
Selamat membaca ...
...****************...
“Tapi, satu hal yang aku sayangkan, kenapa dia bisa jatuh hati pada seorang wanita miskin dan tidak jelas asal usulnya itu. David, untuk dua hari ke depan, kau ikuti wanita miskin itu, aku ingin tahu, seberapa menariknya dia hingga membuat putra ku tertarik dengan seorang wanita miskin,” ucap Tuan Dendra sambil menggertakkan giginya menahan amarah.
“Baik bos, akan saya laksanakan dengan baik. Menurut informasi yang saya dapatkan, wanita itu seorang guru bela diri dan memiliki kelas bersama ayahnya, yang juga seorang pelatih di tempat itu,” jawab David memberikan informasi tentang Yola.
“Cih! Hanya seorang guru bela diri. Apa itu yang membuat putraku tertarik untuk menikahinya. Apa putra ku sudah turun seleranya pada seorang wanita miskin yang tak tau kehidupan orang kaya. Aku sampai tak habis pikir dengan jalan pikiran anak pembangkang itu,” ucap Tuan Dendra dengan tatapannya yang sudah ingin menerkam mangsa, kala mengingat kebodohan putranya, yang asal memilih pendamping hidup.
“Bos tenang saja, Tuan muda pasti akan menyesali pilihannya dan akan meninggalkan istrinya, setelah bos mengenalkan Nona Maya sebagai calon istrinya,” ucap David berusaha menenangkan sang bos.
“Aku harap dia menyesalinya juga Dav. Aku yakin dia akan langsung terpesona saat melihat wanita cantik dan anggun sebagai calon istrinya dari keluarga besar Tuan Xander,” ucap Tuan Dendra menanggapi sang asisten.
...----------------...
Malam yang indah sudah di lalui oleh sepasang pengantin baru di sebuah kamar sederhana milik Yola. Sekretaris Roy yang merasa santai karena sudah meminta jatah cuti selama satu minggu, masih betah bergelung selimut sambil memeluk wanita pujaan hatinya.
Sinar mentari masuk menerobos celah yang ada di kamar tersebut, hingga membuat seorang wanita menggeliat sambil mengerjapkan matanya berulanga kali, karena merasa terusik. Yola sedikit terkejut, saat merasakan ada tangan besar dan kokoh sedang memeluknya erat.
Namun, seketika Yola tersadar, jika ia sudah menikah dan melewati malam yang panjang bersama seorang pria, yang baru kemarin mengikat dirinya dalam sebuah pernikahan. Sekretaris Roy menggeliat saat merasakan ada yang menggesekan kulit di bagian dadanya.
“Apa kau sedang berusaha memancing ku lagi, hum?” tanya Sekretarsi Roy sambil mengeratkan pelukannya kembali, hingga kulit punggung Yola menempel dengan rapat dengan tubuh Roy.
“Apa yang kau maksud. Memangnya aku memancing apa?” tanya Yola sambil mengeryitkan dahinya tanda tak mengerti dengan apa yang suaminya tanyakan.
“Apa kau tidak merasakan sesuatu yang ada di bawah sana?” bisik Roy dengan nada sensual, sambil mengarahkan tangan Yola pada sebuah tongkat yang sudah tegak, tapi bukan keadilan.
Yola membulatkan matanya sempurna, saat merasakan tongkat besar dan berurat milik suaminya sudah tegak dan sudah menggesekkan di area dua semangka miliknya. Wajah Yola memerah bagai udang rebus, saat mengingat kembali malam panjang dan panas mereka tadi malam.
Yola yang sudah tahu kenikmatan yang diciptakan oleh suaminya memang ketagihan dan tidak ragu lagi untuk melayani sang suami. Untuk cinta, Yola tidak akan peduli lagi dengan kalimat bodoh itu. Cinta? Cih , jangan naif. Kau menyukainya tanpa harus ada kata cinta. Bukankah banyak sugar baby yang menjajakan tubuhnya tanpa ikatan dan sebuah kata cinta.
Namun, jangan samakan Yola dengan para sugar baby itu, anggap saja itu hanya sebuah kewajiban baginya, untuk melayani sang suami. Cinta yang dulu gagal, akan Yola perbaiki untuk suaminya saat ini, yaitu Roy.
“Babbe,” bisik Sekretarsi Roy dengan tangannya yang sudah menjelajahi hutan belantara milik Yola.
“Tuan,” ucap Yola gugup sambil menatap wajah suaminya yang sudah dipenuhi oleh kabut gairah.
“Jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi, karena aku sudah menjadi suami mu,” ucap Roy dengan nada perintah.
“Roy, apa kau tidak lelah?” tanya Yola sambil menampilkan wajah polosnya, membuat Roy semakin gemas dan langsung menindih tubuh istrinya.
“Bersiaplah,” ucap sekretaris Roy menampilkan senyum smirk nya.
Terdengar suara pintu dari arah luar, yang membuat sepasang suami istri tersebut menghentikan aksinya dan hanya terdiam beberapa saat.
“Nak, ayo kita sarapan dulu. Nanti dilanjutkan lagi,” teriak seorang pria dari arah luar, yang tak lain adalah tuan Jackson.
Yola hanya bisa menahan senyum, saat melihat raut wajah sang suami berubah jadi muram. Ia melihat suaminya tidak terlalu buruk juga, dan masih terlihat tampan saat sedang mengerucutkan bibirnya.
“Jika kau tidak bisa menahannya, kita lakukan sebentar saja,” ucap Yola sambil menahan tangan kokoh Roy yang ingin bangkit dari atas tubuhnya.
“Kita masih bisa melakukannya sambil membersihkan diri,” ucap sekretaris Roy sambil bangkit dan menggendong Yola tanpa sehelai benang pun.
Yola memberontak sambil menutupi kedua gunung himalaya miliknya yang terpampamg jelas. Roy hanya diam tak berniat untuk menghentikan aksinya, hingga akhirnya mereka masuk ke dalam kamar mandi tersebut.
Setelah melakukan ritual mandi bersama, akhirnya Sekretaris Roy sudah siap dengan jas kebesaran miliknya, untuk segera bergegas ke suatu tempat.
Yola yang melihat suaminya sudah rapih, hanya bertanya- tanya dalam pikirannya, karena ia tidak cukup berani untuk mencampuri urusan pria yang baru beberapa saat menjadi suaminya tersebut.
"Sayang, bantu aku memakai dasi ku," pinta Sekretaris Roy pada sang istri. Yola yang mendengar titah sang suami langsung menoleh ke arah sumber suara tersebut.
"Apa sebelumnya kau menyewa seorang wanita untuk memasang dasi mu?" tanya Yola dengan menampilkan wajah datarnya.
Sekretaris Roy yang mendapat pertanyaan dari wanita di hadapan malah tersenyum dan membungkuk sambil mencium kening istrinya.
"Tidak ada wanita yang berhak menyentuh ku kecuali dirimu. Apa kau sedang cemburu?" tanya Roy dengan tatapan menggoda.
"Untuk apa aku merasa cemburu. Hal itu tidak berarti apapun bagiku?" ucap Yola berkilah.
"Apa kau tidak ingin tahu, kemana dan dengan siapa aku pergi?" tanya Sekretaris Roy dengan penasaran.
"Untuk apa aku bertanya padamu, jika kau berniat untuk mengkhianati aku, cepat atau lambat, semua akan terbongkar. Aku tidak takut kehilangan orang yang berkhianat, apalagi harus berdebat untuk memperebutkan pria brengsekk itu. Asal kau tahu, aku akan pergi saat aku dikhianati," jawab Yola sambil memasang dasi milik Sekretaris Roy.
Roy hanya terdiam saat mendengar penuturan dari sang istri yang menjawab pertanyaannya dengan tegas tanpa ragu. Pria itu sedikit takut, jika istri yang ia cintai pergi, jika mengetahui hal yang sebenarnya terjadi.
"Kau terlalu tangguh untuk menjadi Istriku, tapi aku sangat menyukainya," ucap Sekretaris Roy sambil mencubit pipi Yola, membuat wanita itu kesal dan mengerucutkan bibirnya.
"Apa sekarang kau baru menyesal karena sudah menikah dengan ku?" tanya Yola sambil menatap suaminya dengan tatapan penuh selidik.
"Tidak ada yang perlu aku sesali dalam menikahi mu. Meskipun pernikahan kita tidak sesuai dengan apa yang kau inginkan, tapi aku serius dalam membina rumah tangga bersama dengan mu. Jika ada sesuatu yang terjadi di masa yang akan datang, berjanjilah padaku untuk tetap berada di sisiku," ucap Sekretaris Roy sambil membawa Yola dalam pelukannya, setelah selesai memasang dasi untuk suaminya.
Terima kasih.
...****************...