
*Lalu, saat setelah ku fikir dia akan pergi seperti penonton lainnya, dia tetap duduk disana, berbinar-binar.
-Arai*-
“ai-chan?”
Aku terbangun, melihat Arai, wajahnya khawatir. Aku bangkit dari tempat tidur. Tubuhku berkeringat, wajahku basah, air mata. Aku menangis. Aku melihat arai yang sekarang duduk di lantai menggenggam sebelah tanganku. Arai pasti tahu mimpiku itu; aku sudah bermimpi seperti ini selama tiga malam; aku berhasil melukai seseorang dan merasa bersalah karenanya. Tatsuya. Bagaimana sekarang aku harus bersikap pada Tatsuya. lalu datang sosok arai yang sedikit demi sedikit menghilang dariku sampai menjadi kabut.
“arai...”
Dia menyentuh keningku dengan tangan lain, “kau demam.” Katanya. Aku mengelus rambutnya, merasa bahwa kesabaran Arai melihat mimpiku adalah hal salah tapi menakjubkan. aku sudah pasti lebih menyakitinya dengan bermimpi tentang lelaki lain. Ada sejumput rambut putih keperakan ditempat yang kusentuh.
“arai, rambutmu...” dia menyentuh tanganku yang menyentuh rambutnya. Aku melihatnya berkeringat, dan matanya yang tak setajam dulu, sayu, sedih. Seakan kekuatannya hilang sedikit demi sedikit. Aku khawatir kepadanya. Wajahnya juga dingin, aku menyentuh alis, mata, hidung, pipi dan bibirnya. Dia memejamkan mata. Seperti meresapi sentuhan itu, lalu tanpa pemberitahuan dia mendekatkan kepalanya ke dadaku, berdiam lama disana, memeluk pinggangku, jantungku berdebar tak karuan.
“kau masih berdebar karena aku” bisiknya.
Dia menempatkan telinganya dijantungku. Aku sudah pasti berdebar karena dia. aku balas memeluknya, mencium rambutnya, berlama-lama disana. Menghirup aroma malam segar. “kau dingin sekali, ai-kun”
“mm, makanya, peluk aku terus” katanya. Aku tersenyum. Aku memang akan terus memeluknya tanpa disuruh sekalipun. “sudah mendingan?” tanyaku.
“bagaimana denganmu?”
“aku? aku sudah lumayan, demamnya rasanya sudah mendingan”
“bukan demamnya”
Aku melihat keluar jendela kaca yang terbuka, melihat malam tak berbintang, mendung.
“mimpinya” katanya lagi, “bagaimana, Kau sudah baikan?”
“aku...tidak apa-apa”
“maaf, aku tidak menghilangkan mimpi buruknya, aku malah menyaksikannya”
“seharusnya aku yang minta maaf” membiarkan diri sendiri memikirkan orang lain karena rasa sesalku. Seharusnya aku tak perlu memikirkan hal begitu, mengapa aku ini cepat sekali merasa kasihan dan menyesal dengan yang telah orang lain berikan padaku tapi tak kubalas.
“aku ingin kau berdebar seperti ini terus terhadapku”
“mm”
“jangan kepada orang lain” Aku mengangguk dikepalanya.
“aku benar-benar ingin bersamamu”
“aku juga begitu”
“aku benar-benar...ingin bersamamu”
Aku tahu, aku tahu Arai. Kau mau aku tidak memikirkan orang lain, bukan? Kau mau aku tetap berdebar karenamu, bukan? Aku akan melakukannya. Jadi, jangan bersedih seperti ini lagi. aku tahu kau mendengar suaraku ini. Jadi, jangan bersedih lagi. Aku minta maaf telah menyakitimu.
Arai sakit, aku belum pernah melihatnya sakit. Dia selalu sehat, selalu tersenyum dan merawatku setiap waktu. Kali ini dia sakit, rambutnya berubah menjadi abu-abu keperakan sedikit demi sedikit. Itu membuatku khawatir dan menangis terus-terusan, karena Arai bukanlah manusia sepertiku, dia itu hal istimewa bagiku.
“seharusnya ai-chan kekantor” katanya ketika aku membantunya duduk dari tempat tidur.
“dan, dan ninggalin ka,kamu sendirian dirumah? Nggak, Aku nggak...nggak ma,mau begitu”
“jadi, kenapa kamu nangis terus? Berhenti menangis, nanti kamu sakit.”
Aku bingung harus bagaimana menjelaskannya, aku takut sekali. Arai tak pernah seperti ini sebelumnya, aku takut sekali. Aku khawatir sekali, rambutnya seminggu ini makin berubah. Apa yang harus kulakukan untuknya.
“apa yang terjadi padamu?”.
Dia tersenyum, tak menjawab pertanyaanku, sama seperti kemarin-kemarin. Dia mulai menyembunyikan hal lain lagi. Hal yang kuanggap penting. Semua tentangnya itu penting.
Hari saat Arai mulai sakit, aku jadi banyak menulis tentangnya, apapun tentang dia. aku tak tahu apa yang terjadi pada kami nanti, maka dari itu aku berjaga-jaga. Bila nanti, bila nanti... aku mulai lupa dan kehadiran arai mulai menipis seperti mimpi, aku akan membacanya setiap hari, mengingat bagaimana aku pertama kali bertemu dengannya, menyukainya dan memilikinya. Karena perubahan arai yang menjadi putih keperakan membuatku berfikir yang tidak-tidak dan itu semakin membuatku tak nyaman. Walau dia dipelukanku, menggengam tanganku, dia hampir saja tak terasa, seperti kabut, seperti mimpi.
Aku melihat meja kecil dekat tempat tidur, vasnya sekarang sudah penuh benda bulat putih keperakan lembut seperti salju melayang dan berkedip-kedip ceria. Semua mimpiku, tentang arai, aku meletakkan satu vas baru disampingnya, menantikan malam datang dan menabung mimpi lagi. Tapi yang terjadi adalah aku bermimpi buruk tentang diriku, Arai dan Tatsuya. Arai tidak menghapus mimpi itu, dia menyaksikannya, seperti...seperti dia tahu maksud mimpi itu.
Karena itu pula aku sudah mulai malas masuk kerja. Ayumi bolak balik menelpon dan sering datang ke apartmen. Mengabarkan pekerjaan kantor atau menemaniku di rumah saat arai pergi kerja.
“direktur uring-uringan dikantor semenjak kau tidak masuk kerja” katanya, dia mengupas jeruk dan memberikan setengah padaku. “dia bertanya-tanya terus padaku”
“tanya soal apa?”
Ayumi menelan jeruknya “apa dia salah bicara saat kita makan bareng malam itu. Dia tahu, aku dan Hasegawa-kun sudah tahu perasaannya padamu.” Dia menyungkil-nyungkil jeruk yang ada ditangannya. “tapi, aneh sekali, kau tidak memberitahu karyawan dikantor kalau kau sudah bersuami?”
“mm, entahlah, mungkin aku pernah mengatakannya, atau tidak. Kenapa?”
Aku memandang jerukku lalu melihat keluar jendela kaca besar ruang tamu, langit tak mendung, namun cahaya matahari seperti tak mau bersua hari ini, terang namun dingin. Seperti arai.
“bukan begitu, aku sedang memikirkan sesuatu.”
“jangan dipikirkan, kau seharusnya mencari jalan keluar”
Andai aku tahu masalah yang kuhadapi, aku pasti akan mencari jalan keluar agar semua menjadi baik-baik saja. namun, aku tidak tahu. ini seperti kembali saat aku bimbang dan takut akan seseorang yang bernama Mikka. Tapi ketakutan ini lebih...lebih menakutkan.
“jangan menghindarinya”
“apanya?”
“Direktur. Kau jangan menghindarinya. Angkat teleponnya dan balas pesannya. Anggap saja ini bukan apa-apa.”
“aku nggak bisa melakukannya”
“aku bukan menyuruhmu untuk memulai perselingkuhan. Maksudku, buat lagi keadaan menjadi seperti semula. Seperti kau tidak tahu apa-apa tentang perasaan direktur”
“aku...tak bisa” karena setiap aku memikirkan hal itu, ada perasaan aneh menggelayutiku, itu semua berhubungan dengan mimpi. Jadi, aku tidak bisa melakukan apapun untuk tatsuya senpai. aku tidak mau menyakiti Arai. Dia sudah sakit. Dan terlebih lagi perasaanku mengatakan bahwa arai sakit karena aku, dimusim panas kedua kami.
Jika musim panas tiba-tiba berubah menjadi musim dingin, bagaimana? Jika ketiadaan malamku tanpa arai benar-benar terjadi, bagaimana? Aku tidak memiliki jawabannya, aku tak bisa menemukannya walau aku berusaha menemukannya dimata arai. Dia masih sama, masih berdiri dijalan tempat aku bertemu dengannya; tempat dia memainkan sulap lalu jatuh cinta padanya. Dia masih berpakaian yang sama; topi pesulap dan bajunya, namun hari ini pakaiannya dia sesuaikan dengan warna rambutnya yang sudah keperakan penuh. Dia masih tersenyum pada anak-anak, dia hebat dengan sulapnya. Aku menyukai gerakannya, aku menyukai caranya tersenyum pada anak-anak, aku menyukai segala hal tentangnya. Kalau dia tak ada, tak ada lagi yang kusukai didunia ini.
“ai-chaaan”
Aku melihatnya melambai ke arahku, tersenyum lebar, menunduk pada anak-anak dan menunjuk padaku, serentak anak anak itu berteriak dan melambai ceria padaku “Mikka-chaaan, lulu-chaaan” aku balas melambai dengan antusias “haaaii, minnaaa*” menirukan Monkey D Luffy di One Piece*. Arai membungkuk kepada penontonnya, diiringi tepuk tangan, penonton bubar. Arai memeluk anak-anak lalu datang kepadaku dengan senyum lebar.
“bagaimana?”
“kau keren dan tampan”
Dia tertawa “benarkah?”
aku mengangguk “tapi, aku masih penasaran, bagaimana caranya merpati itu hidup dan keluar dari topimu?”
dia melepas topinya, dan membalikkannya “maksudmu, seperti ini?” berpasang-pasang merpati putih, kupu-kupu, kunang-kunang dan salju muncul dari dalam topi dan terbang kelangit tinggi lalu menghilang. “kau lupa, ya. Aku kan, pembuat mimpi.”
“ah, iya, ya. Kau bukan pesulap biasa” aku mengangguk-angguk sok mengerti. Padahal masih saja penasaran. Aku melihat kesekeliling, tak ada yang memerhatikan. Kalau ada yang melihat dan mendengar kami mungkin bakal pingsan. Arai tertawa lagi, dia memakaikan topinya padaku, mencubit kedua pipiku lalu menariknya lebar-lebar.
“wah, kau juga bukan perempuan biasa, kau punya suami yang luar biasa”
“ya ampun, berhenti narsis begitu.”
Dia melepas cubitannya beralih menggengam tanganku. Menarikku agar berjalan sejajar dengannya, “tapi, kau senang, kan?”
“iya. Aku senang.” Aku melihat rambut kelabu keperakannya yang sudah berantakan makin berantakan disapu angin. Dia melihat langit lalu melihatku masih tersenyum lebar, seakan tak punya beban apa-apa. Seakan semua baik-baik saja, seakan dia hendak membuatku lupa bahwa dia sedang sakit. “festival musim panas” kataku
“apa?”
“festival musim panas, aku mau menontonnya bersamamu”
“kita menontonnya tahun lalu”
“tapi itu dari jendela apartmen. Aku mau lihat secara langsung”
“mm, begitu? Tapi itu bakal berisik sekali; banyak sekali orang, letusan kembang api, dan segala macam hal lain. Kau tidak suka berisik, kan?”
“memang sih. Tapi... aku ingin lihat” ah, aku jadi memaksa sekali kalau begini “Yasudah, kalau kau tak mau, kita bisa menontonnya di rumah”
“ayo”
“hmm?”
“ayo kita lihat.”
“sungguh?”
Dia mengangguk. “iya, ayo kita lihat, aku juga ingin sekali melihatmu memakai yukata*.”
“yukata?”
“pasti cantik sekali” dia menatapku dan tersenyum lagi, membuatku berdebar. Iya pasti dia menantikan begitu. Baiklah, aku akan jadi cantik untuknya. “pasti cantik sekali” katanya lagi sambil memandang langit. Mungkin membayangkanku disana. Aku menggandeng tangannya, gembira sekali. Semakin tak sabar menunggu festival itu dan pergi bersama Arai. Mungkin saja, dengan begitu Arai kembali seperti semula, sehat dan kembali menyaksikan mimpi indahku, lalu... dia akan tetap disampingku.
\*\*\*