
“*kau mau hidup bersamaku?”
“iya”
“kenapa?”
“karena aku menyukaimu, aku ingin bersamamu”
Aku tertawa, begitu sederhana, begitu blak-blakan. Gadis ini benar-benar berbinar-binar, dia hanya melihatku. “kau tak takut?” Dia menggeleng dengan serius.
Aku melepas topiku, “siapa namamu?”
“Lulu”
Kalau begitu, inikah keputusanku? “Lulu-san, perkenalkan, aku...” aku memikirkan sebuah nama bagus “Arai. Namaku Arai” dia mengangguk.
dengan perasaan takjub dan tak percaya pada pilihanku, aku berkata “Lulu-san, menikahlah denganku”
-Arai*-
aku menangis seminggu lebih. Aku berhenti ketika Arai sedang ada dirumah. Aku menangis lagi saat dia pergi menenun mimpi. Aku mengambil vas kaca besar, memeluknya, berharap itu mengobati luka yang kusebabkan sendiri. Andai saja, andai saja aku tak seegois ini, akankah Arai tetap hidup? aku harus membuat keputusan, bukan? Aku tidak boleh membuatnya pergi. Dia harus hidup. dia itu nyata, sama seperti aku. bukan sekadar mimpi. Aku takut untuk tidur, takut ketika bangun Arai sudah tak ada. Jadi aku menunggunya pulang sampai pagi, baru aku tidur dengan memeluknya. Dia melempar lelucon seperti biasanya, aku membalas sekenaknya. Mencoba tertawa dan mengenang-ngenang tawanya itu. aku mencoba segala cara agar dia atau aku tak lupa dengan ‘kami’. Aku mengajaknya membaca catatanku tentangnya. “sekadar mengulang masa lalu” kataku saat dia bertanya untuk apa membacanya berulang kali. Aku ingindia tahu sebabnya. Namun aku ragu saat mengatakannya, akankah segalanya akan menjadi lebih baik bila aku mengatakan bahwa aku sudah tahu?
“apa ini?” tanyaku saat bangun keesokan paginya. Arai tersenyum, aku meneliti wajahnya; matanya kembali berwarna putih kelabu tapi dia kembali tersenyum seperti biasa. Dia menyembunyikan sakitnya.
“hadiah”
“aku tahu ini hadiah” tawaku “tapi apa isinya?”
“buka saja.”
“mencurigakan.”
“kalau begitu jangan buka.” Dia merengut, membuatku tertawa sekaligus ingin menangis, aku ingin melihat ekspresi begini keesokan harinya, besok lagi, besok lagi, besok lagi...
“baik,baik, aku buka.” Aku membukanya. Didalamnya terdapat Yukata warna langit malam dihiasi bunga warna abu-abu dan putih dan gambar bintik-bintik putih yang dimaksudkan untuk bintang. “yukata?”
“bagaimana?”
Aku terdiam. Memandang warna yukata tersebut. malam seperti dirinya. Kelabu seperti dia saat ini. Aku menggengam yukata itu erat-erat.
“kau tak suka?”
Aku melihat arai “aku suka sekali. Terimakasih. Ini cantik sekali”
“aku mau lihat”
“kupakai sekarang?”
“iya”
Aku memakainya lalu memandang cermin. Aku menghampiri arai yang duduk ditempat tidur, memandangku lekat-lekat. “bagaimana?”
“cantik. Aku tak salah pilih warna.” Katanya
“bagaimana ini bisa dibilang cantik sedangkan aku belum berias dan menyanggul rambut”
“tidak usah begitu” katanya, menarikku mendekat, aku duduk dipangkuannya “kau sudah cantik sekali”
“oho, kau menggodaku, ya”
Dia tertawa lepas, “tidak kok. Pasti nanti putra putri kita setampan dan secantik ibu dan ayahnya...” dia berhenti berbicara. Aku memandang matanya. Putra dan putri. Begitu besar harapannya akan hidup kami. Aku menepis airmata yang hendak terbit. “putra dan putri...” katanya lagi.
“kau membayangkannya?”
Dia mengangguk.
“bagaimana hasilnya?”
“berisik sekali” dia bersandar padaku, aku tertawa. “tapi mereka lucu-lucu sekali.”
“kau membayangkannya sampai mana, sih?”
“mmm...” dia tertawa malu.
“kau mau berapa?” kataku menahan tangis
“dua? Atau tiga... bagaimana menurumu?”
“pantas berisik. Tapi aku suka.”
“tiga?”
“lima”
Dia tertawa lagi. Aku mengelus rambut kelabu putihnya dan mengecupnya. “itu impianmu?”
“kalau aku boleh bermimpi, itulah impianku”
Kau juga boleh bermimpi. Tapi bagaimana mewujudkan mimpi itu, bila aku harus melepasmu...
“yokohama? Bagaimana kelihatannya saat malam?” tanyaku kepada arai. Kami sedang menonton festival dan duduk didekat jembatan.
“keren sekali. Lain kali akan kuajak dirimu.” Kapan itu lain kali, aku tak ingin menebaknya
“sungguh? Terbang bersamamu dilangit?”
Dia mengangguk. Malam ini dia memakai Yukata berwarna malam juga tapi tidak ada hiasan bunganya. Dia tampan sekali. Aku semakin menyukainya. Semakin menyukainya disaat terakhir. aku membeli apapun makanan yang kusuka dan tak pernah kunikmati bersama arai, kami mencoba permainan memancing ikan, kami berjalan sampai kaki kami sakit dan akhirnya duduk dipinggir sungai menjauhi keramaian, menonton kembang api dari kejauhan. arai bercerita banyak sekali mengenai festival, aku senang mendengar suaranya. Sejuk. Angin berdesir, aku melihatnya tersenyum, genggaman kami belum dilepas semenjak berangkat dari rumah. Aku senang. Kalau bisa, aku ingin seperti ini terus.
“Ai-kun”
“hmm?” dia memandangku, tersenyum lebar saat kembang api pertama meletus dilangit. Aku ingin dia tertawa begini terus. Tidak boleh menghilang.
“aku ingin kau sembuh”
“hmm?” dia mengalihkan pandangan dari langit.
“aku ingin kau sembuh.”
“pasti” dia melihat langit lagi saat kembang api yang lebih besar meledak “wah, lihat itu, Ai-chan”
“kau harus pergi dariku” kali ini dia mengalihkan pandangannya dan memandangku lekat-lekat. Genggamannya kian kuat.
“apa?”
“kau harus pergi dariku, supaya kau tak melebur selamanya!” aku mengeraskan suaraku menanhan isak tangis. “kau harus sembuh”
“bagaimana kau—“
“aku sudah tahu ini sejak lama. Kau akan menghilang bila tetap bersamaku. Debaran jantungku dan segala hal yang kau alami itu adalah karena aku. kau tak boleh melebur menjadi angin. Aku tak mau begitu. Kau harus hidup seperti semula. Seperti saat...saat sebelum bertemu denganku” aku sudah tak tahan. Dadaku sakit sekali, bagaimana bisa aku mengucapkan salam terakhirku, bagaimana bisa aku bertahan tanpanya. Bagaimana aku melanjutkan hidup?
“aku... tak bisa”
“kau, kau bisa. Kau bisa pergi dariku.”
“kau tahu akibatnya, bila aku pergi darimu?”
Tahu. “kau melupakanku” aku tahu akibatnya. Memangnya bagaimana perasaanku selama ini bila kau lupa akan aku?
“kau mau aku begitu?”
Aku memandang matanya, air mata. Aku tidak mau. Tapi kalau tidak begini kau akan pergi untuk selamanya, tak berwujud sama sekali. Aku lebih tak mau itu terjadi. “ya.” Kataku tercekat. “ya, aku mau kau melupakanku”
Arai terdiam. Dia melihatku lama, aku menguatkan diriku sendiri. Aku tak ingin dia melihatku ragu dan mengorbankan hidupnya lagi. Dia meremas tanganku yang sudah dingin. “ayo, kita pulang” aku mengangguk menyetujui. Aku tidak mau berkata tidak. aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuknya. Aku tidak mau dia hilang.
Dia memelukku, aku balas memeluknya. Kami menunggu malam menjemputnya. Aku berkali-kali mencium puncak kepalanya. Berkali-kali menggumamkan kata sayang padanya. dia menangis. Aku ingin menangis juga, tapi aku tak bisa. Aku tak boleh memunculkan keraguan.
“kau tahu, betapa aku takjub padamu” katanya didadaku “kau membuatku cinta padamu”
“aku juga.”
“kau terus berdebar padaku”
“tapi aku menyebabkanmu sakit”
“tidak. itu keputusanku. Aku melepas segala hal mengenai hidupku untukmu. Aku sudah menentukan jalannya”
‘tapi, aku tidak setuju denganmu”
Dia mengangkat wajahnya, memandangku “kenapa?”
“kalau kau melebur, hilang selamanya... aku... tidak bisa mencarimu. Seperti kau mencariku” aku mengingat saat dia berlari mencariku distasiun “sampai lupa kau pakai sandal rumah. Sampai tak peduli waktu saat mencariku di Kyoto. Kau terus mencariku.” Air mata menetes tanpa inginku. Segala pertahanan diriku retak “kalau kau pergi bagai angin, bagaimana aku bisa menemukanmu”
Dia menghapus air mataku lagi “kau benar-benar ingin aku pergi dan hidup dengan cara melupakanmu?”
Aku mengangguk “asal kau hidup. asal kau ada. Aku tak masalah” sudah pasti masalah. Aku belum tahu cara hidup tanpamu. “tapi, kuharap kamu tidak lupa. Jadi Ai-kun bisa datang padaku lagi” isakku “kau ingat Mikka?”
“dirimu?”
“ingatlah dia. kau ingat bulan pernikahan kita?”
“bulan enam”
Aku mengangguk “rokugatsu Arai. aku ini mikka. Ingatlah aku. aku juga akan membantumu mengingatku dengan caraku. Aku akan mencari caranya”
“Aku janji. Aku akan kembali padamu.”
Kamu memang harus kembali padaku. aku berdoa, supaya kamu pulang padaku. memelukku seperti ini, sampai aku tertidur, bermimpi lagi tentangmu.
“aku mencintaimu, Lulu”
***