
Selamat membaca ...
...****************...
Yola yang melihat Roy sudah tidak ada di hadapannya, langsung mengikuti sang suami ke arah dapur. Terlihat Roy tengah berkutat dengan alat dapur. Pria itu terlihat sedikit tampan di mata Yola, apalagi saat Roy menggulung lengan kemejanya.
“Apa kau masih mau berdiri di sana?” tanya Roy membuyarkan lamunan Yola.
Wanita itu langsung menghampiri Roy setelah tersadar dari lamunan anehnya tersebut. Yola segera membantu mengambil sebuah pisau untuk memotong sayur. Sedangkan, Roy sedang memotong daging dengan gerakan lincahnya.
“Apa kau sudah terbiasa untuk masak?” tanya Yola dengan tiba-tiba karena melihat keahlian memasak suaminya yang tidak terlalu buruk.
“Apa kau sedang meremehkan aku?” bukannya menjawab, tapi Roy malah balik bertanya pada sang istri.
“Tidak, hanya saja kau terlihat buruk saat memasak,” jawab Yola dengan asal. Padahal wanita itu tengah salah tingkah melihat lirikan mata suaminya, apalagi pria itu terlihat sangat tampan dan menggoda.
Roy yang mendengar jawaban sang istri, kini mengerutkan keningnya dan bertanya-tanya ‘apakah aku kurang keren saat memasak’, begitulah kira-kira.
“Aku harus mencari cara agar tetap keren dan tampan saat memasak,” gumam Roy dengan pelan, hingga Yola tak dapat mendengar gumaman sang suami.
“Apa aku terlihat jelek? Aku rasa itu tidak mungkin,” ucap Roy dengan raut wajah penuh selidik.
“Apa kau selalu percaya diri seperti itu?” tanya Yola dengan kesal, karena melihat kenarsisan suaminya.
“Tentu saja,” jawab Roy dengan santai. Yola menghela napasnya panjang sambil memutar bola matanya malas.
...----------------...
Malam hari telah tiba. Makan malam pun telah keluarga kecil itu selesaikan sejak tadi. Saat ini Yola, Roy, dan tuan Jackson tengah berkumpul di ruang keluarga untuk berdiskusi mengenai rencana Roy.
“Nak, apa yang ingin kau bicarakan dengan ayah?” tanya tuan Jackson penasaran.
“Ayah, mengenai pekerjaan ku yang saat ini sudah semakin dekat waktunya. Aku ingin mengajak ayah pindah ke apartement ku. Di sana ayah juga bisa membuka kelas untuk anak-anak. Untuk apartement ku sendiri, itu cukup untuk tempat tinggal kita saat ini,” ucap Roy penuh harap, agar sang mertua mau ikut ke apartement miliknya.
Tuan Jackson yang mendengar hal itu, merasa sedikit terkejut dengan penuturan sang menantu yang sangat tiba-tiba. Sebenarnya ia sudah menduga akan terjadi hal ini. Namun, untuk ikut ke rumah menantunya, ia harus berpikir kembali.
Rumah sederhana ini adalah kenangan satu- satunya bersama sang istri, ibunya Yola. Jika ia pergi, rumah ini tidak akan terurus dan ia akan mengganggu kehidupan baru putrinya.
“Ayah tahu ini yang terbaik untuk kalian. Kalian boleh pindah, tapi ayah tidak akan ikut dengan kalian. Rumah ini tidak akan ayah tinggalkan. Roy, ayah tahu kau adalah pria yang bertanggung jawab. Tolong jaga dia seperti aku menjaganya,” ucap tuan Jackson dengan lembut sambil tersenyum hangat ke arah sepasang suami istri tersebut.
“Ayah, aku tidak akan pernah meninggalkan ayah. Jika ayah tidak pergi. Maka, aku juga tidak akan pergi dari sini,” ucap Yola dengan tegas, membuat tuan Jackson menatap Yola dengan tajam atas sikapnya.
“Yola, kau sudah menjadi seorang istri. Sudah seharusnya kau patuh pada suami mu. Ikutlah dengannya. Ayah akan baik-baik saja,” ucap tuan Jackson yang tak kalah tegas dengan putrinya.
“Ayah, jika Yola memang tidak bisa ikut, aku mengerti. Aku tidak akan memaksa dan akan mengikuti keinginan istriku. Jika ayah tidak ikut. Maka aku tidak akan bisa memisahkan kalian berdua,” ucap Roy dengan pasrah.
“Tidak Roy. Kau jangan mengatakan hal itu. Sudah seharusnya Yola mengikuti mu, bukan aku. Yola, kau ikutlah bersama Roy. Kau juga bisa mengunjungi aku bersama suami mu jika ada waktu. Percayalah, aku akan baik-baik saja,” ucap tuan Jackson berusaha meyakinkan Yola, bahwa dirinya akan baik-baik saja.
“Tapi ayah ...,” ucap Yola sambil menundukkan kepalanya.
“Jadi, apa kau sudah setuju untuk ikut dengan suami mu?” tanya tuan Jackson meyakinkan.
“Iya, ayah. Aku janji, pasti aku akan sering mengunjungi ayah. Aku pasti sangat merindukan mu,” ucap Yola dengan lesu.
“Yola, apa kau benar-benar sudah siap?” tanya Roy sambil menatap wanita itu dengan tak percaya.
“Hmm,” jawab Yola singkat.
“Jadi, kapan kalian akan pindah?” tanya tuan Jackson penasaran.
“Besok, ayah,” jawab Roy yang membuat Yola langsung membulatkan matanya sempurna, saat mendengar jawab dari suaminya tersebut.
‘Besok? Bukankan itu terlalu cepat’ batin Yola menggerutu.
“Baiklah, jika itu sudah menjadi keputusan kalian. Ayah hanya bisa mendoakan, semoga kalian selalu bersama dan bahagia. Sebaiknya kalian segera bersiap lalu istrirahat untuk keberangkatan besok pagi. Ayah akan ke kamar untuk pergi istirahat duluan,” ucap tuan Jackson segera bangkit dan meninggalkan Roy dan Yola.
...----------------...
Kini, Yola tengah menyiapkan beberapa pakaiannya ke dalam sebuah koper miliknya. Ia tidak membawa semua pakaiannya, agar ia tidak perlu membawa pakaian lagi saat ingin berkunjung ke rumah ayahnya.
Roy, pria tampan itu tidak bergerak sedikit pun dari tempat tidur, sambil terus memperhatikan Yola tanpa ingin membantu wanita tersebut. Roy terkekeh gemas, saat melihat Yola mengerucutkan bibirnya karena kesal.
“Apa kau sedang menertawakan aku?” tanya Yola sambil melayangkan tatapan tajamnya ke arah Roy. Membuat pria tampan itu langsung terdiam mengatupkan bibirnya.
“Apa kau merasa tersinggung?” tanya Roy dengan tatapan menggoda, sambil bangkit untuk menghampiri Yola.
“Apa masih lama?” tanya Roy memeluk Yola dari arah belakang. Yola yang mendapat serangan yang tiba-tiba dari suaminya, langsung terkejut dan menepis pria itu.
“Cepat bantu aku,” ucap Yola dengan ketus.
“Baiklah, tapi apa bayaran ku setelah aku membantu mu?” tanya Roy penuh selidik. Membuat Yola membulatkan matanya sempurna, dan bersiap untuk menyemburkan api amarah karena merasa kesal.
“Eh! Baiklah, baiklah. Aku akan membantu mu dengan senang hati,” ucap Roy langsung menyela. Ia takut Yola akan marah dan tidak akan mau memberinya jatah. Padahal, ia baru saja menikmati indahnya surga dunia.
Yola hanya diam sambil terus membereskan isi lemarinya yang sangat berantakan. Roy ikut merapikan isi koper dan tidak banyak bergerak. Pria itu tahu, jika Yola hanya mengalihkan topik pembicaraan saja.
“Sayang, semuanya sudah selesai,” ucap Roy memanggil sang istri. Yola menoleh dan terdiam sejenak.
‘Cepat juga pria itu mengerjakannya,’ batin Yola mendengus kesal.
“Apa aku sudah boleh istirahat?” tanya Roy dengan nada lelah. Tentu saja hal itu membuat Yola jadi merasa sangat bersalah, karena sudah membiarkan suaminya kelelahan. Padahal bagi Roy, pekerjaan itu tidak ada apa-apanya.
Terima kasih.
...****************...