
"Ini semua gara garamu! mama mu sampai masuk rumah sakit." bentak tuan Devrim pada Selin yang sedang berdiri di depan ruangan sang mama, sedangkan tuan Devrim duduk di kursi dan ada Alina di sebelahnya terus menenangkannya.
"Papa aku minta maaf." ucap Selin sambil menunduk, dia merasa bersalah atas kejadian ini.
"Kalau sampai terjadi sesuatu dengan mama kalian papa tidak akan memaafkanmu!" ucap nya lagi. Selin hanya diam dan dia berfikir pantas menerima amukan sang ayah.
Seketika hening. Hingga seorang dokter pria spesialis jantung yang selalu menangani nyonya Devrim jika kambuh keluar dari ruangan. Mereka semua lantas mendekat ke arah sang dokter.
"Bagaimana istri saya dokter." tanya Tuan Devrim cepat.
"Alhamdulillah kedaan nyonya baik baik saja tuan." jawab sang dokter membuat mereka semua bernafas lega.
"Tapi.." sambung sang dokter.
"Tapi apa dokter?" tanya tuan Devrim memotong ucapan sang dokter.
"Tapi jantung nyonya sangat lemah tuan, saya mohon partisipasi nya agar jangan membuat nyonya merasa syok apalagi sampai tertekan." tutur sang dokter menjelaskan.
"Baik dokter terima kasih banyak." ucap tuan Devrim.
"Sama sama tuan." jawab dokter sambil tersenyum.
"Apa mama sudah sadar dokter?" tanya Selin memberanikan diri.
"Nyonya sudah sadar, silahkan jika ingin menemui nya, saya permisi ." ucap dokter dan berpamitan sambil menundukkan kepalanya sebelum beranjak.
Tuan Devrim segera membuka handle pintu dan hal yang pertama dilihatnya adalah sang istri yang terbaring lemah dengan wajah pucat sedang tersenyum ke arahnya.
Tuan Devrim segera mendekati sang istri.
"Sayang.. apa kau sudah merasa baik?" tanya Tuan Devrim lembut. nyonya Devrim mengangguk pelan sambil tersenyum.
"Maaf karna mengkhawatirkan kalian." ucap nya sambil menunduk.
"Tidak! jangan meminta maaf kami sangat menyayangi mu." sambil mencium kening sang istri. Nyonya Devrim mendongak menatap ke arah pintu seperti mencari seseorang.
"Kau sedang mencari siapa?" tanya sang suami yang mengerti gerak gerik istrinya.
"Apa anak anak tidak ikut?" tanyanya.
"Mereka ikut, mungkin ada diluar." jawab tuan Devrim.
"Suamiku Bisa aku meminta tolong panggilkan mereka masuk." pinta sang istri.
"Baiklah, tunggu sebentar." jawab tuan Devrim. Sang istri hanya mengangguk.
Tak lama masuklah orang yang ingin ditemui nya. Alina dan Selin berjalan beriringan menuju ke samping sang ibunda dengan tatapan sedih. Tuan Devrim memilih untuk duduk di sofa yang tidak jauh dari mereka.
"Mama.. maafkan Selin." ucap Selin lirih menahan air matanya sambil mengganggam tangan sang ibu. Nyonya Devrim menggeleng kemudian tersenyum.
"Tidak sayang, jangan meminta maaf mama tidak apa apa lihatlah mama sehat." ucapnya berusaha terlihat kuat dihadapan suami dan putri putrinya. Selin kembali sedih mendengar penuturan sang ibu yang berusaha terlihat kuat.
"Iya ma?" jawab Selin menatap lembut sang ibu.
"Apa kau sayang pada mama?" tanya nya.
"Mama bicara apa? tentu saja aku sangat menyayangi mama, kenapa mama bertanya seperti itu" jawab Selin lembut.
"Menikah lah nak." pinta sang ibu membuat Selin terdiam.
"Mama tidak tau sampai kapan usia mama.."
"Mama! mama bicara apa? mama akan terus panjang umur dan akan selalu bersama kami." Selin langsung memotong ucapan ibunya yang menurutnya sudah melantur.
"Mama tidak akan memaksamu menikah dengan putra keluarga Erganc kau boleh memilih pilihan mu sendiri." sambung sang ibu tanpa memperdulikan ucapan putri sulungnya.
"Mama hanya ingin melihatmu menikah sebelum akhirnya mama benar benar pergi." lanjutnya lagi.
"Sayang hentikan! apa yang kau katakan? kau akan terus berasa di sampingku." tuan Devrim yang sedari tadi diam mendengarkan langsung menyambar ucapan sang istri.
"Iya ma.. mama akan selalu bersama kami." Alina menimpali kemudian memeluk sang ibu.
"Sudah! lebih baik kau istirahatlah jangan terlalu banyak berfikir nanti jantungmu kambuh. Aku tidak suka melihatmu terbaring di rumah sakit ini lagi." ucap tuan Devrim.
Sementara Selin terdiam, bingung harus bagaimana, disisi lain dia memang ingin menikah karna usianya yang sudah matang namun dia bingung karna tidak memiliki kekasih bahkan dia tidak memiliki banyak teman pria. Dia menatap sang ibu dengan lembut yang juga menatapnya.
Aku harus bagaimana? apa aku terima saja perjodohan itu demi mama? . Selin
"Mama.." panggil Selin.
"Iya sayang?" tanya sang ibu dengan senyuman yang terus melekat di wajahnya yang pucat.
"A- ku.. aku mau menikah dengan Kenan." jawab Selin sambil menunduk. Semua yang ada di ruangan itu terkejut karna baru tadi Selin menolak keras perjodohannya dengan Kenan tapi sekarang seolah dia yang menyerahkan dirinya.
"Sayang.. jangan mengambil keputusan seperti itu, mama tidak mau hanya karna mama kamu mengorbankan kebahagian kamu." cerca sang ibu merasa bersalah atas keinginan nya.
"Tidak mama! Selin akan tetap menikah dengan Kenan." jawab Selin mantap.
"Papa apa Kenan juga mau menerima perjodohan kami?" tanya Selin yang kini memutar badannya ke belakang menghadap sang papa.
"Emm.. papa tidak tau, tapi papa yakin dia pasti menyetujui." jawab Tuan Devrim ragu ragu.
"Papa harus segera mengabari keluarga Erganc kalau Selin menerima perjodohan yang kalian buat." ucap Selin lagi.
"Nak.." panggil sang ibu yang khawatir dwngan keputusan sang putri. Selin menatap sang ibu sambil tersenyum manis menandakan dia baik baik saja.
"Baiklah papa akan menghubungi tuan. Erganc besok pagi, ini sudah larut." ucap sang papa.
"Kakak, apa yang kakak lakukan? bukankan kakak membenci pria itu?" bisik Alina, dia juga merasa cemas dengan keputusan sang kakak. Namun Selin tidak menjawabnya dia hanya tersenyum manis ke arah adik nya yang sangat di cintainya itu.
Jangan lupa like, komen & vote ❤😊