
Huruf miring bisa jadi Flashback atau ngomong dalam hati. TYPO BERTEBARAN HARAP ABAIKAN SAJA. THIS IS JUST FICTION. Sifat dan karakter cast merupakan hasil pemikiran dan khayalan penulis saja. ONE MORE TIME. THIS IS JUST FICTION.
Happy Reading!!
**
Kyuhyun dan So Eun berjalan-jalan di halaman belakang rumah keluarga Cho yang luas. Hanya keheningan melingkupi mereka. So Eun yang terus menatap lurus ke depan tidak berani untuk menoleh karena dia bisa merasakan tatapan menusuk dari Kyuhyun yang terus memandanginya tajam. Kyuhyun memang beralasan untuk pendekatan diri dengan So Eun, akhirnya dia mengajak gadis itu ke halaman belakang rumahnya.
“berapa yang kau inginkan?” suara dingin itu terdengar memecahkan kesunyian. So Eun menoleh namun, dia merasa bodoh saat itu juga karena kini bertatapan dengan mata elang Kyuhyun mampu membuatnya bergetar hebat.
“m-maksudmu?”
“hanya ada kita sekarang, jadi berhenti berpura-pura. Kau menyetujui perjodohan ini hanya karena harta keluargaku kan?”
“itu.. tidak_”
“tidak perlu menyangkalnya karena aku sudah tahu semuanya. Memang tidak ada wanita yang waras di zaman ini. Semua wanita hanya menginginkan pria yang akan menjadi suaminya itu kaya raya agar mereka bisa berfoya-foya dengan kekayaan itu. Dan tercetak jelas di dahimu, kau hanya menginginkan harta kami! Jadi kau tidak perlu menyembunyikan sifatmu sebenarnya karena aku tidak akan tertipu” So Eun bahkan tidak mampu membalas ucapan Kyuhyun yang lebih tajam dari silet. Jadi seperti itu kesan pria itu padanya. Seperti wanita penggila harta.
“maaf, tapi aku tidak_”
“asal kau tahu, aku terpaksa menerima perjodohan ini karena saat itu appa sakit karena aku. Jadi jangan berharap kau menerima perlakuan baik dariku setelah kita menikah”
“tunggu dulu, aku akan menjelaskannya!” ucap tegas So Eun.
“tidak perlu. Semuanya sudah jelas!”
So Eun memandang punggung Kyuhyun yang perlahan menjauh tanpa mau mendengarkan penjelasannya sedikitpun. So Eun menggeram dalam hati karena pria itu seenak jidat menuduhnya macam-macam tanpa tahu alasannya sebenarnya. Dia pikir, So Eun menerima perjodohan ini karena kekayaannya. Cih, lebih baik So Eun terus miskin dari pada tersiksa dengan keegoisme orang kaya.
“kalau bukan karena omma dan appa, aku tidak mau menikah dengan pria dingin sepertinya. Ya tuhan… lindungi hamba dari marabahaya”batin So Eun.
SKIP
Keesokan harinya, Kyuhyun sungguh dibuat badmood oleh ayahnya karena menyuruhnya untuk menjemput So Eun di rumahnya kemudian memberikan pekerjaan yang layak di kantor. Dan tahu apa yang telah diberikan ayahnya pagi hari ini? Kenaikan jabatan! Gila! Ayahnya benar tidak main-main untuk mengangkatnya menjadi CEO sejak ia menerima perjodohan itu.
“appa harap kau bisa menjaga Cho Corp dengan baik dan tentunya kau juga harus menjaga calon istrimu dengan baik! Kalau sampai So Eun kenapa-kenapa, appa akan menghukummu!”
Itu yang dikatakan ayahnya setelah Kyuhyun dikejutkan dengan pergantian posisi CEO pagi ini. Sebegitu percayakah ayahnya kalau dia benar-benar setuju dengan perjodohan itu? Kalau begini, sudah lama dia mencari wanita yang bisa diajak berkompromi hanya untuk memudahkan jalannya itu. Tapi, dia tidak begitu menginginkan posisi CEO sehingga dulu tidak terpikirkan untuk mencari wanita bayaran yang akan menjadi pacar pura-puranya. Yah, sudahlah. Lagipula dia sudah mendapatkan gadis yang tidak ada bedanya dengan wanita bayaran yang dipikirkannya tadi. Sama-sama hanya menginginkan uang.
Kyuhyun berhenti di depan rumah sederhana yang menurutnya tidak layak untuk dihuni manusia itu dengan pandangan tidak percaya. Jadi, gadis itu benar-benar miskin taraf rendah. Kyuhyun menghela nafas. Sebenarnya apa yang dipikirkan ayahnya sampai menjodohkannya dengan gadis itu? Apa kehebatannya?
Kyuhyun turun dari mobil dan tidak lama kemudian keluar So Eun dengan pakaian sederhananya. Gadis itu mendekat dengan ragu ketika melihat wajah Kyuhyun yang terlihat datar sambil memandanginya dari atas hingga bawah. Namun, hanya hembusan nafas yang keluar dari bibir pria itu sebelum Kyuhyun membuka pintu mobil untuk So Eun. So Eun masuk dengan perlahan.
“sebenarnya kau tidak perlu melakukan ini, Kyuhyun-shi” kata So Eun ketika mereka sedang dalam perjalanan menuju Cho Corp.
“…”
“cukup berikan aku pekerjaan saja, aku sudah senang. Aku bisa pergi ke sana sendiri” lanjut So Eun. Kyuhyun tetap diam dengan pandangan focus ke jalan raya.
“Kyuhyun-shi…”
“diamlah!”
So Eun terkejut ketika hentakan itu terdengar tiba-tiba. Kyuhyun yang memotong ucapannya. Mobil ikut berhenti ditepi jalan. So Eun ketakutan melihat Kyuhyun yang langsung menatapnya tajam penuh kebencian. Segitu bencinya Kyuhyun kepadanya?
“aku juga tidak mau melakukan ini semua dan jangan harap kau yang hanya lulusan SMA bisa mendapatkan tempat yang tinggi karena aku tidak gila yang membiarkan karyawan sepertimu mengurus pekerjaan karyawan yang seharusnya memiliki latar pendidikan tinggi” So Eun menunduk dalam mendengar setiap hinaan dari Kyuhyun yang sepertinya akan menjadi makanan sehari-harinya mulai saat ini. Dan mulai hari ini juga dia harus belajar menelan rasa sakit itu semua.
“jangan pernah mengadu pada appaku kalau aku memberikanmu pekerjaan yang buruk karena aku hanya memberikan pekerjaan yang sesuai untukmu” So Eun mengangguk mengerti tanpa berani menatap pria di sampingnya itu.
“sekarang tutup mulutmu dan biarkan aku berkonsentrasi pada kemudiku!”
“baik!”
“dan satu lagi! Aku akan menurunkanmu di halte dekat kantor, setelah di kantor kau langsung saja menghadap bagian Office Girl, mereka sudah tahu aku memerintahkanmu ke sana untuk apa” So Eun kembali mengangguk menanggapi ucapan Kyuhyun.
“gunakan mulutmu untuk menjawabku!”
“i-iya..”
“cih!”
@at Cho Corp.
Seperti yang diperintahkan Kyuhyun, So Eun langsung menghadap bagian Office Girl dan ternyata dia sudah ditunggu oleh seorang wanita yang menyambutnya dengan wajah garang. So Eun menundukkan kepalanya sambil meminta maaf karena keterlambatannya. Setelah dijelaskan berbagai macam tugas yang akan dilakukannya, So Eun langsung melaksanakan tugas barunya dengan hati riang.
Awalnya dia berpikir akan ditempatkan di bagian yang merupakan bukan tempatnya karena ucapan tuan Cho yang membuatnya kebingungan. Masalahnya dia tidak mungkin bekerja di posisi yang tinggi sementara dia tidak tahu apa-apa karena dia hanya lulusan SMA. Beruntung karena Kyuhyun juga menyadari kebodohannya dan So Eun merasa bersyukur karena Kyuhyun masih memberikannya pekerjaan yang layak.
“So Eun-shi, tolong antarkan minuman ini ke ruang rapat 1 bersama Jieun” So Eun yang sedang menyiapkan minuman untuk karyawan yang memesan tadi menoleh. Orang yang menyuruhnya adalah seorang pria menurut So Eun paling baik diantara sesama pekerja OB/OG di sini.
“sudah, pergilah. Aku akan menggantikan pekerjaanmu untuk sementara” So Eun mengangguk menerimanya. Ia pergi bersama seorang gadis yang seumuran dengannya hanya berbeda beberapa tahun saja. Dan merupakan teman pertamanya selama bekerja di sini.
“aku selalu ingin menjadi bagian pengantar minuman saat rapat, asal kau tahu” ujar Jieun saat mereka berada di lift.
“kenapa memangnya?”
“agar bisa melihat Cho kwajang__ eh, Cho sajangnim maksudku” So Eun mengangguk singkat dalam hati dia merasa aneh. Kalau Jieun tahu Kyuhyun itu orang yang seperti apa, mungkin dia tidak mau melakukan ini lagi.
Sampai di ruang rapat 1, So Eun dan Jieun masuk perlahan. Memberikan minuman dalam diam karena tidak ingin mengganggu rapat yang sedang berlangsung. So Eun sudah menyelesaikan tugasnya dan tinggal menunggu Jieun yang belum selesai. Hingga lengannya ditarik kecil oleh pria berjas yang awalnya sedang memperhatikan orang yang sedang berbicara di depan mereka semua itu.
“bisakah kau gantikan kopi ini menjadi teh? Aku tidak suka kopi” bisik pria itu. So Eun terkejut karena pria itu masih muda dan tampan. Hampir saja mulutnya berteriak karena ditarik tiba-tiba.
“a-ah, baiklah. Saya akan menggantinya. Tunggu sebentar” So Eun mengambil kopi yang sudah diletakkan di meja dihadapan pria itu kemudian keluar dari ruang rapat bersama Jieun yang sudah selesai memberikan minuman.
“hei, apa yang kau bicarakan dengan tuan Song?” tanya Jieun setelah mereka di luar.
“tuan Song?” bingung So Eun.
“iya, pria tampan yang mengajakmu bisik-bisik tadi” So Eun teringat pria tadi yang ingin kopinya diganti dengan teh.
“tidak, dia hanya ingin mengganti kopi menjadi teh. Katanya tidak suka kopi” jelas So Eun.
“berarti kau akan kembali ke sana untuk mengantar pesanannya? Ahh, beruntung!”
“benarkah?” So Eun tersenyum kemudian mengangguk. Jieun memeluknya kemudian berlarian dengan cepat untuk melaksanakan tugasnya.
Sementara itu, di ruang rapat. Kyuhyun melihatnya. Ketika rekan bisnisnya berbicara dengan So Eun. Dia bisa melihat So Eun yang gugup ketika diajak bicara oleh rekan bisnisnya itu. “kenapa, hyung?” bisik Kyuhyun pada pria yang duduk tidak jauh darinya.
“kau tahu, aku tidak menyukai kopi” jawab pria itu sambil tersenyum tipis. Kyuhyun mengangguk mengerti. Pria itu adalah rekan bisnis dan salah satu teman sewaktu kuliah walaupun tidak begitu dekat seperti tiga sekawannya. Dia bernama Song Jaerim. Jadi So Eun kemungkinan besar akan kembali lagi. Namun, ternyata ia salah. Bukan So Eun yang mengantar pesanan Jaerim, tapi temannya yang lain.
Dan bisa Kyuhyun dengar ketika Jaerim menanyai mengapa bukan OG yang ia minta mengantar minumannya dan gadis yang menggantikan So Eun menjawab bahwa So Eun memiliki tugas mendadak yang harus ia kerjakan.
“kenapa hyung mencarinya? Bukankah tujuannya hanya mengganti kopi?” bisik Kyuhyun lagi. Jaerim terkekeh pelan.
“memangnya tidak boleh? Lagipula aku baru pertama kali melihat Office Girl di perusahaanmu yang cantik” Kyuhyun berdecih mendengar Jaerim memuji So Eun. Apakah Jaerim salah lihat? Atau mungkin mata Jaerim sedang bermasalah? Itu yang dipikirkan Kyuhyun ketika mendengar ucapan Jaerim tadi.
**
Hari pertama yang So Eun rasakan sangat menyenangkan karena dia menyukai pekerjaannya. Mungkin kalau orang lain akan memilih pekerjaan yang lebih tinggi dari ini, tapi So Eun bersyukur bisa bekerja lagi. Setelah mengganti bajunya, So Eun berpamit pada Jieun yang baru akan mengganti bajunya.
“aku duluan, Jieun”
“iya, hati-hati…”
Saat di depan lobby, So Eun gelagapan melihat tuan Cho berada di di sana di samping mobilnya. Merasa sudah tertangkap basah ketika tuan Cho tersenyum melihat calon menantunya itu, tuan Cho melambaikan tangannya. So Eun mendekat lalu membungkukkan tubuhnya menyapa.
“selamat sore, tuan Cho”
“aigoo, sudah kubilang jangan panggil seperti itu. Panggil aku appa” So Eun melirik sekitarnya. Untung saja sudah tidak banyak karyawan yang ada di kantor karena memang waktu pulang sudah lewat beberapa menit lalu.
“bagaimana pekerjaanmu? Lancar?” tanya tuan Cho. So Eun menggantuk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum canggung.
“haha.. iya, sangat lancar, abeonim…”
“baguslah, ayo pulang bersama appa saja”
“tapi, Kyuhyun…”
“tidak usah pikirkan bocah itu! Dia masih harus mengurus beberapa pekerjaannya. Ayo naik ke mobil” So Eun akhirnya mengalah dan masuk ke dalam mobil tuan Cho diikuti oleh tuan Cho setelahnya.
“mulai malam ini dan seterusnya, kau akan tinggal bersama kami di rumah Cho. Omma dan appamu tinggal di apartemen yang sudah appa belikan untuk mereka karena rumah kalian sudah tidak layak dihuni”
“apa? T-tidak perlu, appa. Aku-aku tinggal bersama omma dan appa saja. Tidak enak harus merepotkan abeonim dan ommonim kalau aku tinggal di sana”
“sama sekali tidak! Pokoknya kau harus tinggal di rumah appa! Titik tidak ada koma!” So Eun menundukkan kepalanya. Sudah pasti Kyuhyun akan kembali mengoceh macam-macam kepadanya setelah melihatnya di kediamannya malam ini.
“baiklah, abeonim”
SKIP
“aku pulang…” Kyuhyun baru saja pulang dari kantor. Berkali-kali dia memiringkan kepalanya yang pegal sambil melangkah menuju dapur. Tempat ibunya berada.
“omma, aku_”
“Kyu, sudah pulang? Kenapa tidak langsung ke kamar dan mandi? Cepat, makan malam sudah hampir siap” kata nyonya Cho melihat putranya yang terdiam di dekat meja makan. Itu karena keberadaan So Eun yang membuatnya bungkam.
“kenapa menatapi So Eun seperti itu? Terkejut ya… mulai saat ini, So Eun akan tinggal bersama kita sekaligus membiasakan kalian untuk tinggal bersama”
“APA?! Omma, jangan bercanda”
“apakah wajah omma sedang bercanda?” Kyuhyun kembali bungkam. Nyonya Cho melanjutkan memasaknya sedangkan So Eun tidak berani melihat Kyuhyun dan ia lebih memilih untuk terus melanjutkan membantu nyonya Cho memasak.
“omma, aku pinjam So Eun sebentar boleh?” ujar Kyuhyun dengan suara yang menurut So Eun mencekam untuknya.
“tidak boleh! So Eun harus membantu omma di sini! Sudah, kau pergi mandi sana!” So Eun bersyukur karena jawaban nyonya Cho menyelamatkannya dari terkaman singa lapar itu. Kyuhyun mendengus dan akhirnya mengikuti perintah sang ibu.
So Eun dan Kyuhyun duduk berhadapan. Dan sedari tadi Kyuhyun terus menatap tajam pada So Eun yang terus menghindari tatapannya. Sedangkan tuan Cho dan nyonya Cho tidak menyadari hal tersebut dan focus pada makan malam mereka.
“omma, kenapa So Eun tinggal di sini? Apakah dia tidak memiliki rumah?” tuan Cho sentak menatap anaknya tajam mendengar pertanyaan Kyuhyun tersebut.
“apa salahnya? Appa yang menyuruhnya untuk tinggal di sini? Keberatan?” balas tuan Cho sinis. Kyuhyun mendengus kesal karena tidak pernah dibela ayahnya.
“acara pernikahannya juga masih lama, kenapa dia harus tinggal di sini?”
“sekali lagi kau buka mulut, appa akan menghukum mulutmu itu!”
“apa_”
“sudah, sudah… kita sedang makan. Jangan berbicara saat sedang makan” kata nyonya Cho menengahi perdebatan suaminya dan anaknya.
Setelah selesai makan malam, So Eun langsung menuju kamar yang menjadi kamarnya secepat yang ia bisa. Tapi, baru saja dia ingin menutup rapat pintu kamarnya, Kyuhyun menerobos masuk dengan wajah dinginnya.
“ingin menghindariku, nona Kim?” Kyuhyun menutup pintu kemudian menguncinya dengan bibir membentuk senyum smirk. So Eun ketakutan melihat itu, namun dia berusaha untuk bersikap biasa saja di depan Kyuhyun.
“apa yang ingin kau bicarakan? Aku sudah mengantuk” Kyuhyun berdecih seraya melipat kedua tangannya di depan dadanya.
“tidak salah lagi tebakanku kalau kau hanya menginginkan kehidupan mewah. Untuk apa kau tinggal di sini? Membuatku muak saja”
“b-bukan aku yang menginginkannya! A-abeonim memaksaku”
“apa? Kau sebut appaku apa? Berani sekali kau!!” So Eun menutup matanya ketika Kyuhyun mengangkat tangan seperti ingin memukulnya. Namun, tidak ada yang terjadi dan ketika So Eun membuka mata Kyuhyun sudah menurunkan tangannya sambil bersandar pada daun pintu.
“terserah kau! Aku tidak peduli, tapi kuperingatkan padamu. Aku tidak akan berbaik hati padamu walaupun ada omma dan appa! Camkan itu!”
Kyuhyun keluar dari kamar So Eun dengan membanting pintu meninggalkan So Eun yang masih berusaha menormalkan detak jantungnya yang berpacu lebih cepat karena ketakutan. Mungkin jika muncul pilihan antara menonton film terhorror atau berhadapan dengan Kyuhyun, So Eun akan dengan tegas menjawab menonton film horror daripada harus berhadapan dengan Kyuhyun.
“bagaimana nasibku setelah menikah? Apa dia akan melakukan kekerasan padaku? Aish, dia benar-benar menakutkan”batin So Eun frustasi.
Ini pertama kalinya dia berhadapan dengan orang semacam Kyuhyun. Dan So Eun pikir Kyuhyun belum mengingatnya karena pria itu tidak pernah mengungkit masalah di restoran waktu itu. Apa jadinya kalau Kyuhyun ingat dirinya adalah pelayan yang menumpahkan air padanya? Apakah Kyuhyun akan bertambah murka? Memikirkannya saja So Eun bergidik ngeri.
TBC