
Tak lama setelah tuan dan nyonya Erganc berpamitan untuk pulang, nyonya Devrim pun terjaga dari tidurnya, Selin yang melihat itu lantas mendekati sang ibunda dan duduk di kursi sebelah nya.
"Nak.. kau tidak bekerja?" tanya ibunya.
"Tidak bu! mana mungkin aku bisa bekerja sedangkan ibu sedang sakit begini" jawab Selin.
"Tapi ibu tidak apa apa nak."
"Tetap saja bu." bantah Selin, ibunya hanya menghembuskan nafasnya dia sangat tau putrinya sedikit keras kepala.
"Oh ya papa sama Alina dimana?" tanyanya mengalihkan topik.
"Alina pergi kuliah karna ada ujian hari ini dan papa..." Belum sempat Selin menyelesikan ucapannya tuan Devrim sudah muncul di ruangan.
"Sayang! kau sudah bangun? bagaimana keadaan mu?" tanya sang suami sambil mendekat ke arah Selin dan sang istri.
"Ya! aku sudah jauh lebih baik, kapan aku bisa pulang pa?"
"Siang ini, siang ini juga kau akan pulang sayang." sambil tersenyum.
"Benarkah?" tanya sang istri kegirangan.
"Tentu saja, apa kau senang?"
"Sangat! aku sangat bosan ada disini."
"Baiklah kita tunggu sebentar lagi dokter datang." ucap tuan Devrim sambil tersenyum manis.
"Oh ya tadi ada tamu." ucap tuan Devrim tiba tiba sambil melirik ke arah Selin, yang di tatap tidak merasa dia mengalihkan tatapannya. pada sang ibu.
"Oh ya? siapa? kenapa aku tidak dibangunkan?" tanya sang iatri penasaran.
"Keluarga Erganc yang datang, tadi kau sangat pulas tidurnya."
"Darimana mereka tau kalau aku berada di rumah sakit?"
"Tadi pagi tuan Erganc menelpon katanya ingin membicarakan sesuatu dan papa bilang kalau kita sedang di rumah sakit dan mereka memutuskan untuk berkunjung." jelas sang suami.
"Ohh begitu rupanya." respon sang istri.
"Apa kau tau sayang apa yang ingin dibicarakan mereka?" tanya sang suami antusias.
"Tentu saja masalah pekerjaan kan?" tebak sang istri.
"Salah!"
"Terus apa?"
"Mereka bilang bahwa Kenan menyetujui perjodohan yang kita rencanakan." jawab tuan Devrim sambil melirik Selin yang menunduk.
"Aku mau beres beres dulu buat kepulangan mama." Selin sudah merasa tidak enak dengan perbincangan mama papanya, dia memutuskan untuk menghindar.
"Benarkah?" tanya istri antusias. Tuan Devrim mengangguk.
Mama kayaknya seneng banget, aku jadi gak tega kalau harus batalin perjodohan ini. Selin
"Bahkan kami sudah membicarakan pernikahan mereka akan di laksanakan sebulan lagi." jelas sang suami.
"Wah.. apa kau sudah tau Selin?" tanya sang ibunda dengan senyuman yang tak pernah luntur dari wajah cantiknya walaupun sudah berusia 50 tahun lebih.
"Sudah ma." jawab Selin berusaha tersenyum terpaksa.
"Mama senang sekali sebentar lagi kamu menikah dan mama akan punya cucu." ucap sang ibunda sambil mengkhayal dia sedang menggendong bayi.
"Mama apaan si." Elak Selin.
"Permisi..!" Dokter tiba tiba datang bersama seorang perawat.
"Ah dokter sudah datang."ucap tuan Devrim.
"Iya tuan, bagaimana keadaan anda nyonya?" tanya sang dokter.
"Sudah jauh lebih baik dok, apa saya sudah boleh pulang dok?"
"Tentu nyonya tapi sebelumnya saya akan memeriksa keadaan nyonya terlebih dahulu setelah itu perawat yang akan membantu nyonya." sambil tersenyum dan memeriksa nyonya Devrim.
"Baiklah keadaan anda sudah membaik tapi tuan saya ingatkan lagi agar jangan membuat nyonya syok atau tertekan." terang sang dokter.
"Baik dokter terima kasih." ucap tuan Devrim.
"Sama sama tuan nyonya saya permisi." pamit sang dokter.
****
Diwaktu yang bersamaan di sebuah gedung pencakar langit, di dalam sebuah ruangan yang besar dengan dinding kaca yang menunjukkan pemandangan kota, seorang pria sedang bekerja ah ralat pekerjaan yang melihat dia, dia hanya diam memikirkan masalahnya, pria itu adalah Kenan.
Kenan terus memikirkan tentang masalah perjodohannya dengan Selin.
"Semoga saja dia menolak perjodohan itu, cuman dia harapan satu satu nya." Gumam nya pelan.
"Lagipula bagaimana jadinya aku menikah dengannya, ahh membayangkannya saja aku tidak bisa." gerutunya.
Kenan melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan jam makan siang, dia melihat pekerjaan nya yang berserak di depannya di atas meja kerjanya, belum ada satupun dikerjakannya semenjak tiba di kantor dia hanya memimirkan bagaimana cara membatalkan perjodohan itu.
"Haiss aku sangat tidak berselera mengerjakan pekerjaan ini lagi, lebih baik aku pulang saja, besok baru akan aku selesaikan." Akhirnya dia memutuskan untuk pulang dan menyelesaikan pekerjaan nya esok hari.
****
Butuh 30 menit Kenan menempuh perjalanan menuju rumah karna jalanan yang padat karna memang pada saat itu sedang jam istrirahat.
Sesampainya di rumah dia langsung masuk dan segera bergegas ke kamar tanpa ingin makan siang, dia hanya ingin mengistirahatkan pikirannya dengan pergi ke alam lain. Namun semua itu sia sia saat dia ingin melewati ruang keluarga ternyata mama dan papanya sedang bersantai disitu dan melihat kedatangannya.
"Kenan! kenapa jam segini sudah pulang?" tanya sang ayah menghentikan langkah Kenan.
"Kenan merasa tidak enak badan pa maka dari itu Kenan memutuskan untuk pulang." jawab Kenan tanpa melihat ke arah orang tuanya.
"Apa? kau sakit sayang?" tanya sang ibu khawatir lantas berlari ke arah sang putra dan mengecek suhu tubuhnya. sang suami hanya menggeleng.
"Tidak panas." gumam nya pelan setelah memeriksa suhu tubuh Kenan.
"Kau tidak panas sayang, apa yang sakit? apa perlu mama panggilkan dokter Bram?" tanya sang ibu cemas.
"Tidak ma! Kenan hanya butuh istirahat, nanti setelah bangun juga sudah baikan." jawab Kenan meyakinkan, lagipula mana mungkin dia bilang sedang memikirkan perjodohan yang tidak diinginkan nya itu.
"Baiklah kalau begitu pergilah ke kamar, mama akan minta pelayan buatkan sup dan teh dan nanti akan diantar ke kamarmu." ucap sang ibu. Kenan hanya mengangguk kemudian beranjak ke kamar.
"Kau terlalu berlebihan." ucap tuan Erganc saat Istrinya tiba di sampingnya setelah menyuruh pelayan membuatkan sup dan teh.
"Berlebihan bagaimana? wajar jika aku khawatir dengannya, dia itu putra kita satu satunya, kalau kau lupa!" cerocos sang istri.
"Aku tidak lupa! hanya saja ku lihat kau terlalu memanjakannya tadi." bantah tuan Erganc.
"Memanjakan bagaimana? kau dengar tadi dia bilang sedang sakit tentu saja aku cemas." balas sang istri.
"Dia tidak sakit! hanya tidak enak badan." ralat sang suami.
"Kau ini! sudahlah lebih baik aku menemani putra ku daripada harus meledenimu yang keras kepala." gerutu sang istri sambil berjalan ke dapur, Dia ingin langsung membawakannya ke kamar sang putra.
Jangan lupa like komen & vote❤😊