My Husband, Who Are You?

My Husband, Who Are You?
“Tuan Penenun Mimpi, Kau Keren Sekali”



*Karena dia, aku jadi tidak sendiri ditengah orang ramai. karena dia, mimpi yang sebenarnya.


-Arai*


Arai menghilang. Dia benar-benar menghilang saat melepas tanganku...


“Arai!” teriakku “arai!”


“ada apa? Kenapa berteriak begitu?” dia muncul lagi di atas pagar dan melompat turun.


Terbelalak, aku melihat wajahnya dan memukulnya, mataku memanas “jangan begitu lagi. Jangan menghilang begitu. Aku takut sekali!”


“hei, hei, jangan nangis.” Dia tertawa, enak saja dia sembarangan tertawa saat aku panik bukan kepalang, kupikir dia meninggalkanku. Dia mengangkatku lalu duduk dipagar pembatas, ngeri sekaligus bergairah mengaliri tubuhku, aku melihat kearah bawah; tempat cahaya lampu kota lalu sekeliling yang bisa kupandang, aku menautkan jemariku dibelakang leher Arai, aku mengadah ke langit melihat berjuta bintang memancarkan cahayanya mengalahkan keindahan kota Tokyo saat malam.


“waw, cantik sekali”


“kau lebih cantik, Mikka. Nggak suka dibilang cantik?” ia mengangkat alis ketika melihat ekspresi muramku.


“bukan, cuman nggak terbiasa. panggil aku, Ai saja. nah...” aku memandang ke langit lagi “ayo lanjutkan pembicaraan kita”


Dia berdeham lalu memamerkan senyum kesukaanku “ajukan pertanyaannya”


“mm...silahkan perkenalkan dirimu, tuan pesulap”


Lalu tanpa disangka dia berdiri diatas pagar, aku memekik ngeri, “oh tidak, oh tidak” lalu Arai tanpa pemberitahuan melompat dari pagar. Jantungku mau copot.


“APA YANG KAU LAKUKAN?”


“halo, Lulu-san. Perkenalkan, namaku Yume Nagai. Sang penenun mimpi”


dan saat kubayangkan aku akan mati karena terjatuh dari lantai 60, aku mendadak menyadari bahwa sesaat lalu arai menghilang dan sekarang pasti... “kita terbang?”


Arai tersenyum, “aku melangkah di angin”


aku melihat ke bawah, ke arah gedung-gedung pencakar langit yang sudah jauh sekali dibawah. Padahal tadi rasanya kami terjun ke kota, sekarang tiba-tiba sudah terbang tinggi dilangit. Arai memang sedang berjalan dengan kedua kakinya lalu seperti melompat jauh dan kembali berjalan lagi, mengingatkanku pada pikiran pertama saat terbangun jam dua pagi dan mendapati Arai tidak ada disampingku, yang tersisa dari jejak kepergiannya hanya Jendela kaca yang terbuka lebar. kufikir aku sedang memasuki dunia mimpi dimana aku menjadi tokoh utama dan sekaligus pacar si pencuri tampan dalam anime kesukaanku.


Tiba-tiba Arai tertawa berderai-derai, membuatku melompat sanking terkejutnya, untung saja pegangan Arai padaku kuat, kalau tidak aku pasti sudah jatuh ke bawah sana, tapi aku ragu aku bakal jatuh, toh ada superhero yang menggendongku.


“ada apa, sih?” tuntutku saat Arai masih belum berhenti tertawa.


Ia berdeham lalu memejamkan matanya, sedetik kemudian cahaya kecil berwarna emas, perak, biru dan putih salju datang kepadanya, menyelubunginya. Lalu sedetik kemudian lagi, dia sudah mengenakan topi pesulap, jas keren dan jubah warna putih seperti...


“kaito kid?”


“aku menggambarkan mimpimu. Kau selalu membayangkan suamimu ini sebagai Kaito Kid”


“tapi kan aku nggak tidur”


“aku bisa membaca mimpi melalui matamu dan sekarang malah fikiranmu, Setiap waktu.” Aku kagum, suamiku ternyata hebat sekali, penuh misteri dan... benar-benar seperti mimpi.


“anggap saja begitu,” katanya “anggap ini mimpi.”


Benar, anggap saja ini mimpi, agar aku tetap waras. Tapi bagaimana caranya? Beribu butir cahaya kecil-kecil itu mengikuti arai dibelakang, seperti tambahan jubah ‘kebesaran’ arai. Aku ingin tahu bagaimana rasanya menyentuh cahaya itu. Tapi, itu pasti bukan perbuatan bijaksana. Apalagi ini bagian dari pekerjaan arai, menenunnya menjadi jubah panjang dibelakangnya. Superhero mimpi. Angin dingin sekali disekitar kami, ternyata karena arai-lah angin ini ada, di musim panas, atau dimusim-musim lainnya. Arai mempererat pelukannya padaku, aku pun begitu, ini begitu indah kalau kuanggap sekadar mimpi, Arai begitu menakjubkan. aku memejamkan mata, menghayati segala kejadian ini, menghirup aroma tubuh arai beraroma malam dan harum bunga yang tidak kukenal.


“kau keren sekali, Arai” bisikku dilehernya


“Terimakasih. Tapi ini sudah pagi sayangku, ayo bangun”


Aku membuka mata, mengerjap karena cahaya begitu terang, Arai dengan pakaiannya yang biasa, rambut berantakan dan tersenyum lebar berbaring disampingku memangku kepala dengan sebelah tangan, ditempat tidur. Aku melihat sekeliling, Kami di kamar kami, bukan sedang melangkah terbang menenun mimpi. Jadi itu benar-benar mimpi, ya. Aku agak kecewa. Seperti kembali hidup normal.


“kenapa sedih begitu?”


Aku memeluknya, “tadi malam aku mimpi indah sekali.” Mungkin aku ketiduran saat dia menceritakan tentang Mikka.


“mimpi tentang aku?” tanyanya sambil mengelus pipiku, Aku mengangguk “pasti aku keren sekali” Aku nyengir. Memang, kau itu memang keren tahu.


“ayo, bangun, aku sudah membuatkan sarapan. Hari ini jangan bolos ke kantor lagi ya.” Dia bangkit aku pun ikut bangkit lalu memekik.


Disudut tempat tidur, dimeja kecil yang tak kulihat tadi, berdiri vas kaca bulat berisi butir-butir cahaya putih lembut. Aku menunjuk vas itu dan melihat arai yang mengangkat alisnya.


“itu, itu...itu kan...” aku berjongkok didepan meja dan melihatnya dengan saksama “apa ini butir mimpi?” aku menoleh ke Arai lagi “iya kan? Ayolah, jujur” tambahku.


Arai tersenyum lebar, menampakkan gigi sempurnanya lalu mengedip jahil “kok ai-chan nggak ngeri?”


Aku melompat berdiri “jadi tadi malam itu, beneran? Kaito kid—eh, bukan. Yume Nagai- Sama.”


“menurutmu?” matanya berbinar. Dia senang aku mengetahuinya dan tidak takut dengannya. Aku memang tidak takut, ini memang tak masuk akal. Tapi inilah suamiku. Arai-ku. Dia tidak membohongiku.


Aku meraih tangannya, “yaampun, Yume Nagai-sama, kamu keren, deh!” dia tertawa dan kami menuju meja makan untuk sarapan “tapi, itu mimpi siapa?”


“mimpimu, Ai-chan” katanya, Aku mengecup bibirnya. Arai bilang tadi malam aku juga menganggap itu mimpi indah jadi dia menyimpannya. Sebenarnya banyak sekali mimpi indahku, itu semua tentang Arai. Ya, karena aku mencintainya, maka aku memimpikannya.


\*\*


“*Agar Dia Tahu Bahwa Aku Belum Menyerah Untuk Menyukainya”


Bagaimana rasanya menyukai seseorang? Beginilah, berdebar dan tak sabar menanti hari esok untuk bersamanya lagi.


-Arai*-


Aku mengantuk. Celakanya Tatsuya senpai melihatku ketika menguap. Dia menghampiri mejaku, dan meletakkan map besar yang sama sekali tak enak dipandang. Pertanda lembur.


“kurang tidur?”


Aku tersenyum minta maaf. Sudah seminggu sejak kejadian itu, aku menemani Arai menjadi superhero, eh, bukan menemani lebih tepatnya, tapi menontonnya terbang sambil menggendongku. Alhasil aku memang mimpi indah; vas kaca sudah hampir penuh dengan butir-butir mimpi sekarang, tapi aku juga kurang tidur, karena terlalu senang dan bersemangat sampai lupa waktunya tidur. Dan harus lembur pula.


“apa itu tambahan cerita dari pengarang?”


“bukan, ini gambar ilustrasinya”


“loh, kok bisa setebal ini?”


“gambar ilustrasi untuk setiap bab judul. Scan, Edit, masukkan, dan kirim ke emailku, ya. Aku tunggu malam ini.”


“Harus siap hari ini?”


“hai-hai*” jawabku malas-malasan sambil melanjutkan mengetik. “Aku perlu bahan soft copy-nya, direktur” Tak ada jawaban, aku mengangkat kepala dan mendapati Tatsuya sedang menatapku “direktur?”


Dia mengerjapkan mata dan tersenyum lalu menyisir rambut dengan jemarinya. Seperti Arai. Apa Tatsuya sedang frustasi? Pastilah, seorang Direktur pasti punya beban dalam pekerjaannya.


“istirahat saja, kalau masih mengantuk. Kau tidak boleh tidur saat sedang kerja” cih, seolah-olah dia nggak.


“seharusnya, direktur yang begitu. Lihat itu, ekspresi wajah kelelahan” aku kembali mengetik entah apa yang tadi ingin kuketik, aku lupa. Aku menghela nafas, “gara-gara direktur, aku jadi lupa apa yang mau diedit tadi.”


“kalau gitu...” bicaranya terputus. Dia kenapa ya?


“mm?”


“ayo, istirahat, kita makan diluar” katanya lalu ia memikirkan sesuatu dan tersenyum “dengan semuanya” tambahnya, ia menelengkan kepala ke kiri dan ke kanan “ayo, semua. Kita makan diluar. Aku yang bayar” Sorak riuh terdengar dimana-mana. Aku tidak keberatan, sih. Tapi ini tandanya, aku bakal nambah telat pulang dan tak sempat bersama arai menenun mimpi.


“ano* direktur,” bisikku, direktur mendekat ke mejaku. Aku kan tidak menyuruhnya mendekat, apa suaraku tidak terdengar? “sepertinya aku... nggak bisa”


“begitu?” katanya dengan suara kecil dan ekspresi sedih.


Ada yang berdeham, direktur dan aku mengangkat wajah dan langsung menjauh, Ayumi membungkuk pada direktur, direktur menggosok leher belakangnya singkat, terlihat malu, sekali lagi memandangku dan beranjak pergi tanpa bicara apapun lagi.


“aneh” gumamku. Tatsuya senpai kenapa hari ini?


“oho” Ayumi menghampiri mejaku dan duduk dikursiku membuatku hampir terjengkang jatuh “apanya yang ‘oho?’”


Dia tersenyum curiga “tadi sedang bicara apa, sampai-sampai mendekat seperti ini?” dia mendekatkan hidungnya pada hidungku, aku menoyornya.


“kami nggak sedekat itu tadi.”


“berarti benar dong kalian saling mendekat?”


Duh salah ngomong aku. “nggak, nggak. Lagian aku ini sudah bersu—“ CTAK “AWW” Ayumi menyentil dahiku keras. “apa?”


Ayumi bangkit berdiri. Memandangku serius “kau sama sekali nggak peka. Seharusnya sebagai wanitalah kita harus membuka mata lebar-lebar dan berpura-pura tak tahu, bukannya buta sama sekali.” Lah, dia ini ngomong apa?


“apa sih?”


Dia menghela nafas “nanti kau ikut, kan?”


“eh, itu...kayaknya nggak”


“ikut. Ini direktur yang traktir, loh”


Emangnya urusan denganku apa, ya? “nggak, aku harus selesain ini dan cepat pulang”


“jangan begitu, aku serius ini. Telpon suamimu, dan bilang kamu telat pulang”


itu memang udah pasti. Tapi aku ingin cepat pulang agar bersama arai lebih lama bukan jatuh tertidur ditempat tidur karena kelelahan kerja. “sorry, aku...”


“oke, sudah disepakati” katanya ceria, “hei, teman-teman, ayo kita pergi, Lulu-san juga ikut, katanya”


Apa??


Dua puluh menit kemudian aku sudah di seret ayumi kewarung udon* pinggir jalan dekat kantor bersama sepuluh orang lainnya. Jam menunjukkan pukul sembilan malam dan aku gelisah tidak karuan. Aku sudah menghubungi Arai, dia bilang tidak apa-apa. Tapi akunya yang kenapa-kenapa. Aku ingin cepat menyelesaikan pekerjaan dan pulang. Aku ingin bersama Arai lebih lama dari pada biasanya.


Aku tanpa sengaja duduk didepan Tatsuya senpai. Aku tersenyum kepadanya, dia juga balas tersenyum. Disampingku duduk ayumi dan Hasegawa yang sedang mengobrol sesuatu berkaitan dengan festival musim panas. Aku belum pernah mengikuti festival itu, aku dan arai selalu melihat kemeriahan festival kembang api itu dari jendela apartemen dan membahas apa saja mengenai jepang yang aku kurang tahu atau membahas topik-topik menarik lainnya.


“are*? Kok senyum-senyum sendiri?”


“hah?” Aku melihat Tatsuya sedang memangku tangan didagu “aah, itu... cuman mengingat hal lucu.” Tatsuya masih memandangku, tatapannya itu aneh sekali, membuatku jengah. Ketika pesanan sudah diantar kemeja aku cepat-cepat melahapnya tanpa memandang Tatsuya lagi. Suasana macam apa ini, kenapa aku jadi canggung melihat wajahnya. Aku harus cepat lalu kembali kekantor dan pulang.


“direktur,” panggil Ayumi, “direktur sudah punya pacar?”


“hei, kau mau berpaling dariku?” bisik Hasegawa tapi masih bisa kudengar dan disusul kata “ouch” ku lirik mereka, Ayumi tadi mencubit pinggang hasegawa. Aku tak peduli lagi mereka ini ngapain, yaampun, ini mie panjang banget nggak putus-putus.


“pribadi sekali pertanyaanmu, Fujioka-san” semua terdiam, Ayumi nyengir, mungkin karena mereka semua ingin tahu status direktur tampan ini. Yah, kecuali aku, Tatsuya masih sendiri. Dia mengatakan padaku ia menyukai seseorang tapi orang itu tidak tersentuh akan pesonanya. Polos sekali ya perempuan itu, ditambah bodoh.


“mm, bagaimana ya mengatakannya.” Tatsuya senpai mengaduk mie udonnya, aku melihatnya sambil mengingat-ngingat tadi aku mengaduknya atau tidak, ya. Aku memandangi mangkukku. Berantakan. Berarti aku mengaduk super dahsyat.


“aku masih sendiri” katanya lagi, wah, tak apa nih, dia mengungkapkan identitasnya? Pasti banyak yang mengejarnya nanti. Pekikan girang dan centil terdengar didekatku, aku tak tahu siapa yang kegirangan begitu.


“tapi, ada seseorang yang aku sukai”


semua terdiam. Aku menyeruput mie udon-ku lagi, kali ini lebih pelan, apa kali ini Tatsuya senpai akan mengatakan siapa orang beruntung itu.


“siapa, direktur?” tanya seorang perempuan di ujung meja. Aku tidak bisa melihat wajahnya.


“apa orang satu kantor juga?” tanya Ayumi. Ah, benar juga, ya. Siapa ya, apa dari manajemen lain? Ayumi menyenggolku, apa sih? Dia tersenyum mencurigakan.


“iya” jawab Tatsuya senpai seraya menyuap mie udonnya. Sorak riuh rendah terdengar. Wah, benar-benar orang kantor? Dan hebatnya Tatsuya malah menjawabnya dengan santai.


“tapi...” semua menahan napas mendengar kelanjutan cerita Tatsuya, aku juga merasa ini adalah hal penting berhenti makan, dan melihat Tatsuya memandang mangkuk mienya, tak disentuh lagi. “dia sudah memiliki seseorang yang dia sukai” tatapannya menuju padaku. Semua orang ber-ooh sedih. Ayumi dan Hasegawa saling berbisik.


Aku balas menatap Tatsuya senpai, tatapan sedihnya, tatapan mendamba. Seperti petir menyambar. Dadaku tiba-tiba serasa berat, berdebar sedih, dan mulas. Jadi inilah kenyataannya. Bahwa orang bodoh yang buta akan rasa sukanya itu adalah aku. Aku orangnya.


“ceritakan tentang gadis itu, direktur. Duh, kok bodoh sekali, ya dia” kata seseorang disana


Aku masih melihat tatsuya senpai, begitu juga sebaliknya. Mungkin semua orang mengira aku terlalu menyimak maka tatsuya senpai hanya memerhatikan aku. Tanganku gemetar, aku meremasnya.


“dia, pertama kali kujumpai saat sedang ke toko buku” aku ingat itu “ ...lalu aku tanya padanya, ‘sedang mencari apa, nona?’ dia menjawab ‘oh, kamus bahasa jepang dan...’” Indonesia. Aku ingat itu. Waktu itu, dia membantuku mencarikan kamus tersebut, dan bertanya, apa aku berasal dari indonesia. Mulai hari itulah aku mengenalnya dan sering mengobrol dengannya. Tatsuya senpai berpaling lalu tersenyum ke semua orang “sudah, begitu saja.”


“yaahhh, nggak asyik, ceritakan lagi. Ceritakan kenapa dia nggak tahu. Dan tolong kasih tahu kami ciri-cirinya.”


“wah,” jawabnya “itu berat sekali. aku tak bisa mengatakannya”


Berat. Pasti begitu. Dia menyukaiku, aku menyukai orang lain saat itu. Dan aku tidak sadar atas segala perhatian juga penghiburan yang dia berikan padaku. Aku benar-benar hanya menganggapnya sebagai orang yang menolongku. Bukan seseorang yang memberikan hatinya padaku.


“apa dia, jahat?” bisik seseorang. Jahat, itu kata yang kejam. Apa memang aku sejahat itu? Aku ingin tahu jawabannya, aku memberanikan diri menatap Tatsuya senpai lagi dan kami bertemu tatap. Dia terdiam lama, aku mencari emosi dimatanya, apa aku jahat?


“dia tidak jahat.” Katanya. “dia bukan orang yang pura-pura bodoh atau jual mahal. Dia bukan orang yang seperti itu.” Dia terdiam lagi lalu tersenyum padaku “karena itulah, aku menyukainya.” Dia tidak bercanda, matanya juga tak berpindah dariku. Aku mencari-cari alasan dikepalaku untuk bangkit dan pergi dari sana, namun pernyataan Tatsuya selanjutnya membuatku terkejut dan alasan-alasan untuk pergi dikepala meledak seketika.


“tapi, bila nanti dia bersedih atau bimbang pada keputusannya, aku akan menyalakan cahaya cintaku lagi, lebih terang dari sebelumnya, agar dia tahu bahwa aku belum menyerah untuk menyukainya.”


\*\*\*