
Hari pernikahan Irena dan Savero akhirnya tiba juga. Pesta begitu meriah. Acara diadakan di luar ruangan. Para tamu undangan datang untuk memberikan ucapan selamat pada Irena dan Savero.
Kebahagiaan begitu dirasakan oleh mereka.
Ivana sendiri merasa bahagia bisa bertemu dengan pria seperti Savero. Pria yang sangat bertanggung jawab sekali. Dia berharap kelak jika dia bisa kembali ke kehidupannya, berharap akan mendapatkan pria sebaik itu.
Ivana memerhatikan tamu undangan.
Rata-rata tamu undangan adalah teman-teman papa Irena. Jadi Ivana tidak mengenalnya.
Ivana merasa senang. Kini Irena merasakan kebahagiaan. Paman dan bibinya sudah mendapatkan hukuman atas apa yang dilakukan. Begitu juga dengan Carlos dan Savero. Mereka kini berada di balik jeruji besi. Jika mengingat bagaimana cerita Irena, harusnya ini sudah berada pada akhir cerita.
“Kapan aku bisa kembali? Kapan aku keluar dari novel ini?” Ivana merasa harusnya tugasnya sudah selesai. Namun, kenapa belum juga dirinya keluar dari novel yang dibacanya ini.
“Sedang apa kamu?” Savero menghampiri Irena.
“Hanya melihat para tamu undangan.” Irena tersenyum.
“Bagaimana perasaanmu sekarang?” Savero penasaran sekali. Dia ingin tahu bagaimana perasaan wanita yang kini menjadi istrinya itu.
“Tabir kematian kedua orang tuaku sudah terbuka. Orang-orang yang berusaha membunuhku juga sudah tertangkap. Orang-orang di perusahaan yang selama ini jadi borok perusahaan sudah disingkirkan. Tentu saja aku merasa bahagia. Dengan begini aku bisa menjalani hidupku dengan damai.” Ivana menatap Savero.
Savero tersenyum. Dia menjadi saksi bagaimana Irena menghadapi semua masalah hidupnya. Savero akui jika memang Irena cukup tangguh.
“Lalu bagaimana perasaanmu tentang pernikahan ini?”
Pipi Ivana seketika menghangat. Semburan warna merah di pipinya jelas menandakan seberapa malu jika ditanya tentang pernikahan.
“Tentu saja aku bahagia.” Ivana mengulas senyumnya.
Savero tersenyum. Dia merasa jika Irena merasa senang. Dia menarik tubuh Irena. Merengkuh pinggang ramping milik Irena.
“Aku tidak mau mengatakannya.” Ivana tersenyum.
“Kamu sedang bermain-main denganku?” Savero mencoba mengintimidasi Irena.
“Menurutmu?” Ivana merasa tertantang.
Savero harus bersabar. Pesta masih berlangsung. Tentu saja dia tidak bisa melakukan pemaksaan.
“Kali ini aku membiarkan kamu, tapi nanti aku tidak akan membiarkanmu.”
“Kita lihat saja.” Ivana merakan perasaan yang belum pernah dirasakan. Dia merasa jika pesona Savero benar-benar meluluhkanya. Wanita mana yang tidak suka dengan Savero. Pria yang selalu ada di saat wanita butuh.
...****************...
Pesta berakhir, Savero dan Irena menuju ke kamar hotel yang dipesan. Sepanjang perjalanan ke kamar, raut bahagia terpancar dari keduanya.
Savero membuka pintu kamar dan mempersilakan Irena untuk masuk ke kamar.
Kamar dihias dengan bunga mawar. Aromanya semerbak ketika pintu kamar dibuka. Ivana yang masuk lebih dulu, mengayunkan langkahnya lebih dalam. Disusul oleh Savero di belakangnya.
Savero menarik tangan Irena dan membuatnya berbalik. Tubuhnya menghantam dada Savero. Membuat Ivana segera menengadah.
“Aku menunggu jawabanmu.” Savero menyeringai.
Ivana mencoba menghindar. Dia memundurkan tubuhnya. Namun, Savero tidak melepaskan begitu saja. Dia berjalan maju.
Ivana berhenti ketika langkahnya sampai ke tempat tidur. Tubuhnya yang tak dapat seimbang membuatnya terjatuh ke tempat tidur. Savero seperti dapat santapan secara langsung karena terjadi di tempat yang seharusnya.
“Mau lari ke mana kamu?” tanya Savero.