
Ivana masuk ke ruangan papa Irena. Ruangan pemilkk perusaahan. Ruangan dengan warna dominasi coklat. Rak buku yang berada di belakang meja kerja juga memiliki warna coklat. Warna asli dari kayu. Buku-buku yang berjajar di dalam rak juga tampak begitu rapi sekali.
Ivana yang masuk mengedarkan pandangannya. Ruangan cukup luas. Tentu saja nyaman sekali untuk dipakai bekerja.
Rasanya, jika sampai nanti dia bisa kembali ke dunia nyata, dia ingin mengubah kantornya seperti ini. Entah kapan dia akan kembali seolah dia benar-benar tidak tahu kapan dirinya akan kembali lagi.
Ivana mengayunkan langkahnya ke meja kerja. Kemudian mendudukkan tubuhnya ke kursi empuk berbahan kulit. Kursi terasa nyaman sekali. Membuatnya yakin jika dia akan betah bekerja di ruangan ini.
“Sayang, apa benar kamu akan bekerja di sini?” Carlos yang sejak tadi mengikuti Irena langsung bertanya. Dia masih penasaran sekali dengan ucapan Irena.
“Apa kamu tidak dengar tadi?” Ivana menatap Carlos yang berdiri di seberang meja. Padahal ucapannya sudah cukup jelas, tetapi masih ditanyakan lagi.
“Maksudku, kamu tidak punya pengalaman berbisnis, apalagi mengurus perusahaan, lalu bagaimana nanti kamu mengerjakan semuanya.” Carlos merasa jika Irena tidak terlalu ahli. Dia yang mengenal Irena dari dulu, tahu nilai akademis Irena. Jadi tentu saja dia yakin dengan keahlian Irena.
“Aku ta ....” Baru Ivana mau menjelaskan jika dirinya bisa melakukan itu semua. Namun, dia sadar yang dilihat Carlos kali ini adalah Irena. Irena memang tidak punya keahlian apa-apa. Jadi wajar jika Carlos khawatir akan hal itu. “Bukankah aku bisa meminta bantuanmu.” Dia tersenyum. Saat ini hanya Carlos yang dapat Ivana andalkan. Karena banyak data yang nanti harus didapatkannya. Jadi untuk sementara waktu, dia memilih untuk tetap berpura-pura di depan Carlos.
Carlos tersenyum. “Aku akan membantumu.”
Ivana tersenyum. Dia merasa senang, karena akhirnya Carlos mau membantunya. Jadi jika seperti ini, dia akan lebih mudah mengambil kendali perusahaan. Ada banyak hal yang harus dilakukannya.
“Sepertinya aku akan mulai bekerja besok saja. Untuk saat ini, aku lebih baik pulang dulu.” Ivana merasa jika memang belum siap untuk bekerja. Apalagi setelah membuat pertunjukan untuk paman Irena. Itu membuatnya menguras tenaganya.
“Kalau begitu aku akan mengantarkan kamu untuk pulang.” Carlos menawarkan diri pada sang tunangan.
Ivana menatap Carlos. Dia merasa saat Irena sakit saja Carlos tidak bisa menjengguk, tetapi sekarang dia mau mengantarkan pulang. Sebenarnya, dia tidak terlalu suka sikap Carlos. Namun, apa boleh buat, dia masih butuh Carlos.
“Aku ingin menebus kesalahanku karena tidak bisa menengokmu saat sakit. Sebagai tuanganmu, aku merasa bersalah sekali.” Carlos menatap Irena penuh harap. Kesalahan yang lalu, membuatnya merasa bersalah sekali.
Ivana menangkap wajah Carlos yang tampak tulus. Lagi pula, Carlos sudah menjelaskan jika paman Irena yang melarangnya datang ke rumah sakit. Jadi tidak ada alasan untuknya menolak tawaran Carlos.
“Baiklah.” Ivana pun setuju untuk diantar. Dia segera berdiri. Menghampiri Carlos.
Mereka berdua berjalan bersama keluar dari kantor. Mobil Carlos yang berada di depan kantor membuat mereka langsung segera masuk ke mobil ketika keluar kantor. Carlos langsung membukakan pintu mobil untuk mempersilakan Irena masuk.
Mobil melaju melewati kotak London yang tampak Lengang. Ivana melihat ke sekeliling. Bangunan tua yang berjajar rapi membuat Ivana merasa ini benar-benar nyata. Seperti dirinya benar-benar tidak sedang berada di dimensi yang lain.
“Bisakah kita jalan-jalan dulu.” Ivana ingin menikmati kota London yang indah.
“Tentu saja.” Carlos tidak melepaskan kesempatan bersama dengan Ivana. Dia pun melajukan mobilnya untuk mengelilingi kota London.
Ivana menikmati perjalanan ini. Dia benar-benar merasa jika kota London begitu indah. Saat di perjalanan, dia melintas di jam terbesar di London. Jam di London adalah waktu yang paling akurat. Rasanya Ivana ingin memutar waktu di mana dirinya tidur sebelum membaca buku. Dia ingin kembali ke kehidupannya. Dengan rutinitas bekerja yang membuatnya gila. Namun, semua seolah hanya mimpi. Dia justru terjebak di sini. Dan menjalani hidup sebagai Irena.
Mendapati tawaran dari Carlos, Ivana merasa jika ini adalah hal yang menjadi daya tarik kota London. Menikmati secangkir teh dengan kue-kue kecil. “Boleh.” Ivana setuju.
Carlos segera memutar setir mobilnya menuju ke salah satu tea house. Tempat itu adalah favorite Irena.
Saat turun Ivana merasa tidak asing dengan tea house yang berada di depannya. Ini adalah tempat favorite Irena. Gadis itu sering ke tempat ini ketika sedang merasa butuh ketenangan.
Saat masuk, Ivana di suguhi dekorasi dengan dominasi warna putih. Walaupun bangunan di luar tampak usang, tetapi di dalam tampak begitu indah dan modern.
Mereka berdua segera memesan teh. Carlos memesankan early grey kesukaan Irena. Saat teh datang aroma teh begitu tercium. Membuat Ivana merasa begitu tenang sekali.
Menikmati secangkir teh membuat Ivana justru mendapatkan ide. Dia pun langsung berbinar ketika ide itu melintas.
“Sayang, apa kamu bisa menyiapkan aku berkas-berkas data penjualan dan data pendukung lainnya.” Ivana merasa besok akan memulai dengan mengecek data-data tersebut. Dari situ nanti, dia akan mendapatkan celah untuk dapat memikirkan langkah selanjutnya.
“Untuk apa?” Carlos menatap Irena. Sikap Irena benar-benar membuatnya bingung.
“Aku ingin mempelajari saja.” Irena menjelaskan niatnya.
“Baiklah, besok aku akan siapkan.” Carlos langsung setuju untuk menyiapkan semua untuk Irena.
Ivana merasa ini langkah awal. Semoga besok dia bisa mengerjakan semua dengan baik.
...****************...
“Aku benar-benar tidak tahu kenapa dia berubah sekali. Seperti bukan Irena yang polos, lugu, dan juga bodoh.” Paman Berto meluapkan kekesalannya. Dia tidak menyangka jika Irena akan datang ke kantor dan mengambil alih perusahaan. Ini tentu saja membuat geraknya jadi tidak leluasa.
“Aku juga benar-benar heran sekali. Kenapa bisa seperti itu.” Bibi Laria merasakan perubahan yang terjadi pada Irena. “Apa setelah kecelakaan dia gagar otak dan menjadi pintar?” Pertanyaan itu meluncur dari mulut Bibi Laria.
“Aku juga tidak tahu, kenapa bisa dia seperti itu.” Paman Berto merasa jika perubahan yang dialami Irena tampak berbeda dan akan membahayakannya.
“Lalu kita harus bagaimana?” Bibi Laria merasa ikut takut.
“Tenanglah. Ayo kita ubah strategi kita agar dapat menyingkirkan Iren.” Paman Berto tidak bisa membiarkan keponakannya mengambil alih perusahaan. Hanya dirinya yang menjadi pemilik perusahaan.
“Cepat papa singkirkan Irena. Aku tidak betah tinggal di kamar belakang.” Jane merenggek pada sang papa.
“Tenanglah, aku akan melakukannya.” Paman Berto tersenyum.