My Fate Is With You

My Fate Is With You
14 - Rencana Pencarian



Huruf miring bisa jadi Flashback atau ngomong dalam hati. TYPO BERTEBARAN HARAP ABAIKAN SAJA. THIS IS JUST FICTION. Sifat dan karakter cast merupakan hasil pemikiran dan khayalan penulis saja. ONE MORE TIME. THIS IS JUST FICTION.


Happy Reading!!


**


Satu hari berlalu


Saat ini Kyuhyun berada di kediaman Kim, orang tua dari Jaejoong. Dia menjelaskan semua masalah yang dilakukan oleh putra mereka yang telah menculik So Eun. Awalnya tuan Kim dan nyonya Kim tidak percaya kalau putranya akan berbuat seperti ini, tapi orang kepercayaan tuan Kim mendapatkan kabar dari salah satu anak buah putranya dan ternyata memang benar Jaejoong menculik So Eun, istri Kyuhyun.


“maaf sekali, Kyuhyun-shi. Tapi aku tidak tahu dia dimana. Aku ingin sekali membantu dan menghukum anak itu, tapi kami benar-benar tidak tahu keberadaannya” Kyuhyun mendesah kecewa mendengar ucapan tuan Kim. Pria paruh baya itu sudah berusaha menghubungi anaknya, tapi nomor anaknya sudah tidak terdaftar.


“apakah anda sama sekali tidak tahu tempat yang biasa putramu datangi? Atau mungkin rumahnya yang lain?” tanya Kyuhyun tak menyerah. Dia harus mendapatkan petunjuk walau itu sedikit.


“sejak dia memulai bisnisnya sendiri, Jaejoong sudah jarang pulang ke rumah. Dia juga tidak pernah menceritakan apapun tentang bisnis yang sedang dijalaninya atau aktivitasnya yang lain. Terakhir kali dia pulang itu karena nunanya mengidam” jelas nyonya Kim.


Kyuhyun bernafas gusar. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Jika seperti ini terus, hidupnya tidak akan pernah tenang. “maafkan putra kami, Kyuhyun-shi. Kami juga akan berusaha mencari cara untuk menemukan Jaejoong untuk menebus rasa bersalah kami karena tingkah Jaejoong”


“iya, tuan Kim. Baiklah kalau begitu, aku pamit. Maaf menganggu ketenangan kalian”


“hati-hati di jalan… aku akan menghubungimu kalau memiliki petunjuk, jadi tinggalkan nomor telepon yang bisa kami hubungi”


“baik, terima kasih”


Kyuhyun pergi tanpa mendapatkan apapun. Keluarganya sudah melapor pada kepolisian dan sedang mencari keberadaan Jaejoong. Bahkan Kyuhyun sudah meminta bantuan Siwon yang memiliki teman yang kali saja bisa untuk membantu mencari, tapi belum ada berita terbaru apapun hari ini.


Kring kring


Kyuhyun menerima panggilan tersebut dengan cepat berharap ada petunjuk baru menemukan So Eun. Tapi, ternyata yang menelponnya adalah Song Jaerim.


“Kyuhyun, kenapa kau tidak mengatakan padaku kalau So Eun diculik?” Kyuhyun berdecak kesal mendengar suara Jaerim yang membentaknya.


“untuk apa aku memberitahumu, hyung? So Eun istriku!”


“setidaknya aku juga ingin membantu, dia sudah kuanggap adik bagiku”


“oh ya? Atau kau pria lainnya yang akan bertindak sama seperti Kim Jaejoong brengsek itu? Menculik istriku dengan seenaknya”


“kau ini bicara apa? Aku tahu kau sedang banyak pikiran saat ini, tapi jangan menyalahkanku seakan aku adalah komplotan pria itu!”


“aku tahu, hyung! Aku tahu kau menyukai So Eun!”


“…”


“kenapa diam? Terkejut? Tanpa menebaknya aku sudah tahu kau menaruh perasaan pada istriku, sama seperti Jaejoong”


“tapi, aku tidak akan bertindak nekat seperti Jaejoong. Aku cukup puas melihat So Eun bahagia bersamamu. Jujur saja, dulu memang aku pernah pemikiran yang sama seperti Jaejoong, tapi melihat tatapan penuh cinta So Eun untukmu aku mundur perlahan. Aku sadar, mau aku berusaha seperti apapun tidak akan merubah perasaan So Eun kepadamu. Mungkin gadis itu belum menyadari perasaannya, tapi dia tidak bisa membohongi orang sekitarnya bahwa dia jatuh cinta pada suaminya yaitu kau!”


Deg.


Mendengar pernyataan Jaerim tentang So Eun membuat Kyuhyun terkejut sekaligus senang. Apa benar So Eun menatapnya seperti itu? Kenapa dia tidak menyadarinya?


“maka dari itu, jangan sia-siakan usahaku ini yang merelakan So Eun. Kau harus membahagiakannya”


“aku tahu”


“baiklah, sekarang katakan apa yang bisa kubantu?”


“aku tidak tahu, hyung… kepalaku rasanya ingin meledak saat ini. Aku sudah mencari informasi kepada orang tuanya, tapi nihil. Mereka juga tidak tahu keberadaan Jaejoong”


“ya sudah, aku akan mencari cara lain”


“hyung…”


“ada apa?”


“…”


“Cho Kyuhyun, jangan buang waktuku!”


“terima kasih… aku akan membahagiakan So Eun bagaimanapun caranya. Aku tidak akan mengecewakanmu jadi carilah wanita yang cocok untukmu secepatnya”


“cih, berisik. Kau sedang mengejekku ya? Sudah ya, kututup!”


Kyuhyun tersenyum setelah panggilan itu terputus. Sekarang matanya terbuka untuk Jaerim, ternyata Jaerim tidak seburuk itu. Selama ini dia hanya berpikiran negative pada Jaerim yang akan merebut So Eun darinya, tapi ternyata orang yang baru dikenalnya justru yang bertindak nekat seperti ini.


@at Jaejoong House.


Jaejoong membuka pintu kamar So Eun perlahan dan wajahnya seketika berubah panik saat ruangan itu kosong. Dia melepaskan nampan di tangannya sehingga mangkuk dan gelas yang ada di atasnya jatuh dan pecah. “So Eun! Dimana kamu, sayang?! Jangan bermain seperti ini, sayang!” Jaejoong membuka pintu kamar mandi, kosong.


Dia juga menghampiri balkon, tapi pintu balkon masih terkunci rapat. Hingga Jaejoong teringat satu tempat. Lemari. Dibuka lemari dengan terburu-buru dan saat itulah dia bernafas lega menemukan gadisnya ada di dalam sana sedang tertidur.


Sepertinya So Eun begitu tenang berada di dalam lemari dibadingkan di luar. Jaejoong berjongkok menatapi So Eun lekat-lekat. Perasaan kasihan hinggap di hati Jaejoong sampai-sampai muncul pemikiran untuk menghentikan tingkah gilanya ini, tapi pikiran itu langsung buyar ketika kata hati jahatnya kembali menguasainya.


“aku pasti bisa membuatnya bahagia bersamaku, ya… dia hanya membutuhkan waktu” gumam Jaejoong pelan. Setelah puas menatapi wajah So Eun, Jaejoong menggendong gadis itu untuk dipindahkan kembali ke ranjang.


“engh.. Kyuhyun oppa…”


Jaejoong merasa hatinya sesak mendengar gumaman So Eun yang menyebut nama pria lain walau pria itu sebenarnya adalah suaminya sendiri. Tapi, kini So Eun adalah miliknya. Gadis ini hanya boleh menatapnya, memanggil namanya, dan mencintainya. Hanya dia yang dimiliki gadis ini.


Mencoba bersikap sabar dan menahan emosinya, Jaejoong membaringkan So Eun di ranjang kemudian menarik selimut. Hingga igauan kembali terucap dibibir So Eun. “Kyuhyun oppa… hikss.. sakit…” Jaejoong menatap perut So Eun ketika gadis itu meremasnya dalam tidurnya. Bahkan dia tidak peduli dengan nama yang kembali disebut So Eun karena dia sukses cemas melihat So Eun kesakitan.


Jaejoong berlari keluar dari kamar itu dengan cepat dan kembali dengan peralatan dokternya. Sebenarnya, sebelum memasuki dunia bisnis. Jaejoong bercita-cita ingin menjadi dokter. Bahkan dia sempat masuk perkuliahan kedokteran hanya saja melihat ayahnya membutuhkannya di kantor, Jaejoong harus mengubur dalam-dalam impiannya itu. Dan sekarang Jaejoong hanya menjadikan dunia kedokteran sebagai pengetahuan saja. Menurutnya itu cukup berguna saat keadaan genting seperti ini.


“sayang, kau tidak apa-apa? Sayang…” Jaejoong berusaha membangunkan So Eun dari tidurnya dengan menggoyang kecil tubuhnya, tapi So Eun tetap menutup matanya dan mengigau kesakitan pada perutnya.


Jaejoong memasang stetoskopnya dan mulai memeriksa So Eun dengan serius. Keningnya sesekali berkerut menandakan dia masih tidak yakin dengan apa yang didapatkannya. Hingga wajahnya berubah keras setelah menyadari sesuatu.


~~


Perlahan namun pasti So Eun terbangun dari tidurnya. Dia melirik sekitarnya. Masih sama seperti kemarin. Terjebak di dalam kamar. Pandangannya beralih pada makanan yang ada di atas meja nakas. Sepertinya Jaejoong membiarkannya di sana. Tanpa ragu So Eun meraih makanan tersebut dan makan dengan lahap.


Selesai makan, So Eun menatap suasana kamarnya dengan pandangan bosan. Mau sampai kapan dia dikurung seperti ini? So Eun benar-benar merindukan Kyuhyun. Dia juga merindukan nyonya Cho dan tentu saja ibunya yang sering berkunjung ke rumah. Apa mereka sedang mencarinya? Apa mereka sedang mencemaskannya?


So Eun akhirnya memberanikan diri beranjak dan dengan ragu melangkah menuju pintu kamar yang tertutup rapat. Iseng, So Eun memegang kenop pintu dan memutarnya hingga… cklek.


So Eun senang karena pintu itu tidak dikunci seperti biasanya. Gadis itu keluar dengan langkah hati-hati. Dia juga menatap sekitarnya takut-takut Jaejoong memergokinya. Namun niatnya untuk kabur harus buyar karena terpesona dengan rumah ini. So Eun bahkan tertarik pada batang pohon yang berada di ruang tengahnya.


...Sementara Jaejoong, pria itu sedang berada di meja pantry. Duduk dengan raut wajah frustasi ditemani dengan red wine. Pria itu menyadari keberadaan So Eun hanya diam saja sampai gadis itu sadar sendiri nantinya. Dan benar saja, gadis itu terkejut menemukan pria yang tidak ingin dilihatnya berada di dapur yang ruangannya memang menyatu dengan ruang tengah....


“mau kemana? Aku tidak akan mengurungmu lagi di kamar karena percuma juga. Kalau ingin kabur, coba saja karena kita sangat jauh dari kota dan tidak ada kendaraan umum di sini. Hanya ada kita berdua” penjelasan Jaejoong semakin membuat So Eun takut. Tapi, So Eun berusaha untuk membalas Jaejoong walau dengan suara gemetarnya.


“a-a-aku lapar”


“bukankah aku sudah menyiapkan makanan di kamar? Kau belum memakannya?” So Eun merutuki kebodohannya yang justru membuat alasan bodoh. Sebenarnya alasannya tidak bodoh karena So Eun memang masih merasa lapar padahal baru saja makan beberapa menit lalu.


“a-aku masih lapar” Jaejoong tidak membalasnya hanya menatap gadis yang berdiri kaku dekat sebuah batang pohon di dalam rumahnya. Entah mengapa, So Eun merasakan aneh ketika Jaejoong menatapnya sendu.


“kemarilah, aku akan buatkan makanan untukmu” dengan ragu, So Eun melangkah menuju tempat Jaejoong sementara pria itu sudah bangun dan menuju dapur yang ada di depannya itu. So Eun duduk dengan canggung lalu melirik botol dan gelas yang ada di meja.


“jangan sentuh itu, Kim So Eun!” So Eun tersentak dengan tangan hampir menyentuh botol wine tersebut saat suara Jaejoong mengejutkannya.


“jangan sentuh kalau kau tidak ingin mabuk”


.


.


.


Keheningan terjadi, hanya suara desisan dari aktivitas memasak Jaejoong yang terdengar. “Jaejoong-shi…”


“…”


“apa… kau akan terus menyembunyikanku?”


“…”


“orang tuaku pasti khawatir. Kau juga… apa tidak bekerja?”


“aku masih bisa mengatur perusahaan dari sini, So Eun. Sekarang dunia sudah canggih, tanpa harus ke kantor aku masih bisa bekerja di rumah”


“tapi akan lebih efektif kalau kau ada di kantor, kau bisa melihat pekerjaan karyawanmu secara langsung”


“So Eun…” entah So Eun sadar atau tidak, kini Jaejoong tidak lagi memanggil So Eun dengan sebutan ‘sayang’.


“a-… ma-maafkan aku kalau aku banyak bicara. Aku akan diam sekarang” kata So Eun takut. Jaejoong tidak membalasnya, tapi pria itu berbalik sambil membawa sepiring makanan untuk So Eun.


“makanlah, kalau masih kurang katakan saja padaku. Aku akan buatkan”


Merasa usaha untuk membujuk Jaejoong gagal, So Eun makan dengan perasaan sedih. Tanpa So Eun sadari, Jaejoong menatapinya dengan pandangan yang berbeda dari sebelumnya. Dan hanya Jaejoong yang tahu apa yang dipikirkannya saat ini.


**


Jaerim terlihat focus dengan layar laptopnya yang menampilkan huruf-huruf yang hanya dimengerti olehnya. Huruf-huruf itu adalah untuk membuat perintah-perintah yang diinginkannya. Bakat tersembunyi seorang Song Jaerim, pria itu tahu melakukan hacker karena pernah menekuni hacker dulu sewaktu SMA bersama teman-temannya. Ya, hanya untuk bermain-main tapi dia tidak menyangka ini akan sangat berguna saat ini.


Dia sedang melacak ponsel Jaejoong sampai titik terakhir aktifnya. Walau mungkin Jaejoong tidak sebodoh itu untuk memberikan petunjuk kepadanya, tapi kemungkinan kecil masih ada yang bisa untuk dijadikan petunjuk melalui ponselnya. Titik terakhir aktifnya berada dijalan menuju luar kota Seoul.


“itu tandanya dia ada di luar Seoul” gumam Jaerim yakin.


“cah, sekarang pikirkan kemana dia pergi, Song Jaerim” ucapnya pada dirinya sendiri.


“sedang apa, hyung?”


"AAAA~"


Jaerim terkejut setengah mati saat adik laki-lakinya tiba-tiba muncul. Song Mino. Dengan kesal Jaerim memukul kepala adiknya itu karena telah mengejutkannya dengan datang tanpa suara seperti itu. Mino tertawa saja melihatnya.


“hyung terlihat serius sekali, jadi aku penasaran” kata Mino masih tertawa.


“jangan ganggu hyung dulu, hyung sedang sibuk” balas Jaerim kemudian kembali menghadap layar laptopnya. Memang dasarnya Mino adalah pria yang rasa ingin tahunya yang besar, jadi dia tetap di sana sambil ikut menatap layar laptop sang kakak.


“oh? Hyung ingin pergi ke ****? Aku dan teman-teman pergi camping ke sana”


“hyung sedang tidak ingin pergi kemana-mana, Song Mino. Sudahlah, jangan ganggu hyung. Ini sangat penting”


“cih dasar sok sibuk!” Mino pergi dengan wajah kesalnya karena kakaknya terus mengusirnya. Dia menutup pintu kamar kakaknya, namun tidak jadi saat dia kembali memunculkan kepalanya.


“apa hyung tahu, di sana ada rumah yang mewah tanpa penghuni. Aku bahkan tidak yakin kalau itu rumah atau villa. Setidaknya carikan tempat untukku dan teman-temanku camping atau berlibur di tempat seperti itu. Masa kami selalu ditenda tidurnya… apa hyung tidak punya villa?”


.


.


.


“MINO-YA!!” Mino terkejut saat kakaknya itu berteriak keras lalu memeluknya sangat erat. Dia pikir kakaknya itu akan berteriak padanya karena marah diganggu lagi.


“kau memang adikku yang terbaik! Sekarang kasih tahu pada hyung dimana letak rumah itu, oke? Hyung akan memberikanmu hadiah yang kau inginkan setelahnya”


“benarkah?!”


@at KyuSso Home.


TING TONG TING TONG


BUK BUK BUK


“CHO KYUHYUN BUKA PINTUMU!! CEPAT!!”


Kyuhyun menoleh mendengar suara bising dari pintu utama rumahnya. Nyonya Cho dan tuan Cho yang memang sedang berada di sana hanya menatapnya saja. Kyuhyun berdiri untuk melihat siapa pelaku yang berbuat onar di rumahnya itu.


“hyung? Kenapa kau ribu__”


“AKU MENEMUKANNYA! KIM JAEJOONG!” Kyuhyun membulatkan matanya lalu memberondongi Jaerim dengan pertanyaann.


“dimana? Bagaimana bisa kau mengetahuinya? Apa kau sudah memastikannya?”


“ya, aku yakin! Kita harus secepatnya ke sana”


“ya, harus! Kita pergi sekarang! Omma!!! Appa!! Jaerim hyung sudah tahu tempat Jaejoong berada, kita harus pergi. Omma dan appa bisa bantu panggilkan polisi. Nanti Jaerim hyung akan kirimkan alamatnya kepada kalian” tuan Cho dan nyonya Cho serentak mengangguk. Mereka senang akhirnya menantu mereka bisa ditemukan.


“pergilah, kami akan menyusulmu!”


TBC