
*Aku melihatnya setiap hari, dan dia juga melihatku setiap hari.
-Arai*-
Aku tidak ke kantor. aku tidak mengaktifkan ponsel ataupun berusaha melihatnya sebentar. aku tidak melihat sekeliling. aku tidak berusaha bergeser dibangku ditempatku duduk. Aku tidak melakukan apapun.
Kepalaku bertambah berat, pusing. Aku tidak akan sadar waktu bila kereta siang tidak mengagetkanku. Aku juga tak ingin pulang, walau sekarang arai pasti tidak dirumah, dia sedang bekerja sebagai pesulap jalanan. Lalu, aku berfikir begini, bagaimana kalau aku tidak pulang, hari ini saja. Aku ingin pergi, jauh. Tidak bertemu siapapun, tidak menyapa siapapun, hanya aku. Aku ingin pergi, agar arai tidak tahu kemana tujuanku pergi, merasa curiga dan takut. Seperti aku terhadapnya. Aku memikirkan pernikahan, aku memikirkan bagaimana aku bisa menikah dengannya, mengapa dia mau hidup bersamaku. Aku memikirkannya sampai kepalaku bertambah sakit.
Kalau begitu, tak apa kan, aku pergi. Bila boleh begitu, sebentar saja, aku akan pergi. Kemanapun aku mau. Aku tak akan menghentikan langkahku sekarang di pintu kereta. aku tidak akan tersesat, aku tahu jalan pulang. Karena tahulah, aku ingin pergi kemanapun. Agar arai tersesat saat mencariku, agar arai bingung, kalut, takut saat mencariku.
Aku juga akan berusaha melupakan segala amarahku padanya. Aku ingin berhenti gemetar ketakutan, aku ingin menatap matanya lagi; yang membuatku serasa dipanggung bersamanya bergandengan tangan. Aku tak mau dipaksa turun. Aku tak mau turun.
Aku tidak tahu kemana kereta ini akan membawaku, aku akan turun, lalu menunggu kereta selanjutnya, ke kota selanjutnya, lalu turun dan menunggu kereta lagi. Sampai amarahku mereda, sampai aku sanggup untuk pulang.
Arai, pria itu. Arai, pria itu. Arai...beribu kali pun aku mengucapkan namanya, aku tidak menemukan siapa dirinya sebenarnya. Selain, ia pria-ku, ia yang membuatku syahdu, damai dan membuatku meletakkan hati hanya padanya. Dia alasan mengapa aku jadi begini. Andai, sedikit saja, andai aku tahu apa yang menyebabkan ia pergi saat malam, andai aku tahu perempuan yang bagaimana Mikka itu, aku pasti merebutnya lagi, melampiaskan amarah besar dan mencabik-cabik perebut itu. Aku akan mencari tahu caranya. Namun, aku tak menemukannya, aku tak tahu apa-apa tentang Mikka ataupun Arai.
Lalu, hasrat kecewa itu muncul lagi dalam bentuk pertanyaan menyiksa “mengapa Arai mau hidup bersamaku, sedang aku buta oleh ketidaktahuanku akan dirinya”, sekarang aku harus bagaimana, Arai.
Aku bermimpi, Arai datang padaku seperti malam-malam lalu, memelukku dan memanggil namaku lembut. Dia tidak pergi, ia terus muncul dimimpiku itu, tersenyum dan memanggil namaku. Berapa lama aku bermimpi tentangnya? Berapa lama sudah aku pergi dari kehidupan nyata dan hidup dalam mimpi tidurku?
Saat aku membuka mata, kereta sudah sampai di stasiun Kyoto, langit sudah gelap. aku turun, berjalan lagi entah menuju kemana. aku masih belum bisa menghilangkan frustasi atau rasa marahku pada Arai. Tapi aku malah bermimpi dia. musim panas tahun keduaku bersamanya serasa bukan lagi milikku, tapi milik orang lain; Orang yang bersama Arai saat ini atau sebentar lagi.
Dan lagi, aku malah mengenang kebahagiaan yang pernah ada, kebahagiaanku karena arai. Bagaimana itu bisa bermula dan berakhir seperti ini, bagaimana bisa... Apakah salah mengungkapkan kebenaran walau itu menyakitkan? seolah jika dia jujur dia akan menghilang. Atau pergi seperti aku yang pergi ini.
Menghilang... atau pergi seperti...aku ini...
Benarkah begitu? Jika memang begitu, berhasilkah aku mencarinya?
“jangan berhenti ditengah jalan!”
aku menengok ke sekeliling, ramai, sampai aku tak tahu siapa menabrak siapa saat menyebrang jalan. Aku memang sedang berhenti berjalan. Entah hal apa yang membuatku berbalik dan berlari-lari lagi menuju stasiun, menunggu kereta terakhir dan pergi dari sini. Atau karena aku memang tahu sebabnya, aku ini kebingungan, labil, dan sok jago membicarakan mengenai pernikahan, seakan sanggup pergi jauh—padahal aku tidak sanggup bila kehilangan arai, kami sudah bersumpah, kami sudah ditakdirkan bersama. Jika arai menghilang... pergi seperti aku pergi... jika arai menghilang... sanggupkah aku mencarinya seperti dia mencariku. Lagi.
Mataku hampir saja tak memercayai apa yang kulihat. Lagi-lagi arai berkeliling, mencari-cariku, dia memegang ponsel ditangannya, bolak balik bertanya pada orang-orang disana. Sampai pandangannya bertemu denganku.
Dia terdiam. Lama. Dadaku sesak, aku tak mengerti, mengapa aku jadi begini, mengapa kami jadi seperti ini. Apakah soal latar belakang itu penting sekarang? Apakah aku memang egois bila pergi dari arai dan dia lagi-lagi mencariku? Apakah ini yang kumaksud dengan pernikahan? Pergi dan mengejar lagi. Bukan, bukan seperti ini hidup yang kuimpikan bersama Arai. “maafkan aku” kataku, langkahku memang tidak cepat, aku sudah terlanjur lelah menghadapi batinku, sampai-sampai airmata juga tidak terkontrol lagi.
Aku tahu, arai sedang memanggilku saat dia berlari-lari seperti itu, matanya tertuju padaku yang sedang merapal kata maaf. Aku baru tahu, aku begitu kecil didalam pelukannya, jadi aku sekarang merasa tenang, dan merasakan damai itu datang lagi saat tangannya yang menenangkan mendekapku erat “ai-chan, ai-chan” bisiknya. Apa dia menangis?
“jangan” katanya saat aku ingin melihat wajahnya. Aku tak memaksakan keinginanku, aku ingin seperti ini saja. Berlama-lama seperti ini saja.
\*\*
Bagaimana aku menggambarkannya; dia adalah hal paling indah dari semua dunia khayalan yang kuciptakan.
-Arai
Arai menatapku sampai larut malam, bukan dalam mimpi namun disampingku. Matanya seperti langit malam penuh bintang masih menyisakan air mata yang sedari tadi. Dia memang tidak menunjukkan atau menyuarakan tangisnya. Tapi aku tahu dia menangis sama seperti aku. Bedanya, mataku jadi bengkak dan merah dan kepalaku bertambah pusing karena sakit sedangkan dia masih tampan. Percakapan kami lakukan dengan saling menatap dan memanggil nama. Rasanya basa-basi jadi tidak perlu. Kami sama-sama tahu apa arti “berat” dan “pergi”. Apa arti “takut” dan “menghilang”. Arai mengelus pipiku, berkali-kali mengecup keningku, aku membalasnya seperti yang dia lakukan.
“maaf” kataku. Berusaha supaya tidak menangis mengingat kebodohanku dan Arai yang mencari-cariku diseluruh stasiun sampai Kyoto. Dia menghapus airmataku. “aku tidak akan bertanya-tanya lagi, tentang kamu, tentang orang yang kau temui. Tentang apapun. Maafkan aku.”
Arai mengelus pipiku lagi, lalu menyelipkan tanganya dibawah kepalaku dan membawaku kepelukannya. “akan kuceritakan”. Aku melepas pelukannya.
“jangan, kalau tidak bisa”
“aku...bisa”
Aku terdiam, dia juga diam. Aku bangkit dari tempat tidur, Arai mengikutiku dan duduk didepanku.
“tapi, Ai-chan...”
“mm?”
“kamu...percaya padaku?”
Aku sudah memutuskan, untuk percaya padanya. Aku akan menguatkan hati bila itu tentang perempuan lain. Aku sudah siap dengan hal itu.
“ya” suaraku serak saat mengatakan satu kata itu.
“dengarkan baik-baik. Walau ini kedengarannya gila. Kamu boleh memutuskan, menganggap aku ini tidak waras atau... apapun.” Aku menunggu kalimat selanjutnya. “ajukan pertanyaannya”
Aku memikirkan banyak pertanyaan tapi Mikka lah yang paling membuatku penasaran. Aku menyiapkan diri “si...siapa Mikka?” tanpa terduga Arai mengangkat alis lalu mengerjap dan tersenyum “kok senyum?” Dia masih saja tersenyum dan cekikikan. Membuatku jadi kesal dan bertambah penasaran.
“apa sih? Kok jadi ketawa?”
“yang aku tahu itu selingkuhan suamiku sendiri.” Gigiku jadi bergemertak sanking kesalnya. Amarahku mau meledak lagi “istri mana yang nggak marah dan memutuskan untuk kabur dari rumah saat tahu suaminya sudah punya simpanan lain dan pergi tengah-tengah mal—“
“itu kamu”
“—lam” dia bilang apa? “apa?”
“Mikka itu kamu”
Nah, apa ini? Ini suamiku, kan? Masa dia jadi lupa nama istrinya sendiri. “eto, ai-kun... sebelum kita menikah, aku sudah memperkenalkan namaku, kan? Ehehehe nggak mungkin kamu lupa namaku.” Aku jadi berasa **** “iya, kan?” aku menatapnya dan Arai tertawa.
“lulu-chan” dia menggodaku ya?
“hei, Rokugatsu-sama” aku menatapnya, serius. “jangan bercanda. Siapa itu Mikka?”
Arai tertawa lagi “maksudku, Mikka itu panggilan pernikahanku untukmu, selain Ai”
“nah, apalagi itu? Apa kaitannya aku dengan nama Mikka itu?” dia menatapku yang kebingungan “oke. Mikka itu artinya apa? Aku lihat di ponselmu itu jelas-jelas bahasa indonesia dan nama perempuan di sebelah namamu.”
“itu memang huruf yang tepat dari mikka kan?”
Mikka... huruf yang tepat. Sebentar, arti Mikka itu kalau dalam bilangan berarti...
“tiga” ucapku dalam bahasa indonesia.
“tiga” arai mengulang “mikka (tanggal tiga). Tanggal pernikahan” katanya
Tanggal pernikahan. Rasanya ada air dingin yang disiram keatas kepalaku. Jadi selama ini aku salah paham? Benar-benar salah paham? “aku salah paham” kataku, suaraku jadi mencicit. Malu.
“benar-benar salah paham, Mikka. Lagi pula, bagaimana caranya aku turun dari lantai 60 jendela kamar ke lantai dasar?”
Aku mengangkat bahu “entahlah, aku masih memikirkan teori asal-asalan” Arai diam “tapi, kenapa juga kamu namai aku dengan itu?”
“agar kamu ingat”
“ingat?”
Arai diam lagi. Lalu menyelipkan rambutku di balik telinga “kamu seharusnya penasaran dengan nama depanku. Bukan Mikka”
“Rokugatsu? kenapa dengan nama keluargamu?”
“itu bukan nama keluarga. Sejujurnya itu nama bulan pernikahan kita. Aku...tidak bernama” Kali ini aku benar-benar bingung dan syok. Apa yang mau diungkapkan Arai sebenarnya?
“pertanyaan selanjutnya” katanya pelan. Tidak tersenyum lagi. Dia menatapku, aku ragu-ragu, dia tahu aku akan menanyakan hal terberatnya.
“ceritakan, tentang kamu. Siapa kamu. Namamu yang sebenarnya. Kemana kamu pergi saat malam... Semuanya, ceritakan padaku, aku ingin tahu tentangmu” saat mengatakan itu aku refleks menggenggam tangannya, aku takut ketika dia menceritakan tentang dirinya sendiri ia akan terburai menjadi angin, hilang dihadapanku. Ini hanya penjagaan, Sebisa mungkin kalau memang dia akan menghilang aku bisa menahannya segenap tenaga. Boleh bukan, aku berharap begitu?
Dia menyisir rambut hitam berantakannya dengan jari, lagi-lagi, frustasi, berat. Tapi dia sudah bilang dia bisa menceritakannya. Aku juga tak ingin melarangnya, aku ingin tahu.
“tadi” katanya menatapku nanar “sudah kubilang, kau boleh memutuskan mau percaya atau nggak. Kau bisa menganggapku gila.” Dia menarik napas lalu tersenyum seperti bukan maunya “aku ini penenun mimpi.”
“ap—“ sekarang aku yang tak waras. Bukan dia. “apa itu?”
“aku ini, penenun mimpi, aku hidup dari menenun mimpi indah orang lain, meleburkan mimpi buruk. Aku ini, malam dan mimpi. Pagi dan khayalan sihir—sulap”
“jadi kau...bukan...” manusia.
Ia membuang muka “aku hanya memiliki kemampuan itu” Dia hanya mempunyai kekuatan seperti superhero? Dan eh, apa aku sekarang ikut masuk kedunia aneh ini? Sebentar, aku bukan sedang mimpi, kan?
“aku hidup berbaur dengan malam dan menenun mimpi agar aku bisa bertahan hidup. itulah yang kulakukan setiap malam. Berbaur” sambungnya, masih tidak menatapku. Aku ragu—saat ia mengatakan hanya memiliki kemampuan itu—ia jujur padaku. tapi, aku tidak mau merusak suasana hatiku lebih parah jadi akan ku kesampingkan rahasia yang satu ini.
“bagaimana caranya...”
“kau m au tahu?”
Aku mengangguk, dia bangkit, dan mengajakku ke jendela, menggeser pintu jendela, dan menarikku ke beranda. Angin dingin menampar wajahku, padahal seharusnya angin tidak sedingin ini, ini bukan musim dingin.
“kau bertanya-tanya mengapa jendela selalu terbuka setiap malam, kan? Nah, apa teorimu?”
Aku mengangkat alis “mm...jubah Batman?” ia tertawa, Arai melepas genggamannya, tersenyum dan hilang.
\*\*\*