Mrs Billionaire

Mrs Billionaire
Mengambil Alih Perusahaan



Pagi ini Ivana bersiap untuk ke kantor. Tak ada pakaian kerja yang dimiliki Irena. Beruntung ada setelah celana dan blazer. Hingga akhirnya dia menjatuhkan pilihan pada pakaian itu. Nanti setelah ini, Ivana akan mencari pakaian-pakaian yang modis. Pakaian yang dimilik Irena terlalu girly untuk Ivana yang selalu tampil seksi.


Seusai berganti pakaian Ivana keluar dari kamar. Saat menuruni anak tangga, dia melihat pelayan sedang memindahkan barang-barang miliknya. Hal itu tentu saja membuatnya merasa senang, pekerjaan pertamanya sudah selesai.


Saat langkahnya sampai di tangga terakhir, dia bertemu dengan Jane yang sedang membantu sang mama memindahkan barang. Melihat Jane membuat Ivana malas. Sehingga dia segera berlalu.


“Mau ke mana kamu?” Jane yang melihat Irena merasa heran. Ke mana gerangan sepupunya itu pergi. Apalagi Irena tampak rapi sekali.


Ivana menghentikan langkahnya. Dia berbalik ke arah sepupu Irena itu.


“Ke kantor.” Ivana menjawab pertanyaan yang tadi dilayangkan Jane.


Seketika tawa Jane terdengar. “Mau apa kamu di kantor? Bantu bersih-bersih.” Dia tertawa. Jane tahu jika Irena bukan seseorang yang pintar. Nilai akademisnya sangat rendah, hingga membuatnya terlihat bodoh di mata orang. Karena kebodohan itulah papanya memanfaatkan untuk mengambil alih perusahaan.


“Iya, bersih-bersih orang-orang yang tidak berguna!” Ivana menyeringai. Dia segera berlalu pergi meninggalkan Jane.


Jane menatap tubuh Irena yang perlahan menghilang dari pandangannya. Dia masih mencerna ucapan dari Irena.


“Kamu sedang apa, Jane?” Laria yang melihat anaknya termenung pun bertanya.


“Irena mau ke kantor, Ma.” Jane memberitahu apa yang membuatnya terdiam.


Laria menautkan kedua alisnya, diiringi dengan kerutan di dahinya. Dia cukup terkejut ketika mendengar jika Irena pergi ke kantor.


“Mau apa dia ke kantor?” tanya Laria.


“Katanya mau bersih-bersih orang-orang yang tidak berguna.” Jane memberitahu sang mama alasan Irena pergi.


Laria semakin dibuat bingung mendengar jika Irena akan bersih-bersih orang yang tidak berguna di kantor. Namun, kebingungannya itu berubah sebuah senyuman. Dia merasa yang dilakukan Irena hanyalah lelucon saja. Karena Irena tidak punya keahlian apa-apa.


“Sudah abaikan saja. Pasti dia sedang mempermalukan dirinya sendiri.” Laria tertawa dan berbalik.


Jane setuju dengan sang mama. Dia yakin jika Irena pasti tidak akan bisa melakukan apa-apa. Dia tahu kemampuan Irena sejauh apa.


...****************...


Ivana sampai di kantor. Saat turun, dia langsung disambut oleh petugas keamanan yang ada di kantor. Dengan langkahnya yang percaya diri, dia berjalan masuk ke kantor. Para karyawan yang melihat menundukkan pandangannya. Menyapa Irena yang baru datang. Mereka semua jelas tahu siapa Irena.


Ivana terus mengayunkan langkahnya ke lift pribadi. Dengan percaya diri dia masuk dan menuju ke presdir.


Saat lift terbuka, tampak seorang pria berdiri di depan lift.


“Iren.” Carlos begitu terkejut ketika melihat Irena ada di kantor.


Ivana yang keluar dari lift terus memandangi pria di depannya. Dia ingat jika Carlos adalah tunangan dari Irena. Namun, yang jadi pertanyaannya adalah kenapa pria itu tidak muncul ketika Irena berada di rumah sakit.


Carlos tiba-tiba langsung memeluk Irena. “Maafkan aku tidak bisa datang ke rumah sakit.” Dia mengucapkan permintaan maafnya.


Ivana hanya bisa menautkan kedua alisnya dia merasa aneh dengan tingkah pria di depannya itu. Sebagai tunangan, seharusnya dia adalah orang yang pertama datang saat dirinya kecelakaan. Namun, kenyataannya tidak.


“Kenapa kamu tidak datang? Padahal aku dirawat selama tiga hari?” Ivana begitu penasaran sekali. Dia harus tahu tentang alasan tunangan Irena itu.


Carlos melepaskan pelukannya. “Aku harus mengurus kantor selama Paman Berto tidak ada . Jadi aku tidak bisa datang. Paman bilang dia akan mengurusmu. Jadi dia memintaku mengurus kantor. Aku pikir karena ada paman, kamu pasti akan baik-baik saja. Aku sudah berusaha menghubungimu, tetapi ponselmu mati.” Dia mencoba menjelaskan pada Irena.


Ivana mengingat jika pasca kecelakaan, dia tidak melihat ponsel Irena. Jadi jika ponselnya mati, tentu saja itu adalah hal wajar. Untuk alasan tidak bisa datang karena pekerjaan, Ivana masih maklum karena dia sendiri sering seperti itu.


“Sudahlah yang terpenting aku sudah sehat.” Ivana malas berlama-lama untuk membahas hal itu.


Carlos menjadi lega. Akhirnya tunangannya itu mengerti yang dijelaskan.


“Kamu kenapa ke sini? Apa ada hal penting?” Carlos masih penasaran dengan kedatangan Irena.


“Tolong panggil semua jajaran direksi. Aku akan memberitahu sekalian nanti.” Ivana meminta tolong pada Carlos. Dia tahu jika saat ini hanya Carlos yang bisa diandalkan.


Carlos cukup bingung. Namun, dia pun mengangguk. Mengiyakan apa yang dikatakan. Dia langsung bergegas untuk memanggil semua direksi.


Ivana sendiri langsung menuju ke ruang rapat. Menunggu mereka semua datang. Dia merasa ini langkah awal memperbaiki keadaan.


Sesaat kemudian para direksi datang. Paman Berto yang tadi diberitahu jika Irena datang ikut juga ke ruang rapat. Dia benar-benar merasa terkejut dengan kedatangan Irena ke kantor. Dia ingin tahu apa yang akan dilakukan keponakannya itu.


Irena melihat semua direksi sudah datang. Termasuk pamannya yang juga datang. Tak menunggu lama, dia berdiri. Menatap semua orang yang berada di ruang rapat.


“Terima kasih kalian sudah hadir di sini. Di sini aku ingin memberitahu jika aku akan mengambil alih perusahaan. Semua yang berkaitan dengan perusahaan ini, kini berada di bawah kendaliku. Jadi aku minta kerja sama kalian semua untuk perusahaan ini.” Tanpa berbasa-basi Irena mengatakan akan hal itu.


Semua orang begitu terkejut, terutama sang paman. Berto merasa Irena benar-benar aneh setelah kecelakaan. Setelah mengusirnya dari kamar utama, kali ini dia akan mengendalikan perusahaan ini.


“Hanya itu yang ingin aku katakan. Silakan kembali bekerja.” Ivana mengakhiri pertemuan singkat itu. Dia merasa itu sudah cukup. Apalagi setelah melihat wajah paman Irena pucat.


Para direksi pun berdiri. Mereka menghampiri Irena dan memberikan ucapan selamat datang. Hanya Paman Berto saja yang tidak melakukannya. Dia masih diam di kursinya.


“Baiklah, aku akan ke ruanganku.” Ivana tersenyum menyeringai.


“Ayo, aku antarkan.” Carlos pun mendampingi Irena dan mengantarkan Irena untuk ke ruangannya.


Ivana berjalan melewati sang paman. Senyum tipis tertarik di sudut bibirnya. Merasa puas dengan yang dilakukannya.


Paman Berto yang melihat kejadian ini semakin dibuat pusing. “Apa yang terjadi padanya sebenarnya?” Dia masih bingung dengan sikap Irena yang berubah.