My Great Wife

My Great Wife
3. Apa seperti ini rasanya



Mendengar ucapan meli, sontak Fitri mengikutinya untuk pulang karna tidak mau ibunya mengkhawatirinnya walaupun merasa kesal karna pangerannya belum menyebutkan namanya.


Tapi di sisi lain ia juga tidak mau membuat ibunya khawatir.


Saat di dalam perjalanan Fitri memasang wajah cemberutnya, karna masih kesal dengan sahabatnya ini, tidak bukan. Dia kesal kenapa laki-laki itu sama sekali tidak merespon saat di dekati.


"Fi, kamu kenapa si, ucap meli yang melihat Fitri sedari tadi diam dan memasang wajah cemberutnya."


"Aku benar-benar kesal dengan mu, kamu tau kamu mengagalkan acara perkenalan ku dengan pangeran ku." ucap Fitri sambil membuang muka sambil menyilangkan tangannya di dadanya.


Terkejutnya dengan apa yang di katakan Fitri. "What Fi pangeran sejak kapan kamu bersikap seperti ini, kamu sadarkan apa yang kamu katakan." ucap meli


Di sela-sela percakapa mereka, telvon Fitri berbunyi siapa lagi kalau bukan ibu yang menelvon jam segini. karna mengkhawatirkan anak-anak gadisnya.


Setelah menirima telvon dari ibu mereka pun tidak melakukan percakapan apa-apa sibuk dengan pemikiran masing-masing.


Setelah menempuh perjalanan 45 menit akhirnya taxsi mereka pun sampai di depan rumah yang tanpak sederhana, namum bersih dan rapi, ya disinilah Fitri, keluarga dan Meli tinggal, sebelum meli memilih tinggal sendiri.


Akhirnya mereka sudah masuk di kamar, setelah di introgasi oleh ibu, ya ibu selalu menayakan apa yang kami lakuin di luar kalau kami pulang malam. Bukan apa-apa yah gusy itu bentuk kasih sayangnya pada kami, kami juga tidak masalah.


Seperti biasa mereka bergiliran mandi dan sholat isya bersama, ya mereka tidak pernah melewatkan satu waktu pun kecuali lagi halagan. Setelah sholat mereka pun bersiap buat tidur.


Tapi sebelum tidur, Fitri memulai bercakapan karna dia sudah tidak tahan lagi untuk menanyakan hal ini pada sahabatnya, hal hasil mereka pun berbincang sambil tiduran.


"Mey menurut kamu, dia seperti ap." ucap Fitri yang tiba-tiba karna sedari tadi Fitri pengen menanyakan ini, karna tau persis sahabatnya paling ahli soal Laki-laki.


Bingung "Siapa,? laki-laki itu." lansung tau arah percakapan yang di maksud sahabatnya itu.


"Ia siapa lagi meymey ku sayang, pasti pangeran aku lah, oh iya mey Apa seperti ini rasanya jatuh cinta, ah aku bisa gila dibuatnya." Ucap fitri sambil memeluk boneka kesayanganya.


"Eemmmmh, tidak masalah bagi ku laki-laki seperti itu lebih menantang." semoga kita bisa bertemu lagi pangeranku gumamnya


"Terserah kamu aja Fi, aku akan selalu mendukung mu, ucap meli sambil memiringkan badannya menghadap sahabatnya itu.


mudah-mudahan dia juga bisa membalasa cintamu karna kamu sudah banyak menderita Fi, gumamnya meli sambil melihat sahabatnya yang mulai terlelap.


.....................................................


Flasback on


Pagi itu di ruang meja makan, keluarga anggara sedang meningkmati makanan dengan hening sebelum mama Ayu memulai percakapan.


Marah dan membanting sendok yang di penggannya "Ma dedi, masih bisa mencari pasangan sendiri gak perlu mama harus menjodoh-jodohkan Dedi dengan anak temen mama lagian menikah itu harus dua orang yang saling mencintai." ucap dedi


"Ded, bicara yang sopan dengan ibumu. Lagi pula apa yang salah dengan perjodohan ini ahh, menenangkan mama Ayu yang sudah menagis". ucap papa Revi,


Dedi pergi meninggalkan mereka dan tidak melanjutkan makananya. "Riko tolong kamu kejar Dedi ya sayang mama gak mau di kenapa-kenapa. ucap mama aku ke Riko. Riko pun segera berlari menyusul Dedi setelah berpamitan.


Karna tau kalau Dedi lagi marah selalu mengendarai mobil dengan ugal-ugalan.


"Maaffin mama ya pa, mama gak bermaksud buat Dedi marah." ucap mama yang merasa bersalah.


"Tidak perlu minta maaf ma. Gak ad yang salah." ucap papa sambil menenagkan mama Lia.


**flashback end


B**ersambung