
EPILOG
(Epilog ini menceritakan segala kejadian yang tidak saya ceritakan di episode-episode Arai dan Lulu. Khusus untuk Tatsuya, maaf membuat ceritamu patah hati)
Tadinya Tatsuya ingin minum kopi di Cafe dekat kantor, kepalanya sudah mau pecah menghadapi kecerewetan penulis baru dan naik darah menghadapi penulis baru lainnya yang bersikap malu dan diam saja saat ditanya.
Tidak sengaja dia melihat toko buku disebelah cafe tersebut, entah magnet jenis apa yang menariknya, ia melewati cafe dan *masuk ke toko buku tersebut. Tidak ada salahnya juga dia membaca dulu, fikirnya.
Saat itulah dia melihat seorang gadis. Gadis itu mencari-cari dengan bingung, Tatsuya menghampirinya.
“Ada yang bisa dibantu?”
“Ah, itu...” gadis tersebut melihat Tatsuya dengan ragu-ragu,
“aku mencari kamus bahasa jepang dan Indonesia” Gadis itu bermata lebar, lain dari gadis Jepang dan tingginya juga berbeda.
Tatsuya yang memang sangat tinggi mencari dipuncak rak, menarik kamus tebal dan menyerahkannya pada gadis itu.
“Ini, dia” katanya.
Gadis itu tersenyum lebar, “Terima kasih!”
“Dari Indonesia?”
Gadis itu mengangguk. “Terima kasih, Tuan”
“Tuan?”
Tatsuya tertawa setelah berhari-hari merengut dikantor. Ternyata dia tidak salah mengikuti naluri untuk masuk ke toko buku.
“Kamu mahir sekali berbahasa jepang.”
Gadis asal Indonesia tersebut mengangguk, “Di Indonesia, aku kuliah Sastra Jepang. Tuan cari buku? Silahkan tuan”
“Bukan di rak ini kok.” Tatsuya melihat gadis itu ber-ooh tanpa suara
“Tatsuya”
“Hmm?”
“Tatsuya, panggil aku Tatsuya.”
“Itu… hmm... nama belakang Tuan?”
“Bukan” gumamnya malu. itu, nama depanku."
Belum pernah ada seorang gadis yang ia minta untuk memanggilnay dengan nama depan. Tiba-tiba saja ia dikagetkan dengan keinginan tersebut.
“Memangnya tidak apa-apa?”
“Santai saja” jawabnya meyakinkan diri sendiri agar tidak terlihat memalukan.
“Boleh ditambah dengan Senpai?”
Tatsuya tersenyum lebar
“Boleh. Kalau boleh tahu, Siapa namamu?”
“Lulu”
“Lulu...senang berkenalan denganmu*”
🌑
"Benar-benar *menakjubkan, dia bisa memunculkan salju, merpati, kelinci. Ah, dia juga bisa memunculkan kunang-kunang, lho!”
Tatsuya tersenyum lebar “Benarkah?”
Jarang sekali Lulu antusias menceritakan sesuatu seperti ini ketika mereka makan siang saat waktu istirahat kerja. Topik pembicaraan mereka berubah-ubah dan Tatsuya senang dengan keunikan itu. Kali ini mereka sedang membicarakan seorang pesulap.
“Seperti Dejavu, sepertinya aku pernah bertemu dengannya. Aneh sekali, kan? Tapi dia keren. Ah iya, Senpai, hampir saja aku lupa bilang, Ayumi kirim salam.” Katanya sambil melahap nasi.
“Fujioka?”
Lulu mengangguk “Dia sungguh menyukaimu. Tapi sepertinya dia akan bersama Hasegawa. Mereka sebenarnya sudah saling suka. Tapi naif sekali”
“Kalau Lulu-san?”
“Aku? Aku kenapa?”
“Ada seseorang yang kamu sukai?”
Lulu memandang Tatsuya sangat lama dan dengan tiba-tiba dia tersenyum lebar,
“Ada, aku ingin menikah dengannya”
Tatsuya mengerjapkan mata, bingung*.
🌑
*Tatsuya duduk di bangku kereta api. Menekan dadanya. Gadis itu sudah menikah, tapi ternyata orang itu adalah sebuah mimpi, dan mimpi tersebut adalah perwujudannya.
Apa-apaan ini... Apa yang terjadi sebenarnya. Dadanya sesak.
“Apa yang harus kulakukan sekarang, apa yang harus kulakukan” Ratapnya*.
🌑
“*Kau tidak boleh memilikinya” Geram Tasuya pada Arai di stasiun yang sepi “dia itu ditadirkan untukku, kau tak boleh berurusan dengan kenyataan”
Arai menyapu rambutnya dengan jarijemari pucat, tempat dimana rambut keperakannya berada. Tatsuya melihat perubahan itu.
“Aku tahu.” Jawabnya murung. Matanya tidak bersinar.
“Kau tahu tapi kau tetap melakukannya?” Tatsuya geram sekali. “kau tahu sekuensinya?”
Kedua orang itu menekan dada masing-masing.
“Kita sama-sama kesakitan karena ini. dia menciptakan mimpinya menjadi impian dengan menggunakan aku sebagai contoh dari ciri-ciri lelaki impiannya. Dan kau juga menggunakan aku?” Teriaknya.
“Tidak, aku ini memang aku.” Arai mencengkram baju dimana rasa sakit di dadanya berada “aku bisa bertahan. Aku akan bersamanya. Dia berdebar karena aku*”
🌑
*Mata Arai berkobar karena amarah, Aurora menjilat-jilat seluruh tubuh Arai. Baru kali ini Tatsuya melihat sosok Arai sesungguhnya; warna mimpi-mimpi dan malam yang terang bagai siang.
“Apa yang kau lakukan sebenarnya?!” Arai menarik kerah baju Tatsuya.
Arai menghampiri Tatsuya dirumahnya saat Tatsuya sedang tidur.
“Kau melakukannya” Rambut arai seluunya kini sudah memutih. “kau berani membuatnya berdebar?!"
“Aku mencoba mempertahankan diriku!”
Arai melepas Tatsuya dengan kasar. Tatsuya mengerutkan kening “Kau kesakitan”
“Ya. Sebentar lagi aku mati kalau kau melakukannya lagi” Jawab Arai sinis.
Tatsuya menyapukan rambutnya, “Dia menyukaiku juga. Aku bisa merasakannya. Kau harus pergi darinya supaya kau tetap hidup.”
“Dan rela dilupakan oleh istriku sendiri?” Arai menggemertakkan gigi.
“Aku akan merebutnya lagi” kata Tasuya
“Jangan coba-coba. Jangan pernah”
“Arai…” bujuk Tatsuya “Kau tidak bisa bersamanya. Dia manusia. Manusia itu ditakdirkan untukku*”
🌑
*Lulu menangis, ia menangis di toilet kantor. Setelah lama libur, dia datang lagi dengan menangis. Ayumi resah sekali dan bertanya pada Tatsuya yang sedang menuang minum di dapur kantor, apakah Tatsuya memarahi Lulu.
Tatsuya mengangkat alis, heran, malah ia sendiri belum menyapa Lulu hari ini, namun tanpa memberi tahu Fujioka alasan mengapa Lulu menangis, Tatsuya tahu Lulu sedang menangisi Arai*.
Apa yang harus kulakukan, kalau kau begitu mencintainya.
🌑
"*Kau lihat itu”
“Hebat, dia bisa mengobrol bersama kita secara tak langsung melalui mata Arai?”
Tatsuya duduk termenung, tidak mempedulikan makhluk-makhluk tersebut mengobrol.
Dia bertanya-tanya bagaimana bisa gadis itu melakukan sampai sejauh ini, tangannya gemetar. Apa dia terlalu jahat memaksakan agar gadis itu berdebar dan menyebabkan Arai sakit?
Tatsuya menghembuskan napas berat, kepalanya, hatinya, seluruh jiwa dan raganya sakit.
“Aku punya permohonan” katanya kepada makhluk-makhluk tersebut*.
🌑
*Seharusnya laki-laki yang berlutut di depannya tidak perlu menangis, kalau dia masih ingin menikmati masa-masa indah seperti lalu-lalu, dia cukup meninggalkan Lulu dan kembali seperti semula, sehat dan tetap menjadi sebuah mimpi.
Tetapi tidak, dengan kesakitan, dia menghampiri mereka, di Istana Es, tempat mereka biasa berkumpul untuk berunding beberapa tahun belakangan ini.
Arai menangis di hadapan mereka,
“Dia sakit, jantungnya sakit” katanya pada Tatsuya yang mematung.
“Kalau Lulu tidak bisa mengendalikannya, dia bisa mati.” Isaknya. “Kumohon! Kumohon, jangan berbuat begitu padanya! Biarkan kami berdebar satu sama lain! Kumohon!” Arai melihat Tatsuya,
“Aku mohon!”
“Lalu… bagaimana jadinya aku, Arai*?”
🌑
*Tatsuya meringkuk di kamar gelap. Menangisi takdir, cintanya benar-benar kandas. Berkorban demi mimpi, dia benar-benar kenyataan yang menyakitkan.
Tatsuya mengenggam erat potretnya bersama Lulu saat Lulu pertama kali diterima kerja di kantor miliknya, ia membawa foto itu ke dada.
Berharap menjadi obat, namun rasa dingin di bingkai menusuk-nusuk tepat ditempat hatinya berada. Benar-benar menyakitkan, bagaimana caranya luka ini sembuh.
“Aku benar-benar... Aku benar-benar... Sangat mencintaimu*”
🌑
*Tatsuya duduk bersama Arai di alam mimpi, Mimpinya yang hitam pekat berubah ketika Arai menghampiri. Aurora bergelayut manja dilangit.
Seharusnya Arai tidak boleh berlaku tidak sopan dengan mengintip mimpi buruk orang lain. Apalagi yang diintip adalah mimpi saingannya.
“Aku perlu bantuanmu.” Kata Arai. “aku ingin kau membantuku mengingat Lulu”
“Kenapa harus aku? kau belum mengerti bahwa aku ini sainganmu di kenyataan?”
Arai menatap Tatsuya. Matanya kelabu pucat dan keadaannya kian menipis bertolak belakang dengan aurora yang menari-nari dilangit.
“Malam ini, dia sudah melepasku pergi. Saat dia tidur, aku akan lupa pada dirinya.”
Arai melihat ke kejauhan, walaupun matanya terlihat seperti memandang samudra luas, tetapi tatapannya kosong, berkelana jauh pada seseorang yang bersembunyi dibalik bantal.
“Lulu sedang menangis sekarang” Arai melihat Tatsuya lagi “jadi, aku perlu bantuanmu. Karena itu adalah kau.”
Tatsuya memandang ujung kakinya yang terkena ombak kecil, kalau ini didunia nyata mungkin akan aneh sekali melihat dirinya bercermin dilautan biru jernih bagai kaca.
Tetapi laut ini bukanlah laut di alam nyata, pohon-pohon besar dibelakang mereka berdesir merdu mennyanyikan lagu sedih. Membuat pilu. Lagu itu sangat menggambarkan keadaan Arai. Jatuh, menghilang, dilupakan.
Namun dilain sisi nyanyian tersebut sangat mendukung keadaannya yang tersingkir dari takdir sesungguhnya.
“Kalau aku menolak...”
Arai terdiam, ikut memandang ujung kakinya sendiri, bedanya, kaki Arai bagai kaca tipis tembus pandang.
“Aku tak bisa apa-apa lagi. Aku akan lupa padanya untuk selamanya. Tapi dia... akan tetap menungguku, menangisiku setiap hari. Tidak tahu menahu bahwa aku sudah lupa padanya.”
Butir-butir mimpi seputih salju, terbang dan turun kedasar laut dibawah kaki Arai, melebur.
“Jadi” sambungnya, “ini permohonan terakhirku, sebelum aku lupa pada segalanya dan kembali kepada Tuan-ku. Aku butuh pertolonganmu Tatsuya, kuharap kau mau memenuhi permintaanku”.
Mereka tidak menghitung sudah berapa lama duduk di dalam mimpi memandang laut dan aurora yang memudar.
Saat aurora hilang dan mimpi itu hanya menjadi mimpi kosong hanya menyisakan nyanyian sedih, Tatsuya tahu Arai telah menghilang.
Tatsuya tidak mengangkat kepalanya saat Arai melebur menjadi butir mimpi, menjadi wujud asli dan terbang menenun mimpi, memulainya dari awal, melupakan semua orang.
Tatsuya meremas tangan dan memejamkan mata.
Tuhan, tutupi lukaku untuk waktu yang sangat lama. Tabahkan aku saat bersamanya, bertemu dan berbicara dengannya, tahan aku bila sesal datang. Aku tak ingin menyakiti siapapun lagi.
Setelah beberapa lama, dia membuka mata, bangkit berdiri dan bangun dari mimpi*.
🌑
Tidak ada yang perlu disalahkan. Kita sudah menjalaninya dengan baik. Namun yang kusesalkan mengapa aku tak lebih cepat membuatmu jatuh cinta padaku... Lulu.
Tamat