
***
"Audy, dy.. AUDY" panggil Niha meninggikan suaranya,
"eh kaget?" Audy lagsung terperanjat kaget karena suara Niha yang keras.
" apa sih?" sambung Audy,
" kenapa bengong, dari tadi aku tu sudah manggil manggil kamu, eh malah ngak di jawab" katanya sambin ngedumel ngak karuan,
tiba tiba dosen masuk, membuat semua seisi kelas seketika hening karena kedatangan dosen killer,
" siang semua" suara di buka oleh sang dosen dengas suara khasnya, dingin
"siang pak" jawab mereka kompak,
"baiklah kita mulai ke...." ucap sang dosen berhenti,
"sil geser sempit ni" bisik Aurel,
"enak aja" gerutu Selsil
"kenapa ribut?" tanya dosen sangat dingin, ia sangat membenci murid yang mengobrol saat kelasnya berlangsung,
seketika sila menegang dan gemetaran karena aura sang dosen,
" aaaa nuu pak sa.." ucapnya gemetaran, dan terpotong
"KELUAR" bentak sang dosen ia adalah Chen,
" ta api pa a" ucapnya terbata bata dan saat ini tubuhnya semakin dingin,
"Saya tidak suka di bantah jadi silahkan keluar (menunjuk pintu), CEPAT" perintah Chen dengan bentakan,
dengan terpaksa Sesil dan Ariel keluar kelas dengan kepala tertunduk,
"bersihkan halaman, tidak ada penolakan" perintah Chen dengan suara merendah tapi dengan tatapan tajam,
" i iya pak" jawab Sesil dan Ariel serempak dan terbata bata
***
"ih pak Chen serem, aku sampai merinding" Niha bergidik sambil mengelus lengannya,
"sudahlah, itu kan salah mereka,cepat habisakn makan-nya" kata Audy sambil mengelangkan kepalanya, ia tak mau membahas siapapun saat ia makan
kelas sudah selesai lima menit yang lalu, saat ini Niha dan Audy sedang berada di kantin sambil menyantap makanannya yang mereka pesan
"Dy" panggil Niha di sela2 makannya,
"hemm" Audy hanya mendehem,
"kan bentar lagi kita lulus nih, kamu rencannya mau kemana?" tanya Niha,
perkataan Niha membuat Audy menghentikan makannya dan berfikir sejenak, lalu ia berkata,
"pengennya sih nganjutin S2, tapi lihat keadanya nanti" katanya, dan kembali menyantap makanan yang ia hentikan tadi
"oh, iya bagaimana adik mu?" tanya niha lagi,
"dia baik" jawab Audy singkat
hening, setelah percakapan tersebut semunya tidak ada yang membuka suara kecuali suara detingan sedong dan garpu. beberapa saat kemudian bel masuk tiba, mereka segera masuk mekelas untuk melanjutkan pelajarannya,
***
" bacakan jadwal meeting saya hari ini?" tanya Will membuka percakapan, tanpa menoleh ke pandangan lain
"baik bos (mengeluarkan iped),meeting akan di dua jam lagi, kali ini kita akan meeting dengan investor jepang proyek kerja sama pembangunan hotel " jelas Kim,
"baiklah siapkan mettingnya, dua jam kita mulai mettingnya" titah Will, mengalihkan pandangan dan menyenderkan tubuhnya di kursi,
"baik bos" kata Kim menunduk, lalu pamit
"satu lagi, setelah ini kosongkan jadwalku, dan atur ulang" kata Will menghentikan Kim,
"baik, ada lagi bos?" tanya Kim menghadap ke Will
"tidak, lanjutkan pekerjaanmu" jawab Will,
"siap" Kim segera bergegas keluar ke ruangan Will,
***
Kim jiukyung
wajah tampan dan tentunya juga tinggi, berasal dari Seoul, Korea Selatan, ia sudah lama mengapdi dengan keluarga vernando tiga tahun lamanya,
ia adalah asisten pribadi, sekretaris, sekaligus teman dekat Will. Di kantor begitu formal sedangkan di luar ia bebas tidak seperti di kantor. mereka berdua sudah seperti saudara, kadang saling cerita bahkan masalah pribadi, bercanda bersama,
***
dua jam kemudian, saat ini di ruangan metting semua sudah berkumpul,
" baiklah, kita akan memulai mettingnya"
.
.
.
beberapa jam kemudian,
"baiklah metting kali ini kita tutup" kata Will dingin saat metting sudah selesai, semua membubarkan diri, Will dan Kim masih berada di tempat,
"Kim kita ke kampus, jemput Audy sekaligus ke rumah sakit" kata Will dingin membuka suara saat semua orang sudah meninggalkan ruang metting,
"baik" jawab Kim,
***
(Keanzia Maudy)
(Lucas William Vernando)
Devalold Raaye Veren (Rara)
Kim Jiukyung (Kim)
○ To be continued \=\=\=\=\=\=\=>