My Great Wife

My Great Wife
7. Pingsan



"Sayang bangun ini sudah siang. Apa kamu tidak bekerja." Teriak Ibu dari balik pintu. Sudah berapa kali anak gadisnya telat bangun. karna semalam pulang larut malam. Sudah satu minggu ini Fitri selalu pulang terlambat gara-gara Pangeran Gilanya itu.


"Astafirullah. Bisa-bisanya aku ketiduran lagi."


"Iya ibu sebentar lagi Fi keluar." Teriaknya. Sebenarnya Fitri sudah bangun untuk sholat Subuh. Mungkin karna kecapean dia tidur lagi. "Sudah satu minggu ini aku kesiangan terus Ahh, aku benar lelah."gumamnya sambil merapika bajunya.


Seperti biasanya mereka selalu menyempatkan sarapan bersama. Ini sudah tradisi di kelurga Fitri. Di sini juga ad Meli. Iya Meli selalu sarapan di rumah Fitri karna itu kemauan Ibunya Fitri. Dan Meli tidak bisa menolaknya.


Di meja makan sudah ada Iyan yang sudah menunggu. Iya Iyan tidak perna terlambat kalau soal makanan, makanya badannya gemuk, tapi Fitri menyukai adiknya seperti itu biar bisa di cubit pipinya.


"Ibu kenapa kakak, lama sekali, tidak tau apa ini sudah siang, aku belum sarapan. Dia mau aku di marahin guruku." ucap iyan kesal.


"Sabar ya syang. kakak mu pasti kecapean, sudah berapa hari ini kan kakak mu itu pulang malam." Ucap Ibu Lia menenangkan anak bungsunya. Tidak lama setelah percakapan itu Meli pun masuk dan mendengar ucapan Ibu kalau Fitri sudah seminggu ini lembur dan dia tidak tau.


"Assalamualaikum."ucap Meli sambil menyalami Ibunya Fitri. "Ibu serius kalau Fi, selalu lembur dan pulang malam." ucapnya lagi


"Iya kak. Kak Fi selalu pulang malam. Kasian kak Fi kak." Iyan yang menjawab. Ibu yang mendengar jawaban Iyan pun menepuk jidatnya. "Maafkan Ibu sayang, Fitri yang menyuru Ibu untuk tidak memberi tau mu, karna Fitri tidak mau kamu mencemaskannya." ucap Ibu.


"Pantas saja, dia selalu tidak mau pulang barengan, jadi ini alasannya, aakkhh anak itu selalu semaunya sendri, kalau dia kenapa-kenapa gimanai Ibu."Ucap meli kesal. Ibu cuman bisa meminta maaf karna dia tau sahabat anaknya ini sangat menyayangi anaknya.


Disaat Meli masih kesal, Fitri keluar dari kamarnya dan langsung di marahin oleh sahabatnya itu. "Kamu keterlaluan Fi, bisa-bisanya kamu lembur kerja tapi tidak memberi tau ku, kamu lihat sekarang wajah mu pucat sekali, kamu itu tidak bisa terlalu capek Fi, sebaiknya kamu istirahat saja." ucap Meli


"Tidak mau Mey, kalau aku istirahat aku tidak bisa bertemu dengan pangeran ku." Ucap Fitri sambil berbisik karna tidak mau kalau di dengar Ibunya.


"Iya sayang, benar kata Meli sebaiknya kamu minta izin buat istirahat. Ibu tidak mau kamu kenapa-kenapa." ucap Ibu


Tapi Fitri bersikeras tidak mau. Alasan bukan hanya untuk bertemu pangerannya tapi dia harus mengumpulkan uang demi Ibu dan adiknya.


...............................................................


Seperti biasa, Dedi selalu memberikan pekerjaan buat Fitri.


"Kamu serius Ded. Kamu tidak kasihan dengannya seprtinya dia kelelahan, kamu tidak lihat tadi, dia kelihatan pucat. Aku yakin dia sedang sakit. ded." Ucap Riko


................................................................


Ruangan Rapat


Di saat rapat sedang berjalan ada salah satu klien menegur Fitri.


"Maaf sebelumnya, mbak kenapa ya kalau mbak sakit sebaiknya mbak istirahat dulu, karna mbak kelihatan pucat." Ucap salah satu klien. Karna melihat wajah Fitri yang pucat sontak semua orang yang ada di ruangan tersebut melihat ke arahnya termaksud Dedi.


"Benar dia terlihat sangat pucat. Apakah aku kelewatan menjahilinya." Gumam dedi


Tidak lama setelah itu. Fitri pun pingsan dan tidak sadarkan diri beruntung ada Dedi yang sigap menangkapnya. Kalau tidak mungkin kepalanya akan terbentur lantai. Sontak semua orang panik dibuatnya. "Cepat siapkan mobil." Perintah Dedi.


Riko pun belari keluar untuk menyiapkan mobil. Meli yang melihat Riko berlari pun menghampiri "Ada apa pak, kenapa bapak berlari." ucap Meli panik. Tapi di abaikan oleh Riko, tidak lama setelah itu keluarlah Bosnya Dedi dengan menggendong seseorang. Dan Meli mengenali orang tersebut.


"Ya Allah Fi. ucap Meli panik sambil menghampiri Bosnya itu. "Fifi kenapa pak, kenapa dia bisa pingsan." Ucapnya lagi sambil mengikuti Bosnya itu.


"Saya juga tidak tau. Kamu temannya kan sebaiknya kamu juga ikut. Saya tidak mau di repotkan nantinya." Ucap Dedi tegas.


"Baik Pak." ucap Meli Dan sekarang mereka sudah menujuh rumah sakit terdekat.


"Semoga kamu tidak apa-apa Fi, aku tidak bisa membayangkan kalau sampai kamu kenapa-kenapa." Ucap Meli sambil menagis


"Dia kenapa, apa dia selalu menagis seperti ini. Lagian temannya itu kan cuman pingsan." Gumam Riko sambil melirik Meli.


Iya Riko sudah mengingat siapa wanita di sampingnya ini, karna beberapa hari yang lalu Meli menemuinya untuk mengembalikan sapu tangannya itu.


"Dia kenapa, gadis inikan cuman pingsan tapi dia menagis segitunya." Gumam Dedi sambil menatap Gadis yang berbaring di pangkuanya. "Tapi di sisi lain kenapa hati ini sakit saat dia terbaring lemah seperti ini. Tidak-tidak mungkin aku cuma kasian dengannya." Gumamnya lagi menyangkal apa yang ad di hatinya.


Bagi mereka mungkin pingsan hal biasa buat orang yang kelelahan. Tapi bagi Meli tidak, dia sangat tau sahabatnya tidak boleh kelelahan.


Bersambung