My Husband, Who Are You?

My Husband, Who Are You?
SURAT



*Untuk Istriku, Lulu.


Kau menemukan suratnya, Ai-chan? Syukurlah. Kufikir foldernya susah sekali ditemukan olehmu. Ah, sesuai namanya, -6-3- (rokugatsu mikka) Ini folder milikku untuk dibaca olehmu. Maaf terkesan saaangat memalukan.


Dan sebenarnya aku memang malu sekali untuk menulis ini. tapi karena melihatmu selalu menulis tentangku, aku pun jadi ingin menulis semua tentang kita. Karena kau sudah menulis yang versi dirimu tentang kita, aku setuju-setuju saja. Jadi, kau penasaran aku menulis apa? Ini tentang apa yang kulihat pertama kali saat bertemu denganmu.


Kau tahu, aku sudah terbiasa selalu sendirian dimasa lalu ataupun saat belum bertemu denganmu. Kelebihanku adalah, aku pandai menghibur orang dengan aksi sulapku, kau tahu, bukan? Kau sendiri menyaksikannya. Aku bisa melihat mimpi dan merajutnya secara langsung didepan banyak orang melalui sulapku. Aku tak pernah mengeluh tentang kesendirian atau memikirkan bagaimana rasanya hidup pada sebuah kenyataan.


Namun, tahu tidak, saat pertama kali kau menonton pertunjukan, aku melihat mimpimu. Aku terkejut, tak menyangka dan kagum dengan keberanianmu melihatku sebagai impian. Sedangkan orang lain tidak begitu. Mereka akan lupa padaku setelah pertunjukan selesai. Tapi kau tidak, kau merekamnya, memunculkannya lagi keesokan harinya.


Kau selalu disana, menontonku sampai selesai, mengikutiku pulang sampai keretaku datang. Kau begitu terus. tapi, aku tak pernah menganggapmu menganggu. Aku senang. Aneh, bukan? Kita tidak saling kenal, yang kita lakukan hanya melihat dan berjalan pulang. Tapi aku senang.


Sampai hari itu, seperti biasa kau mengikutiku pulang, bedanya, kau menghampiriku dan bertanya dengan suara jernih.


“Apa kau masih sendiri?”


Aku bingung, apa kau sedang mencoba menggodaku? Aku memikirkan jawaban “Mmm...” Tapi kau malah bertanya yang membuatku benar-benar terkejut.


“Mau hidup bersamaku?”


Yang benar saja? Tanyaku dalam hati. Aku kehilangan kata-kata, beberapa kali aku membuka mulut untuk menjawab tapi hilang lagi. Itu disebabkan oleh fikiran lain yang menyergapku, merangkulku erat-erat sampai sesak, melawan ungkapan blak-blakanmu untuk hidup bersamaku.


Aku ngeri sekali membayangkan bagaimana melawan takdirku. Karena banyak hal yang tak bisa kuberitahukan padamu. Dan bila aku beritahu pasti kau berfikir aku ini orang gila atau lebih parahnya lagi, lari ketakutan dan tak pernah mau lagi menemuiku.


“Kau mau hidup bersamaku?” Tanyamu lagi. Mungkin saat membaca ini kau bakal malu-malu sama seperti aku yang menceritakannya. Sungguh, Saat kau mengatakan hal tersebut, matamu benar-benar berbinar-binar. Aku bisa melihat mimpi yang menjadi impianmu. Ada aku yang hidup bersamamu didalamnya. Sampai sekarang, masih terbayang bagaimana aku malu sekali dan tertawa-tawa sendiri saat itu, kau berani sekali mengungkapkan mimpimu itu pada orang sepertiku.


Kuulangi, aku belum pernah membayangkan hidup dengan seseorang. Apalagi dengan seseorang yang menyukaiku seperti kamu. Aku tak akan menyangkal, aku penasaran dengan rasanya. Lalu, karena kebingungan, aku diam dan tak menggubrismu lagi. Kau ingat? Tolong, jangan sakit hati. Tapi pasti hari itu kau sedih sekali, maklumilah karena diri ini kebingungan dan ragu. Aku takut akan apa yang akan kita alami nanti. Dan aku minta maaf untuk hari itu. Kau mau memaafkanku?


Ajaibnya, kau tak berlelah untuk mengikutiku. Munafik memang, tapi aku senang. Aku berpura-pura tak peduli, tapi senang. Terimakasih untuk membuatku malu-malu, Ai-chan. Tanpa diduga, itulah rasa sukaku terhadapmu. Aku jadi menyukaimu. Dan itu semakin membesar tiap harinya. Aku jadi tak sabar menunggu hari esok, melihatmu dan pulang denganmu.


Kau pernah mengikutiku pulang sampai waktu malam tiba, kesengajaanku. Aku sengaja membuatmu bosan memnunggu kereta bersamaku, tapi kau tak pulang-pulang. Malah tersenyum-senyum sendiri, mengayunkan kaki saat duduk. Memandangku berulang-ulang kali, menunggu jawabanku. Aku masih diam saja, hari itu aku sudah tak tahan, karena sekali lagi kita tak berbicara. Aku ingin mendengar suaramu lagi.


Kau berdiri, mengejarku agar berjalan sejajar denganku.


“Ada apa” Tanyaku


“Tidak kenapa-kenapa” Jawabmu. Kau senyum-senyum lagi. Dan aku ikut tersenyum diam-diam. Yaampun, kalau kubayangkan sekarang, aku ini benar-benar cowok payah. Padahal ada perempuan cantik yang menyukaiku sampai segitunya.


“Pulang sana, sudah mau malam”


Kau menggelengkan kepala “sebentar saja”. Aku sudah tidak tahan, bertumpu pada keberanian dan nasibku. Aku ingin tahu mengapa kau memilihku menjadi impian. Dan gawatnya aku malah semakin menyukaimu.


“Kenapa?”


“Aku suka padamu. Aku ingin bersamamu.”


Saat itulah, kekangan tali yang membalutku erat-erat melonggar. Aku bertanya apa aku pantas merasa bahagia? Apakah begini rasanya ketika seseorang mengatakan dia menyukaimu dan ingin bersamamu? Aku tak bisa membohongi diriku lagi. Karena akupun ingin merasakan hidup bersama seseorang yang mencintaiku dan aku mencintainya. Aku ingin merasakannya. Apa pilihanku selanjutnya? Beranikah aku mengambil jalan menuju kenyataan padahal aku adalah sebuah mimpi?


Jujur itu menakutiku, aku takut bila nanti kau bertanya-tanya siapa aku dan bagaimana aku hidup. Lalu bila nanti mimpimu hilang dan bukan lagi aku. Apakah kau masih akan mengatakan kau menyukaiku? Apa kau akan tetap berdebar karena aku? Tapi kau hanya melihatku, membuatku ingin mempertaruhkan segala hal untuk bisa bersamamu.


“Kau tak takut padaku?” Aku bertanya seolah-olah aku ini badut yang menakuti anak kecil. Maksudku bukan begitu, aku bertanya mengapa kau memiliki impian itu yang bahkan belum pernah melihatku sebelumnya. “kau tak mengenalku”


“Aku akan mengenalmu. Saat sudah hidup bersama, aku akan kenal denganmu”


Dengan jawaban itu, aku mempertaruhkan segala hal mengenai hidup dan pertahanan diri. Karena rasa suka dan penasaranku, aku memilih jalan untuk menggabungkan yang nyata dan mimpi, aku melakukannya. Aku sudah memutuskan. Aku pasti akan jatuh kelubang gelap dibawah kakiku. Aku pasti akan mati sebentar lagi. Bahkan saat memikirkan hal ini, aku malah mengatakan hal lain lagi padamu. Dan bergantung pada keputusan finalku.


“Siapa namamu?”


“Lulu”


“Arai...namaku Arai. Lulu, menikahlah denganku” Ingat hal ini Ai-chan? Pasti ingat sekali. Kau gembira sekali. Aku pun begitu, jantungku berdebar keras sekali, pertanda bahwa aku mulai hidup diimpianmu dan sedang mewujudkannya dengan cinta. Semakin hari aku semakin mencintaimu. Aku melakukan segala hal yang bisa kulakuakn untukmu, agar kau bisa tertawa, tak bersedih. Maafkan aku, bila aku menyakiti hatimu.


Aku akan menghilang, benar. Saat kau mengetahui rahasiaku, saat itulah aku mulai merasa aku akan menguap. Ditambah... ada orang lain yang membuatmu berdebar. Itu menyakitiku. Tapi, aku tak menyesali apapun. Aku sungguh berharap bisa terus bersamamu walau aku melebur menjadi angin. Aku terus, terus berharap seperti itu.


Aku takut menghilang, aku takut bila aku hilang, bagaimana caranya aku bisa memelukmu, bagaimana caranya aku mengobrol denganmu. Aku takut menghilang. Tapi, aku lebih takut lagi kalau aku memilih pergi, aku akan lupa padamu. Tak pernah ingat bahwa kita pernah bersama. Aku sering memerhatikanmu menangis. aku tahu kau menyembunyikannya. Bila aku pergi, aku pasti membuatmu terluka setiap hari. aku memikirkan cara lain, tapi aku tak kunjung menemukannya.


Namun...


Bila hal itu memang terjadi, aku menghilang dan tak bisa melihatmu lagi. Tak bisa mengingat dirimu. Aku akan mencari cara agar aku ingat dan kembali padamu, mencari dan menemukanmu. Aku akan mencari caranya. Aku pasti kembali padamu. Jadi, jangan menangisi aku karena berfikir aku tak kembali. Kau boleh menangis karena berharap aku kembali, Aku pasti kembali dan berkata “aku pulang” seperti biasanya dan kau akan menjawab “selamat datang, Suamiku”.


Kau boleh menangis setiap hari, aku akan mendengarmu. Kau boleh menyebut namaku setiap waktu, aku akan menjawabmu. Kau boleh mengucapkan kata-kata sayangmu padaku, aku akan membalasmu. Aku akan melakukan itu semua, Aku akan bersamamu. Rinduilah aku setiap hari, aku akan merasakan hal sama padamu. Aku tak akan melarang hal-hal seperti itu. aku berharap kau melakukannya.


Kau sudah membaca semuanya? Kau tidak mengantuk, kan? Kau menangis, Ai-chan?


Ah, aku mau bilang, aku menulis ini saat kau sedang menyiapkan makan malam. Tapi kau mengeluh terus tentang bawang yang membuatmu menangis. Aku akan membantumu menyiapkan makan malam, pastinya kau marah-marah lalu menyuruhku istirahat. Baik-baik, aku sudahi suratku ini.


Aku mencintaimu, Ai-chan. Benar-benar sangat mencintaimu.


-Arai*