
*Aku memang sendiri, tapi aku pandai menghibur orang dengan sihir jalananku,
-Arai*
“Lulu\-san”
Aku membuka mata dan mencari orang yang memanggilku barusan. Hasegawa Fujiki berdiri meletakkan tangan dipembatas dinding meja kerja. Aku menatap layar komputer yang masih menyala dan kalimat menggantung yang hendak kuketik.
“aku ketiduran, maaf.” Berbohong itu gampang, yang sulit adalah menyembunyikan ekspresi bersalahku karena bolak balik tidur saat bekerja.
“kau tidak pulang? Jam kerja sudah habis dari dua jam lalu”
“masih ada siapa?”
“kamu, aku, direktur, dan Ayumi”
“Tatsuya senpai* belum pulang? Tumben”
“hei, hanya kau yang manggil dia senpai. Hati-hati. Orang akan berfikir kau ini orang mesum”
Aku menatap layar komputer dan menutup semua program lalu mematikan komputer “tapi, kalau bukan kebaikan beliau, aku sudah luntang lantung di Tokyo. Baik sekali dia memberiku jabatan editor untuk penerbit buku begini” Hasegawa Fujiki masih menatapku saat aku membereskan meja dan menyampirkan tas.
“ada apa?” tanyaku.
“kau yang kenapa.”
“aku? Memang kenapa?”
Hasegawa Fujiki menarik napas “ya ampun, auramu itu, seperti kehilangan suami saja. Aura kesedihan. Jangan ketawa, aku serius”
Aku berhenti tertawa “aku baik-baik saja. Aku cuman lelah. Aku pulang duluan, ya”
“tidak mau makan malam diluar dulu denganku dan Ayumi? Kami berencana makan diluar bersama kawan SMA juga.”
“loh, bukannya itu dibuat untuk kencan kalian?” Godaku, seketika Hasegawa tersenyum malu. “hei, bukan begitu” elaknya
“nggak bisa, aku harus pulang sekarang. Masakan suamiku lebih leeezat dari makanan diluar”
“yaampun, kau ini. Hati-hati. Katanya lagi musim rampok, ah, mungkin rampoknya juga akan takut sama auramu itu”.
Mungkin, mungkin saja mereka takut, tapi aku lebih ketakutan sekarang, sudah lama aku berjalan dari kantor dan turun ke stasiun kereta api bawah tanah dan suara langkah kaki yang mengikuti dari belakang semakin jelas. Aku tahu aku tak boleh berpikir yang tidak-tidak, tapi semenjak setahun ini, setelah apa yang terjadi padaku setiap malam; kelakuan suami yang menghilang secara misterius dari jendela apartmen lantai paling atas—60, aku memang wajib menjadi paranoid. Aku cepat-cepat mengambil ponsel lalu menelpon Arai, deringnya serasa lama sekali. Tunggu sebentar, kalau orang jahat, mungkin saja bisa kulumpuhkan dengan tendangan mematikan ke ************, namun bila itu—
“HI HI HI HI”
Aku berteriak dan berlari sekencang-kencangnya, Ya Tuhan, itu tadi hantu? Tolong, aku tidak bisa melawan hantu, aku harus pergi dari sini secepatnya, rasanya kakiku sudah akan melayang dari lantai sampai—
“hei! Lulu-san!” aku berhenti lalu melihat kebelakang, disana Tatsuya sedang terbungkuk-bungkuk tertawa histeris, sampai kufikir dia tertawa sambil menangis.
“SENPAI!” aku tak tahu kekuatan yang berasal darimana itu sehingga bisa menimbulkan teriakan, aku menghampirinya setengah berlari lalu memukulnya dengan tas “Kau. Hampir. Membuatku. Mati. Ketakutan!” kataku, pukulan terakhirku akan menyebabkannya lebam, tapi itu sejajar dengan kekagetanku tadi.
“aduh, aduh,” dia menahan pukulanku dengan mudah, lalu merebut tasku “apa sih isinya? Batu bata? Sakit sekali. Tadi kau terbang, ya?” dia masih tertawa “luar biasa larimu.”
“senpai!” Setelah itu, baru aku malu, aku baru saja memukul direktur dengan tas. Aku merebut tas itu dan membungkuk lama. “maafkan saya”
“jangan formal begitu, ini kan sudah bukan jam kerja.”
“senpai, kau percaya superhero?”
“hah?”
“maksudku...” aku tahu itu pertanyaan terbodoh dan tidak bermanfaat selama dua puluh tiga tahun aku hidup, semakin tidak bermutu kalau pertanyaan ini dijawab.
Tatsuya tersenyum “percaya saja, kenapa tiba-tiba nanya gitu?” tuh kan.
Aku tak menggubris pertanyaannya, aku malah balik bertanya “kenapa senpai percaya superhero?”
“kenapa lulu-san percaya hantu?”
“yah, itu...” kenapa ya, aku mendadak jadi orang super ****, padahal jawabannya mudah; karena ada rasa takut dan merinding jadi percaya saja bahwa itu makhluk halus. Tapi, aku tidak mengutarakan ini. “senpai pernah mengalami hal misterius?”
“mmm” senpai memejamkan mata dan mengerutkan kening seakan berfikir keras, “pernah, deh. Dan itu aneh sekali” dia membuka mata dan menatapku lama “saat aku memberi semua pesonaku namun orang itu malah tak tertarik padaku, itu aaaneh sekali, dan masih misteri, apa yang membuatnya tak melihat semua pesonaku.” Memang aneh, memangnya ada orang seperti itu? padahal senpai sangatlah baik. Bila aku tak bertemu dengan Arai mungkin saja aku sudah jatuh cinta pada senpai.
Kereta api berhenti dan orang-orang keluar dari sana. Mataku tertuju pada laki-laki yang turun terburu-buru dan melihat kesekeliling, mendadak aku jadi senang sekali dengan kemunculannya yang tiba-tiba.
“ai-kuuun” sorakku memanggilnya sambil melambaikan tangan padanya. Arai berlari, dia mengenakan sandal rumah dan kaos kedodoran, aku heran sekali dengan penampilannya, dan bertambah heran saat tiba-tiba dia memelukku lama sekali, memegang wajahku dan menatapku. Rasanya wajahku terbakar, Arai melakukannya didepan direktur perusahaan penerbitan buku tempatku bekerja dan sebentar lagi aku pasti di klaim tidak sopan.
“ai-chan, ai-chan, kau tak apa? Apa yang terjadi? Tadi saat ditelepon kamu berteriak dan—ya ampun, jangan tertawa begitu, aku makin khawatir”
“aku tak apa” aku tak bisa berhenti tersenyum dan wajahku semakin memanas “tadi itu direktur yang menjahiliku—tapi aku baik-baik saja, itu hanya bercanda” tambahku ketika pandangan Arai pindah ke arah Tatsuya yang menatap kami—tidak ada tanda-tanda bahwa aku dicap tidak sopan—Mereka saling melihat satu sama lain, lama sekali.
“yah, maaf atas ketidaksopanannya” kata Tatsuya mengawali pembicaraan yang mendadak berhenti “tadi itu hanya...”
Arai melepas tangannya dipipiku, lalu menarikku mendekat dengannya dan menggengam tanganku, menautkan jemarinya. Dia tersenyum pada senpai yang melihat genggaman kami.
“salam kenal, aku Arai, suami lulu-chan”
“ah, emm, Tatsuya Misaka” balas senpai “kalau begitu, kita menunggu kereta selanjutnya?”
Kereta selanjutnya datang, Arai sengaja membiarkan direktur naik kereta duluan, dan kami masuk gerbong lain.
“aku tak suka dengannya” katanya ketika kami duduk, tangannya masih menggenggam erat tanganku.
Aku tersenyum “ai-kun cemburu?”
“sangat” jawabnya lalu meletakkan kepalanya ke bahuku, hidungnya menyentuh leherku, “aku tadi takut sekali.”
“aku tahu,” aku melihat ke arah lantai kereta “sampai kau tak sadar, kalau kau memakai sandal rumah”
“apa?” dia terkejut melihat ke kakinya “ya ampun, memalukan sekali” dia kembali meletakkan kepalanya.
“nggak kok, ini romantis sekali. Kau jauh lebih tampan”
“benarkah? Kau suka?”
“aku suka, kau tampan sekali saat berlari ke arahku tadi.”
Tapi bila nanti aku memang tak bertemu Arai, aku akan mencarinya, berlari kearahnya, seperti dia mencariku dan berlari kearahku tadi. Karena memang, aku benar-benar jatuh hati hanya pada sosok Arai, bukan sosok yang seperti Tatsuya. Dan akan kuusahakan aku tidak akan lagi memikirkan hal yang tidak-tidak pada lelakiku ini akibat keraguan yang kuciptakan sendiri.
***