
Lamborghini Aventador Adalah mobil ke dua Will dengan warna orange on back, ia juga mempunya beberapa mobil di garasi.
sepanjang perjalanan, di dalam mobil hening hanya ada kendaraan di luar yang berlalu lalang.
Di tempat lain:
Malam hari di London
di London terasa begitu dingin karena salju turun deras. Di tambah desiran2 udara yang menusuk.
Di dalam ruangan khusus terdapat pria tampan dengan tinggi 182 cm, sedang berdiri di depan kaca yang lumayan besar, yang menunjukkan kota London di malam bersalju
“bagaimana aku bisa pulang ke Beijing, Kalau turun salju begini” gumam seorang lelaki tersebut, tak lain Justin Ever Rafael Vernando.
Seorang Aktor dan penyanyi nomor 1 di London. Ia lelaki dengan wajah yang begitu tampan membuat kaum hawa tertarik. meskipun seorang playboy ia tidak pernah berhubungan serius dengan lawan jenisnya dan ia menganggap wanita sebagai mainannya. Dengan sifatnya yang santai, licik, dan ramah menambah kesan tersendiri bagi Justin.ia juga lumayan blak blakan,dan ia kebalikan dari kakaknya.
“kak” saat ini Justin sedang menelepon kakaknya.
“ ada apa” jawab sang penerima ketus.
“ aku akan pulang minggu depan” kata Justin sambil mendudukkan dirinya di kursi dekat jendela.
“ hemmm” jawab kakaknya santai
“ baiklah aku tutup” Justin tidak menyukai jawaban kakaknya “hemmm ia kesal lalu menaruh kasar ponselnya di nangkas.
Di tempat lain:
Beijing
“ dasar kurcaci pengacau” gerutu Will.
“ Sudahlah” kata Audy, ia tak ingin ikut campur dengan urusan Will
Saat ini mereka telah sampai di rumah sakit 15 menit yang lalu.
“tuan sa..” ia membuka percakapan tapi terpotong.
“ jangan panggil aku tuan, cari panggilan yang lain kau kira aku setua itu apa, aku ini masih muda” jelas Will panjang kali lebar, Audy yang mendengarkannya hanya bernganga tidak percaya, pasalnya ini kali pertama Will bicara sepanjang ini.
“ Em baiklah bagaimana dengan kak?” tanya Audy sambil menopang dagunya di atas kasur.
“ hemmm” jawab Will santai sambil berjalan ke arah sofa untuk merebahkan dirinya.
Will menatap Rara yang saat ini masih berbaring di atas ranjang.
“sangat baik tuan” jawab Audy sambil tersenyum.
“ wah Boy kau hampir mengalahkan ketampananku” gumam will natdis dan mengangap dirinya yang paling tampan. Memang will pernah bertemu tapi ia tak pernah menatap rara selama ini.
Devanold Raaey Verren atau di panggil Rara ia masih berumur 15 tahun. Saudara dari Audy. Bocah yang sudah duduk di bangku kelas dua belas sekolah menengah atas, dengan wajah yang sangat tampan dan umurnya masih kecil tapi kecerdasannya hampir sama dengan Audy. Ia memang Genius. setiap tahun ia mengikuti berbagai lomba dan Olimpiade. Ngak hanya itu juga sifatnya hampir sama dengan kakak laki2nya dingin dan sangat cuek bahkan orang terdekatnya juga.
“ ehem, tuan eh maksudku kak” kata Audy membuyarkan lamunan will
“ hemmm” ia yang mendengar teguran Audy, will gelagapan tapi ia sembunyikan dengan sifat dinginnya
“ Anda membutuhkan sesuatu?” tawar Audy,
“ belikan aku minum” jawab will singkat, saat ini ia masih berdiri di samping ranjang Rara. Saat mendengar jawaban will, Audy langsung bergegas ke supermarket untuk membelikan minum will.
“ kak” ucap Rara yang saat ini baru sadar, ia memegang kepalanya karena pusing.
“ kakak mu masih keluar” jawab will singkat. Ia mulai membantu Rara bangun dan menawarkan minum. Rara hanya diam dan menatap tajam ke arah will.
“ siapa kau?” tanya Rara ketus.
“ Will” jawabnya singkat.
Selang beberapa saat, Audy masuk sambil membawa air minum. Ia terkejut saat melihat Rara sudah siuman,
Audy langsung lari dan menghampiri Rara, ia memeluk erat rara
“ dik bagaimana dengan keadaan mu? Apa kau butuh sesuatu? Apa kepalamu sakit?” tanya Audy bertubi2, rara yang mendengar ocehan kakaknya hanya bisa memutar bola matanya malas.
“ hanya pusing sedikit” jawab Rara singkat, Audy langsung melepaskan pelukannya dan mencium kening adiknya.
“ kak aku sudah besar” ia langsung mengusap dahinya, Audy terkekeh dengan perkataan dan tingkah adiknya.
“iya2 aku tahu itu” kata Audy sambil memberikan minum kepada will. Will menerimanya.
________////
Happy reading, sampai jumpa di Episode selanjutnya