
--Bahagia dan Luka. Keduanya Sama-Sama Berwujud Dari Hati--
Kuharap Kau Bahagia...
Terima Kasih, Karena Sudah Pernah Ada dan Menjadi Bagian Dari Duniaku.
-Tatsuya-
Lima Tahun kemudian
Tatsuya sedang berbaring di sofa, menghitung petak langit-langit ruang tamu sambil mengingat obrolannya bersama Lulu beberapa tahun lalu.
“Apa aku menikah saja?” Gumamnya pada diri sendiri.
Ketika akan memejamkan mata, ponselnya berbunyi nyaring di meja kaca. Tatsuya menghela napas, kapan sih dirinya bisa istirahat sejenak. Kumohon jangan kerjaan, lagi.
“Moshi-moshi?*” Jawabnya malas-malasan pada orang yang menelpon. Matanya mendadak melebar,
“Maaf aku tidak melihat layar ponsel… Oh benarkah? Tunggu sebentar” dia bergegas bangkit lalu berlari kecil mengambil kunci mobil di dinding “aku akan segera kesana. Tunggu aku” Mematikan ponsel, Tatsuya berlari keluar rumah.
Tatsuya membungkuk memegang pinggangnya, dia berkeringat karena berlari jauh ke Stasiun, kenapa disaat-saat seperti ini mobilnya mogok. Dia menyapu keringat yang turun ke dagu sambil memandang berkeliling, stasiun tidak terlalu ramai Sore ini, tetapi tetap saja Jam Sibuk.
“Tatsuya” Panggil seseorang,
Tatsuya menoleh ke asal suara. Disana, dekat bangku panjang Peron, Arai berdiri tersenyum lebar dan melambai.
“Kau lari-lari tadi?” Tanya Arai saat mereka sudah duduk di bangku.
“Jadi aku terbang? Memangnya aku ini, kau?”
Arai tertawa “Tapi ‘kan, sudah lama aku tidak terbang lagi.”
Tatsuya meneliti Arai, benar-benar sembuh dan bahagia. Berbeda saat terakhir kali mereka berjumpa.
“Ada apa? Kok minta bertemu disini lagi? Ya ampun level tempat ketemuanmu nggak banget, deh”
“Ooh, aku sekalian menjemput Lulu-san.”
“Ada apa? Kenapa kau menyuruhku cepat-cepat datang kesini?”
“Ah... itu” Arai tersenyum “aku ingin mengucapkan terimakasih”
“Ha?”
Arai memandang lantai, masih saja tersenyum “Terimakasih, selama aku pergi kamu menepati janjimu padaku.”
Tatsuya mengingat-ingat percakapan mereka beberapa tahun lalu.
“Kau bisa mengucapkannya besok atau besok lagi. Tidak harus hari ini juga. Kapan-kapan, semaumu”
“Kalau kita bertemu dan berumur panjang, pastilah akan kulakukan. Tapi aku mau mengucapkannya sekarang.” Arai mencoba merangkai kata-kata bagus dan terkesan tidak seperti perpisahan.
“Tatsuya, Aku dan Lulu berencana pindah”
“Benarkah? Kemana?”
“Kami akan ke Indonesia, tempat kelahiran Lulu. Jadi, aku tak tahu kapan bisa bertemu lagi denganmu”
“Kau mau mengucapkan salam perpisahan?”
“Bukan perpisahan seperti yang kau pikirkan” Arai melihat Tatsuya mengernyit bingung, lalu Arai meninju bahu Tatsuya pelan “jangan khawatir, aku pasti akan rindu padamu”
“Ha... apa-apan itu” Tatsuya tersenyum, kali ini dia yang memandang lantai. “terimakasih sudah kembali” Ungkapnya pelan.
“hmm?”
“Aku sudah lama ingin mengucapkan ini sebagai bagian darimu” Katanya lagi, masih memandang lantai “terimakasih... untuk tidak menghilang”
Banyak sekali yang ingin dia sampaikan pada Arai, tapi pastilah lelaki itu paham betul apa maksudnya.
Arai tersenyum, segala hal yang terjadi pada mereka, segala pertolongan, pengorbanan dan permohonan. Arai senang sekali dengan kenyataan ini.
Tidak selamanya kenyataan mengkhianati mimpi.
“Ngomong-ngomong, kapan kau akan menikah?”
Tatsuya menghela napas, “Banyak sekali yang menyuruhku untuk menikah. Memangnya menikah itu bisa sebahagia apa, sih?”
Arai tertawa “Bahagia sekali. Tatsuya, apakah kau bahagia dengan keadaan sekarang?”
Bahagiakah dia? Tanyanya dalam benak, ia memikirkan segala hal yang dialami selama hidup, mengingat-ingat apakah dia bahagia?
“Aku...” namun kalimat yang ingin diucapkan tertelan. Dia tidak berani meyakinkan diri sendiri.
Kereta datang, kedua pria tersebut memerhatikan penumpang turun dan naik. Mereka melihat Lulu turun dari kereta, setelah beberapa saat mata Lulu mencari-cari, wanita itu melambai kepada mereka berdua.
Lulu sedang menggendong balita perempuan dan sebelah tangannya memegang seorang anak laki-laki.
“Papaaaaa” Seru anak laki-laki tersebut “aaaa, lihat-lihat, itu Tatsuya Ochan*” pekiknya, berlari kearah dua laki-laki tersebut “papaa, Ochaan”
Arai membuka lengannya lebar-lebar dan menangkap bocah tersebut yang berlari kearahnya.
“HAP” Anak laki-laki itu tertawa saat digendong Arai.
Lulu menghela napas “Duh, kan sudah dibilang jangan lari-lari, Hiroshi!”
“Mama, turun” rengek anak perempuan digendongannya.
“Tidak boleh!”
“Turun” rengeknya, menggeliat-gelait dalam gendongan.
“Nggak, Rika! Duh” Lulu menghela napas lagi, lalu melihat Tatsuya yang sedang tersenyum lebar.
Tatsuya mengangkat alis “Kau cemburu?” Lulu tertawa
“Okaasan, aku ingin turun” rengek Rika lagi.
“Hai-hai*, tapi tetap duduk disini bersama Nii-chan*”
Arai menurunkan Hiroshi dan membiarkan anak-anaknya duduk dibangku peron. Memperhatikan anak-anak tersebut berceloteh riang.
“Tadi lihat aku menangkap ikannya, Rika-chan? Ikannya besaar sekali”
“Sugoi*, Nii-chan. Ikan besaaar sekali”
Tanpa disadari, Tatsuya tertawa melihat anak-anak itu. Ia menghentikan tawanya ketika ia melihat Lulu dan Arai tersenyum jahil padanya. Tatsuya berdeham karena malu dan langsung mengajak mengobrol lagi.
“Oh ya, Arai sudah bilang kalau kalian akan pindah ke Indonesia”
Lulu merengut pada Arai “Kenapa cepat sekali ngasih tahunya? Padahal aku ingin membuat Direktur menangis”
“Gomen-gomen*”
“Sayang sekali kau berhenti kerja tahun lalu, Lulu-San, padahal kita bisa buat pesta perpisahan dikantor” Kata Tatsuya. “kalau begitu, ini terakhir kali kita bertemu?”
“Bukan” kata Lulu, tenggorokannya tercekat. “kami ‘kan belum pergi. Terakhir itu, kalau kami sudah ada dipesawat! Senpai membuatku sedih saja”
Tatsuya mengelus kepala Hiroshi yang sedang mengobrol tentang Pesawat terbang.
“Kalian akan kembali kesini, bukan?”
“Pasti” Jawab arai, “kenapa tanya begitu?”
“Saat kalian kembali, mungkin Hiroshi sudah punya teman main di Jepang” Tatsuya tertawa membayangkan hal tersebut. “aku harap kalian selalu bahagia”
“Kami juga selalu mengharapkan hal yang sama untuk senpai, semoga senpai bahagia” kata Lulu lalu ia diam.
Ingatannya singgah sesaat ketika mereka dulu sangat dekat dan banyak mengobrol, kenangan-kenangan seperti itu tidak akan bisa terulang. Dipandanginya wajah Tatsuya, lama. Sampai-sampai rasanya dia akan menangis histeris didepan Tatsuya.
Untuk mengobati perih dimatanya, tiba-tiba dia memberanikan diri untuk merangkul pria tersebut.
“Ai-kun, maaf” gumamnya pada Arai.
Memeluk Tatsuya, Hal yang tidak pernah dilakukannya sebelumnya. Entah mengapa hal ini membuatnya sedih, mungkin untuk waktu yang lama.
Tatsuya membalasnya dengan ragu-ragu. Semua orang mengharapkannya bahagia. Dia sendiri, belum bisa beranjak dari kebahagiaan yang dulu. Saat masa-masa indah masih berpihak padanya.
Lulu melepas pelukannya. Luka yang sempat menutup itu terbuka lagi dihati Tasuya, dia tesenyum. Lulu membalas senyuman itu lalu membuang mukanya, dia berjalan menjauh dari keramaian.
Tatsuya mendengar isak tangis.
“Dia sangat merasa bersalah”
“Aku tahu.”
“Maafkanlah dia, Tatsuya”
“Tidak ada yang perlu disalahkan, Arai. Aku tidak menyalahkan siapapun. Perasaan seseorang tidak bisa dipaksa. Aku senang, Lulu bahagia bersamamu, sungguh” Tatsuya melihat Lulu dari kejauhan.
Jadi beginikah akhir cintanya?
"Dia pasti baik-baik saja, dia sangat mencintaimu” Tambahnya pada Arai yang juga sedang memerhatikan Lulu.
Tidak tahu apa yang terjadi kedepannya, apakah mereka bisa bertemu lagi, apakah perasaannya pada wanita itu tetap sama seperti dahulu dan sekarang. Dia tidak tahu. Dia benar-benar tidak berani meyakinkan diri sendiri, bahwa ada masa dimana dia juga akan bahagia.
“Lulu-san, aku mau pamit pulang, nih, sampai kapan kau mau menjauh dariku?”
Lulu menghampiri kerumunan keluarga dan sahabatnya. Matanya sembab dan merah tapi dia tetap tersenyum.
“Ochan pulang dulu.” Tatsuya melambai pada Hiroshi dan Rika yang membalas lambaiannya
“Hati-hati, Ochan!”
“Kalau begitu, aku pamit dulu” katanya pada Arai dan Lulu.
Lulu kembali menangis, kali ini dia menangis di pundak Arai.
"Kalau sudah enakan, nanti kita bicara lewat telepon saja, Lulu. sampai nanti"
<><><><>
Tatsuya berjalan keluar stasiun, dadanya sesak. Dia bersandar dilampu jalan, menekan dada yang lukanya mendadak terbuka.
Bahagia... Aku bahagia, benar. Aku tak bohong. Aku bahagia bisa menyukaimu, Lulu.
Dia menghapus air matanya diam-diam lalu tersenyum, melangkah pulang.
“Ah, mobilku mogok”
¤¤
Moshi-Moshi \= Halo (menjawab telepon)
Ochan\= Ossan artinya Paman.
Okaa-san \= Panggilan untuk Ibu kandung
Nii-chan\= Onii-san/Aniki artinya kakak laki-laki
Gomen\= Gomenasai artinya maafkan aku/maaf
Hai \= baik/iya/oke