MY FIERCE WIFE

MY FIERCE WIFE
episode 7



Hari sudah gelap menandakan seluruh manusia untuk beristirahat, tapi tidak dengan Kenan, dia baru saja bangun dari tidurnya setelah tadi siang makan siang di kamarnya di temani sang ibunda. Ah mengingat ibunya dia jadi kembali pusing.


Dia masih ingat betul perbincangan nya dengan sang ibu, bukan! tapi ibunya yang terus menyerocos tidak jelas.


Beberapa jam yang lalu


Tok.. tok..


Ceklek..


Pintu terbuka setelah ada perintah untuk masuk. Nyonya Erganc masuk ke kamar putranya sambil membawa nampan berisi makan siang untuk Kenan yang kala itu sedang mengeringkan rambut nya dengan handuk kecil, ya dia baru selesai mandi dan di pinggangnya masih terlilit handuk putih.


"Mama! kenapa repot repot? mama bisa meminta pelayan mengantarkannya." ucap Kenan saat mengetahui siapa yang masuk.


"Tidak apa apa, mama hanya memberi perhatian pada putra mama, apa itu salah?" sambil berjalan ke arah sofa dan meletakkan makanan di atas meja depan sofa.


"Tidak ma! mama yang terbaik." sambil melempar handuk ke sembarang arah dan melangkah ke ruang ganti. Kenan keluar dari ruang ganti menggunakan pakaian santai yaitu celana pendek selutut serta kaos polos putih. Dia berjalan ke arah sofa dimana masih ada sang ibunda yang menunggu nya.


"Makanlah dulu nak." sambil menyodorkan sebuah piring yang berisi nasi beserta lauknya.


"Suapin..." rengek Kenan manja seperti bayi, bayi kolot haha. Sang ibu hanya menggeleng melihat putra semata wayangnya kemudian mengikuti keinginan putranya yaitu menyuapinya.


"Nanti setelah menikah kau bisa meminta istrimu melakukan seperti ini." ucap sang ibu tiba tiba, Kenan yang kala itu sedang mengunyah berhenti seketika dan menatap sang ibunda.


"Menikah?" tanya Kenan kembali mengunyah makannya. Sang ibunda kembali menyodorkan sendok dan langsung terima oleh Kenan.


"Iya kau akan menikah sebulan lagi dengan Selin." jawab nya sambil tersenyum.


"Uhuk.. uhuk.." Kenan langsung tersedak kemudian menyambar gelas yang ada diatas meja sofa.


"Hey hati hati." tegur sang ibu sambil mengambil alih gelas yang dipegang Kenan kemudian meletakkannya kembali ke atas meja, Dia kembali menyuapinya Kenan namun Kenan tak kunjung membuka mulutnya.


"Sudah ma, Kenan sudah kenyang." ucap Kenan datar.


"Baiklah.." sambil meletakkan piring ke atas meja. Kemudian beralih menatap sang putra yang terlihat sedang melamun.


"Mama sudah tidak sabar menantikan hari pernikahan mu dengan Selin." ucap sang mama sambil tersenyum ke arah Kenan. Kenan meliriknya dan berusaha tersenyum.


Hanvur sudah harapanku.


Kenapa dia menyetujui nya? Dasar Bodoh! . Kenan


"Kau tau Ken dia itu sangat cantik, pintar memasak pula lagi pokoknya mama jamin pasti kau akan sangat bahagia menikahinya." cerocos sang ibu tanpa memperdulikan Kenan .


Mama belum tau saja bagaimana kegalakannya. Kenan


"Jangan bilang dia galak? dia tidak galak Ken, mama bisa melihatnya." ucap nyonya Erganc seakan tau isi kepala sang putra.


Kenapa mama bisa baca pikiranku? .Kenan bertanya tanya dalam hati.


"Apa mama bisa baca pikiranku?" tanya Kenan Spontan.


"Sudah mama katakan mama seorang ibu, seorang ibu tau isi kepala anaknya hanya dengan menatap matanya."


"Benarkah? kalau begitu aku akan menutup matanya saat berbicara dengan mama." ucap Kenan asal sambil menutup kedua matanya membuat mamanya terkekeh geli.


"Jika Selin mengetahui sifatmu ini, mama yakin dia pasti tidak akan percaya, dia pasti berfikir kalau kau memiliki kepribadian ganda." ucap sang ibu tanpa memperdulikannya kelakuan putranya.


"Mama.." rengeknya manja sambil menjatuhkan kepalanya ke atas paha sang ibu, sang ibu lantas mengusap usap kepala sang putra dengan mata berkaca kaca.


"Mama kenapa bersedih?" tanya Kenan yang menyadari perubahan sang ibu.


"Mama hanya berpikir jika nanti kau sudah menikah, mama pasti akan sangat merindukan momen seperti ini." jawab sang ibu lirih menahan tangis. Kenan lantas mengusap pipi sang ibu walaupun dalam hatinya dia berdecak kesal dengan perkataan mamanya.


"Mama jangan sedih, walaupun nanti Kenan sudah menikah, kita masih bisa seperti ini." Ucap Kenan berusaha menghibur sang ibunda.


"Tidak tidak! mana ada seperti itu, jika sudah menikah kau hanya bisa melakukannya dengan istrimu." ralat sang ibu tegas, Kenan mendengus kesal.


"Ya ya ya terserah mama saja." akhirnya dia memilih mengalah dan memeluk perut sang ibu sambil memejamkan matanya merasakan kehangatan yang seperti disalurkan sang ibunda.


"Ingat! kau harus jadi suami yang baik dan bertanggung jawab untuk istrimu nanti." ucap sang ibu sambil mengusap rambut Kenan.


"Hmm." Kenan hanya berdehem menanggapi ucapan ibunya.


"Jangan pernah buat dia menangis." sambungnya lagi. Kenan diam.


Memangnya dia bisa menangis?. Kenan bertanya tanya dalam hati.


"Ken.." panggil sang ibu saat tak ada respon dari Kenan.


"Iya ma." jawab Kenan malas sambil bangkit dari pangkuan ibunya.


"Yasudah, mama akan turun." sambil meletakkan piring dan gelas ke atas nampan.


"Iya." jawab Kenan singkat sambil memperhatikan gerakan sang ibu.


Seperginya nyonya Erganc, Kenan kembali pusing, masalahnya bukannya selesai malah semakin runyam. Akhirnya dia memilih untuk beranjak ke tempat tidur dan melemparkan tubuhnya kasar, kemudian tak berapa lama dia pun tertidur pulas, sejenak melupakan beban pikiran nya.


***


Kenan melirik jam di dinding kamarnya yang menunjukkan pukul 20.03, dia memutuskan untuk pergi ke tempat biasanya nongkrong, dimana lagi kalau bukan klub, hampir setiap malam tempat itu didatanginya.


Dia beralih ke ruang ganti untuk mengganti celananya saja, kemudian menyambar kunci mobil yang ada diatas nakas lalu segera turun, sesampainya di lantai dasar, terlihat sangat sepi, namun Kenan tak memperdulikan itu, malahan bagus pikir nya karna tidak ada yang akan bertanya tanya akan kemana dirinya. Dia segera melajukan mobilnya ke tempat tujuan.


Butuh waktu 25 menit dia sampai di tempat tujuannya karna jalanan yang padat. Dia segera masuk melewati beberapa pria dan wanita yang sedang berjoget dengan suara musik yang menusuk gendang telinga. Dia berjalan menuju ruangan VIP tempat biasa dia nongkrong dengan kedua sahabatnya, dan benar saja saat dia masuk kedua sahabatnya sedang minum dan sesekali tertawa di temani 2 wanita penggoda, tanpa mengetahui kedatangan Kenan.


Kenan langsung menghempaskan tubuhnya ke sofa yang kosong yang memang itu adalah sofa yang biasa di dudukinya. Ada 3 sofa disana yang berukuran sedang dan di tengahnya ada meja kaca persegi dan di atas nya berbagai jenis minuman beralkohol.