
...*Sampai aku sadar bahwa mataku terlalu terpaku pada mata indah itu.
-Arai*-
Aku terbangun, Arai menatapku “mimpi buruk?” tanyanya, aku mengalungkan tanganku dilehernya dan memeluknya.
“ada apa?” tanyanya lembut. Aku memang mimpi buruk dan mimpi itu memalukan; Arai tak mungkin akan melakukan hal itu. Arai adalah milikku.
“jangan pergi” bisikku. Mimpi ini muncul karena aku ketakutan, padahal aku sudah berjanji aku tidak akan memikirkan hal yang tidak-tidak.
“aku tidak pergi kemanapun” jawabnya “aku sedang menontonmu tidur”. Bohong. Mungkin suara hatiku ini terdengar olehnya karena dia diam saja, tidak melemparkan gurauan lagi .
“aku tahu, setiap malam kau pergi setelah aku tidur. Kau selalu lupa menutup pintu jendela” tapi, saat kufikir lagi dia bukan lupa menutup jendela, jendela itu terbuka agar dia bisa pulang kembali. “aku tak pernah menutup jendelanya, lho” gurauku. tak ada jawaban, aku menatap dinding dibelakang Arai, aku ingin sekali melihat ekspresi Arai.
“ai-kun, pergi kemana?”
Tidak ada jawaban. Aku tahu ini egois, ada kalanya aku ingin sekali menangis kencang didepannya, agar dia tahu aku takut sekali kehilangannya, tapi kalau sampai dia pergi kepelukan wanita lain setiap malam saat aku tidur, bagaimana aku merebutnya kembali? Sedangkan segala sesuatu tentangnya aku tak tahu, dia itu superhero atau makhluk gaib. Aku gelisah, takut, iri pada orang yang tahu tentangnya. Aku melepas pelukanku, tapi Arai memelukku lagi.
“maafkan aku, jangan salah paham”
Tapi kesalahpahaman sudah ada diantara kami dan itu makin memuncak ketika memasuki musim panas, aku tak sengaja menjatuhkan barang-barang diatas meja saat mencari buku bacaan favoritku.
“aduh, jadi makin berantakan” aku memungut beberapa buku dan melemparkannya ke atas tempat tidur. Bermaksud untuk menyusunnya nanti. “ai-kuun” arai menjawab dari arah dapur. “kok nggak ada, ya. Itu lho, buku yang aku beli di bazar pas malam kita pergi ke pertunjukan hanabi*” Arai menyebut-nyebut lemari rak tengah.
Aku bermaksud untuk menggeser buku yang kubongkar dari lemari buku yang sudah berantakan dimeja, namun sekali lagi aku menyebabkan mereka lecet di lantai. Bunyi gedebuk membuat arai bertanya, “kau baik-baik saja?”
aku menjawabnya sekilas, karena buku yang kucari sudah ketemu, bersamaan dengan suara krak dibawah kaki. Aku tak sengaja menginjak ponsel arai yang terjatuh dari meja bersamaan dengan buku-buku “mampus, gue” aku melihat ponsel tersebut; berbeda dengan ponselku; layar depannya walpaper fotoku dan arai, ponsel arai bertuliskan tulisan kecil-kecil dengan bahasa indonesia sampai sulit kubaca, namun aku tahu itu nama belakang arai “rokugatsu—“ aku terduduk. Arai masuk kamar, menanyakan keadaan. Aku sudah terlanjur marah, jadi selama ini hal yang aku takutkan memang benar-benar ada?
“ai-chan? Kau terluka? Kenapa duduk di lantai begitu?”
Rasanya kepalaku kesemutan, gigiku bergemelatuk, tanganku sudah dingin dan kaku. Dengan gemetar aku menyerahkan ponselnya. Dia tidak terkejut melihat ponselnya rusak, aku juga tidak mencoba untuk berkata maaf.
“tidak apa, nanti kan bisa di perbaiki”
“siapa Mikka?” suaraku serak, aku tahu sebentar lagi pasti akan menangis, atau tertawa gila karena mengetahui perselingkuhan suami. “jadi, Mikka itu... orang yang kau temui saat aku tidur?” aku berdiri dan mondar-mandir didepan Arai, mengontrol perasaan marah dan keinginan untuk meninjunya atau menendang tulang keringnya.
“jangan ambil kesimpulan begitu”
“terus, aku harus berfikir keras, begitu? Soal...soal ini? Soal siapa perempuan itu?”
“jangan berteriak begitu, ai-chan”
“jangan. Panggil. Aku AI-CHAN!”
“ai-chan” dia menghampiri dan mengusap pipiku, aku belum mau menangis, tapi perlakuan lembutnya yang begini membuat dadaku sesak, mataku memanas. Dan kali ini aku malah berteriak-teriak seperti orang gila bukannya tertawa. Aku menepis tangannya, menatap matanya.
“kumohon, beri tahu aku tentang dirimu” agar aku tidak tersesat, agar aku tidak ragu.
Sejak hari itu, kami tidak lagi bertengkar tapi tidak kembali menjadi semula, karena aku yang memulai bersikap dingin. Aku tidak lagi berteriak-teriak dan aku juga tidak memeroleh jawaban dari Arai.
Dia beraktifitas seperti biasa, bersikap kepadaku seperti yang dilakukan, tersenyum dan perhatian tapi aku tidak. Aku tidak menggubris segala leluconnya, aku tidak menggubris tawanya, tidak membalas pelukannya kala malam. aku banyak menghabiskan waktu dikamar, membaca buku atau menatap dinding. Segala hal yang bersangkutan dengan arai seolah membuat dadaku sesak dan perih.
“tadaima”
“okaeri” gumamku pelan tidak bernada. Aku bangkit dari sofa, mematikan televisi lalu menuju dapur, menyiapkan makan malam untuk Arai. Arai menghampiriku, memeluk pinggangku dan mengecup keningku, lama. Aku tidak membalasnya.
Dia mulai bercerita tentang hari ini saat dia memainkan sulap untuk anak-anak. aku setengah mendengarkan, setengah lagi fokus pada makan malam. Dia terus bercerita, seolah mengungkapkan “dengarkan curhatku, deh” hanya itu yang bisa diceritakan. Kepalaku sakit, memangnya aku ini apa? buku diari pekerjaannya? Aku butuh cerita lain, cerita tentang Mikka. Pengungkapan identitas terbesar dalam hubungan mereka.
“...mereka senang sekali, aku juga diundang ke acara ulang tahun seorang anak oleh bapak-bapak yang menontonku, aku ingin sekali, tapi aku tidak bi—“
“aku mau tidur” aku bangkit dari kursi, memijit pelipis. Hendak memulai perang.
Arai ikut berdiri dan menghampiriku “kau tidak apa-apa?” ia memegang pelipisku.
“aku baik-baik saja” tubuhku memanas karena amarah. “aku mau tidur” aku menepis tangannya. Ia beralih menggenggam jemariku.
“ayo, istirahat saja”
Aku melihat ke meja, ke piring arai. “kau belum selesai makan. aku bisa kekamar tidur sendiri”
“aku sudah kenyang, ayo” ia menarikku lembut. Memulai perang apanya? Aku terlalu luluh dan bahagia dengan perlakuannya, terlalu sedih pada hatiku yang mengemis pengungkapan. Aku kalah dalam hal kasih sayang dan perhatian, Arai dapat menaklukan hatiku secepat angin. Aku semakin takut tersandung dan disepak oleh perempuan yang tertawa kejam, memaksaku untuk turun dari panggung.
Ketakutanku berubah menjadi mimpi buruk dan bentakan yang seharusnya tidak pernah ada. Kepalaku semakin sakit, setiap hal kecil kumulai dengan amarah dan sikap setengah hati. aku mengabaikan, berteriak, menangis sebanyak yang aku bisa dikamar mandi. Semakin tidak membaik saat Arai pergi pada malam hari.
Aku jatuh sakit. Hari itu pagi-pagi sekali aku bangun, bersiap-siap kekantor untuk menghindari Arai tapi Arai bangun lebih pagi lagi sekarang sedang menuang nasi untukku, memanggil, aku menjawabnya dan bergumam tak lapar. Sentakan ditanganku membuatku kaget, Arai menarik tanganku dan meremasnya,
“kamu curiga padaku?” Kalau sudah tahu, buat apa lagi bertanya, memangnya aku menikah denganmu ini asal menikah saja?
Arai melepas tanganku, rambutnya kusut, wajahnya lebih pucat dan berkantung hitam sekarang, ia mengusap wajah dan menyisir rambutnya dengan jari, frustasi. Sama sepertiku. ia dengan sabar menghadapi kemarahan terang-teranganku seminggu ini, sekarang ia mungkin sudah tidak tahan. Sebentar lagi dia juga akan berteriak, membentak, marah...
“apa yang ai-chan mau?”
“menurutmu?”
Ia lama sekali terdiam, lalu berkata “tapi, aku tidak bisa” aku menganga, mengertakkan gigi. Ia tidak bisa? Arai memandangku sendu, tidak ada amarah, atau keinginan untuk berteriak padaku dan itu malah semakin membuatku kesal, buntu. Lagi-lagi kembali ke awal; Penuh dengan rahasia.
“baik.” Aku bergegas memakai sepatuku, dan menyampirkan tasku “baiklah” padahal aku hanya cukup bersabar dan tidak usah marah-marah lagi, “baiklah. Kau tak mau jujur kan? bersenang-senanglah dengan Mikka-mu!” dan tidak perlu menyebut nama perempuan itu lagi. BRAK!! atau membanting pintu.
***