
Suasana hening seketika saat keluarga Erganc telah pulang. Disinilah Selin sekarang, di ruangan yang lumayan besar yang terdapat 2 sofa panjang, 1 sofa sedang dan 1 lagi sofa single yang di duduki tuan Devrim, sedangkan nyonya Devrim dan Alina di kursi panjang di sebelah kiri tuan Devrim dan di kursi panjang di depan nyonya Devrim dan Alina ada Selin seorang diri sambil menunduk dan menggenggam erat dress nya bagian bawah, dan di tengah mereka ada meja kaca persegi panjang sebagai penghalang.
Selin tau semua di ruangan itu menatapnya dengan tatapan seolah meminta penjelasan tapi dia masih enggan membuka suaranya namun tuan Devrim memecah keheningan karna sudah merasa tidak sabar menunggu Selin yang tak kunjung menjelaskan.
"Apa kau akan terus diam Selin!" ucap tuan Devrim datar namun penuh penekanan ditiap katanya.
"Papa aku.." Selin mencoba menjawab sambil menatap wajah sang ayah namun terhenti dan kembali menundukkan kepalanya karna melihat tatapan tajam sang ayah.
"Kau sudah membuat malu keluarga Devrim Selin!" sambung tuan Devrim dengan nada meninggi.
"Setidaknya jika kau menolak perjodohan ini, kau bisa membicarakan nya nanti baik baik setelah mereka pulang! bukannya malah membuat keributan begitu!" bentak sang ayah lagi membuat nyali Selin semakin menciut.
Nyonya dan Alina juga tersentak kaget namun tak berani ikut campur, mereka hanya diam dan mendengarkan.
"Kau sangat memalukan sekali! siapa yang mengajari mu seperti itu? apa kami pernah mengajarkan mu Selin!" kali ini dengan nada pelan namun terdengar tegas di telinga Selin, dia lantas menggelengkan kepalanya karna hanya itu yang bisa dilakukan nya.
"Pokoknya kau harus menikah dengan Kenan!" final tuan Devrim sambil beranjak. Selin kaget dengan penuturan ayahnya pun sontak mendongak menatap wajah sang ayah.
"Ayah.. tapi Selin tidak mau." ucap Selin memelas sambil menatap punggung sang ayah yang sudah membelakangi nya. Tuan Devrim yang mendengar jawaban putri sulungnya lantas memberhentikan langkahnya dan berbalik menatap Selin yang juga menatapnya.
"Kenapa?" tanya sang ayah santai sambil terus menatap Selin.
"Karna.. karna dia pria brengsek ayah." jawab Selin masih terus menatap sang ayah. Mereka saling bertatapan.
"Tutup mulutmu!" bentak tuan Devrim cepat, Selin lantas menundukkan kepalanya takut.
"Sejak kapan kau jadi anak yang kurang ajar sepertj ini ha!" lanjutnya.
"Papa tenanglah..." akhirnya nyonya Devrim membuka suara karna merasa sudah waktunya dia beberbicara. Namun belum sempat dia melanjutkan ucapannya tiba tiba dia meringis sakit sambil memegang dadanya, seketika semuanya menjadi panik.
"Mama kenapa?" tanya Alina yang duduk di sebelah mama nya dengan panik, namun bukannya menjawab Nyonya Devrim malah menutup matanya dan tidak sadarkan diri.
"Sayang.. ada apa? bangunlah." ujar tuan Devrim khawatir sambil berusaha ingin menggendong sang istri.
"Mama.." ucap Selin lirih kemudian ikut menghampiri sang ibunda.
"Alina panggilkan Dokter Pras secepatnya." titah sang ayah sambil terus membawa istrinya dalam gendongannya menuju kamar mereka.
Tanpa menjawab Alina langsung berlari menuju kamarnya untuk mengambil ponselnya tanpa memperdulikan Selin yang sudah berdiri di sampingnya. Sesampainya di kamar dia langsung menghubingi Dokter Pras, dokter keluarga mereka, setelah menghubingi dokter dia kemudian berlari menuju kamar ayah dan ibunya namun saat melewati ruang tamu dia melihat sang kakak yang sedang berdiri sambil menunduk.
"Kakak.. kenapa disini? apa kakak tidak cemas dengan mama?" tanya Alina lembut sambil memegang bahu Selin. Selin lantas memeluk sang adik kemudian meluapkan semua unek unek nya dengan menangis. Alina membalas pelukan itu sambil mengusap lembut punggung Selin.
"Al.. apa kakak sudah keterlaluan? mama sampai pingsan gara gara kakak." ujar nya sambil sesenggukan. Alina lantas menggeleng.
"Tidak kak, jangan pernah berfikiran seperti itu, aku percaya sama kakak, kakak tenang saja mama akan baik baik saja." Alina mencoba menenangkan sang kakak.
"Alina!!!"
"Alina!!"
Alina dan Selin sontak melepaskan pelukan mereka karna mendengar teriakan sang papa.
"Kakak papa memanggil ayo kita liat keadaan mama." ajak Alina sambil menarik tangan Selin namun Selin ntak kunjung berjalan dan malah menarik tangannya.
"Kenapa?" tanya Alina sambil menatap ke belakang. Selin hanya menggeleng.
"Kau saja yang pergi kakak disini saja,." sambil mendudukkan dirinya di sofa.
"Kakak.."
"Alina Selin! apa yang terjadi? apa jantung nyonya kumat lagi?" Tiba tiba Dokter Pras muncul dengan terengah engah.
"Dokter sudah datang, kami tidak tau dokter..mari saya antarkan ke kamar." pinta Alina sambil melirik Selin yang juga menatap nya sambil menganggukkan kepalanya.
Sampai di kamar dokter Pras segera mengeluarkan alat alatnya kemudian memeriksa nyonya Devrim.
"Tuan! nyonya harus segera di bawa ke rumah sakit, jantungnya kembali bermasalah." ucap dokter Pras sambil memasukkan cepat alat alatnya.
"Apa?!" tuan Devrim kaget kemudian segera menelpon ambulance.
"Dokter apa itu akan membahayakan mama?" tanya Alina panik. Namun dokter Pras hanya menggelengkan kepalanya.
"Saya belum bisa memastikannya, tapi saya merasa jantungnya sangat lemah saat ini." jawab dokter Pras sedih sambil menundukkan kepalanya.
Jangan lupa like, komen & vote ❤😊