupa bawa oleh-oleh...apa? hei, itu ngapain harus jauh-jauh, kan bisa beli di sini”


Aku menutup email dan mengecek dokumen-dokumen, aku membuka folder bertuliskan angka -6-3- “Ayumi gomen*, nanti kita sambung lagi, ya. Bye-bye” aku memutuskan sambungan telepon sebelum Ayumi sempat protes.


Aku membuka dokumen tersebut, membacanya “yaampun, tak adakah nama lain?” tawaku malu. Aku meresapi segala hal yang terjadi selama ini.


Kau sehat kan, Arai? aku? aku baik-baik saja. aku masih menunggumu kembali padaku. kau dengar aku kan, Arai? tangisku pecah berhari-hari, sampai sakit.


Lagi-lagi aku tak masuk kantor. aku terlalu lelah menangis, aku terus bermimpi Arai mengucapkan kata-kata terakhirnya; aku mencintaimu. Setelah marah-marah, tatsuya senpai mennayakan keadaanku dan bertanya apa aku perlu dokter?


“tidak, sungguh. Aku bukan pingsan, kok hanya tak enak badan. Maaf, senpai. nanti hasil berkasnya aku kirim email saja”


“kau ini. bagaimana kau mau pergi ke negeri orang kalau bermimpi begitu saja nangis”


Aku tertawa. “ah, aku menyesal menceritakannya”


“tidak, kau boleh meneruskan menceritakan segala hal tentang mimpimu.”


Aku tertawa lagi, betapa menghibur menganggu senpai. aku melangkah menuju jendela yang terbuka, angin menyapaku, “hai, tuan angin. Apa dia baik-baik saja?” tanyaku, tak ada jawaban, hanya sepoi lembut. “oke tuan angin. terimakasih telah menyampaikan kabar” mungkin tuan angin bertanya-tanya apa aku ini sudah gila?. Aku tertawa sendiri saat membayangkan para tuan-tuan itu membayangkanku gila. Aku tak peduli lagi.


“Ai-kun, ayo sarapan” panggilku. “kita makan telur dadar hari ini. aku yang masak” aku membereskan tempat tidur, membayangkan Arai ada dikamar, sedang membaca buku ditempat tidur. Aku menekan perasaan sedihku berharap tak menangis pagi ini.


aku bangkit berdiri “tapi aku kangen sekali masakanmu” aku mengambil baju kotor “aku suka sekali sup ayam buatanmu. Kau mau buatkan selagi aku mencuci sprei dan baju?”


“aku mau”


Darahku berdesir, dunia serasa jungkir balik saat aku mendengar suara yang kurindukan, antara aku sudah benar-benar gila atau keajaiban...


Aku berbalik mencari asal suara itu. Jantungku berdebar-debar keras, mataku serasa mau copot tak percaya dengan yang kulihat; dia disana; berdiri di beranda jendela. jangkung, tampan, berambut hitam. Rambutnya berantakan, angin menyapu rambutnya, semakin membuat berantakan, tapi dia tampan, dia orang yang kukenal. Arai.


“aku mau, Mikka”


telingaku berdengung, disebabkan rasa tercengang, sampai-sampai hampir tak mendengar suara indah tersebut. aku menjatuhkan baju kotor memejamkan mata, berdoa; kalau dia nyata, aku tak akan pernah melepasnya lagi. Kumohon, buat dia nyata. aku membuka mata, Arai masih berdiri disana.


“tolong, bersuara lagi” kataku serak.


“aku mau membuatkan sarapan—hei hei jangan la—“ GEDUBRAK, “—ri, yaampun, kau ini” aku menerjangnya, memeluknya erat-erat, memandang matanya, hidungnya, bibirnya, segala hal yang kusukai darinya. Terimakasih, Tuhan. Engkau membawanya kembali padaku.


“kau pulang”


“Tadaima*” katanya tersenyum


“O,o,okaeri*” kataku terbata-bata karena terisak. selama tiga tahun aku menunggunya, saat ini dia ada dihadapanku “kau nyata, kan?” isakku, mengalungkan tangan disekeliling lehernya.


“aku nyata”


“aku menunggumu”


“aku tahu”


“aku selalu menyapamu”


“aku dengar”


“aku selalu mengucapkan selamat tidur”


“aku membalasnya”


“benarkah?”


“ ‘aku mencintaimu’ kau dengar, kan?”


Aku mengangguk. Aku dengar, aku selalu memimpikan itu.


“aku rindu padamu” katanya, dia membawaku duduk dipangkuannya, “aku rindu padamu, Mikka. Terimakasih sudah menantiku pulang”


“kau tidak pergi lagi, kan?”


Dia menggeleng, aku sudah lepas dari itu semua.” Dia mengedikkan kepala ke arah vas kaca, butir-butir mimpi mengedip dan terbang kearahku, meresap kedalam tubuhku.


Kejadiannya mendadak sekali, segala mimpi tentang arai menghujaniku bertubi-tubi, saat rasanya aku akan meledak sanking bahagianya waktu itu, mimpi itu hilang, hanya tinggal ingatan. Air mata mengalir. Aku memandang arai bertanya-tanya, dia membalasnya dengan senyum.


“ap,apa tadi itu?”


“ingatan” Dia mendekatkan hidungnya padaku, “aku kembali menjadi manusia biasa lagi. Tak punya kelebihan apapun”


“jadi kau bukan penenun mimpi?”


Dia menggeleng, “ada orang lain yang melakukannya.”


“jadi kau ini, siapa?”


“aku masih Tuan pesulap. Dan suamimu”


Aku menangis sejadi-jadinya, aku bisa bebas memeluknya setiap hari, setiap waktu. Dia akan hidup layaknya aku. mendambakan putra putri. Bermain sulap dengan mereka, menjadi suami baik, menjadi seorang ayah, menjadi seorang kakek. Menjadi tua bersamaku tanpa takut melebur bersama angin. “aku juga rindu padamu. Sangat rindu”


*Namun, bila itu terjadi, aku akan mencari cara untuk kembali padanya. Tak sabar berkata “aku pulang!” seperti biasanya.


-Arai*-