My Fate Is With You

My Fate Is With You
15 - Selamat



Huruf miring bisa jadi Flashback atau ngomong dalam hati. TYPO BERTEBARAN HARAP ABAIKAN SAJA. THIS IS JUST FICTION. Sifat dan karakter cast merupakan hasil pemikiran dan khayalan penulis saja. ONE MORE TIME. THIS IS JUST FICTION.


Kalo kurang menegangkan maklumkan 😅 saya blm jagonya bikin tegang, gak kayak author kece lainnya yg lebih jago dari saya.


Happy Reading!!


**


Huekk… hueek…


Jaejoong baru saja membuka pintu kamar So Eun saat terdengar suara seseorang muntah-muntah di kamar mandi. Dengan cemas Jaejoong menghampiri So Eun yang berlutut di depan toilet. “kau baik-baik saja?” Jaejoong dengan lembut memegangi rambut So Eun untuk memudahkan gadis itu mengeluarkan isi perutnya, ia juga memijit tengkuk So Eun.


Pertanyaannya tidak dibalas oleh So Eun yang sedang sibuk itu. Setelah puas muntah tanpa mengeluarkan apapun, So Eun langsung terduduk lemas. Jaejoong dengan sigap menggendong So Eun untuk kembali ke kamar dan didudukkan pada ranjang.


“minumlah…” So Eun menerima gelas yang disodorkan Jaejoong tanpa suara. Hingga tanpa sadar So Eun menangis dalam diam sementara Jaejoong menatapi gadis yang dicintainya itu lirih.


“aku merindukannya… hikss.. biarkan aku pulang” belum sampai dua hari Jaejoong membawa So Eun dengannya, tapi So Eun terus saja merengek padanya. Ingin rasanya Jaejoong menyumbat mulut So Eun dengan lakban hanya saja dia terlalu sayang pada gadis itu sehingga tidak ada keberanian untuknya menyakiti So Eun sedikit saja.


Jaejoong sudah berusaha untuk bersikap baik dan lembut untuk menarik perhatian So Eun. Dia juga selalu menuruti keinginan So Eun walau tidak semua karena dia yakin permintaan So Eun yang sangat ingin dikabulkan yaitu pergi darinya. Tapi, tidak sedikitpun sikap lembutnya dianggap serius oleh So Eun yang terus-terusan menyebut nama Kyuhyun dan terkadang membuat Jaejoong lepas kendali dan membentak So Eun.


“kau tahu jawabanku, sayang. Aku tidak akan pernah melepaskanmu”


“egois… hikss..” So Eun menutupi wajahnya dengan telapak tangannya. Jaejoong menatap So Eun sakit, pria itu benar-benar sakit hati karena gadis yang dicintainya begitu membencinya. Apa yang harus dilakukannya? Sampai matipun, keputusannya tidak akan berubah. Jaejoong mengusap rambut So Eun lalu melepaskan tangan gadis itu untuknya bisa menghapus air matanya.


“sssttt… aku juga sadar kalau aku adalah orang yang egois, jadi jangan menangis lagi. Kau bisa membuat’nya’ menangis juga” So Eun menatap Jaejoong bingung masih dalam tangisannya. Walau beberapa kali menepis pelan tangan Jaejoong di wajahnya, pria itu kembali menyentuh wajahnya dengan kelembutan yang semakin membuat So Eun tidak percaya bahwa Jaejoong melakukan penculikan kepadanya.


“ap-apa maksudmu?” Jaejoong mengulurkan tangannya menyentuh perut rata So Eun lalu memberikan usapan lembut. Di samping itu So Eun terkejut menyadari maksud ucapan Jaejoong tadi ikut menatapi perutnya.


“aku hamil?” cicit So Eun dengan suara kecil. Jaejoong mengangguk dengan senyum tipis.


“ya, anak kita tumbuh di sana. Jadi jangan bersedih lagi” So Eun menepis tangan Jaejoong lalu dipeluknya perutnya dengan posesif seakan-akan Jaejoong bisa saja berbuat kasar padanya dan calon bayinya.


“aku tidak akan menyakitimu dan bayi kita, sayang. Jadi jangan menjauhiku”


“dia anakku dan Kyuhyun oppa!!”


“jangan membuatku marah, sayang. Dia anakku! Kalian milikku!”


“BUKAN!!”


“JANGAN KERAS KEPALA, KIM SO EUN! DIA AKAN MENJADI ANAKKU!! DIA ANAKKU!”


“TAPI DIA DARAH DAGING KYUHYUN OPPA!”


“AKU TIDAK PEDULI!”


BRAKK


Suara pintu dibuka paksa terdengar dari kamar tersebut, Jaejoong berubah panik dan ia langsung meraih So Eun dalam dekapannya bertepatan saat pintu kamar dibuka secara paksa oleh dua orang tamu yang tidak diundang itu.


“ternyata di sini kau berada, brengsek!” bentak pria berkulit pucat dengan wajah garangnya.


“Kyuhyun oppa… hikss.. Jaerim oppa” itulah mereka. Kyuhyun menatap gadis yang begitu ia rindukan dan khawatirkan itu. So Eun masih terlihat baik-baik saja jika dilihat secara fisik, tapi belum tentu mental So Eun baik-baik saja.


“lepaskan dia, Kim Jaejoong. Dia bukan milikmu” ujar Jaerim berusaha maju tapi, tiba-tiba Jaejoong meraih pisau yang ada di atas nakas bersama buah-buahan kemudian disodorkan pada So Eun.


“k-kau… jauhkan pisau itu”


“kalau begitu kalian harus pergi dari kehidupan kami!!” teriak Jaejoong sambil mengeratkan pegangannya pada So Eun yang ketakutan dan berusaha melindungi perutnya.


“kumohon jangan!”


Pekikan dari Kyuhyun diiringi datangnya polisi dengan senjata ditodong ke arah Jaejoong dan So Eun yang secara perlahan melangkah menuju balkon. “Jaejoong-shi, kami akan mengampunimu kalau kau mau bekerja sama dengan kami. Jauhkan pisau itu” Jaejoong memberontak sambil berusaha menyerang polisi yang mendekatinya.


“Kyuhyun oppa… hikss…”


“DIAM!! JANGAN SEBUT NAMA PRIA ITU LAGI, SIALAN!!”


“Kyuhyun oppa tolong kami… kalau kau tidak bisa menyelamatkanku, setidaknya selamatkan bayi kita” isak So Eun yang sentak mengejutkan semua orang kecuali Jaejoong yang semakin meradang mendengar ucapan So Eun.


“SUDAH KUBILANG BAYI ITU ANAKKU!! DIA ANAKKU!!!” Jaejoong mendekatkan bilah pisaunya pada leher So Eun dan bertepatan dengan itu tubuh Jaejoong oleng karena pijakan yang terdapat dibalkon disusul dengan suara teriakan So Eun serta tembakan senjata api.


“AAAA!!!”


Dor!


~~


@at hospital.


Kyuhyun berjalan bolak-balik di depan ruang rawat. Di sana juga ada Jaerim, orang tua Kyuhyun dan So Eun, serta teman-teman Kyuhyun. Dan yang ada di dalam ruang gawat darurat adalah So Eun. Ya, So Eun terkena goresan akibat peluru yang dilepas oleh polisi untuk melumpuhkan Jaejoong yang kini sudah berada di kantor polisi. Jangan lupakan kakinya sekarang pincang karena peluru bersarang di kakinya. Kyuhyun ingin sekali menghajar Jaejoong sampai mati, tapi dia tidak bisa melakukan itu karena pikirannya langsung tertuju pada So Eun.


Dokter keluar dari ruangan tersebut dan langsung diserbu oleh Kyuhyun. “bagaimana keadaan istri saya, dok?” dokter tersebut tersenyum.


“beruntung lukanya tidak begitu parah. Jadi istri dan bayimu baik-baik saja. Hanya saja, jangan buat istrimu banyak pikiran karena akan berpengaruh pada bayi kalian juga” kyuhyun tersenyum lega mendengarnya.


“bayi…? Mak-maksud dokter…” tanya nyonya Cho kaget.


“iya, nyonya Cho. Menantu anda sedang hamil dan umurnya masih seminggu tiga hari” orang tua Kyuhyun dan So Eun tentu saja bahagia mendengar berita itu, di sisi lain Jaerim tersenyum senang walau dalam hati dia sesak. Bukti cinta Kyuhyun dan So Eun sudah ada dan tidak ada kesempatan untuknya bersama So Eun.


“selamat, Kyu! Kau akan menjadi appa” kata Donghae diikuti dengan Eunhyuk dan Siwon. Kyuhyun memeluk ketiga temannya itu sambil membalas dengan rasa terima kasih. Lalu dia bertatapan dengan Jaerim dan tak perlu menunggu lama, Kyuhyun memeluk Jaerim begitu erat.


“terima kasih, hyung. Kalau bukan hyung, So Eun belum ditemukan saat ini begitu juga dengan bayi kami. Terima kasih…” Jaerim menepuk punggung Kyuhyun selayaknya laki-laki yang memberikan dukungan.


“jaga mereka baik-baik…” pesan Jaerim.


“aku pasti akan menjaga mereka!”


**


Setelah satu minggu berlalu dari kejadian itu, Kyuhyun sekarang ekstra ketat menjaga So Eun agar kejadian yang sudah terlewat tidak terulang lagi. Apalagi kini So Eun tidak sendiri, ada calon bayi mereka yang sedang tumbuh di rahim istrinya itu.


“apa yang sedang kau lakukan di sana, ibu hamil?” So Eun menoleh saat suara Kyuhyun terdengar menegurnya. So Eun yang sedang memasak sarapan untuk suaminya itu tersenyum polos seraya menunjukkan masakannya yang hampir selesai.


“apa yang pernah kubilang tentang memasak?” So Eun menghela nafas karena Kyuhyun berubah posesif kepadanya.


“aku hanya tidak ingin kau kelelahan, lagipula sudah ada Im ahjuma yang akan memasak untukku” So Eun mempoutkan bibirnya kesal mendengarnya.


“aku hanya ingin membuat sarapan untukmu dan aku bosan hanya diam. Lagipula sepertinya baby Cho juga tidak ingin hanya berdiam diri”


“tapi kau…”


“aku janji hanya memasak, kami tidak akan kelelahan. Aku ingin melayanimu sebagai seorang istri” potong So Eun cepat. Kyuhyun berpikir sejenak sampai akhirnya dia menerima keputusan istrinya.


Dengan pelan dia memeluk So Eun dari belakang sambil memperhatikan kegiatan masak istrinya. Tangannya tidak tinggal diam, dia menyapa bayi mereka dengan cara mengelus perut So Eun yang masih rata itu. Yah, mungkin sudah sedikit maju. Sedikit saja.


“apa oppa ingin kubawakan makan siang?” Kyuhyun dengan cepat menggeleng.


“biar nanti aku saja yang pulang untuk makan siang. Jadi, tidak ada ke kantor. Kau bisa kelelahan”


“baik-baik, appa Cho yang protektif” Kyuhyun terkekeh mendengar cibiran So Eun yang kesal padanya. Tak tanggung dia mengecup pipi So Eun yang menjalar menuju leher jenjang gadis itu.


“oppa…” tegur So Eun hingga Kyuhyun kembali terkekeh.


SKIP


Seperti janjinya, saat makan siang Kyuhyun pulang ke rumah. So Eun sendiri sedang bersantai sambil menonton TV setelah menyelesaikan masakannya beberapa menit lalu. Ketika mendengar suara langkah kaki mendekat, So Eun menoleh dan berdiri Kyuhyun di sana sehingga tanpa disuruh senyumnya mengembang lebar.


“oppa sudah datang?” Kyuhyun mendekat tanpa menjawab pertanyaan So Eun yang sudah diketahui gadis itu. Dia memilih untuk memeluk So Eun untuk menghilangkan rasa rindunya padahal mereka hanya berpisah beberapa jam saja. Kyuhyun jadi teringat kembali saat Jaejoong menculik So Eun, rasanya udara disekitarnya menghilang karena istrinya tidak ada dihadapannya. Tapi, sekarang dia bisa memeluk kembali So Eun sepuasnya.


“kau tidak melakukan hal yang macam-macam kan” ujar Kyuhyun ketika mereka menuju meja makan dengan Kyuhyun tidak melepaskan pelukannya.


“tidak…” balas So Eun ringan sambil tersenyum misterius. Kyuhyun menyipitkan matanya curiga.


“kau tidak berbohong kan?” So Eun tidak membalasnya.


“So Eun…”


“oppa, sudah. Sekarang waktunya oppa makan…”


Akhirnya Kyuhyun mengalah dan mulai makan dalam diam. So Eun juga makan bahkan porsi gadis itu lebih besar dari milik Kyuhyun. Yah, mungkin hormon kehamilan yang membuatnya terus kelaparan. Kyuhyun tersenyum tipis melihat betapa lahapnya So Eun memakan makanannya. Lalu pandangan Kyuhyun turun pada perut So Eun, pria itu tidak sabar melihat perut So Eun yang nantinya membesar karena mengandung buah hati mereka. Dan yang sangat membuat Kyuhyun penasaran, wajah anaknya nanti.


“oppa… ponselmu bergetar” Kyuhyun menggeleng pelan lalu menatap ponselnya yang memang bergetar. Wajahnya berubah serius melihat nama penelpon.


“aku terima telepon dulu, kau lanjutkan saja makannya” So Eun mengangguk patuh, Kyuhyun mengusap rambut gadis itu lalu menjauh sedikit dari meja makan.


Kyuhyun melirik istrinya yang melanjutkan makannya dengan santai lalu kembali focus pada panggilan yang masuk.


“halo… bagaimana?”


“hasilnya akan diberitahukan pada sidang yang akan dilaksanakan besok dan diharapkan untuk kehadiran Cho So Eun-shi dipersidangan”


“apakah tidak bisa aku saja yang menggantikan istriku?”


“maaf, tuan Cho. Tidak bisa. Kami juga harus menerima kesaksian dari Cho So Eun-shi” Kyuhyun mendesah pelan.


“baiklah… aku akan membawanya”


“terima kasih atas kerja samanya, tuan”


Kyuhyun kembali bergabung dengan So Eun yang sudah menghabiskan setengah makanan di meja makan. Sedikit terkejut dengan itu tapi, Kyuhyun tidak bisa menahan tawanya ketika So Eun juga mengambil jatah makanan miliknya. So Eun terkejut dengan kedatangan Kyuhyun saat dirinya baru saja memasukkan makanan milik Kyuhyun ke dalam mulutnya.


“ya ampun, sayang…” Kyuhyun duduk masih dengan tawanya. So Eun menundukkan kepalanya malu.


“maaf, oppa. Aku lapar” ucap So Eun pelan. Kyuhyun mengusap noda di sudut bibir So Eun seraya tersenyum.


“tidak apa-apa, sayang. Makanlah sesukamu…” Kyuhyun dengan senang hati menyuapi So Eun makanannya yang diterima oleh So Eun tentunya tanpa ragu.


“makan yang banyak supaya baby Cho tidak kelaparan” So Eun mengangguk sambil tertawa pelan. Dia melanjutkan makannya sementara Kyuhyun hanya menatapnya. Pria itu bingung antara ingin memberitahu So Eun atau tidak perihal sidang besok. Menyadari Kyuhyun terus menatapnya, So Eun menghentikan makannya.


“oppa tidak apa-apa? Sepertinya ada yang ingin oppa katakan padaku” Kyuhyun menggeleng pelan.


“bukan masalah besar” balas Kyuhyun.


“tadi siapa yang menelpon? Karyawanmu?”


“bukan, dari kepolisian” So Eun menatap Kyuhyun serius. Dia kembali ingat bahwa baru-baru ini dia diculik oleh Jaejoong. Bagaimana nasib pria itu setelah ini? Walaupun So Eun tidak menyukai Jaejoong, tapi pria itu tidak pernah menyakitinya selama menculiknya. Bahkan pria itu selalu menjaganya dan memastikan bahwa dia baik-baik saja.


“apa yang dikatakan polisi?” tanya So Eun.


“besok sidang akan dilaksanakan, mereka ingin kau datang untuk menjadi saksi korban”


“apa Jaejoong akan dihukum berat? Dia sama sekali tidak menyakitiku, oppa. Tidak bisakah mengampuninya?” Kyuhyun menggeram mendengar ucapan So Eun yang mustahil untuknya karena Kyuhyun ingin Jaejoong dihukum seberat mungkin. So Eun justru ingin Jaejoong dilepaskan? Tidak bisa dan tidak mungkin.


“So Eun, dia menculikmu. Dia juga hampir melukaimu karena keegoisannya ingin merebutmu dariku. Aku tidak mungkin melepaskannya”


“kalau begitu ringankan saja hukumannya. Dan oppa, aku baik-baik saja saat itu. Dia tidak menyakitiku, pisaunya sangat jauh dariku ditambah sekarang kakinya terluka karena ditembak polisi. Apa oppa tidak kasihan?”


“So Eun, saat itu kau memohon untukku menolongmu sambil menangis. Bagaimana mungkin sekarang kau berkata pisau itu jauh darimu. Dia menodong pisau dilehermu” So Eun menunduk dalam. Ya dia memang melakukan itu, tapi memang karena keadaan genting.


“maaf, tapi sebenarnya dia tidak mencoba menyakitiku. Dan saat itu, ya aku terlalu takut saat itu. Dibandingkan dengan dia ingin menyakitiku, aku lebih takut dia membawaku jauh darimu. Dia berkata ingin memilikiku dan bayi kita. Aku takut, oppa”


“apa?”


“Jaejoong tahu aku hamil, dia sempat memperlakukanku dengan aneh hingga dia berkata bahwa aku hamil. Kupikir dia akan melepaskanku tapi dia menerima keadaanku dan yang diinginkannya agar aku tidak pergi darinya. Tidak ada tindakan kekerasan selama itu, bahkan dia membuatkan makanan yang enak untukku dan bayi kita”


“baik, anggap saja dia memang tidak menyakitimu. Tapi, dia tetap berusaha menjauhkanmu dariku dan dia menculikmu. Itu sudah termasuk tindakan criminal, So Eun”


“lalu… dia akan tetap dipidana?” Kyuhyun mengangguk lemah.


“aku ingin sekali menghukum berat pria itu beberapa waktu lalu, tapi mendengar ceritamu tadi. Aku berubah pikiran. Dia memang ingin memisahkan kita, tapi dia tidak menyakitimu itu yang kusyukuri. Jadi, aku akan mengusahakan agar meringankan hukumannya” So Eun tersenyum lebar dan reflek mendekati Kyuhyun lalu memeluk suaminya erat. Dia juga tidak sungkan mencium pipi Kyuhyun yang bahagia menerima perlakuannya itu.


“terima kasih, oppa”


“mm… sekarang makan lagi”


TBC