My Great Wife

My Great Wife
6. Mama Ayu dan Ibu Lia



Setiap hari di pusat perbelanjaan ini selalu ramai, pasalnya di pusat perbelanjaan inilah semua kalangan dari menengah kebawah maupun menengah keatas bisa berbelanja di tempat ini.


Di sinilah tempat yang sering Fitri dan Ibunya membeli kebutuhan dapur maupun kebutuhan Iyan adiknya.


Tapi kali ini Ibu Lia tidak di temani oleh Fitri pasalnya, Fitri masih kerja dan bukan hari libur juga. Biasanya mereka pergi pada akhir pekan, tapi hari ini keperluan dapur sudah habis kalau menunggu akhir pekan mereka bisa-bisa tidak makan.


Disaat Ibu Lia sedang asyik memili keperluan dapur. Tiba-tiba pundak Ibu Lia di tepuk oleh seseorang, sontak Ibu Lia pun kaget. siapa lagi kalau bukan Mama Ayu. Iya Ibu Lia dan Mama Ayu adalah sahabat dulu waktu masih sekolah. Karna Mama Ayu dulu pindah, karna ayahnya di pindah tugaskan.


"Lia, kamu benar Lia kan, Lia safutri sahabat ku."ucap Mama Ayu semangat sambil memanggang bahu Ibu Lia. "Ini aku Ayu, Lia kamu kemana aja aku sudah lama mencari mu aku sangat merindukan mu." Mama Ayu memeluk Ibu Lia dengan erat.


"Ayu. Aku juga sangat merindukan mu Ayu. Tapi bisakah kau tidak memeluk ku dengan erat seperti ini. Kau mau membunuh ku?" ucap Ibu Lia. karna Ibu Lia hampir kehabisan nafas dibuatnya.


"Kau selalu seperti ini, selalu memeluk ku dengan erat lalu kau pasti meminta maaf." Ibu Lia memegang Telinga kirinya lalu memasang wajah melasnya. "Seperti ini, maafkan aku Lia aku terlalu bahagia." Ucap Ibu Lia sambil memperagakan gaya Mama Ayu dulu. sontak mereka tertawa bersama


"Kau masih mengingatnya, tapi kali ini aku tidak mau meminta maaf. Tapi aku mau mengajak mu buat datang kerumah ku sekarang, sekalian ku perkenalkan kamu dengan suami dan anak ku. Ucap Mama Ayu


"Ayu maafkan aku. Sebenarnya aku mau, tapi aku tidak bisa kalau sekarang, anakku pasti sudah menuggu di rumah." ucap Ibu Lia.


Sontak membuat mama Ayu sedih, dan Ibu Lia melihat berubahan di wajah sahabatnya itu. "Maafkan aku Ayu bagiamana kalau akhir pekan kita bertemu di taman xxx. Sekalian aku perkenalkan dengan anak perempuan ku,bagaimana kamu mau." Ucap Ibu Lia


Lansung di setujuhi Mama Mama Ayu "Baiklah aku akan menunggumu di sana. Kalau anak ku tidak sibuk aku juga akan mengajak anak ku. Siapa tau mereka cocok. Ucap Mama Meli semangat.


"Baiklah." Ucap Ibu Lia.


Mereka pun memilih belanjaan masing-masing sambil berbincang membahas masa muda mereka dulu. Dan Mama Ayu membayar juga yang membayar semua belanjaan Ibu Lia, padahal sudah di larang oleh Ibu Lia tapi begitulah Mama Ayu keras kepala. Ibu Lia yang sudah hapal sikap sahabatnya itu pun membiarkan mama Ayu melakukannya walaupun ada perasaan tidak enak.


Setelah selesai dengan semuanya Mama ayu pun berpamitan dengan Ibu Lia, tidak lup Mama Ayu memberikan kartu namanya kepada Ibu Lia.


"Fi ayo pulang, ini sudah hampir magrib jam pulang kita sudah 1 jam yang lalu." ucap Meli memaksa sahabatnya pulang.


"Kamu pulang saja dulu, tolong bilangin Ibu kalau aku mungkin pulang malam. Aku harus menyelesaikan semua ini mey." Ucap fitri sambil mengerjakan tugasnya tampa menoleh ke sahabatnya itu.


"Bos mu itu keterlaluan, tidak berperikemanusiaan, pantas saja di tidak memiliki pacar, siapa juga yang mau sama orang seperti itu kaku dan dingin, selalu menyuru seenaknya." Ucap Kesal .


"Huusshhhtt, gak boleh ngomong seperti itu. Gimana kalau dia dengar bisa di pecat kita. Lagian aku sangat menyukainya ya biarpun di kaku dan dingin." ucap Fitri sambil tertawa kecil.


"Kau sudah gila Fi. Ya sudah terserah kamu saja, aku mau pulang dulu, aku tidak mau membuat ibumu cemas. Kalau kamu sudah selesai langsung kabari aku, aku akan menjemputmu disini. Tidak ada penolakan." ucap Meli tegas. Di jawab dengan anggukan oleh Fitri karna tau sahabatnya ini selalu begitu.


Sekarang sudah malam tapi Fitri masih bekutak di depan Laptopnya. Ya dia harus menyelesaikan tugasnya sebelum besok.


Kalau tidak pasti pangerannya akan marah padanya, dia tidak mau sampai itu terjadi.


Saat Fitri lagi fokus mengerjakan tugasnya. Ada sepasang mata yang memperhatikannya, Siapa lagi kalau bukan pangerannya.


Ntah apa yang membuat Dedi tidak kunjung pulang.


"Ternyata benar apa kata karyawan lain, kalau dia emang pekerja keras, bagus kalau begitu saya akan memanfaatkan mu", Gumam Dedi sambil memoerlihatkan senyum jahatnya.


Ya semua karyawan di Anggara, selalu memuji Fitri selain wajah yang cantik Fitri adalah sosok pekerja keras, tidak jarang juga ada yang iri bahkan membencinya. Tidak tau apa sebabnya tapi Fitri tidak perna mempermasalahkan itu baginya. di cintai oleh Ibu, Adik, dan juga Meli itu sudah lebih dari cukup.


Bersambung


.