My Fate Is With You

My Fate Is With You
9 - Perubahan



Huruf miring bisa jadi Flashback atau ngomong dalam hati. TYPO BERTEBARAN HARAP ABAIKAN SAJA. THIS IS JUST FICTION. Sifat dan karakter cast merupakan hasil pemikiran dan khayalan penulis saja. ONE MORE TIME. THIS IS JUST FICTION.


Happy Reading!!


**


Malam harinya, So Eun memutuskan untuk keluar dari kamar walaupun rasa sakitnya masih ada, tapi tidak sesakit pagi tadi. Ketika di ruang tengah, Yunjeong langsung mendekatinya dengan wajah khawatir.


“kenapa turun? Seharusnya istirahat saja” katanya dan So Eun hanya tersenyum canggung. So Eun masih ingat jelas kejadian semalam saat melarikan diri dari Kyuhyun harus melihat hal-hal aneh di rumah ini karena mereka.


“aku sudah tidak apa-apa. Em… kenapa kalian hanya di sini?”


“maksudmu apa? Memang kami harus kemana?”


“itu.._”


“apa yang kau lakukan di sini? Seharusnya kau dikamar” suara itu memotong ucapan So Eun. Kyuhyun mendekat sambil memberikan tatapan ancaman.


“aku ingin bergabung, membosankan di dalam kamar. Lagipula, bukankah malam ini kita harusnya pesta barbeque?”


“memangnya kau sudah tidak kesakitan?” tanya Kyuhyun.


“kau bisa melihatku di sini berarti aku sudah baik-baik saja” jelas So Eun. Kyuhyun menatap So Eun lekat-lekat hingga pandangan pria itu turun ke bawah sehingga So Eun sentak saja membuat gerakan terkejut.


“kau yakin?”


“i-iya! Dan aku tidak ingin ketinggalan menikmati daging panggang. Ayo kita mulai!”


Sementara itu, Eunhyuk, Donghae, dan Siwon yang sebenarnya baru-baru saja mendapat ceramah panjang kali lebar oleh Kyuhyun ditambah amarah Kyuhyun sangat berterima kasih karena kedatangan So Eun bergabung dengan mereka membuat Kyuhyun berhenti memarahi mereka tentang kejadian semalam.


“benar sekali! Ayo kita berpesta!” seru Eunhyuk senang.


Mereka menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan dan tentu saja daging yang banyak untuk mereka semua. So Eun hanya bisa duduk memperhatikan karena Kyuhyun melarang keras dia untuk bergerak terlalu banyak. Setelah semuanya sudah siap, So Eun bergabung dan membantu menusuk sayuran dan daging yang ia sukai pada tusukan yang telah disediakan.


Melihat Kyuhyun yang begitu memperhatikan So Eun, Eunhyuk merasa rencananya itu tidak sia-sia. Dia bahkan tidak peduli harus dilempar sendok berkali-kali oleh Kyuhyun kalau hasilnya dia bisa membuat Kyuhyun dan So Eun dekat.


“mau kupotongi dagingmu?” tawar Kyuhyun ketika melihat So Eun mendapatkan daging belum terpotong kecil. So Eun menoleh dengan tatapan herannya.


“tidak perlu, aku masih bisa melakukannya sendiri” jawab So Eun.


“tapi kau sedang sakit” So Eun memutar bola matanya kesal mendengar ucapan Kyuhyun.


“aku masih memiliki kedua tanganku, lagipula yang sakit itu ditempat lain. Jadi jangan berlebihan”


“ciee… perhatian sekali”


Mendengar siulan penuh godaan dari ketiga sahabatnya, Kyuhyun melempar tatapan tajamnya. So Eun sendiri hanya bisa menghembuskan nafasnya. Semenjak kejadian malam itu, Kyuhyun berubah 180 derajat. Biasanya pria itu begitu dingin kepadanya, kini begitu memperhatikannya dan akan melakukan apapun yang diinginkan So Eun. Memang menyenangkan bisa menyuruh Kyuhyun apapun, tapi terkadang So Eun sedikit canggung dengan keberadaan Kyuhyun disekitarnya.


Bahkan Kyuhyun selalu mengantarnya ke kamar mandi dan yang hampir membuat So Eun memukuli kepala Kyuhyun, ketika pria itu menawarkan diri untuk membantu So Eun melepaskan pakaian ketika gadis itu ingin mandi. Gila saja! Tentu saja jawabannya tidak. Menurut So Eun, Kyuhyun terlalu berlebihan contoh lainnya seperti tadi. Padahal rasa sakitnya tidak membuat seluruh tubuhnya tidak berfungsi, tapi Kyuhyun begitu menganggap semuanya serius.


Acara makan malam mereka berakhir menyenangkan karena mereka terpuaskan dengan daging yang mereka makan sambil bercerita berbagai macam saling memberitahu. So Eun sangat bahagia mala mini karena dia bisa mendapatkan teman baru dan juga pemikirannya terhadap orang kaya itu sombong ternyata tidak ada pada teman-teman Kyuhyun. Mereka benar-benar orang yang saling menghormati padahal mereka orang kaya yang terhormat.


Itu juga yang dulu sering dipikirkan So Eun tentang Kyuhyun, tapi setelah beberapa hari So Eun bisa melihat sikap Kyuhyun yang sebenarnya ternyata tidak begitu angkuh. Hanya saja pria itu sengaja membuat sikap tegas agar tidak diremehkan orang lain.


Setelah selesai dengan pesta BBQ mereka, tentu saja mereka akan kembali ke kamar masing-masing untuk istirahat. Tapi So Eun tetap berada di taman belakang villa, duduk diayunan yang ada di sana sambil menatapi langit yang dipenuhi bintang yang memancarkan cahaya indahnya. Senyum cantiknya tidak pernah luntur sambil mendongakkan kepalanya. Dia bahkan tidak menyadari kedatangan suaminya yang sedaritadi mencari keberadaanya karena tadi sebelum semuanya bubar, Kyuhyun mendapat telepon penting.


“kenapa kau masih di sini? Udara sangat dingin di luar” So Eun terkejut mendengar suara bass itu. Kyuhyun berdiri di depannya dengan kedua tangan berada dalam saku celananya.


“hanya ingin saja.. langitnya sedang indah” jawab So Eun.


Kyuhyun bergumam pelan kemudian bergabung bersama So Eun duduk diayunan tersebut. “masih sakit?” pertanyaan itu keluar dari mulut Kyuhyun ketika keduanya terperangkap dalam suasana hening.


“tidak lagi, kau tenang saja. Aku tidak akan merepotkanmu lagi” Kyuhyun tidak membalas ucapan So Eun, pria itu hanya memejamkan matanya dengan kepala mendongak.


Hening.


“dua hari lagi kita kembali ke rumah, saat itu juga aku minta kau berhenti bekerja”


“kenapa?!” So Eun bergerak tiba-tiba sampai membuat gerakan ayunan yang cepat dan hampir membuatnya terjatuh jika saja Kyuhyun tidak menahan tubuhnya.


“cukup turuti perkataanku!”


“tidak mau!” Kyuhyun menatap tajam So Eun yang menolaknya. Ini pertama kalinya dia mendapat tolakkan seperti ini.


“aku tidak menerima penolakanmu!”


“aku tidak mau berhenti! Apa yang harus kulakukan di rumah? Itu membosankan”


“kau bisa menemani omma sambil bermain masak-masakan” So Eun mempoutkan bibirnya kesal mendengar ucapan Kyuhyun.


“pokoknya aku tidak mau melihatmu bekerja, kalau sampai berani kau memunculkan wajahmu di Cho Corp, aku akan bertindak. Dan aku juga akan mengatakannya pada appa kalau kau tidak perlu bekerja lagi karena tugas seorang istri adalah menunggu suaminya pulang bekerja, memasak, mengurus rumah, dan tentunya siap melayani suaminya. Jadi kau harus berhenti bekerja”


“tapi…”


“Cho So Eun… kau sudah mendengar keputusan akhirku! Tidak ada negosiasi lagi”


“ayolah, Kyu oppa. Aku masih ingin bekerja. Lagipula sebelumnya tidak ada rencana untuk membuatku berhenti bekerja. Perjanjiannya tidak seperti ini!”


“tidak berguna! Laporan ditolak!”


“cih!”


.


.


CUP


Deg.


Jantung Kyuhyun merasa berhenti berdetak ketika benda kenyal itu menyentuh pipinya kemudian dilanjut dengan tatapan puppy eyes milik So Eun yang berusaha membujuknya. Sial, dia lebih mementingkan kerja jantungnya yang bekerja lebih cepat dari biasanya karena tingkah So Eun yang tiba-tiba tadi.


“ayolah, aku mohon. Aku akan melakukan apapun!”


“shit!”


Kyuhyun mengumpat kecil kemudian dengan gerakan cepat menangkup wajah So Eun lalu memberikan ciuman dalam pada So Eun yang hanya bisa membulatkan matanya. Dilumat perlahan bibir manis yang berani mengecup pipinya tadi. Tidak mendapatkan penolakan sama sekali dari So Eun, Kyuhyun semakin memperdalam ciumannya dengan kedua tangan menarik tubuh So Eun mendekat dengannya.


“sudah kubilang, ini akan berhasil. Hahaha…” bangga Eunhyuk.


“ah, oppa kau memang hebat. Kalau semalam oppa tidak melakukan itu, pasti mereka tidak akan ada kemajuan sampai sekarang” kata Yunjeong sambil mengangkat kedua ibu jarinya.


“cih, itu juga pemikiran kami. Jadi jangan bersombong seakan itu idemu, Lee Eunhyuk!” geram Donghae. Sementara Siwon memberikan tatapan lasernya pada Eunhyuk yang nyengir kuda.


“hehehe…”


**


Dua hari kemudian mereka kembali beraktivitas seperti biasa. Sementara So Eun harus menerima keputusan Kyuhyun yang tidak memperbolehkannya bekerja lagi, terlebih tuan Cho menerima keputusan Kyuhyun tanpa protes. Akhirnya So Eun bersama nyonya Cho selalu menyibukkan diri di dapur.


Menunggu sampai sore ketika para suami mereka pulang bekerja. Terkadang So Eun juga menemani nyonya Cho berbelanja untuk bahan-bahan makanan dan juga menemani nyonya Cho mengikuti arisan komplek.


Hanya saja So Eun tidak begitu menyukai di saat harus menemani nyonya Cho pergi arisan karena dirinya selalu mendapat tatapan rendah dari teman-teman nyonya Cho. Tapi, So Eun tidak bisa menolak ketika nyonya Cho menawarinya untuk pergi.


Seperti saat ini, So Eun sedang berada di kamar mandi di salah satu rumah teman nyonya Cho karena tempat arisan selalu bergilir. So Eun berusaha menghindari tatapan tajam dari ibu-ibu itu yang tidak seperti biasanya, mereka tiba-tiba serempak membawa anak gadis mereka ke acara arisan itu dan bertambahkan tatapan merendah untuk So Eun.


“aku tidak percaya kalau istri dari Kyuhyun oppa sepertinya, terlihat jelas kalau dia hanya menginginkan harta keluarga Cho yang tujuh turunan tidak akan pernah habis itu” So Eun baru saja keluar dari kamar mandi ketika mendengar para gadis membicarakannya.


“kau benar. Sebenarnya apa yang dilihat Kyuhyun oppa dan keluarganya sampai menerimanya menjadi menantu di keluarga Cho” hati So Eun terasa berdenyut mendengar mereka kali ini merendahkannya dengan kata-kata.


“oh lihat, dia mendengar kita. Ternyata selain penjilat, dia juga seorang penguntit yang mencuri dengar pembicaraan orang lain” So Eun menundukkan kepalanya ketika dirinya ketahuan menguping. Kepalanya tertunduk dalam seraya membungkuk singkat pada mereka lalu berusaha pergi dari sana, tapi dua gadis dihadapannya itu tidak membiarkannya.


“mau kemana kau, gadis miskin?”


So Eun meringis ketika salah satu dari mereka menarik bahunya lalu mendorongnya sehingga punggung So Eun membentur dinding dengan keras. “yang benar saja, aku harus kalah dengan gadis miskin dan jelek sepertimu”


“biarkan aku pergi…” cicit So Eun dengan suara ketakutannya.


“haha… dia ketakutan. Ini menyenangkan”


So Eun menutup kedua matanya ketika melihat gadis yang mendorongnya tadi melayangkan tangannya seperti ini memukulnya.


“menyenangkan, huh?”


Deg.


So Eun langsung membuka kedua matanya mendengar suara yang dikenalinya itu. Seorang pria terlihat menahan tangan gadis yang berusaha memukul So Eun dengan senyum mengerikannya.


“Jaerim oppa” seru So Eun senang.


“lepaskan, oppa!” ronta gadis yang So Eun tidak ketahui itu sedangkan gadis lainnya perlahan menjauh karena takut melihat wajah Jaerim yang siap meledak kapan saja itu.


“melepaskanmu? Tidak akan sampai kau meminta maaf pada So Eun!”


“kenapa aku harus melakukan itu? Apa yang kukatakan itu adalah kenyataannya!!”


“AKU TIDAK MENERIMA ALASANMU!!”


So Eun terkesiap mendengar bentakan Jaerim. Ini pertama kalinya So Eun melihat Jaerim yang sedang dikelilingi amarah. “oppa, aku ini adalah adikmu. Kau menyakitiku!” So Eun semakin terkejut mendengar ucapan gadis itu. Jadi dia adalah adik Jaerim?


“aku tidak sudi memiliki adik sepertimu! Jalang sepertimu tidak pantas menyandang marga keluarga Song!”


“ommaa!! Jaerim oppa menyakitiku!!”


Mendengar keributan di belakang, para ibu datang menghampiri. “Jaerim, apa yang kau lakukan pada adikmu?” suara nyonya Song tidak membuat Jaerim melepaskan gadis itu bahkan ketika dia sudah menangis saat ini. Sementara nyonya Cho menarik menantunya yang berada diantara perselisihan itu sambil melihat keadaan menantunya baik-baik saja.


“aku hanya sedang mengajarinya tata karma untuk mulut lancangnya ini, omma. Dia bertingkah seakan dirinya hebat dibalik nama keluarga Song, nyatanya dia lebih mirip seperti gadis penjilat yang beruntung bisa menjadi bagian keluarga Song”


“apa yang kau bicarakan, Song Jaerim?! Cepat lepaskan cengkramanmu! Dia kesakitan” bentak nyonya Song. Jaerim bergeming.


“aku tidak akan melepaskannya sebelum dia meminta maaf pada So Eun”


“memang apa yang adikmu lakukan?” kali ini nyonya Cho yang bersuara ketika nama menantunya dibawa-bawa dalam permasalahan itu.


“Jaerim oppa, sudahlah. Aku baik-baik saja” tiba-tiba So Eun berkata lembut. Jaerim melirik So Eun dengan tatapan datarnya. Kemarahan masih melingkupi pria itu.


“lepaskan dia, lihat dia begitu kesakitan” kali ini Jaerim mulai luluh mendengar ucapan So Eun sehingga akhirnya dilepaskan tangan adiknya itu yang langsung berlari berlindung pada nyonya Song.


“walaupun dia bukan adik kandungmu, kau harus bersikap lembut padanya, Song Jaerim!” omel nyonya Song melihat pergelangan tangan putrinya itu yang memerah. Jaerim hanya memasukkan tangannya ke dalam saku.


“sampai kapanpun aku tidak akan menganggapnya adikku. Aku tidak mau memiliki adik yang memiliki sikap buruk sepertinya!” setelah mengatakan itu, Jaerim pergi dari sana. Nyonya Cho yang melihat keadaan tersebut belum baik akhirnya pamit untuk pulang dan tidak bisa melanjutkan arisan mereka hari ini.


Di perjalanan pulang, nyonya Cho bertanya keadaan So Eun karena dia sangat yakin sebelum Jaerim datang ada yang terjadi.  So Eun hanya menjawab masalah biasa dan tidak perlu dikhawatirkan. Walaupun nyonya Cho berusaha memaksa So Eun untuk bercerita, So Eun tetap tutup mulut.


“baiklah, kita lupakan kejadian hari ini. Tapi, omma mohon… kalau kau merasa keberatan dengan keputusan omma atau ada hal-hal yang tidak kau sukai, katakan pada omma. Jangan menyimpannya”


“baik, omma. Aku tidak akan menutupinya lagi lain kali” nyonya Cho tersenyum sambil mengusap rambut So Eun lembut.


“sebaiknya sebelum kita kembali, kita shopping terlebih dahulu. Heegun-ah, kita ke mall”


“baik, nyonya”


@at Mall.


“sayang, coba kau pakai ini. Cepat, jangan hanya menatapnya” dengan patuh So Eun menuruti perintah nyonya Cho. Mencoba pakaian yang diberikan oleh mertuanya itu.


“aahhh.. cantik, kita beli ini!” So Eun membulat. Semudah itu? Apakah seperti ini orang kaya? Tidak perlu melihat harga barang yang ingin mereka beli. Sepertinya dia akan sulit untuk menyesuaikan diri dalam keluarga barunya ini.


“omma ke sana dulu, kau tetap pakai itu. Kamu juga bisa melihat-lihat pakaian di sini, kalau suka bilang saja pada omma. Ambil apapun yang kau mau” So Eun hanya tersenyum kikuk mendengarnya. Setelah nyonya Cho menjauh untuk melihat barang lainnya, So Eun akhirnya mendudukkan diri di salah satu sofa yang ada sambil memandang sekitar.


Iseng, dia mengambil ponsel dalam tasnya lalu membuka aplikasi kamera. Bajunya memang bagus dan So Eun akui dia memang menyukai apapun yang nyonya Cho pilihkan. Sepertinya style yang So Eun sukai sama seperti mertuanya itu. Memandang sekitarnya yang sedikit luang, So Eun mulai mengangkat ponselnya dengan tangannya yang lain membentuk tanda ‘peace’.


Selfie. Itu yang dilakukan So Eun saat itu. So Eun memeriksa sekitar karena akan sangat memalukan ketika terlihat orang lain. Ini pertama kalinya So Eun mengambil gambarnya sendiri. Sebelumnya Kyuhyun yang mengambil foto mereka waktu mengajarinya. Dan menurutnya hasilnya tidak begitu buruk. So Eun tersenyum melihat hasil fotonya tadi.


“So Eun sayang… ayo, kita pulang” So Eun berdiri cepat lalu mendekati nyonya Cho yang tersenyum geli padanya. Jangan-jangan mertuanya ini…


“tidak apa-apa, sayang. Semua orang bahkan sering melakukannya tanpa rasa malu di depan public. Di mobil omma lihat hasilnya ya” So Eun merona mendengar jawaban dari perkiraan dalam pikirannya itu.


“omma…” rengek So Eun sambil menutup wajahnya malu. Nyonya Cho tertawa.


“aigoo, imutnya menantu omma… ayo kita pulang. Jangan sampai pria-pria itu lebih dulu sampai di rumah dalam keadaan kita masih di luar”


TBC